
"Bruk"
Dorongan dari arah belakang membuat posisi Adiba sekarang terjatuh di lantai.Ada rasa nyeri disekitar kaki Adiba saat ini, tapi itu tidak seberapa dibandingkan dengan rasa malu yang rasakan, Adiba berada di salah satu mall besar yang ada di kota Semarang saat ini, Adiba mendapat tugas untuk mengamati jenis iklan yang terpampang di sekitar mall itu, ketika dirinya sedang fokus dengan apa yang di perhatikan tiba tiba ada yang mendorong tubuhnya dari arah belakang.
"Nak..maaf"
seorang laki laki paruh baya mencoba mengulurkan tanganya ke arah Adiba.
"iya pak nda papa, saya juga salah pak berdiri di tengah tengah" Adiba menerima uluran tangan laki laki itu.
"au"
Adiba meringis menahan sakit disekitar kakinya ketika Adiba mencoba untuk berdiri.
"sakit ya nak...sekali lagi mohon maaf, kita kerumah sakit aja ya nak, bapak takut kaki kamu kenapa Napa" laki laki itu membantu Adiba untuk duduk disalah satu bangku yang ada di dekat pagar pembatas.
"nda usah pak, nanti dikasih balsem juga sembuh pak" Adiba tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya.
"beneran nak, kita tidak perlu kerumah sakit?"laki laki itu mencoba meyakinkan keputusan Adiba, sekilas ditatapnya wajah Adiba menganggukan kepalanya.
"ok kalau kamu tidak berkenan bapak antar kerumah sakit, ijinkan bapak antar kamu pulang kerumah ya?"
Adiba mengiyakan ajakan laki laki itu, Adiba memang membutuhkan pertolangannya saat ini, dengan kondisi seperti ini dia tidak yakin untuk mencari angkot untuk bisa pulang ke pondoknya.
"Sebentar ya bapak telfon anak bapak dulu," laki laki itu berdiri dari tempat duduknya kemudian menghubungi seseorang di sebrang sana.
**
"Adiba..."
Adiba mendongak,mencari arah suara yang memanggil namanya.
"kak Gantar.." Adiba teihat bingung dengan kebetulan yang tiba-tiba menghampirinya.
"kalian kenal?"laki laki itu menanyakan kejelasan dari Gantar.
"iya yah..baru beberapa hari kami kenalnya"
"Oh..baiklah nak, saya pak Ramlan ayahnya Gantar." pak Ramlan memperkenalkan dirinya
"Adiba pak, temennya ka Gantar"
"Maaf Adiba, bapak ada urusan, jadi Gantar yang akan mengantar kamu pulang, Nda papa kan nak?" tampak raut penyesalan di wajah pak Ramlan
"iya pak nda papa, maaf ngrepoti"
"Bapak yang minta maaf, sudah bikin kaki kamu kaya gitu, sekali lagi bapak minta maaf ya, bapak Nda bisa nganter kamu"
"iya pak"
Setelah terlihat membicarakan sesuatu dengan anakanya, pak Ramlan meninggalkan Mall itu untuk menyelesaikan urusannya.
__ADS_1
"Biar saya bantu kamu de"
Gentar bermaksud menolong Adiba yang terlihat kesusahan untuk melangkahkan kakinya, tapi Adiba menolak tawarannya.
"terima kasih kak, Adiba bisa jalan sendiri" Adiba terus berjalan meski sekarang Adiba terlihat menahan sakit di kakinya.
Setelah sampai di depan mall, Gantar meninggalkan Adiba untuk mengambil mobilnya yang ada dipalkiran. Mobil berwarna merah berhenti di depan Adiba, terlihat Gantar keluar dari dalam mobil itu.
"Ayo De,"
Gantar membuka pintu depan mobil.
Adiba mengangguk kemudian meski terlihat canggung Adiba tetap masuk kedalam mobil itu.
"Alamat rumahmu dimana?"
setelah berada di jalanan, Gantar mencoba menanyakan alamat Adiba.
"Adiba mondok di Darrul Muttaqin ka.." Adiba memainkan ujung jilbabnya, ada perasaan gelisah ketika harus pulang ke pondok diantar oleh laki laki.
"Darrul Muttaqin?"Gantar memandang wajah Adiba, mencoba meyakinkan lagi apa yang baru saja didengarnya.
