Di Balik Pilar Masjid

Di Balik Pilar Masjid
19.DPM " Gantar vs Al..."


__ADS_3

Matahari masih setia di peraduan memberikan cahaya yang menghangatkan setiap kulit yang tanpa tameng menantang berada di bawah teriknya, Memberi cahaya kepada siapapun tanpa berharap imbalan ataupun sekedar sapaan. Adiba di bawah sang Surya perlahan berjalan menyusuri halaman Kantor Percetakan itu, setelah tiga hari absen dari rutinitas magangnya, hari ini Adiba memutuskan untuk mamulai lagi kegiatannya.


Setelah memasuki ruang kerjanya Adiba langsung membuka komputer nya, melihat hasil desainnya, karena waktu untuk menyelesaikan tugasnya tinggal dua hari lagi, Adiba tidak ingin sampai batas waktu yang telah di tentukan Adiba belum juga menyelesaikan kewajibannya.


"Assalamu'alaikum.."


"Wa'alaikum salam.."Adiba mendongak, di tatapnya wajah yang sangat ramah di sampinya "mba Zifa?Sehat mba?"Adiba beranjak, diulurkan tanganya, kemudian dipeluknya tubuh Zifa, menunjukan ada kerinduan yang Adiba rasakan pada sosok yang sekarang ada dalam dekapannya.


"Alhamdulillah, sehat Diba,.kamu bagaimana?sudah sembuh?" Perlahan Zifa merenggangkan tubuhnya dari pelukan Adiba, ditatapnya kaki rekan kerjanya, namun kaki itu tertutup rapi dengan kaos kaki, sehingga tidak tampak jelas keadaan di dalamnya.


"Alhamdulillah mba Zifa, Diba sudah sehat, kaki Diba sudah sembuh" Adiba menggerakan kakinya kemudian mendapatkan anggukan dari Zifa.


Acara jumpa kangen antara Adiba dan Sifa hanya berjalan beberapa menit, setelahnya mereka di sibukan dengan kegiatan desain yang menjadi tanggung jawab mereka. Adiba terlalu serius mengerjakan itu, tidak semenitpun iya tinggalkan tempat duduknya, ada beban yang Adiba rasakan, tanggung jawab pertama yang iya terima di tempat magang harus mampu iya selesaikan, sabagai bukti bahwa ilmu yang iya pelajari selama ini di bangku perkuliahan tidak ada yang Sia-sia.


"Istirahat Dib.." Zifa menoleh ke arah Adiba, kemudian di gerakannya kepalanya sebagai usaha untuk mengurangi rasa pegal yang telah mendarat di lehernya.


"Bentar mba, tanggung, kamu duluan aja mba" Adiba masih menatap layar komputernya, kemudian sekilas memberikan sedikit pemanis yang iya hasilkan dari senyumannya.


"Ok...aku duluan ya Dib, jangan terlalu ngoyo Dib, ingat kamu baru sembuh dari sakit, perut kamu perlu di isi, karena pura pura bahagia juga butuh tenaga,,hehehehe" Zifa menepuk punggung Adiba kemudian berlalu dari ruangannya.


Sepuluh menit berlalu sejak Zifa meninggakan Adiba sendirian dalam ruangan, hanya ada hening yang menemani Adiba saat ini, diliriknya pojok bawah komputer yang menyala di depanya, kemudian di tariknya nafasnya dalam dalam.


."Hem...istirhat tinggal bentar lagi"


.Adiba berdiri dari duduknya, di simpanya desain yang baru saja iya kerjakan, kemudian Adiba melangkah menuju tempat yang akan dijadikan sebagai tempat penggugur kewajibannya, Adiba hendak menunaikan kewajiban empat rokaatnya. Tempat ibadah itu sudah terlihat sepi, ya karena Adiba telat istirahatnya Jadi kariyawan yang biyasanya mengikuti jamaah sholat sudah kembali ke tempatnya masing-masing.


Setelah selesai mengerjakan empat rokaatnya, Adiba dengan tergesa gesa menuju kantin, waktu istirahat tidak lebih dari sepuluh menit lagi dari batas normal, sesampainya di kantin, Adiba memesan Nasi dengan beberapa lauk, kemudian setelah mendapat pelayanan dari empunya kantin Adiba mencari tempat duduk untuk bisa menikmati makanya. Kantin sudah cukup senggang, sudah tidak banyak orang yang menikmati makan siangnya, Adiba menemuka tempat duduk yang dicarinya, Adiba berjalan menuju tempat duduk itu, diba melewati seseorang yang tanpa Adiba sadari memperhatikanya sejak kemunculannya di kantin.


"De.."


