
"dalem..."
Al menoleh, sudah terlalu hafal dengan suara yang memanggilnya.Sosok luar biasa yang telah menghadirkan dirinya,Menyayangi dirinya, dari dirinya dalam bentuk segumpal darah, hingga kini dirinya berwujud atas nama manusia.Dialah Ibu, wanita terkuat dan terhebat yang Al miliki.
"Apa yang membuatmu tersenyum sendirian malam malam begini Al.."
Umi sangadah mencoba mengikuti arah yang sedari tadi di pandangi anak bontotnya.
"mboten enten Mi, Al cuma lagi memperhatikan para santri yang berlalu lalang, mereka terlihat betah, jadi Al merasa senang...setidaknya apa yang ada di pesantren ini mampu mengalihkan kerinduan mereka atas asal mereka."
Al mendudukkan tubuhnya diatas ranjang, memainkan jari jarinya, Al paham, tidak seharusnya dia membohongi uminya, tapi ini terlalu dini untuk Al mengungkapan apa yang sebenarnya Al rasakan, Al takut jika perasaan yang sekarang mampir dalam dirinya adalah perasaan sesaat, cuma karena dia mirip dengan seseorang,sehingga sosoknya mampu mengalihkan dunianya, Al cuma ingin meyakinkan perasaanya saja, jika Al sudah yakin, bukan hal tidak mungkin Al akan mengungkapkan kebenaranya.
"umi tau ada sesuatu yang Al fikirkan, tapi jika Al belum mau untuk cerita ke umi, ceritakan semua pada Gusti Alloh, dialah yang mengatur segalanya...mintakah jawabannya, karena Bukankan kita hanyalah wayang, Gusti Alloh lah Dalang dari kita, Pembuat sekenario hidup kita, Dialah yang maha tau atas jalan hidupmu"
Umi sangadah menepuk pundak anaknya, perlahan melangkah meninggalkan kamarnya.
Al terdiam, berfikir sejenak
"apa hanya perasaan sesaat, tapi kenapa aku begitu suka melihat senyumnya, segala rasa lelahku hilang ketika pertama aku melihat garis tawanya...sosok sederhana itu mampu mengalihkan hatiku, mengalihkan perasaanku..apa salah jika aku berharap dialah jawaban doaku "
Al mengacak rambutnya, mengusap dengan kasar permukaan mukanya, kemudian beranjak berdiri mengambil air wudhu untuk menunaikan sholat witir sebelum meninggalkan dunianya menunju alam mimpinya.
***
sinar Matahari terlihat malu malu menampakan kecantikanya, sekaan akan ada sesuatu yang mengharuskannya untuk bersembunyi di balik awan putihnya.Dibawah sinar yang mulai nampak itu terlihat Adiba melangkahkan kaki meninggalkan pondok pesantren nya.Hari ini hari pertama Adiba magang, adiba tidak mampu di hari pertama nya dia terlambat, karena sesuai intruksi yang diberikan mba Retno, Adiba harus berangkat 15 menit sebelum masuk kerja, karena ada hal hal yang akan ditunjukan mba Retno kepada Adiba.
10 manit berlalu semenjak Adiba berdiri menantikan angkot yang akan berhenti dan membawanya kekantor pusat percetakan milik Gus Al, tapi belum ada satupun yang menghampirinya, dua angkot yang lewat sebelumnya tidak mau berhenti, karena kelihatanya penuh, ya ..biasaya ketika pagi pagi , banyak penduduk sekitar ponpes yang akan memanfaatkan angkot sebagai alat transportasi yang mengantar mereka ke tujuan mereka.
Adiba sudah terlihat gusar, dia takut akan terlambat jika angkot yang di tunggunya tidak lewat untuk saat ini...
"tin..tiinnn"
suara tlakson mobil hitam yang berhenti di depan Adiba berbunyi, Adiba tidak tau siapa yang sedang dimaksud sama pengendara mobil itu, sebelum mobil itu tiba tiba menurunkan salah satu kacanya dan menampakan sosok Gus Al di depan kemudi itu
"komandan..."
__ADS_1
satu kata keluar begitu saja, Adiba menyadari kesalahannya, dia menutup mulutnya kemudian menundukan pandanganya.
"assalamu'alaikum pak.."
Adiba mencoba menyapa Gus Al yang mulai tersenyum ke arahnya..
"wa'alikumsalam salam...kamu mau berangkat?
."nggih Gus..."
"ayo naik...jam segini biyasanya angkot penuh terus, nanti kamu terlambat.."
al mengajak Adiba, sebenarnya Al sadar ini tidak baik, tapi hatinya mengalahkan nalarnya untuk saat ini.
