
Teriknya matahari yang seakan menusuk kedalam ruangan, tak mengganggu dua sahabat yang sedang melepas Rindu.hampir 8 tahun dua sahabat itu tidak saling berjumpa, lebih tepatnya dimulai ketika Al memilih untuk melanjutkan studinya ke Kairo, dan Gantar tetap memilih Universitas yang ada di Indonesia.Sebelumnya dua manusia yang di pertemukan di Bangku SMP itu menjalani kesehariannya seperti sepasang kekasih, kemanapun Al berada di situ Gantar mengikuti,hal itupun berlangsung sampai mereka tingkat SMA.
"Abah sehat Al..??"
Gantar menanyakan keadaannya Kyai sidiq yang selama ini sudah Gantar anggap seperti orang tuanya sendiri.
"Alahamdulillah, sehat...doakan semoga Abah selalu sehat Gan.."
Al Beranjak dari tempat duduknya untuk mengambil benda pipih yang ada di meja kerjanya.sekilas melihat layarnya dan membaca notifikasi yang baru saja masuk
"Selalu...setiap doa tak pernah aku lupakan untuk kesehatan Abah..."
"Siapa Al...pacarmu ya...cieh..Nda usah pacaran Al...langsung nikahin aja, nanti pacaranya abis nikah aja, biar seru"
"pacar itu apa Gan?..benda yang jadi pembatas di depan rumah ya??"Al meletakan benda yang ada di tanganya kembali ke tempatnya
"Pagar woy...pagar...."
"hahahahaaa...santuy woy...
bukan pacarlah...itu ustadz Samsul, beliau mengundang aku untuk kerumahnya..tapi aku belum sempat,"Al kemudian duduk di samping Genta sambil menerawang langit langit kantornya, ada beban yang tak mampu Al bagikan kepada sahabatnya itu.
__ADS_1
"oh..."Genta menganggukkan kepalanya
"Ayo keluar, aku traktir kamu makan sate Deket SMA kita dulu" Gantar Berdiri Merapikan Jas hitamnya.
"Laksanakan..."Al pun mengikuti Gantar berdiri dan berjalan meninggalkan kantornya.
***
Setelah menempuh perjalanan 15 Menit, Adiba dan Mia kini sampai di Pondok Pesantren, Mia memperhatikan Adiba seperti ada Yang aneh, Semenjak Adiba keluar dari Ruangan Pak Khalil, senyum merekah tak pernah meninggalkan bibir mungilnya.seperti ada kupu kupu yang bersliweran di matanya.
"kamu seneng bangat Dib...apa yang terjadi tadi di ruangan pak Khalil?"
"Seneng lah ..orang aku langsung di trima magang d tempatnya pak Khalil, jadi aku NDA perlu repot repot lagi cari tempat magang."
"Mia...kamu tau Nda Pak Khalil itu siapa??"
"Siapa??..opa opa Korea...atau Sultan Malaysia???
"hissssss...otakmu itu loh..isinya penuh sama opa opa Korea..."
"Pak Khalil itu sang Komandan..."Adiba menjelaskan dengan suara yang pelan, karena mereka sudah sampai di area pondok, banyak sekali santri yang bersliweran, Adiba takut ceritanya akan di dengar santri lainya.
__ADS_1
"hah....Gus Al???"
tanpa sadar Mia menyuarakan suaranya dengan nada Tinggi, sehingga menarik perhatian beberapa santri yang ada di sekelilinya.Adiba dengan reflek menyekap mulutnya sahabatnya itu supaya diam, kemudian menarik tanganya di bawa ke Balik Pohon yang ada di Belakang Pondoknya.Pohon yang menjadi saksi kisah cinta para santri, disinilah biyasanya para santri akan diam diam bertemu dengan lawan jenisnya, sekedar bertemu dengan malu malu atau hanya sekedar saling bertukar surat rindu, Yah,,Santri juga Makhluk Alloh yang dihadiahi rasa Cinta,,jadi ada dari Beberapa santri yang menyelipkan kisah cinta mereka di tengah tengah aktifitas Mondoknya.
"jangan keras keras kamu ngomongnya..."adiba melepaskan tarikan tanganya
"aku kaget Dib"
"jadi pemilik percetakan itu Komandan kita..Gus Al??..ko bisa dib?"
Mia mencoba memperjelas lagi apa yang baru saja iya dengar dari sahabatnya..
"iya pak Khalil itu Komandan kita...Gus Al"
Adiba dan Mia biasa memakai sebutan Komandan untuk mengganti nama Gus Al ketika mereka sedang menceritakan Sosok idolanya itu, karena mereka Nda mau nantinya santri lainya tau, kalau Adiba dan Mia menjadi salah satu pengagum Gus Al paling depan.
"Siapa itu..."
Adiba dan Mia menoleh ke sumber suara..
"Astaghfirullah...mati kita Mia"
__ADS_1
**bersambung
**LIKE DAN KOMEN YAAAA