
Bau basah yang ditaburkan oleh embun pagi hari masuk dan terhisap oleh Gantar yang masih terlelap di balik selimutnya, masih berkutat dengan alam mimpinya, Tidur sendirian di rumah yang begitu besar sudah menjadi kebiasaan yang Gantar nikmati setiap hari, ayah Gantar yang lebih memilih tinggal di Kalimantan dengan Istrinya untuk mengelola pabrik kelapa sawitnya, sedang kan Gantar lebih memilih mengelola salah satu usahanya yang ada di Semarang. Menjadi anak tunggal dalam keluarganya tidak menjadikan Gantar tumbuh menjadi pribadi yang manja, terididik dengan disiplin menjadikan Gantar sosok laki laki yang dewasa dan penuh tanggung jawab.
Kring kring kring
Alarm yang memang Gantar setel untuk membantu dia bangun tepat waktu sudah berbunyi sesuai dengan jadwal yang sudah dia atur, Mata yang tadinya terpejam, perlahan terbuka. Setelah dipastikan nyawanya terkumpumpul kemudian Gantar menyelesaikan rutinitas paginya.
"Sarapanya sudah siap Den" Mbok Darmi yang membantu di rumah Gantar menyapa Gantar setelah dilihatnya Gantar menuruni anak tangga.
"Iya mbok, makasih" Gantar mendekat ke meja makan, dinikmatinya kopi yang menjadi favoritnya di pagi hari, Nasi goreng yang sudah siap dihidangkan mampu menggugah selera makan Gantar pagi ini.
"Mbok, nanti sore Nda usah masak ya, aku ada janji makan bareng temen " ucap Gantar
" Nggih den" Mbok Darmi yang sedang sibuk membereskan dapur sekilas menatap ke arah Gantar.
Setelah menyelesaikan sarapan paginya Gantar meninggalkan rumahnya, menuju ke kantornya yang berada di pusat kota Semarang.Jalanan yang tidak begitu padat menjadikan perjalanan Gantar lancar tanpa adanya drama bermacet macetan, sesampainya di kantor Gantar disambut oleh beberapa pegawai yang memang sudah lebih dulu sampai di tempat kerjanya.
Pagi pak,...
Beberapa karyawan menunduk dan menyapa kearah Gantar, dan beberapa pasang mata milik karyawan perempuan banyak yang tertuju pada sosok ganteng yang yang mereka kagumi itu, bagi Gantar mendapat pandangan seperti itu sudah menjadi hal biasa yang dia dapati, jadi sudah tidak mengganggu aktifitasnya.
***
Gantar sudah menyelesaikan segala yang menjadi kesibukanya hari ini, lebih tepatnya di paksa untuk selesai, karna bagi Gantar tidak ada yang lebih menarik dan lebih penting saat ini selain untuk segera melajukan kendaraanya menjemput Adiba sesuai yang telah direncanakan kemarin, dan saat ini Gantar telah sampai di depan kantor tempat Adiba bekerja.
"Assalamu'alaikum, dengan Adiba disini, ada yang bisa kami bantu"
__ADS_1
Suara perempuan di ujung telefonya membuat Gantar sedikit menarik ujung bibirnya.
"Wa'alikumsalam de ini Kaka, kamu belum selesai? Kaka tunggu di depan ya" ucap Gantar
"Oh kaka, bentar ya ka, lima nenit lagi Diba kedepan"
"Siap Bu nyai"
"Apaan si ka?"
"Hehehe, jangan ngambek jeleknya ilang" ucap Gantar dengan tawanya
"Jadi jelek nih?" Tanya adiba
"Jangan manyun tambah jelek" Gantar masih saja menggoda perempuan yang semakin membuatnya tersenyum lebar itu.
Tut Tut tut
"Wa'alikumsalam...bikin gemes" Gantar meletakan kembali Hp.a di saku jasnya.
Dari kejauhan Gantar bisa melihat Adiba yang sedang menuju kearahnya, Gantar bergegas turun dan membukakan pintu mobil untuk Adiba.
"Monggo Bu Nyai" Ucap Gantar kearah Adiba
"Hem... Maturnuwun Jendral" Adiba membalas bercandaannya Gantar.Gantar tersenyum mendengar jawaban Adiba, setelah menutup pintu mobil Gantar kembali memutar untuk kembali ke balik kemudinya.
__ADS_1
"Ok..hari ini Bu nyai mau kemana, biar Jendral antar" Gantar memiringkan badannya, sehingga sekarang menghadap kearah Adiba.
"Hem..terserah Jendral saja, saya mah cuma prajutit atuh, jadi ngikut Jenderalnya saja" Adiba sudah berani membalas tatapan Gantar, entah karena apa sekarang Adiba merasa berada di dekat Gantar segala perasaan canggung itu sudah tidak ada,yang ada perasaan nyaman yang iya dapatkan dari sosok Gantar yang sudah iya anggap seperti kakaknya sendiri.
"Oke lah kalau begitu, Bu nyai diam di tempatnya saja, biar nanti jendral yang cariin tempat yang bagus buat makan kita" Gantar meluruskan posisi duduknya, kemudian melajukan kendaraan'ya ke tempat yang akan ditujunya.
"Ayo turun.." Ajak Gantar setelah mereka sampai di depan sebuah tempat makan yang berada di pinggiran sawah. Adiba memandang sekiling tempat itu, tiba tiba sosok orang tuanya hadir dalam bayangannya ,Suasan persawahan itu mengingatkan akan desanya, desa yang Ahir Ahir ini iya rindukan.
."Hay kenapa?" Gantar menggoyangkan telapak tanganya di depan wajah Adiba, karena sejak Gantar turun dan membukakan pintu untuk Adiba, Adiba terlihat tidak meresponnya.
"De..."
Gantar mencoba memanggil lagi Adiba, karena Adiba masih saja asik dengan lamunanya.
"eh maaf ka..." Adiba turun dari mobil itu kemudian menatap sekilas wajah Gantar yang menghawatirkan dirinya.
"Kenapa?Ade sakit?"Tanya Gantar
"Ngga ka, Diba baik baik saja, cuma tadi tiba tiba Diba keinget desa Diba ka" Adiba menunduk sambil melakukan kebiasaanya, memainkan ujung jilbabnya.
"Oh, syukurlah kalau kamu ga papa...Yuh masuk" Gantar mengajak Adiba masuk. Setelah berbincang dengan salah satu pelayan, sekarang Gantar dan Adiba berjalan menuju salah satu Gazebo yang sudah di tunjukan pelayan tadi.
"Adiba..."
suara seseorang yang berada di salah satu Gazebo membuat Adiba mencari sumber suara..
__ADS_1
"Komandan...." Batin Adiba.
***BERSAMBUNG