DI ABAIKAN ISTRI AKU MENIKAH LAGI

DI ABAIKAN ISTRI AKU MENIKAH LAGI
Mencari Bukti.


__ADS_3

Ketika sedang dalam perjalanan pulang, tak menyangka ternyata ada yang mengenali Hardi.


Ya dia pak Amin yang kini menjadi seorang penghulu. Beliau lah yang menikahkan Hardi dan Santi.


Pak Ervan, seperti mengenali orang tersebut,setelah cukup lama berdiam dan mengingat-ngingat nya kembali.


Pak Ervan, baru ingat bahwa orang itu adalah teman nya sewaktu masih duduk di bangku sekolah SMA.


"Hardi berhenti dulu!" Perintah Pak Ervan.


Ayah mertua nya turun dari mobil dan menghampiri teman nya yang sedang berada dibtepi jalan.


"Amin?". Panggil Ervan. sambil mengarah kan jari tangan nya ke arah pak Amin.


Pak Amin menoleh ke arah orang yang menyapa nya.


"Loh! Ervan, apa kabar?" Seru Pak Amin.


Mereka pun saling berpelukan melepas rindu dan saling melempar kan senyuman satu sama lain.


"Apa kabar, sudah lama tidak bertemu."


"Baik, baik, baik. Kamu sendiri bagai mana? Seperti nya makin tambah sukses saja."


Pak Amin, sedikit memuji Pak Ervan, karena dengan melihat cara berpakaian nya cukup elegan.


"Ah, bisa saja kamu ini."


Pan Ervan, sedikit tersipu malu karena pujian dari teman nya.


Kedua nya tidak menyangka bisa bertemu kembali.


Pak Ervan, ingin sekali melanjut kan pertemuan yang tanpa di sengaja itu, ia mengajak Pak Amin untuk mengenang masa lalu nya jika pak Amin sendiri tidak sibuk.


"Mau kemana nih, lagi sibuk ga sekarang?" Tanya Pak Ervan


"Kebetulan hari ini lagi ga ada kegiatan apa apun alias waktu luang, memang nya kenapa?"


"Bagai mana kalau kita sarapan bareng, sambil mengenang masa lalu gitu."


"Boleh, boleh. Ayo, sambil mengenang mantan."


Lagi-lagi Pak Amin berhasil membuat Ervan sedikit gelagapan.


"Shutt... jangan macam-macam, ada singa betina di dalam." Sedikit berbisik di telinga Pak Amin dan berhasil membuat nya ngakak seketika.


Mereka pun masuk ke dalam Mobil, dan kali ini Airin yang duduk di depan bertukar posisi dengan Ayah nya, sedang kan di jok belakang, ada Pak Amin, Pak Ervan dan Bu Vera.


Mereka berdua sepakat, di waktu yang sama pak Amin, memang lagi ada waktu kosong.


Akhir nya Pak Ervan mengajak Pak Amin untuk hanya sekedar makan-makan sambil mengenalkan istri & anak serta menantu nya.


Bapak Amin sendiri belum menyadari bahwa yang menyetir mobil itu adalah orang yang dinikah kan kurang lebih 3 minggu yang lalu.


Setelah sesampai nya di tempat makan mereka semua mencari tempat yang kosong dan cukup untuk berlima.


Akhir nya mereka pun duduk dan sambil menunggu pesanan datang, Pak Ervan menyempat kan diri memperkenalkan anak istri dan menantu nya.


"Oya min, kenalin ini istri aku vera, dan ini anak aku Airin." Airin dan Vera pun melemparkan senyuman sebagai tanda pengenalan.


"Dan ini menantu kesayangan ku. Hardi" ucap Pak Ervan dengan penuh kebanggaan.


Bapak Amin merasa tidak asing ketika melihat Hardi.


"Loh kamu nak Hardi kan, yang waktu itu saya nikah kan!" Tutur bapak Amin.


Hardi pun sedikit gelagapan. Dia sudah sangat gelisah bahwa rahasia nya akan segera terbongkar, karena Hardi sendiri baru ingat sewaktu Pak Amin masuk ke dalam Mobil, Hardi terus saja memperhatikan Pak Amin lewat kaca kecil yang ada di dalam mobil, dan pada akhir nya Hardi mengenali Pak Amin.


"Apa di nikah kan, sama siapa? Mungkin salah orang pak! Kan saya sudah punya istri. Kami sudah 1 tahun menikah". Hardi mencoba beralasan.


"Mungkin kali yah." Sedikit memikirkan mungkin memang salah.


