
Sang pengusa siang mulai bergeser kearah Utara, senja mulai menampakan keberadaanya, angin menyapa seolah mengajak penghuni bumi bercanda. Kain ungu bergerak mengikuti arah sang angin, seakan memberontak untuk bisa lebih jauh menerbangkan kehendaknya, sayang kain menempel pada tubuh seorang perempuan yang sedang asik menikmati panorama sore...ya,,sore ini Adiba sedang terlihat berdiri di pinggiran jalan, menunggu angkot yang nantinya akan mengantarnya kembali ke Pondok Pesantren Darrul Muttaqin,..perkuliahan yang di mulai pukul 1 siang tadi, memberikan tugas yang mengharuskan Adiba baru bisa pulang di jam 16.45.,Adiba harus mencari bahan referensi untuk pembuatan makalahnya.beruntunglah perpustakaan yang ada di kampusnya memiliki buku buku yang di butuhkan, meski membutuhkan waktu yang cukup banyak, tapi Adiba bersyukur sekarang buku buku tersebut sudah ada di dalam pelukannya,.ya Adiba sekarang terlihat menggendong tas dan membawa beberapa buku.
"ponpes...ponpes...ponpes..."
suara dari salah satu sopir terdengar nyaring di telinga Adiba, sejenak Adiba memperhatikan angkot yang belum berhenti secara sempurna.,setelah dilihat aman untuk dinaiki, Adiba melangkahkan kaki kedalam angkot itu, menarik tasnya yang kemudian di letakan diatas pangkuannya, dijadikan tatakan buku buku yang sedari tadi dipeluknya.
Adiba memandangi pemandangan yang disajikan diluar jendela mobil sambil mendengarkan musik yang sengaja disetel oleh sopir angkot itu
"Ning angin tak titipke
Roso kangen marang sliramu,
nadyan batin pengin ketemu
__ADS_1
Amung Budi nyowong fotomu"
suara musik itu menjadikan batin Dinda merindukan sosok orang tuanya, dadanya terasa sesak, nafasnya begitu berat, butiran bening seperti ingin keluar dari matanya, tapi Diba tahan semampunya, ditarinya nafas dalam dalam, kemudian mengarahkan pandangannya kedepan, tiba tiba matanya terpaku pada sosok yang duduk sejajar dengan sopir angkot, sosok yang mengenakan Koko biru itu mengingatkan Adiba dengan satu laki laki yang baru saja Adiba liyat tadi pagi.
"Gus Al...apakan itu Gus Al?...kenapa Gus Al naik angkot?dari mana beliau..."begitu banyak pertanyaan yang ada di benak Adiba, belum sempat Diba mengambil kesadarannya dari semua pertanyaan yang hanya Adiba yang tau, tiba tiba angkot sudah berhenti, sejenak Adiba melirik keluar jendela angkot, ternyata Adiba sudah sampai di depan Pondok Pesantren, ketika Diba berdiri dan hendak keluar dari angkot, pintu depan angkot terbuka, dan sosok Gus Al terlihat keluar dari angkot tersebut
"ya Alloh beneran Gus Al...apa yang harus adiba lakukan???...Adiba harus menyapa atau Adiba ngga usah turun aja ya,...ah tapi sudah kepalang berdiri...turun aja ah" Adiba membatin sambil melangkah turun dari angkot..
"wa'alikumsalam" Gus Al membalikan badanya dan menjawab salam dari Adiba
"kamu baru pulang kuliyah dek??..kok sendirian?" Gus Al bertanya kepada Adiba
"nggih Gus,..anu tadi ada tugas, jadi saya pulang agak telat, dan teman Adiba sudah pulang duluan" Adiba menjawab pertanyaan Gus Al sambil menyodorkan uang kepada sopir angkot yang sedari tadi menunggunya.
__ADS_1
"oh gitu...hayo masuk" ajak Gus Al ke adiba
adiba hanya menganggukkan kepalanya dan mengikuti langkah Gus Al dari belakang, Adiba tak berani berjalan de samping apa lagi harus mendahului langkah Gus Al, karena itu tidak sopan, dan menyalahi anggah ungguh di jawa,
"duluan dek..." suara Gus Al seakan memaksa Adiba untuk mengangkat kepalanya dan menatap sosok laki laki yang banyak di idolakan para santriwati itu.Gus Al terlihat tersenyum dan perlahan melangkah ke ndalem kyai Sidiq..
"ya Alloh apa yang engkau campurkan kedalam senyuman itu...meski hanya seulas...sungguh itu memberikan sejuta rasa...inikah kenapa senyuman menjadi salah satu sodaqoh...karena sungguh efeknya membuat hati ini meloncat kegirangan..."
Adiba kembali melangkahkan kakinya setelah sosok yang dipandanginya sudah hilang di balik pintu ndalem kyai Sidiq.
*bersambung
*☺️☺️di tunggu komentarnya ya☺️☺️☺️😊🙏🙏
__ADS_1