
pagi masih sama seperti kemarin, datang tanpa harus diberi isyarat menampakan keindahannya. menjadi bukti bahwa waktu memang berbutar, dan hari pasti berganti, tapi tidak dengan Perasaan seseorang yang masih setia mendoakan pengusik hatinya lewat doa. Adiba baru selesai menyelesaikan dua rakaat, ketika tanganya diangkat mengutarakan segala kegundahan yang menyelinap dalam dirinya.
" Ya Gusti..dengan cara apa lagi hamba membuang perasaan ini,..menjauhkan rasa yang memang tidak seharusnya berdiam dalam diri hamba...Tunjukan cara dan jalanya bagi hamba agar bisa menjauh dari segala rasa yang memang tidak seharusnya ada,..Cinta dan rasa kagumku pada salah satu MahlukMu biarkan menjadi rahasia antara aku dan Engkau ya Alloh, Biarkan ini menjadi salah satu rasa yang akan kupendam hingga saatnya nanti Engkau ijinkan rasa ini pergi dalam diri hamba..Ampuni segala dosa yang terus mengalir dalam diri hamba dengan selalu mengagumi kesempurnaan salah satu ciptaanMu dengan dinodai oleh getar yang begitu memalukan..hamba terlalu hina untuk orang yang sesempurna Beliau, hamba terlalu rendah untuk orang yang setinggi beliau, ijinkan ya Alloh, ijinkan perasaan ini pergi dari tempatnya...aamiin"
Adiba masih tersenyum, menikmati sekilas pemandangan yang mampu ditangkap oleh kedua bola matanya, lewat celah yang mampu membawa pandang Adiba ke arah Gus Al, yang terlihat masih husuk mencurahkan segala kerinduannya dengan sang Pencipta.Perlahan Adiba meninggalkan tempat duduknya, mengikuti langkah sahabatnya Mia yang sudah duluan meninggalkan dirinya.
"Mia...Mia...ih...tungguin.."
"kamu ya kalau liyatin sosok di deket pilar itu wuih, mata udah ngga mau berkedip, mulut mlongo, sampai ileran ga kerasa, tau tau dah satu ember,,hahahaaa"
Mia menutup melutnya, karena saat ini tawa yang dikeluarkan sudah mampu menarik perhatian santri yang berada di sekitar Masjid.
"hussttt..kamu mau aku bunuh?Mulutnya Masya Alloh kalau ngomong, kaya ada speker aktifnya" Adiba meletakan jari telunjuknya di depan mulutnya, matanya mengawasi sekitar, Adiba takut omongan Mia di dengar yang lainya.
"Emang benerkan,?kamu kalau sudah memperhatikan komandan kita, ehmm,,..
ada yang lain disenyumu, yang membuat lidahku, gugup tak bergerak ada pelangi, di bola matamu...ehem ehemm" Mia mencoba menghindar ketika dilihatnya Adiba hendak mencubit lenganya.
"Awas ya kamu Mia, pokoknya kita putus.."Adiba mencoba mengejar Mia yang sudah lari dari hadapannya
***
__ADS_1
Adiba sampai di kantor pukul 7.30, di letakanya tas yang dari tadi setia menemani perjalananya, kemudian ditariknya kursi yang akan dijadikan tempat duduk, leptop yang ada dihadapannya dinyalakan bermaksud untuk melanjutkan membuat disain yang kemarin belum sempat Adiba selesaikan.
"Diba.."
"iya mba..."Adiba memandang wajah mba Retno yang tanpa Adiba sadari sudah ada di samping mejanya
"kamu disuruh keruang pak Halil sekarang." mba Retno menepuk pundak Adiba, kemudian kembali ke ruangannya.
Adiba berdiri dari tempat duduknya, pikiranya di hampiri oleh pertanyaan kenapa dirinya di panggil keruang pak Halil sepagi ini, bukankan tugas untuk mendisain iklan masih beberapa hari lagi. setelah dipersilahkan masuk kini Adiba sudah berada di depan pak Halil.
"Diba..tadi saya berangkat lupa belum sempat sarapan, tolong kamu beliin sarapan di kantin ya" Gus Al mengambil selembar uang dari dompetnya kemudian diberikan kepada Adiba.
"Maaf pak, apa yang harus adiba beli ya?"Adiba bertanya tanpa mau menatap lawan bicaranya.
"saya mau ke belakang dulu, .."
Adiba masih bengong di tempatnya sebelum disadarkan kembali oleh suara milik Gus Al.
"Beli dua ya..."
Setelah melakukan perdebatan yang luar biasa di dalam otaknya, tentang apa yang harus dibelinya untuk menu sarapan Gus Al, dan hasil Voting dimenangkan oleh Bubur ayam, kini Adiba terlihat kembali keruang Gus Al dengan dua plastik kresek yang ada di tanganya."semoga Gus Al menyukainya"
__ADS_1
Adiba mengetuk pintu ruangan Gus Al, suara Gus Al mempersilahkan Adiba untuk masuk ruangannya. diletakkannya dua plastik kresek tadi di atas meja.
"Maaf pak, anu...saya beli bubur ayam, kalau pak Halil tidak berkenan nanti bisa saya ganti dengan yang lain" Adiba masih dalam posisi berdiri ketika mencoba menjelaskan kepada Gus Al
"Oh..ya Nda papa, saya bisa memakannya,."
"ini yang satu buat kamu, silahkan dimakan Diba" Gus Al mengulurkan satu plastik kresek yang berisi bubur ayam ke arah Adiba
"maaf Gus...tapi saya sudah sarapan tadi di pondok sebelum kesini" Adiba masih enggan menerima pemberian Gus Al.
"Nda papa, saya cuma mau ditemenin sarapan saja,.kamu boleh makan di sofa sana,"Gus ala menunjuk sofa Yang ada dipojok ruangannya
Adiba sebenarnya enggan untuk sarapan lagi, tapi Adiba juga tidak enak jika harus menolak perintah Gus Al.
Adiba duduk di sofa yang ditunjuk Gus Al, menikmati sarapan yang dibelinya dengan perasaan canggung, Adiba tidak berani mengangkat pandanganya, raut mukanya penuh dengan ketidak nyamanan, berbeda dengan sosok yang sedang tersenyum menikmati sarapan yang ada dihadapannya.
"hanya karena ada kamu Adiba, sarapan ini terasa lebih enak dari biasanya"
***Bersambung dulu yaaaa
IKAN HIU MUTER MUTER
__ADS_1
I LOVE YOU READER🤭☺️☺️☺️☺️