
Keheningan seakan masih menguasai perjalanan pulang Adiba dengan Gus Al sore menjelam malam itu, tidak ada yang besuara, hanya suara musik yang memang d stel Gus Al untuk mengalihkan fikiranya saat ini.Sejak keluar dari ruangan Adiba sore tadi hati dan fikiranya entah kenapa, ada udara panas yang seakan menghabiskan segala ruang yang ada di otaknya, dadanya sakit seakan terhimpit oleh benda yang tiba tiba tanpa permisi masuk kedalamnya, hanya kerena dia mendengar perempuan yang sedang dia perjuangkan melepas tawa dengan seseorang yang sebenarnya dia kenal, tapi untuk saat ini hanya sekedar untuk menerima bahwa semua masih di batas wajar fikiran dan batinya seakan menolak. sesekali Gus Al mungucapkan istighfar, demi untuk mengurangi emosi yang seakan memaksanya untuk bermain dengan nalarnya.
"Maaf jika Diba melakukan sesuatu yang bikin Gus Al marah" Diba memeberanikan diri, karena untuk tetap diam Adiba pikir akan semakin memperkeruh suasana.
"Kamu ngga salah, cuma saja aku tidak begitu suka jika kamu harus berbagi tawa dengan laki laki lain." Gus Al menepikan mobilnya,ditatapnya perempuan yang hanya sedari tadi menunduk mempermainkan ujung jilbabnya.
"Aku tau Dib, aku belum berhak atas dirimu, tapi kalau boleh, dukung perjuangan ku menjadikanmu halal untuku dengan tidak berbagi tawa, atau apapun itu dengan yang bukan mahrammu" Jelas Gus Al.
"Maaf, lain kali akan lebih Adiba perhatikan Gus"
"Hem...kita cari masjid dulu baru kita cari makan ya" Gus Al mulai menyalakan lagi mesin mobilnya yang sempat iya matikan tadi.
"Tapi nanti Adiba bisa telat pulangnya, ngga enak sama teman sekamar Gus"
Gus Al melirik sekilas waja Adiba " Nanti biar saya yang jelaskan, kamu tenang aja"
Adiba mengangguk, tidak ada pilihan baginya selain mengiyakan ajakan Gus Al kali ini.
Setelah melaksanakan kewajibannya untuk sholat tiga rakaat, mobil milik Gus Al kini terlihat mengitari jalanan kota Semarang, pemandangan yang cukup indah di dukung dengan suasana terang menjadikan malam terlihat begitu istimewa.
"Pakai ini" Gus Al mengulurkan jaket setelah mereka turun dari mobil." Udara terlalu dingin malam ini, nanti kamu bisa masuk angin."
Meski enggan Adiba menerima tawaran Gus Al, diterimanya jaket itu kemudian iya kenakan di tubuhnya, meski terlihat kedodoran tapi itu mampu menghangatkan tubunya yang memang sudah mulai terjamah oleh angin malam. Adiba terus mengikuti langkah Gus Al yang sudah berada di depanya memasuki sebuah kedai makanan yang menyajikan makanan berbahan baku bebek, hal itu bisa di tebak dari Benner yang terpampang di dinding depan kedai itu.
__ADS_1
"kamu mau makan apa Dib? " tanya Gus Al, setelah mereka menemukan tempat duduk.
"Terserah Gus Al saja" jawab Adiba
"Gimana kalau kita pesan sate bebek saja?"Tawar Gus Al.
Adiba mengangguk " Iya bisa"
Gus memanggil salah satu pelayan, kemudian memesan apa yang telah disepakati dengan Adiba tadi. Sambil menunggu pesanan mereka datang, mereka terlibat dalam obrolan .
"Kuliyahmu tinggal satu tahun lagi ya Dib?"
"Enggih Gus"
Adiba terdiam, otaknya mulai berdiskusi, mencari jawaban yang sesungguhnya diinginkan hatinya, belum sempat terlintas dalam benak Adiba untuk menikah muda, masih banyak cita cita yang masih Adiba rangkai disetiap doanya, meski Gus Al masuk dalam salah satunya, tapi tidak untuk secepat ini.
"Diba,..Adiba" Gus Al mengulang kalimatnya, karena dilihatnya Adiba sibuk dengan pikiranya sendiri.
"Eh dalem Gus" Adiba mengumpulkan kesadarannya, di tatatpnya wajah yang dari tadi menatapnya, hanya untuk beberap detik saja, sesudahnya Adiba tak berani melakukanya lagi.
Disaat yang sama pelayan yang di tunggu mereka ahirnya tiba, setelah menata pesanan pelayan itu mempersilahkan Adiba dan Gus Al untuk menikmatinya. Tidak ada obrolan yang terucap selama mereka makan, hanya saling curi pandang yang terjadi diantara berdua. Setelah hampir satu jam mereka meninggalkan tempat itu, kemudian mereka memilih untuk kembali ke Pondok mereka.
"Cukup sekali aja tuh gamis di pakai kamu, habis di cuci bisa di kasih ke teman kamarmu" Gus Al mengawali percakapan mereka di dalam mobil.Adiba tersentak, pikiranya tiba tiba mencari jawaban atas perintah Gus Al, kenapa dia harus memberikan gamisnya kepada temanya, bukankah itu masih bisa dipakainya. Belum sempat Adiba memperoleh jawaban atas pertanyaan itu Suara Gus Al sudah terdengar lagi.
__ADS_1
"Saya ngga suka kamu dapat hadiah dari laki laki lain, apapun bentuk dan alasanya, kamu paham?"ada tekanan di kata terahir yang Gus awal ucapkan. Adiba mengangguk "Oh"
"kenapa cuma oh" tanya Gus Al.
"Maaf, tadinya Adiba bingung kenapa harus kasih gamis ini ke teman Adiba, ternyata itu alasannya, jadi oh"
"Kamu ngga mau, ?Gus Al melirik ke arah Adiba.
"Bukan begitu, hanya aneh saja" jawab Adiba
"Apanya yang aneh, " tanya Gus Al lagi.
"Ngga ada" Adiba memilih untuk tidak memperpanjang lagi perdebatan mereka, karena saat ini mereka telah sampai di Pondok mereka. Adiba melepas jaket yang iya kenakan, kemudian diulurkan ke arah Gus Al.
"Terimakasih, Adiba ke kamar dulu, assalamu'alaikum"
" Wa'alikumsalam, langsung mandi,nanti kalau ada yang mempermasalahkan keterlambatan kamu, jawab aja ada tugas dari saya,"
Adiba mengangguk kemudian berlalu meninggalkan Gus Al.
Gus Al kembali ke rumahnya setelah memastikan perempuan itu sampai di kamarnya. Fikiran Gus Al kembali teringat atas percakapanya tadi pagi dengan Abahnha ketika memasuki rumahnya, bagaimanapun Gus Al tidak mudah untuk menolak keinginan abahnya, tapi Gus Al juga harus memperjuangkan kan cintanya.
***BERSAMBUNG
__ADS_1