Di Balik Pilar Masjid

Di Balik Pilar Masjid
12.DPM"Tugas...'


__ADS_3

waktu istirahat untuk para karyawan sudah dimulai dari 5 Manit yang lalu, terlihat para karyawan sibuk dengan segala hajatnya, banyak dari mereka yang memanfaatkan waktu istirahat untuk sekedar mengisi perut yang memang sudah waktunya untuk di isi.


Terlihat Adiba berjalan pelan melalui lorong kantor yang terlihat begitu sepi, menajamkan arah pandanganya kesetiap tulisan yang terpampang di atas pintu.


"alhamdulillah, ketemu juga ahirnya"


Kalimat syukur Adiba ucapkan setelah ruang bertuliskan "MUSHOLA" ada dihadapanya. sebelumnya Adiba telah menanyakan keberadaan tempat itu kepada mba Zifa yang duduk di samping meja kerjanya.


Adiba meletakan Mukena yang memang selalu dia bawa di dalam tasnya di atas bangku yang ada di depan ruang itu, kemudian Adiba mencari Toilet untuk sekedar mencuci muka dan mengambil wudhu. Setelah lima menit Adiba menyelesaikan segala rutinitasnya di dalam toilet, Adiba memasuki ruangan yang di jadikan Tempat para karyawan untuk menggugurkan kewajibannya . terlihat sudah ada empat orang yang ada di dalamnya, tiga laki laki dan satu perempuan, perempuan itu sudah sudah tidak begitu asing bagi Adiba, perempuan itu tidak lain adalah mba Retno


"mba.."


Adiba menyapa mba Retno yang terlihat sedang mengenakan mukena


"Hai Dib,..mau jamaah juga?"


"Iya mba, " Adiba menoleh sebentar ke arah mba Retno sebelum kemudian mengenakan mukena yang dibawanya.


Adiba masih berdiri dengan tangan yang masih mencoba mengikat tali mukenanya, ketika tiba tiba satu sosok yang sangat Adiba kagumi lewat di samping Adiba.


"Mba..Pak Khalil sholat disini juga?"


Adiba menanyakan keberadaan Gus Al kepada Mba Retno.


"Iya..pak Khalil yang selalu menjadi imam disini" Mba Retno mencoba mengecilkan suaranya karena takut kedengaran sama kariyawan lainya.


".... allohuakbar allohuakbar...laillahaillalloh...."


Suara iqomah mengakhiri sejenak segala kesibukan yang ada, menyiapkan jasad dan roh untuk menghadap pemiliknya.


Setelah empat rokaat itu terselesaikan, dan kalimat dzikir dan doa terasa sudah cukup untuk dilantunkan, Adiba dan Mba Retno bergegas merapikan mukena yang mereka kenakan.


"kekantin Yuh Dib.."


mba Retno mencoba mengajak Adiba, karena waktu istirahat tinggal lima belas menit lagi sebelum mereka kembali disibukan dengan pekerjaan.


."iya mba,.."


Adiba mengiyakan ajakan mba Retno, karena memang perut Adiba sudah memanggil untuk segera diisi dengan sesuatu.


Adiba dan man Retno hendak meninggalkan rauangan itu sebelum satu suara memanggilnya.

__ADS_1


"Diba.."


Adiba menoleh ke belakang, memutar badannya hingga posisi badanya berhadapan langsung dengan pemilik suara.


"dalem pak.."


"Nanti kalau kamu sudah selesai istirahatanya, tolong kamu keruangan saya, ada yang ingin saya bicarakan denganmu"


Gus Al menatap sekilas gadis yang masih setia menundukan wajahnya.


"iya pak.."


Adiba meremas mukena yang ada dalam pelukannya. Ini bukan pertama kalinya Gus Al mengajak bicara Adiba, tapi rasa gemetar setiap kali Adiba mendengar suara Gus Al masih saja merajai dirinya.


Gus Al berlalu meninggalkan Adiba dan Mba Retno, seulas senyum masih mengembang ketika langkahnya mulai menjauh dari tempatnya.


"kamu kelihatan sudah akrab sama pak Khalil Dib?"mba Retno mencoba menanyakan apa yang menggu pikirannya setelah melihat percakapan yang terjadi tadi.


"hah....anu...itu...pak Khalil Ustadz saya di Pondok mba".Adiba mendongakkan kepalanya menatap wajah mba Retno


"Oh kamu santrinya pak Khalil to...pantesan.."


"pantesan apa mba?"


hahahahahaha


mereka tertawa ringan sambil berlalu menuju kantin untuk mengisi perutnya.


***


Sesuai dari perintah yang Gus Al sampaikan tadi, Setelah waktu istirahat habis sekarang Adiba berada di lantai dua, Hendak memasuki ruangan Gus Al.


tok to tok


"masuk..."


Suara Gus Al terdengar mengijinkan Adiba untuk memasuki Ruangannya.


"assalamu'alaikum.."


Perlahan Adiba mendekati kursi yang ada di depan Gus Al.

__ADS_1


"Wa'alikumsalam...duduk Dib"


Gus Al mempersilahkan Adiba untuk menduduki kursi yang berada di didepanya.


"Terimakasih pak.."


Adiba mendudukan tubuhnya, dengan masih menunduk memandangi lantai yang terlihat lebih pantas iya pandangi dari pada mahluk Alloh yang ada dihadapannya.


"Diba, ..kemarin ada salah satu klien yang datang kesini meminta untuk dibikinin poster untuk mengiklankan produknya, saya ingin kamu membantu Zifa dalam pembuatan disain posternya, nanti akan saya pertimbangkan mana yang terbaik dari desain kalian berdua." Gus Al mengambil beberapa lembar kertas yang tertumpuk dimejanya.


"ini beberapa info mengenai prodak yang ingin mereka iklankan"


Adiba memberanikan diri mengangkat wajahnya, bermaksud untuk melihat kertas kertas yang Gus Al sodorkan kehadapanya, tapi Entah setan mana yang mengajaknya untuk menatap wajah yang selama ini tidak berani Adiba lihat, sampai ahirnya senyum dari bibir pria dihadapinya mengembalikan kesadaran nya.


Adiba segera menarik perhatiannya dari wajah Gus Al mengarah ke kertas yang yang sekarang ada ditangannya.


"akan saya pelajari pak...dan semoga nanti hasil sari disain saya tidak mengecewakan pak Khalil."


"semoga saja,,saya percaya kamu bisa"


Gus Al terlihat memberikan senyum di sela ucapannya, dan hal itu tidak luput dari mata Adiba.


"Masih sama, senyuman manis itu masih sama, "


"kenapa Adiba..kalau sudah jelas kamu bisa kembali ke tempatmu bekerja"


Gus Al mencoba mencairkan suasana, karena Gus Al sadar kecanggungan dari wajah Adiba setelah kepergok sedang menikmati senyumannya.


"terimakasih pak"


Adiba berdiri dari posisi duduknya, menundukan kepalanya, tak lupa diiringi dengan senyuman dari bibir mungilnya


"assalamu'alaikum pak.."


"wa'alikumsalam.."


Gus Al menatap kepergian wanita yang kelihatan anggun dengan hijab yang begitu sederhana.


"semoga dengan cepat Gusti alloh menjawab akan pertanyaan Ku...semoga kau benar benar yang akan menjadi ma'mumku Adiba.."


*bersambung dulu yaaaaaaaa

__ADS_1


like dan komentarnya jangan lupa yaaa...🤪🤪🤪🤪🤪🤪🤪


__ADS_2