Di Balik Pilar Masjid

Di Balik Pilar Masjid
22.DPM "Kenapa?.."


__ADS_3

Hari sudah sore ketika Adiba dan Zifa selesai melaporkan hasil pertemuannya dengan klien mereka, Mereka hendak keluar dari ruangan Pak Khlail untuk kembali ke ruangan mereka sebelum mereka pulang kerumah.


" Adiba jangan dulu pergi, ada yang pengin saya diskusikan bareng kamu" perintah Pak Khalil ke Adiba ketika dilihatnya Adiba berniat ikut Zifa meninggalkan ruanganya. Adiba mengangguk kemudian mengurungkan niatnya untuk kembali keruanganya.Setelah Zifa sudah tidak berada di antara mereka, sejenak keheningan tercipta diantara mereka, sebelum kemudian suara Pak Khalil memecahkan suasana.


"Kamu udah makan Dib?" Tanya Pak Khalil


"Sudah tadi pak, bareng mba Zifa sama pak


Gantar juga" Jawab Adiba.


" Syukurlah, " Pak Khalil memperhatikan Adiba " Kenapa kamu ganti baju kamu Dib?" Pak Khalil hafal dengan pakaian yang dikenakan Adiba ketika pagi tadi, dan sekarang sudah berganti dengan gamis.


" Maaf pak, tadi ada sedikit insiden, jadi terpaksa saya ganti pakaian saya" jujur Adiba.


" Insiden apa?apa kamu jatuh lagi? ada yang luka" Pertanyaan beruntun keluar dari bibir Pak Khalil.Dilihatnya dengan seksama keadaan perempuan yang sudah mendiami relung hatinya.


" Saya ngga papa Pak, Baju saya cuma kena air minum jadi karena basah Pak Gantar memberikan saya pakaian ganti ini" jawab Adiba. Pak Khalil membuang Nafasnya yang sempat tertahan di tenggorokan, Wajah yang sempat panik itu perlahan mulai cerah kembali." Alhamdulillah, saya kira kamu kenapa Napa, ya sudah kamu boleh kembali keruangan kamu, tunggu saya sebentar lagi, eemm apa kamu mau nunggu disini saja, kalau mau kamu istirahat saja di sofa sana, kamu pasti capai kan?"Pak Khalil menunjukan arah sofa yang berada di ruanganya. Adiba menatap wajah pak Khalil," terimakasih pak, tapi ada beberapa berkas yang harus saya bereskan di ruangan saya, jadi biar saya keruangan dulu" ucap Adiba .


" Oh,..ya sudah kalau mau kamu kaya gitu" Pak Khalil tersenyum kearah Adiba, Adiba tidak berani membalas senyum itu, karena Adiba masih merasa canggung dengan situasi seperti itu, Adiba masih saja merasa bahwa dirinya belum pantas untuk sekedar bercanda dengan Pak Khalil.


"Saya permisi pak, Assalamu'alaikum" Adiba berdiri kemudian melangkah keluar dari ruangan atasanya, sedangkan Pak Khalil setelah menjawab salam itu masih saja memperhatikan pintu yang sudah tertutup itu.


"Semoga saja kamu benar benar jawaban dari doa di sepertiga malam ku Adiba"


***


Adiba menyandarkan punggungnya di tempat duduknya, meregangkan otot otot yang serasa ikut menegang sepanjang hari ini, ruangan kerjanya telah kosong, Zifa telah kembali kerumahnya, di tatapnya atas-atas ruangan itu, fikiranya mulai berseliweran, mengarahkan ke alam hayalanya.


"Andaisaja memang benar Gus Al yang Alloh Gariskan dengan jalan jodohku, apa nantinya aku tidak hanya jadi beban dalam hidupnya, dunia kita yang terlalu berbeda akankah nanti bisa kita samakan?,"


Adiba membuang Nafasnya kasar, diusapnya wajahnya dengan telapak tanganya.

__ADS_1


kring,kring,kring


telephone yang berada di pojok ruangan itu berbunyi, Adiba meraihnya, kemudian mengawali menyapa orang yang berada di ujung sana.


"Assalamu'alaikum, dengan Adiba disini, ada yang bisa kami bantu"


"Wa'alaikum salam, Adiba ini saya kak Gantar, Ade belum pulang?" Tanya Gantar diujung Telephon nya.