"iya ka,.."Adiba tidak masih memandang ujung jilbabnya, tidak berani untuk mengarahkan tatapanya ke arah Gantar.
"Kamu santri kyai Sidiq?"
"Iya ka, Kaka kenal?" tanpa Adiba sadari kini Adiba menatap Gantar, laki laki dengan kemeja hitam, dengan rambut yang disisir rapi itu terlihat tersenyum, meski kini arah pandanganya lurus ke arah depan.
Gantar menarik arah matanya,mengfokuskan arah pandanganya kedepan.
"semoga Alloh merestui untuk menjadikan kau tempat berlindungku dari segala hasrat Cintaku Adiba"
***
Mobil merah yang mengantar Adiba telah sampai di depan kediaman kyai sidiq, Gantar membukakan Pintu mobil untuk Adiba, keluarlah gadis yang memakai rok hitam dan batik merah itu dengan hijab khas santri.
"kamu beneran Nda perlu di bantu kekamar kamu de?"
"nda perlu ka, Adiba bisa sendiri, makasih ya ka udah mau nganterin Adiba" Adiba menundukan kepalanya
"iya,. sudah seharusnya Kaka nganterin kamu, kan yang membuat kamu kaya gitu ayah Kaka," Gantar masih terus memperhatikan wajah perempuan yang berdiri dihadapanya.
"Namanya juga musibah ka, Nda ada yang tau, jadi ngga ada yang salah" Adiba tersenyum meyakinkan ke Gantar kalau kondisinya tidak begitu menghawatirkan.
"bukan cuma wajahmu, hatimu juga baik de,," Gantar menyandarkan tubuhnya ke mobil.
"Maaf ka, Diba ke kamar dulu, assalamu'alaikum " Adiba meninggalkan Gantar, Adiba tidak mau jadi pusat perhatian santri lainya, selain itu Adiba tidak mau melanjutkan pembahasan yang menurut Adiba sudah tidak enak untuk dibahas.
"Wa'alaikum salam"
Gantar masih menatap kepergian Adiba, ada senyum yang muncul di wajahnya.
__ADS_1
"Gantar.."
Suara seseorang terdengar menyapa Gantar..
"Abah,.."
Gantar mendekati kyai sidiq yang sudah berdiri di ambang pintu rumahnya, kemudian mencium punggung tangan kyai sidiq yang sudah Gantar anggap seperti abahnya sendiri.
"assalamu'alaikum bah, Abah sehat?"
"wa'alikumsalam,.. Alhamdulillah Abah sehat, waras dan bahagia" kyai sidiq tersenyum kearah Gantar
"Abah bisa aja,,," Gantar mengarahkan pandanganya ke arah pondok putri, memastikan Adiba baik baik saja, karena Gantar khawatir dengan Adiba yang harus jalan dengan kaki yang masih sakit.
"kamu suka Adiba Gan?"
suara kyai sidiq mengejutkan Gantar.
"anu, itu bah,,,eh,," Suara Gantar terdengar gugup
"Abah Restui kamu, nanti Abah bantu kamu ngomong ke orang tuanya Adiba, gimana gan?"
"terimakasih bah" Gantar tersenyum mendengar usulan kyai sidiq
"eh, ngomong-ngomong ko bisa kamu nganterin Adiba, trus itu kenapa kaki Adiba?"
"Anu itu tadi Nda sengaja Adiba jatuh ketabrak sama ayah pas di mall bah"
"oh,..eh ayo masuk, nda enak ngobrol sambil berdiri"
"terimakasih bah, tapi Gantar masih ada yang harus dikerjakan, lain kali Gantar mampir bah" Gantar kembali mencium punggung tangan nkyai sidiq
"oh ya udah, hati hati, jangan malas cari uangnya, ingat ada perempuan' yang menunggu kamu untuk segera di halalkan"
kyai Sodiq tertawa sambil menepuk pundak Gantar.
"Siap bah... assalamu'alaikum"
"wa'alikumsalam"
Gantar meninggalkan pondok pesantren, senyum terus berkembang di wajahnya, tidak disangka begitu cepat dia mendapat dukungan dari kyai Sidiq.
"tunggu Kaka Diba, sebentar saja, Kaka akan memintamu untuk menemani perjalanan hidup Kaka, sebentar saja diba"
** bersambung lagiii
☺️☺️☺️
ikan hiu makan makan permen
aku padamu mennnnnnnn🤭🤭🤭🤭
__ADS_1