Di Balik Pilar Masjid

Di Balik Pilar Masjid
20. DPM " Arofah..."


__ADS_3

Temaram lampu pojok Masjid kini jadi saksi kebisuan lisan perempuan cantik yang sedari tadi mengadu kegundahan hatinya pada sang pencipta. Hanya hati yang kian mengoceh, mengadukan berbagai keluh kesah, sedang lisan hanya mampu bergerak tanpa suara.


"Engkau yang mengatur segala rasa yang Engkau hadiahkan kepada kami Rabb, jika rasa ini memang Engkau takdirkan untuk berdiam pada sosok Gus Al, permudah dan perjelas langkah kami.Ijinkan rasa ini menemui jalanya, karena sungguh segala sesuatu di dunia ini adalah atas kehendakMu..jika memang Beliau yang engkau gariskan untuk jadi pelengkap Tulung rusuk hamba, ridhoi langkah kami, tapi jika rasa itu hanya sebagai dosa yang tidak ada ujungnya, tunjukan kebenaranya..aamiin.


Adiba mengahiri rutinitas curhatnya kepada Gusti Alloh, diperhatikan lagi sosok yang memang iya tunggu untuk disapanya. Setelah memalui voting dalam batin nya kini Adiba untuk memutuskan menjawab pertanyaan dari Gus Al. Hampir setengah jam sudah Adiba menunggu sosok Gus Al yang masih betah untuk berdzikir, kini sosok itu terlihat bergerak dari duduknya, mematikan lampu lampu yang ada di Masjid, kemudian Gus Al keluar dari masjid itu bersandar pada salah satua tiang yang berada di teras masjid. Diperhatikan sekeliling masjid, sudah cukup sepi karena memang waktu sudah terlalu malam untuk para santri beraktifitas.


"Assalamu'alaikum.." Adiba memeberanikan diri menyapa Gus Al yang sudah berdiri di depannya. Gus Al menoleh ke arah Adiba, senyum mengembang di bibirnya.


"Wa'alikumsalam..belum istirahat Dib?"


"Belum Gus.." Adiba memandang sekilas wajah Gus Al, menarik nafas dalam,-dalam kemudian di keluarkan perlahan.


"Maaf Gus kalau Adiba lancang, tapi ada yang ingin Adiba pastikan" ada keseriusan yang tampak di wajah cantik Adiba


"kenapa?Soal coretan saya? segala yang saya tuangkan dalam kertas itu memang benar, kenapa saya beranikan ceritakan kepadamu Dib, karena saya tidak ingin memendam sesuatu sendirian.tapi....jika itu menjadikan beban untukmu, lupakan segalanya, anggap saya tidak pernah berkata apapun padamu" jelas Gus Al


"Bagaimana jika Adiba pun mempunyai rasa yang sama seperti itu? apakah harus Adiba pertahankan karena Adiba tau rasa itu tidak sepihak?" Adiba memperhatikan sekilingnya, takut jika ada yang memperhatikan ke arahnya, setelah dihatnya sekitar masjid sepi Adiba melanjutkan kembali ucapannya.


"Rasa kagum pada sosok Gus Al, rasa yang entah bagaimana harus saya jelaskan, karena rasa itu terlalu asing hadir dalam diri Adiba, tanpa Adiba kehendaki, karena Adiba sadar, Adiba tidak layak memiliki perasaan itu, rasa itu sudah lama berdiam dalam diri Adiba, Adiba takut jika perasaan ini terlalu sembrono" Butiran bening tiba tiba hadir begitu saja di wajah Adiba.

__ADS_1


"Sembrono bagaimana?bukankan status kita sama di sisi Gusti Alloh, saya itu tidak sesempurna yang kamu bayangkan, kita sama sama mempunyai kekurangan." Gus Al menghela nafas" jadi apakah kamu mau jadi seseorang yang saya perjuangkan untuk saya halalkan?"


Adiba terdiam sejenak, kemudian kepala Adiba terlihat mengangguk mengiyakan pertanyaan Gus Al.