"Iya Pak, suami saya tidak mungkin menikah lagi, karena orang tua saya pun cukup mengenali keluarga suami saya sangat baik." Terang Airin.


"Mungkin salah kali, Saya kenal betul keluarga nya." Timpal Pak Ervan.

__ADS_1


Setelah mendengar penuturan Pak Ervan, Pak Amin pun percaya dan mungkin salah orang.


Seketika mereka pun melupa kan apa yang di ucap kan Pak Amin.


Namun berbeda dengan Airin, hati nya merasa sedikit terganggu dan beban fikiran, bagai mana jika memang suami nya itu menghianati diri nya.


Airin saat ini benar- benar lagi di landa kegalauan, Airin akan memcari kebenaran nya ketika nanti sudah pulang sampai rumah.


Makan pun selesai akhirnya Pak Ervan mengantar kan pulang teman sekolah nya terlebih dahulu, dan tidak satu mobil lagi dengan anak dan menantu nya,


Pak Ervan menelphone supir nya, untuk menjemput ke titik lokasi yang ia kirim kan, mengingat kemarin Mobil Pak Ervan di suruh bawa pulang ke rumah, karena berniatan pulang ikut mobil menantu nya.


"Mah, Pah, Saya dan Airin pulang duluan gpp kan, soal nya saya harus segera ke kantor."


"Iya gpp, kalian hati-hati ya." Ucap Pak Ervan.


Hardi dan Airin berpamitan langsung pulang ke rumah nya. Hardi harus pergi bekerja setelah hampir 1 bulan dia tidak masuk kantor, Banyak sekali pekerjaan yang numpuk.


Selama di dalam Mobil, Hardi dan Airin, kedua nya saling terdiam, Airin yang sedikit terganggu karena kepikiran ucapan pak Amin tadi, begitu juga dengan Hardi, ia sama hal nya kepikiran ada hubungan nya dengan ucapan pak Amin, Ia tidak ingin terlalu cepat Airin mengetahui nya.


Mobil yang di kendarai Hardi pun telah sampai di depan rumah nya.


Hardi terburu-buru ke luar dari Mobil, dan memang sudah sangat siang untuk pergi ke kantor.


Di susul dengan Airin, karena suami nya begitu terburu-buru.


"Mas, mau berangkat sekarang, tidak istrahat dulu sebentar." tanya Airin.


Begitu sibuk nya tangan Hardi mempersiap kan keperluan yang akan d bawa ke kantor, dan dengan sedikit di bantu oleh Airin.


"Iya Sayang, maaf ya. Karena hari ini Mas ada jadwal meeting yang tidak bisa di tunda."


Airin hanya diam dan tidak berkomentar apa pun lagi, karena memang mungkin suami nya sangat sibuk.


"Sayang, mas. Pamit dulu ya!"


Karena rasa sudah beres dan tidak ada yang ketinggalan, Hardi pun berpamitan kepada Airin.


"Ok, hati-hati ya, kabarin kalau sudah sampai."


Airin memgantar kan suami nya yang mau berangkat kerja sampai depan pintu, sampai suami nya benar-benar pergi.


Airin pergi ke luar dan Memacu mobil nya dengan kecepatan yang cukup tinggi.


Dua jam, ia bolak balik ke tempat ia tadi bertemu dengan pak Amin, untuk mencari petunjuk kebenaran.


Airin menghampiri sekumpulan warga yang sedang berkumpul, untuk pertama kali nya memberani kan diri bertanya yang belum pasti.


"Permisi, maaf mengganggu, apa di sini ada yang kenal sama Pak Amin, penghulu di daerah sini."


Airin sebelum nya bertanya terlebih dahulu perihal Pak Amin, sebelum melanjut kan pokok utama nya.


Sekumpulan Ibu-ibu pun mencoba mengingat apa yang di tanya kan Airin.


"Oh, Pak Amin penghulu bukan." Jawab salah satu Ibu-ibu.


"Iya Bu, Pak Amin itu."


"Memang nya ada perlu apa Neng, apa Neng mau Nikah."


"Oh, ngga. Ini Bu, apa Ibu kenal sama orang ini, Dia pernah di nikah kan sama Pak Amin di bulan-bulan ini."


Sesekali ia menanya kan ke orang sekitar perihal suami nya yang sudah menikah lagi, dengan menyodor kan HP milik nya, dan memperlihat kan foto Hardi.


Semua Ibu-ibu memperhati kan foto yang di tunjukan Airin.


"Maaf Neng, ga kenal. Kalau pun ada warga sini, atau warga yang dekat kampung sini ada yang menikah, pasti kita tahu."


