Di Balik Pilar Masjid

Di Balik Pilar Masjid
01.Awal


__ADS_3

hempasan angin pagi yang begitu sejuk, seolah menyapa kepada setiap insan yang siap memulai pagi, daun menari menghempaskan sisa sisa air yang di ada atasnya, suara hewan yang tak mau terlewati menjadi pelengkap penyambut hari. Di salah satu Pojok rumah yang ada di salah satu Desa yang Ada Di kabupaten Purbalingga, ada seorang anak perempuan yang sedang menatapi tas besar yang ada di hadapannya saat ini, ya...hari ini adalah hari dimana Adiba harus meninggalkan rumah dan desanya tercinta, pergi ke salah satu Pondok Pesantren yang sudah di pilihkan orang tuanya, sebenarnya berat bagi diba untuk nyantri, tapi ini sudah menjadi keputusan mutlak orang tuanya yang tidak bisa diganggu gugat.


"..Diba?"


tiba tiba panggil dari seseorang yang sudah sangat dikenal Diba mengembalikan dunia nyata Diba


#


" dalem...Bu"


" sudah dimasukan semua apa yang harus dibawa kan?jangan sampai ada yang tertinggal,."


"enggih bu", insya Alloh sudah siapa semua,"

__ADS_1


Diba menjawab dengan mencoba membuka kembali tas yang dari semalam sudah di letakan di pojok kamarnya,...dengan perasaan yang campur aduk, Diba meneliti kembali barang barang yang harus di bawa ke Pondok Pesantren.


"NDA usah sedih Dib, mama dan ayah melakukan ini demi kebaikanmu,..kalau tidak memikirkan urusan ahirat,. mana tega kami membiarkanmu jauh dari kami"


mama Adiba mencoba menjelaskan tujuannya mengirimkan anaknya ke Pondok Pesantren dengan mengelus kepala Adiba yang di tutup jilbab berwarna hitam. Diba mengangguk mencoba menahan air mata yang seakan memberontak untuk keluar dari sarangnya, ya...membayangkan jauh dari orang tua, tinggal dengan orang orang yang diba tidak kenal, menjadikan hati Diba seakan menjerit, memohon untuk tidak dikirim ke Pondok pesantren, tapi demi kebahagiaan orang tuanya Diba bertekad untuk menjalani semuanya, " semoga ini menjadi salah satu keabahagian yang bisa aku berikan padamu dan ayah ma, dan semoga ini menjadi awal baik bagi kehidupan Diba" batin Adiba.


"kalau sudah dirasa tidak ada yang tertinggal, mama mau mengajakmu pergi kerumah Nenek dan uwa, mintalah doa dan restu beliau Diba, sebalum kamu pergi nanti siang, karena restu mereka nantinya akan mempermudah dalam urusan mu"


*


waktu menunjukan pukul 10.00 saat ini, Dina terlihat keluar dari kamarnya dengan menggunakan gamis coklat dengan hijab berwarna senada. sesuai dengan janjinya dengan mama tadi sebelum berangkat ke Pondok siang ini, Diba akan meminta doa restu nenek dan uwanya, Rumah nenek dan uwa Diba tidak terlalu jauh, jika di tempuh dengan berjalan kaki hanya akan memakan waktu sekitar 15 menit, tapi karena hari sudah cukup siang mama Diba memutuskan untuk menaiki motornya.


setelah sekitar 5 menit Diba dan mamanya sampai di kediaman neneknya.

__ADS_1


"assalamu'alaikum..."...mama Diba memberikan salam dan mencoba mengetuk pintu...


"wa'alikumsalam..." terdengar jawaban dari dalam rumah yang terlihat sederhana tapi terasa begitu nyaman,rumah kediaman nenek di kelilingi oleh pepohonan, depan rumah yang luas yang terlihat begitu terawat menjadikan rumah tua itu terlihat tetap nyaman untuk ditinggali.


kreeeekkkk.....suara pintu terbuka dengan menghadirkan wajah yang sudah tidak muda lagi,.dengan menggunakan daster rumahan dan jilbab yang dikuncir di belakang nenek diba keluar dari rumah untuk menyambut tamu yang tadi mengetuk rumahnya..


"Tantri...Diba". sapa nenek


"assalamu'alaikum nek..."sapa Diba dengan mencium punggung nenek yang slalu jadi tempat pelarian saat Diba sedang kesal dengan orang tuanya.."Nenek sehat??"


"wa'alikumsalam salam, sehat Diba..."nenek memeluk cucunya yang sebentar lagi mau berangkat untuk nyantri, ditarik tangan cucunya dengan perlahan untuk masuk kedalam rumah, dan diikuti Tantri dari belakang.


setelah satu jam Diba, diba memutuskan untuk pulang, karena jam satu siang nanti dia harus berangkat ke pondok pesantren.

__ADS_1


__ADS_2