"Alhamdulillah,..terimakasih Adiba, saya minta waktu sebentar saja, biar saya minta izin ke abah untuk meminta izin ke orang tuamu untuk menghalalkanmu"


Adiba memandang wajah Gus Al saat ini, seperti mimpi yang tiba tiba menghampiri, diremasnya mukena yang sedari tadi dalam pelukannya. Segala organ tubunya terasa begitu antusias, jika saat ini Adiba tidak berada di depan Gus Al, mungkin Adiba sudah meloncat kegirangan, tapi untuk saat ini senyumpun masih Adiba paksa untuk tidak terlalu berlebihan.


"Udah malam, istirhat gih" Tangan Gus Al reflek menyentuh ujung kepala Adiba yang tertutup hijab berwarna coklat itu. Adiba mengangguk kemudian memberikan senyum termanisnya.


."Jangan lupa berdoa, semoga jalan kita dipermudah ya" Gus Al berucap sebelum Adiba benar benar pergi dari hadapnya.


"Bismillah, semoga Engkau mempermudah jalan kami ya Rabb"


****


Suara piring dan sendok yang beradu seakan jadi musik tersendiri di antara heningnya suasana sarapan keluarga ndalem Pondok pesantre Darrul Muttaqin.


"Hari ini bisa sebentar meluangkan waktu mu Al?" kyai sidiq menyuarakan suaranya setelah aktifitas sarapan pagi mereka selesai

__ADS_1


"Memangnya kenapa bah?apakah ada yang ingin Abah lakukan dengan Al?" Al meletakan benda pipihnya yang ada di genggaman kemudian di lihatnya uminya yang sengaja meninggalkan mereka berdua.


" Temani Abah silaturahim ketempate kyai Samsul" Wajah kyai Sodiq memandang ke arah putra kesayanganya itu.


"Kyai Samsul bah?" Ada getir yang terselip dalam nada suara Al.


"Iya, kok kayanya kamu kaget, bukankan kyai Samsul sudah sering memintamu mengunjungi Beliau?" kyai Sodik mengambil gelas yang berisi teh yang ada di depanya, kemudian diseruput nya teh yang masih kelihatan mengebul itu.


" Iya bah, nuwun Sewu ahir Ahir ini Al sibuk dengan percetakan jadi belum sempet silaturahim bah" Al menundukan kepalnya.


"Untuk itu Abah ingin menemanimu kesana..Sekalian kita pastikan hubunganmu dengan putrine kyai Samsul, Abah tau hubunganmu dengan Arofah, jadi ada baiknya kita Perjelas saja semua"


uhuk


Wajah Gus Al tiba tiba pucat pasi, jantungnya seakan tertabrak benda yang menghancurkan jalan nafasnya.


"Nuwun Sewu bah, Hubungan dalem kalih Arrofah hanya sebatas teman kuliyah bah, tidak ada yang lebih"


"Abah tau Al tanpa kamu memberi tahu, foto arofah yang ada di Hpmu bukankan memeperjeas semuanya? Abah Cuma tidak ingin kamu terjebak dalam dosa yang berkepanjangan Al..lagian kyai Samsul juga sudah merestui, Arofah pun sudah menyetujuinya." kalimat kyai sidiq terjeda sebelum kemudian di lanjutkan" untuk kali ini saja Al, Abah tidak pernah ingin ikut campur urusan pribadi Al, tapi untuk masa depan Al yang satu ini ijinkan Abah ikut andil didalamnya, Abah ingin Al menikah dengan Arofah sesegera mungkin, biar semua Abah dan umi yang mengatur." Kyai sidiq berdiri dari duduknya.." buat Abah bahagia dengan kamu menikahi Arofah" kyai Sodik berlalu meninggalkan Gus Al sendirian.

__ADS_1


" *Baru semalam aku berfikir bahwa jalanku terlalu mudah untuk menemukan jodohku, tapi ternyta Engkau mempunyai jeda di balik ini semua, Kuatkan Hati dan tekad Hamba, karena hamba percaya sesuatu yang penuh perjuangan akan lebih kuat nantinya..ijinkan hamba berjuang dengan perasaan hamba."


#Bersambunggg*


__ADS_2