
waktu semakin sore ketika seorang perempuan yang mengenakan rok hitam dengan batik merah itu terlihat sedang menunggu sesuatu, dialah Adiba, perempuan yang sudah terlihat begitu lelah masih setia menunggu angkot yang akan mengantarnya pulang ke pondok. seperempat jam sudah Adiba menunggu angkot, tetapi yang ditunggunya tidak kunjung datang.
Adiba terlalu serius memperhatikan jalanan, sampai ketika seseorang mendekat kearahnya tidak Adiba sadari.
"Hai..."
suara laki laki itu mengalihkan pandangan Adiba
Adiba terlihat tersenyum sebelum kembali mengalihkan pandanganya.
"kamu baru pulang?kerja dimana?"
"iya,..magang di percetakan Hamdalah ka" Adiba masih terlihat tidak mengubah posisinya, mengarahkan pandanganya ke arah jalanan.
"Oh,..kamu masih kuliah??"Tanyanya sambil memperhatikan wajah Adiba yang terlihat tidak tertarik untuk sekedar menatapnya.
"iya ka..masih semester enam ka"
"kamu ngga ingat aku"
Adiba kembali menoleh, dilihatnya sekilas wajah laki-laki yang dari tadi mencoba mengajaknya berbicara, tiba-tiba ingatannya berbalik ke tiga hari yang lalu, saat pertama kali Adiba melamar untuk magang di tempat Gus Al. ya...dialah laki-laki yang tanpa sengaja menabrak Adiba di tangga kantor.
"Aku Gantar.."Gantar mencoba memperkenalkan dirinya, diiringi dengan uluran tangan kanannya.
"Adiba ka..Maaf"Adiba meletakan kedua tanganya di depan dadanya.
Gantar menarik tanganya, sebelum kembali memandang sekilas wajah perempuan yang ada di depannya, sekilas senyuman terpancar dari wajahnya.
"kau berbeda..bahkan hatiku meyakini bahwa kau perempuan terbaik, perempuan yang mampu menjaga kehormatannya, sungguh beruntung laki-laki yang akan mendapatkanmu"
__ADS_1
"Mari ka... Assalamu'alaikum"
Adiba menaiki angkot yang sudah berada di depanya.
"Wa'alikumsalam..hati hati Diba" Gantar melambaikan tanganya, masih memperhatikan wanita yang hanya menganggukkan kepalanya tanpa membalas lambaian tanganya.
saat pertama kali ku dengar suaramu
hati kecilku berkata ada sesuatu
mungkinkan dia gadis terahir untukku
yang selama ini kudambakan.
lagu lawas coba Gantar nyanyikan, yang menurutnya mewakili perasaanya saat ini. Ditinggalkannya tempat yang menjadi saksi pertemuan keduanya dengan Adiba,Gantar kembali ke arah mobil yang tadi ditinggalkany begitu saja.
***
"semoga mama dan ayah selalu Dalam lindungaNya..Diba kangen mama dan ayah.."
Diba beranjak dari duduknya, diusapnya Butir-butir yang mengalir di wajah putihnya, Adiba hendak mengadukan perasaanya kepada sang Pencipta, karena Mendoakan adalah salah satu cara yang Adiba lakukan ketika rasa Rindu datang menghampiri hatinya.
Adiba sampai di Masjid, setelah selesai mengambil wudhu dan mengenakan Mukena, Adiba melaksanakan Sholat Sunnah dua rakaat dan kemudian mengadukan perasaanya kepada Pendengar terbaik yang Tidak mungkin membocorkan apa yang telah di adukanya.
"ya Alloh yang maha mengetahui apa yang terjadi ...hamba bersimpuh dihadapnmu dengan rasa rinduku kepada kedua orang tuaku, Engkaulah yang telah mengatur segala yang terjadi dengan hambaMu...Hamba ikhlas menjalani segala apa yang telah Engkau gariskan kepada hambaMu, hamba hanya meminta kepadamMu, sehatkan kedua orang tuaku,bahagiakan mereka berdua, jauhkan dari segala malabahaya, jangan pernah Engkau ijinkan segala kesedihan menghampiri keduanya ya Alloh, hadirkan selalu senyum dalam raut wajahnya, merekalah yang terbaik yang diba punya, kebahagian mereka adalah Tujuan terbesar Diba saat ini, semoga Engkau mengijinkan Diba memenuhi segala impian mereka...Aamiin."
Diba mengahiri doanya, tapi Diba enggan beranjak dari tempat duduknya, matanya mengabsen sekitarnya, hanya ada beberapa santriwati yang sedang melakukan ibadahnya.Masjid sudah terlihat begitu sepi, setelah selesai melakukan pengajian rutin, banyak santri yang mengistirahatkan badanya, tadinya Adiba juga ingin beristirahat, tetapi tiba-tiba wajah orang tuanya hadir dalam ingatannya. Mata Adiba masih mengabsen sekitar, kemudian pandanganya diarahkan untuk menerobos celah yang ada dihadapannya, berharap sosok yang selalu dia kagumi berada di balik pilar itu, tetapi harapannya siya-siya, karena sekitar pilar masjid itu kosong tanpa penghuni.
setelah Adiba merasa hatinya sudah tenang, Adiba meninggalkan masjid dan hendak menuju Pondok putri.
__ADS_1
"assalamu'alaikum..Adiba"
Adiba menoleh, suara yang di dengarnya sudah tidak asing, tubunya gemetar, hatinya seperti dipaksa untuk keluar dari tempatnya.
"Wa'alikumsalam Gus" diremasnya mukena yang ada dalam pelukannya.
" Baru selesai?"
Gus al menatap sekilas wajah Adiba, ada kenyamanan yang dihadirkan dari sosok mungil yang tanpa ijin sudah berani hadir dalam pikirannya.
"enggih Gus..."
Adiba tidak berani menatap wajah Gus Al.
"Alhamdulillah, sudah malam istirahatlah...mari.. assalamu'alaikum.."
Gus Al meninggalkan Adiba yang masih menatap kepergiannya.
"wa'alikumsalam.."lirih Adiba.
Adiba memperhatikan kepergian Gus Al, sosok yang begitu tampan bagi Adiba, mengenakan Koko coklat dan sarung hitam,dilengkapi dengan kopyah yang menambah auranya.
"Khalilulintang ..bintang malam...seperti namamu...kau hanya mampu untuk aku pandangi, tanpa mungkin aku miliki."
***bersambung yeeee
ikan hiu didepan kaca
i love you pembaca 🤭🤭🤭☺️☺️☺️
__ADS_1
...