"Oh Pak Gantar, Maaf pak apakah ada yang bisa Adiba bantu?" Adiba memainkan ujung jilbabnya, meski hanya berbicara lewat telephone, tapi Adina masih merasakan grogi jika harus berbicara dengan lawan jenisnya.


" Jangan panggil bapak kalau di luar jam kerja ya de, kesanya kaya saya tua banget, hahaha"


" Maaf pak, Tapi Adiba sekarang masih di kantor, Jugakan Bapak memang atasan saya di kerjasama kita, Adiba ngga enak pak" Adiba masih saja memainkan ujung jilbabnya itu.


"Hemm, senyamanya kamu aja deh," Suara di ujung sana terjeda sementara "De, Kaka jemput ya?" setelah sekian detik terdiam, ahirnya tawaran itu berani di kemukakan juga.


" Maaf pak, Adiba sudah janji mau pulang bareng Pak Khalil" jujur Adiba.


"Oh mau bareng Al, aku kurang cepat dari Ustadmu ya De, hehe"


"Iya Kaka paham kok de, Kaka tadinya mau ngajakin kamu makan makanan yang lagi viral, eh kamunya Nda bisa, ya udah mungkin besok bisa ya De"


"Makanan yang viral?"Tanya Adiba, karena memang Adiba kurang update tentang makanan di sekitar kotanya.


"Klepon de, kan lagi naik daun, hahaha"


"Haha, Bapak ini, bukanya klepon tidak islami pak?"Tanpa sadar Adiba mulai terbawa suasana, hingga suara tawa itu terdengar begitu renyah di bibirnya.


"Nanti kita suruh klepon itu berhijab De, Ben Islami,hehe" Gantar begitu menikmati suasan yang terjadi saat ini, karena biasanya Adiba jarang sekali mau di acak bicara senyaman itu.


"Bisa bisa, nanti Adiba bawain jilbabnya, Hehe" Adiba menatap jam yang ada di dinding ruanganya, sudah terlalu lama mereka berbicara.

__ADS_1


"Maaf Kak,eh Pak, Adiba tutup dulu ya, Adiba mau siap siap pulang" Adiba pamitan ke Gantar untuk mengakhirinya.


"Udah panggil Kaka saja, Kaka lebih suka dengan itu, ya udah hati hati ya, besok Kaka jemput kamu ya, jangan alasan, Assalamu'alaikum"


Tut,Tut Tut


Belum sempat Adiba menjawabnya Gantar sudah menutup telephonya.Senyum masih menghiasi wajahnya, diletaknya gagang telephone itu kembali ke tempatnya, Adiba berbalik hendak kembali ke kursinya.


"Astaghfirullah" Adiba terkejut karena saat ini ada sosok laki laki yang sedang duduk di tempat duduknya.


"Maaf pak, saya tidak tau bapak sudah di sini, sudah lama pak?" Adiba menanyakan keberadaan Pak Khalil yang terlihat berbeda saat ini.


"Hem, kamu berbicara dengan siapa sampai ketawa tawa kaya gitu"


Deg


"Jadi Gus Al mendengar perbincangan aku dengan kak Gantar, aduh apa yang harus saya sampaikan ya, kenapa juga tadi aku harus ketawa kaya gitu"


"Maaf pak, tadi Pak Gantar yang Telephon" Jelas Adiba


"Gantar?kamu senyaman itu berbicara dengan Gantar?"


Wajah Pak Khalil tiba tiba terlihat mengeras, Hak itu membuat Adiba makin tidak berani menatap kearahnya.


"Maaf Pak" Adiba masih saja menundukan wajahnya, ada ketakutan tersendiri mendengar nada bicara idolanya kali ini.


"Pulang" Pak Khalil berdiri kemudian berlalu dari hadapan Adiba.


Adiba masih belum bergerak dari tempatnya, dia masih kaget dengan apa yang baru saja terjadi, Gus Al yang biasanya begitu ramah kenapa tiba tiba bisa begitu menyeramkan, memang salah jika Adiba mengangkat telephone, Tapi bukankah Pak Gantar itu kliennya, jadi bukankah wajar jika Adiba berbicara dengannya.


"mungkin saja Gus Al lagi banyak kerjaan."

__ADS_1


Adiba meraih tas yang berada di mejanya, kemudian menyusul Pak Khalil yang sudah jauh meninggalkan ya.


**BERSAMBUNG


__ADS_2