Adiba terdiam, kebimbangan menghampirinya saat ini, jika tidak ikut ajakan Gus Al, benar saja dia bisa terlambat di hari pertama magangnya, tapi jika ikut Gus Al, apakah ini tidak akan menimbulkan fitnah?
"ayo..nda papa, kita kan satu arah, satu tempat kerja juga" Al mencoba meyakinkan Adiba yang terlihat dengan jelas di raut wajahnya menggambarkan keraguan
perlahan Adiba menghampiri mobil Gus Al...setelah melewati perdebatan dalam otanya ahirnya mengiyakan adalah keputusan yang dimenangkan dalam fikiranya saat ini, Adiba membuka pintu belakang mobil milik Gus Al, Adiba tidak ada niat untuk duduk di depan, karena bagaimanapun Adiba harus tau diri.Dia hanyalah santrinya Gus Al, kalau duduk didepan menjejerkan dirinya dengan Gus Al bukankah itu tindakan sembrono.
.
"anu...sini aja Gus"
Al tau alasan kenapa Adiba tidak mau duduk didepannya, rasa rikuh pasti saat ini menguasai Adiba
"siapa komandan ..??"
al mencoba menanyakan sesuatu yang sudah dua kali dia dengar dari para santrinya, Al memperhatikan ekspresi Adiba dari kaca spionnya, Adiba terlihat kaget, mengangkat pandanganya ke arah dirinya, kemudian tertunduk kembali,Menarik ujung hijabnya menandakan akan kegelisahan yang menyapanya.
"deg"
jantung Adiba seperti berkejar kejaran, berdetak dengan ritme yang diluar kebiasaanya, lidahnya kaku seperti tertarik kedalam, pikirannya seakan pergi dari dirinya, tak ada yang bisa Adiba katakan saat ini, otaknya kosong, tidak ada kalimat yang mampu dia jelaskan untuk pertanyaan sederhana itu, keinginan untuk kabur dari situasi saat ini seakan menjadi pilihannya saat ini, tapi itu tidak mungkin, karena saat ini mobil masih melaju di jalanan,,,
"ya Gusti apa yang harus adiba katakan kepada Gus Al, apa iya Adiba harus jelaskan bahwa komandan itu sosok ngganteng yang sekarang ada didepan Adiba..."
__ADS_1
"kenapa Adiba..."Al mencoba menanyakan keadaan Adiba, karena untuk saat ini muka Adiba terlihat seperti tidak ada darah yang mengalir di dalamnya.
"mbioten Gus..eh pak...."Adiba mencoba mengarahkan pandanganya ke punggung Gus Al
"jadi komandan itu siapa??"Al mencoba menanyakan lagi pertanyaan yang belum mampu Adiba jawab..
"anu pak...komandan itu..opa opa Korea"
Adiba tidak menyangka bahwa jawaban itu yang akan keluar dari mulutnya
"opa Korea....??trus apa hubungannya dengan saya...saya sudah dua kali loh mendengar kalian menyebut itu"
Al masih memperpanjang pertanyaannya, karena untuk saat ini Al tidak tau harus membicarakan apa dengan Adiba.
"anu itu pak..."Adiba bingung harus jawab apa.
"kalau aku tau ini akan terjadi, saya lebih baik memilih lari dari pondok ke kantor Gus Al,..dari pada aku harus dapat pertanyaan yang mematikan otakku"
"apa karena saya mirip opa opa Korea??"
"Iya"
tanpa Adiba sadari satu jawaban keluar dari bibirnya, pertanyaan Gus Al lewat begitu saja ketika fikiran Adiba sedang melayang layang dalam lamunannya.
Al terlihat menahan senyum mendengar jawaban dari Adiba..ada perasaan aneh yang tiba tiba masuk dalam dirinya, ada rasa bahagia yang entah apa alasanya,.Ini bukan pertama kalinya al mendengar pujian itu, sudah banyak sekali gadis di luar sana yang terang terangan mengatakannya.tapi untuk saat ini hanya karena Adiba mengiyakan bahwa dirinya mirip opa opa Korea hatinya seakan dihampiri dengan yang namanya bahagia.
"anu pak ngapunten...maksud Diba anu..."
"udah ayo turun ..udah sampai..."
Adiba masih menahan malunya ketika turun dari mobil Gus Al.adiba tak mampu untuk menatap wajah Gus Al, perlahan Adiba melangkahkan kikinya mengikuti sosok yang terlihat menahan seulas senyum di bibirnya.
***bersambung yeeeee
**☺️☺️☺️☺️like dan komentarnya yaaaaa
__ADS_1