"Mmm, kalau gitu, terima kasih ya bu atas waktu nya, maaf mengganggu."


Sekumpulan Ibu-ibu pun hanya mengangguk, dan Airin pun pergi dari tempat itu.


Airin sedikit lega, karena apa yang di curigai nya tidak terbukti.


Ketika baru saja masuk ke dalam mobil, ia teringat akan Santi, Airin mencoba menelphone nya.

__ADS_1


Dia meminta pendapat tentang suami nya itu, yang kata nya sudah menikah lagi.


Jari tangan nya yang sangat lihai mencari kontak nomor Hp Santi, untung saja tadi pagi Airin meminta no Hp Santi sebelum pulang.


Tut... tut.. tut...


Tak lama TLP. pun di angkat.


"Assallamuallaikum, Rin."


"Santi, menurut mu, suami aku apa mempunyai istri lagi selain aku."


Airin tidak basa basi terlebih dahulu, namun ia langsung ke pokok utama nya yang ia akan mintai pendapat.


Ukhuk...ukhuk... ukhuk... Santi sangat kaget dan tersedak minum ketika mendengar Airin mempertanya kan itu.


"Memang nya, kamu tau dari mana Rin, kalau suami kamu menikah lagi?.,"


"Tadi tuh sewaktu pulang kita perpapasan dengan teman sekolah nya Ayah, terus mengenali Hardi, kata nya orang yang menikah kan nya kurang lebih bulan ini lah, nama nya Pak Amin."


Deg... hati Santi sontak kaget, ternyata Pak Amin kenal dengan keluarga Airin.


Santi sangat bingung, ia hanya bisa menyaran kan Airin untuk percaya kepada suami nya untuk saat ini, dan belum ada bukti jika Hardi mempunyai istri selain Airin.


"Terus gimna, apa kata nya?"


"Ya, suami aku menyangkal, dia bilang mungkin salah orang, sekarang juga aku lagi di dekat tempat kamu tinggal, buat nanyain kebenaran nya, tapi tidak ada satu pun yang mengenali nya."


Santi sedikit lega, untung nya pas menikah tidak ada banyak yang tahu.


"Rin, kan belum terbukti, lebih baik kamu percaya dulu sama suami kamu."


"Hemm, iya deh."


Telephone pun di tutup.


Karena saran dari Santi, akhir nya Airin pun mencoba mempercayai suami nya.


Setiba nya di rumah, Airin mengisi waktu kosong nya dengan game online nya itu hingga Airin lupa waktu.


Ketika suaminya datang pun Airin tidak mengetahui nya, Airin masih saja betah dengan dunia nya.


Hardi yang melihat semua nya, mencoba untuk tidak marah kepada Airin.


Kali ini ia memaaf kan nya, namun ketika Hardi ingin sekali sentuhan dari istri nya, justru istri nya malah menolak Hardi, dengan alasan dia sangat kelelahan ketika baru saja pulang dari rumah Santi belum istirahat.


Hardi sangat kecewa atas penolakan dari Airin.


Hati nya sangat uring-uringan, hingga Hardi pergi keluar dan membantingkan vas bunga yang ada di meja ruang tamu lalu pergi dan mengendarai mobil tanpa arah tujuan.


"Kenapa sih rin! Kamu tetap saja seperti ini. Kamu tidak bisa menghargai aku sebagai suami kamu."


Hardi yang begitu emosi terus saja menggerutu di dalam mobil.


"Arraaaaagggghhhh..." Hardi pun berteriak.


"Apa salah nya kamu melayani aku."


Hingga akhir nya tanpa di sadari, Hardi pun malah sampai di rumah Santi.


Hardi masih saja terlihat emosi.


Hardi membuka pintu tanpa mengucap salam, ia langsung saja masuk ke kamar, dan melihat Santi baru saja selsai shalat.


Hardi pun menarik Santi.


"Layani aku sekarang."


tanpa basa basi Hardi pun membuka seluruh pakaian yang ada di tubuh Santi.


Santi hanya pasrah membiar kan suami nya itu melakukan apa saja yang dia mau. Menolak pun tidak mungkin sebab dia berhak mendapat kan nya.


Setelah selsai Hardi pun tertidur, namun Santi hanya bisa menangis.


"Kenapa kamu memperlakukan aku seperti ini mas! Kenapa kamu hanya menganggap aku sebagai pelampiasan saja."

__ADS_1


Santi hanya bisa pasrah dan menyerahkan semua nya kepada sang maha pencipta.


Posisi saat ini sangat berat, bercerai pun tidak mungkin, bertahan juga serba salah.


__ADS_2