
cahaya matahari yang begitu bersemangat menyinari bumi, seakan tergambar dari biasan cahaya yang terasa panas bagi penduduk bumi,.tiupan angin yang hadir di diantara cahaya itu seakan mampu mencuri dan sedikit memberi kesejukan bagi penikmat matahari. waktu menjukan pukul 12.45, terlihat Adiba sudah menggendong tas di pundaknya, dengan beberapa paper bag di tanganya, Adiba memasuki mobil yang sudah disiapkan ayahnya untuk mengantar ke pondok pesantren. Ayah Adiba bekerja di salah satu perusahaan yang ada di Desanya, demi untuk mengantar putri kesayanganya, siang ini ayahnya meminta ijin untuk pulang awal. Dari dalam rumah terlihat Tantri, mama Adiba sedang keluar dengan membawa gardus yang sudah di isi berbagai cemilan yang nantinya akan di jadikan oleh oleh untuk pemilik pesantren, setelah diyakini rumah sudah terkunci, mama Adiba masuk kedalam mobil.
"sudah siap semua??"
tanya ayah Adiba sambil menghidupkan mesin mobilnya....
"sudah yah..."
mama Adiba menjawab dengan melanjutkan membaca doa " subhaanalladzi sakhkhara Lanaa hadza wamaa kunna lahuu muqriniin wainna ila rabbina lamun' qolibuun...aamiin"
sepanjang perjalanan dari rumah sampai ke Pondok Pesantren, Adiba lebih sering diam, entah perasaan apa yang sekarang sedang bermain main di dalam hatinya, ada rasa sedih, ada rasa bahagia, ada rasa takut, ada rasa marah, ada rasa jengkel, semua rasa terasa sedang memenuhi hatinya saat ini.ya....sebenarnya tidah pernah terbayangkan hari ini akan mampir dalam episode kehidupanya, yang dibayangkan Adiba dulu, setelah lulus SMA dia akan melanjutkan ke universitas yang menjadi impiannya, yaitu Universitas yang ada di Jogjakarta, tapi ternyata pilihan orang tuanya berbeda dengan keinginannya,..orang tua Adiba memilih untuk menyekolahkan Adiba di salah satu universitas yang ada di bawah naungan yayasan yang sama dengan pondok pesantren yang akan di tuju adiba.
"Alhamdulillah sampai..."
suara ayah Adiba membuyarkan segala aktifitas pemberontakan jiwa Adiba. Adiba menegakan tubuhnya dan mengarahkan pandanganya untuk menyelusuri setiap apa yang bisa di cangkau oleh matanya,,,terlihat gedung berlantai dua yang berjejer seakan membentuk huruf O. dan di tengah tengah terdapat satu masjid besar dengan halaman yang begitu luas, santriwan dan santriwati terlihat berlalu lalang menikmati aktifitasnya masing masing, memakai baju khas santri, dengan jilbab yang terjulur menutup dada tanpa ada yang terlihat di putar putar seperti yang sedang trend di kalangan hijaber saat ini .ya...santiwati kebanyakan hanya memerlukan satu peniti atau jarum pentul untuk mengaplikasikan hijabnya, karena model yang mereka pakai hanya satu, menggunakan hijab segi empat yang akan d kasih peniti di bawah dagu...selebihnya akan dibiarkan jatuh kebawah.
"ayo turun nak.."
__ADS_1
ajak mama Adiba seraya membuka pintu mobilnya. Adiba mengikuti mamanya dengan membuka pintu mobil dan mengeluarkan tubuhnya dari benda besi yang bisa bergerak tersebut.
"huuuuhffftt..."Adiba mencoba membuang nafas sembarang untuk mengurangi segala rasa yang sedang menumpuk dalam dirinya.."bismillah ya Alloh, Diba kuat, Diba bisa, karena hanya ini yang bisa diba lakukan saat ini ya Alloh, bimbing Diba,kuatkan dia..temani Diba ya Alloh, genggam tangan Diba ya Alloh, diba mohon,,," batin Diba dengan menundukan kepala, tak terasa satu butiran bening menerobos keluar dari persembunyinya, dengan cepat Adiba mengusap pipinya, menyingkirkan butiran bening tersebut, karena Adiba tidak mau mama dan ayahnya melihatnya.
Adiba tersentak ketika tiba tiba ada yang menyentuh pundaknya,,Adiba menoleh dan terlihat mamanya tersenyum..
"ayo nak, jangan ragu, insya Alloh ini yang terbaik" mama Adiba mencoba meyakinkan anaknya, menggenggam tanganya dan membimbingnya untuk memasuki kediaman kyai sidiq.ayah Adiba terlihat sudah berjalan didepan adiba.setelah sampai di kediaman kyai Sidiq ayah Adiba mengetuk pintu dan memberi salam.
"assalamu'alaikum.."
"Monggo...silahkan duduk, sebentar saya panggilkan Abah kyai dulu"
santri tersebut mempersilahkan tamunya duduk dengan menjulurkan jari jempolnya, sebagai petunjuk arah yang sopan, kemudian santri tersebut bergegas untuk sowan ke abah kyai Sodiq.
setelah menunggu sekitar 5 menit, kyai Sodiq menemui keluarga Adiba di temani ibu nyai.
"assalamu'alaikum..."sapa ayah Adiba seraya mencium punggung tangan kyai yang terlihat begitu sehat di usia yang sudah menginjak usia 63 th, selain sebagai rasa sopan, tujuan mencium punggung tangan kyai Sodiq adalah untuk meminta barokah kyai.
__ADS_1
"wa'alikumsalam...Monggo duduk"..
ayah Adiba pun duduk, kemudian mengutarakan maksud kedatanganya ke pondok pesantren tersebut,setelah perbincangan yang cukup lama, dan waktu sudah menunjukan untuk sholat ashar, kyai Sidiq memanggil salah santriwati abdi ndalem,..
" Faizah.....Faizah...."
"Dalem kyai...."..dari dalam terlihat Seorang santriwati yang mengenakan atasan berwarna merah muda yang menutup sampai ke bawah bokong, dipadu dengan sarung khas santriwati bercorak hitam putih, dan diperindah dengan hijab berwarna merah muda keluar berjalan dengan membungkukan tubuhnya, kemudian perlahan menurunkan tubuhnya, sihingga sekarang lutut menyentuh ubin, dan sedikit menjinjit untuk menopang bokongnya.
"kamu antar adiba untuk kekamarnya, temui pengurus pondok putri dulu, untuk memastikan kamar Adiba dan bantu bawa barang bawaanya..."
"nggih kyai...."...
setelah mengambil barang bawanya di mobil, Adiba di bantu Faizah dan mama Adiba memasuki area pondok putri untuk mencari kamar adiba.sedangkaan ayah Adiba sedang melakukan sholat ashar di masjid yang terletak di tengah tengah pondok pesantren.
*bersambung
*☺️☺️☺️☺️☺️minta komentarnya yaaaaaaa😊😊😊😊😊😊😊
__ADS_1