Di Balik Pilar Masjid

Di Balik Pilar Masjid
24.DPM " Mia..."


__ADS_3

"Kenapa telat Dib? tanya Mia yang yang baru saya kembali dari toilet. Adiba menoleh kearah Mia, Adiba baru saja melepas hijabnya, mengganti dengan jilbab instan, Adiba hendak membersihkan diri, mumpung saat ini adalah waktunya santri rutinan untuk ngaji, jadi untuk mandi tidak perlu antri seperti biasanya.


" Iya, tadi ada kepentingan dulu," jawab Adiba.


Mia memperhatikan Adiba, Adiba sedang sibuk memilih beberapa pakaian kotor yang dimasukan kedalam ember yang ada di samping kakinya. " Kepentingan apa sampai pulang semalam ini?" Tanya Mia tanpa mengalihkan perhatiannya.


Adiba membalas tatapan Mia, mendekatkan wajahnya ke wajah Mia "Ke-po", Mia hendak menarik hijab Adiba tetapi Adiba sudah terlebih dulu lari dari hadapanya. "Awas ya Dib, "Mia mengarahkan tinjunya. Persahabatan mereka yang telah terjalin cukup lama menjadikan mereka seperti saudara, ada rasa persaudaraan di dalamnya, hampir semua yang terjadi diantara mereka mereka bagi berdua, tapi untuk masalah Gus Al Adiba belum berani membaginya, karena Adiba fikir menjalin hubungan dengan Gus Al tidak semudah berhubungan dengan orang lain, ada sesuatu yang harus adiba jaga dan tidak terlalu baik jika dia ceritakan tanpa ijin darinya.


Setalah satu jam lebih Adiba berkutat dengan cuci mencuci ahirnya kegiatan itu selesai sudah, Adiba kembali ke kamarnya yang masih sepi, penghuninya masih sibuk dengan pengajian mereka, hanya ada Mia yang sedang tiduran sambil baca buku novelnya, Mia sedang halangan jadi tidak ikut pengajian malam ini.


"Masih belum selesai Mi novelnya?" tanya Adiba sambil mengeringkan rambut yang basah dengan menggunakan handuknya.


"Belum, bentar lagi, lagi seru serunya nih, si cowo lagi berusaha membuat si cewe jatuh cinta, tapi masih geget banget, si cewe terlalu be** apa ya, dia ngga ngeh loh Dib" cerocos Mia tanpa mengalihkan matanya dari buku di hadapanya.


" Namanya juga novel Mi, tapi kadang di dunia nyata juga ada loh Mi, ada yang sudah ngasih kode kode kalau dia suka sama seseorang, tapi yang di taksir nda paham,hmm" Adiba ikut merebahkan badannya di samping Mia.


" Kaya kita ke komandan ya Dib, kita jadi pengagum tanpa ada balasan, hahaha" Mia menatap sekilas Adiba.


" hahahah, bisa bisa" jawab Adiba, ia mencoba menyembunyikan raut wajahnya yang sempat pucat tadi, takut kalau Mia dapat membaca sesuatu yang sedang terjadi padanya, karena biasanya Mia dapat dengan cepat menerka apa yang terjadi dengan Adiba.


"Eh Dib, temenin ke Koprasi Yuh, Pem**lut aku habis" Mia bangkit dan duduk di kasurnya.

__ADS_1


"Ok,Traktir Ace cream yupz" rayu Adiba


"Perasaan kmu yang dah kerja, aku mah apa atuh,.."


"Aku magang gengs, bukan kerja, jadi masih belum menghasilkan duit,...begitu cantik" Adiba mencubit hidung Mia, kemudian pindah ke arah jendela kamarnya.


"Tapi tunggu pengajian selesai ya Mi, ga enak lewat depan Masjid kitanya mbolos" Ucap Adiba sambil memperhatikan depan Masjid jadi jendela kamarnya.


"Kamu yang mblos, aku mah halangan" Mia memprotes ucapan Adiba.


"Oh gitu, ga jadi nih di temenin" Ledek Adiba sambil mendekat kembali ke arah Mia.


"Emang kamu ngga jomblo, masa jomblo ngatain jomblo, hahahaha" Adiba menghentikan tawanya, karena teman sekamar mereka mulai kembali dari Masjid.


"Ayo Mi, keburu kemalaman, itu dah selsai ngajinya" Ajak Adiba sambil mengenakan hijabnya.


"Ok..sebentar" Mia beranjak mencari hijab dan jaketnya.


***


Mia dan Adiba berjalan menyusuri halaman pondoknya, melewati beberapa santri yang memang baru pulang dari Masjid, Mia menarik lengan Adiba ketika mereka Melawati ndalem kyai Sodiq.

__ADS_1


"Komandan Dib,. " Bisik Mia ke arah Adiba.


Adiba mengarahkan pandangaya ke arah yang dimaksud Mia, Pria dengan Koko putih, sarung hitam itu terlihat sedang duduk dengan beberapa buku di atas meja sampingnya.


"Semakin hari semakin ganteng aja ya Dib, Subhanallah,..Ciptaan-Mu ya Alloh terlalu sayang untuk dilewatkan." Mia mengeleng- gelengkan kepalanya.


"Ust...jangan begitu, ayo buruan ngga enak kalau tau kita memperhatikanya" Adiba menarik lengan Mia.


"Hay tunggu bentar Dib, itu komandan senyum ke arah kita kah?" sekilas Mia menganggukan kepalanya, memberi hormat kepada Gus Al. Adiba menoleh ke arah Gus Al , sosok yang sedang jadi perbincangan itu memang memandang kearahnya, memberikan senyuman di atas bibirnya, Adiba membalas senyuman itu kemudian mengikuti Mia mengagguk kearahnya.


"Kenapa komandan senyum senyum begitu ya Dib, apa ada yang aneh dengan kita" tanya Mia pelan.


"Hust, bukankan senyum itu ibadah?" tanya Adiba.


" Oh iya, ibadah yang mampu membuat kita jatuh bangun karenanya" Jawab Mia.


"Udah ayo, jangan kelamaan, nanti Koperasinya tutup, mubazir nanti Ace creamnya"


Adiba dan Mia melanjutkan perjalan mereka, sebelumnya Adiba sekilas melirik ke arah Gus Al, sosok itu masih memandang ka arahnya yang lagi lagi masih dengan senyum manisnya.


***BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2