Di Balik Pilar Masjid

Di Balik Pilar Masjid
04.DPM "Panggil saja Gus Al"


__ADS_3

Satu Minggu sudah Adiba tinggal di pondok pesanten, segala rutinitas pondok yang sedikit aneh bagi Adiba sudah Diba jalani dan nikmati, mulai dari ngantri mandi yang mengutus gayung tempat sabunnya untuk mengantri, menikmati hidangan yang siapa cepat dia dapat, menyetrika dengan cara meletakan baju di bawah bantal, memberi nama di setiap barang yang diba punya, karena kalau ngga gitu barang itu akan lenyap dengan cepat, bahkan baru satu Minggu di pondok Diba terpaksa sudah harus membeli sendal jepit dua kali, itu karena Diba kurang pengalaman, Diba tidak memberi tanda di sendal jepitnya, sehingga pas Diba mau pakai sendalnya sudah menghilang tanpa mengucapkan selamat tinggal.


"Diba, jadi ngga kita ke koprasi???,,,,"tanya Mia disela kegiatan menjemur cucian bajunya.


"jadi,..habis ini ya,...soalnya nanti Aku ada kuliah siang..." Adiba menjawab sambil menuang sisa air yang ada di ember yang tadi di gunakan untuk meletakan cucian basahnya


"ok..."Mia memberikan jempolnya tanda setuju


Setelah menyelesaikan kegiatan menjemurnya, Adiba dan Mia pergi ke kamar untuk sekedar merapikan pakaiannya dan mengambil uang, kemudian mereka terlihat keluar dari kamar, dan menuruni tangga untuk ke koprasi Ponpes.

__ADS_1


"Dib, hafalan jus Ama mu dah sampai surat apa???denger denger kamu cepet banget ya menghafal jus amanya,hebat kamu Dib"


"apaan, sama lah kaya kamu, AQ baru sampai suratb Al-Fajr...itupun sudah dua hari ga hafal hafal" Diba menjawab pertanyaan Mia sambil memperhatikan sosok yang sedang membaca buku tebal di depan ndalem kyai Sidiq.


"itu siapa mi, kayanya AQ baru liyat" tanya Adiba..sambil menunjuk dengan menggoyangkan kepalanya ke arah yang dimaksud


Mia memperhatikan arah yang dimaksud Adiba" oh itu putra pak yai, kalau ga salah beliau baru pulang dari Kairo kemarin, beliau menyelesaikan S-1 di Kairo, dan denger denger tahun ini sudah selesai, kemungkinan beliau yang nantinya akan menggantikan posisi kyai Sodiq mengelola yayasan ini"


"hussss...sembrono...ga boleh ngomongin putra kyai kaya gitu..nanti ga kebagian barokahnya baru tau..."Adiba mencoba mengalihkan pandanganya dari Gus Al

__ADS_1


"AQ kan ngomongin kebenaran Dib, memang benar kan Gus Al itu ngganteng to... subhanallah,..sungguh indah cipataanMu ya Alloh"..Mia menggeleng gelengkan kepalanya sambil tetap teguh memandangi sosok laki laki yang tak bergeming dari buku bacaanya.


"ayo lanjutin jalanya...nanti keburu kesiangan, akukan ada jam kuliah nanti," Adiba menarik tangan Mia sekilas melirik ke arah Gus Mus".oh ini sosok Gus Al yang jadi pembicaraan di kalangan santriwati, postur tubuh meski di tutup dengan Koko biru, dan sarung hitam itu tetap terlihat gagah, kulit bersih, kumis tipis yang menghiasi wajahnya seakan menjadi pelengkap kesempurnaan ciptaan Tuhan yang satu ini."... astagfirullah....tiba tiba Adiba menarik pandanganya, karena Diba tau menikmati pemandangan yang belum jadi mahromnya itu termasuk zina mata...


"kenapa Dib???...cieee...naksir ya??"


"husss...ngacooo...ayo buruan jalan.."...


Adiba dan Mia melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda sambil menikmati suasana pondok pesantren yang begitu ramai oleh lalu lalang santriwan dan santriwati Darrul Muttaqin.

__ADS_1


*bersambung


*ini karya pertama ya...jadi segala kekurangan masih ada di mana mana...minta komentarnya ya.....😊😊😊😊😊🙏🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2