Adiba berhenti,menatap sekilas wajah yang berada di samping kiri tubunya.


"Ka Gantar..." Adiba tersenyum ke arah Gantar, ada keterkejutanya dalam raut wajah Adiba.

__ADS_1


"Ko Kaka bisa disini, Kaka..." kalimat Adiba menggantung, ada kebingungan disana.


"Duduk aja dulu sini,.." Gantar menepuk bangku yang ada disebelahnya.


Adiba tersenyum kemudian mendudukan tubuhnya di bangku yang ada di depan Gantar, bukan di bangku yang sempat di tunjukan Gantar kepadanya.


"Kamu dah baikan De...maaf ya Kaka tidak sempat jenguk kamu lagi, Kaka bingung de kalau jenguk kamu di Pesantren, ngga enak sama Abah..maaf ya" Gantar menatap Adiba yang sejak tadi tidak pernah menatap kearahnya, Wanita itu terus menundukan pandanganya ke arah makanan atau apalah yang ada di bawahnya.


"Alhamdulillah Diba sudah sembuh ka, ngga papa ka, lagian itu cuma luka kecil " Adiba mengambil air yang ada di dalam gelas yang iya bawa tadi, diteguknya air itu untuk mengurasi rasa grogi yang tanpa ijin datang kepadanya." oh ya...ko Kaka bisa disini?" Adiba menaikan pandang nya, menatap wajah Gantar yang memang sedang kearahnya.


"Kaka ada perlu..Kaka kerja sama dengan percetakan ini mengenai iklan prodak Kaka"


Gantar menjelaskan di imbuhi dengan senyuman yang terlihat begitu menawan.


"Iklan? " Adiba menatap Gantar meminta penjelasan akan kata yang baru dilontarkan.


"Iya iklan prodak," Gantar menunjukan Benda pipihya ke arah Adiba."kenapa De?" Gantar menganalisa wajah Adiba, ada keterkejutan yang tampak setelah Adiba melihat gambar yang ada di ponselnya.


"Wah kebetulan banget, emang ya De kalau jodoh ngga kemana"


uhuk...


Adiba tersedak, kalimat yang diucapkan Gantar membuat makanan yang ditelan masuk ke saluran yang salah, menyumbat sementara pernafasannya. Gantar meraih air minum yang ada di dekat Adiba, disodorkannya ketangan Adiba kemudian Gantar beralih membantu menepuk nepuk punggung Adiba.


"Udah enakan De..?" Gantar melontarkan pertanyaan setelah di lihatnya Adiba telah kembali menguasai nafasnya.


"Udah ka, makasih bantuannya" Adiba membereskan piring dan gelas yang sudah selesai iya gunakan.


"Hem..kenapa buru buru De" Gantar memperhatikan Adiba yang terlihat buru buru ingin beranjak dari duduknya.


"Maaf ka, waktu istirahat hampir habis ka..Ngga enak kalau terlambat" Adiba menganggukan kepalanya ke arah Gantar."Assalamu'alaikum ka"


"Wa'alikumsalam salam.." Gantar mengarahkan tatapan matanya terus ke arah Adiba sampai bayangan Adiba tak mampu lagi di jangkau oleh matanya. " ceh...kenapa dengan hati ini, kenapa seakan tidak sabar untuk menunggu sebentar saja, sampai aku mampu membuktikan bahwa aku layak untuk menghalalkannya."

__ADS_1


****


Waktu terus berjalan, Matahari mulai bergeser, perlahan mulai meninggalkan kerajaanya, menepi ke ufuk barat. Berganti dengan cahaya kemerahan yang memperindah suasa sore yang menggantikan siang. Perempuan dengan Batik hijau dan rok hitam panjang itu terlihat sedikit berlarian ketika keluar dari tempat magangnya, setelah memutuskan untuk pulang terlambat demi untuk menyelesaikan Desainya Adiba kini beranjak untuk Kembali ke Pondoknya. Adiba duduk di tempat yang iya gunakan untuk menunggu angkot, diperhatikan sekelilingnya , tidak begitu ramai, tapi masih ada segelintir orang berlalu lalang di tepian jalan. Setelah menunggu beberapa saat ahirnya yang ditunggu tunggu pun tiba.


Hanya butuh waktu 20 manit untuk Adiba sampai di Pondok, Suasana pondok yang begitu ramai karena waktu sebentar lagi memasuki waktu sholat Maghrib. Adiba sedikit berlari karena tidak mau ketinggalan untuk jamaah nantinya.


Bruk


Tubub Adiba menabrak seseorang, Adiba memperhatikan sosok yang di tabraknya, meski belum sempat melihat wajahnya, tapi di lihat dari pakain dan postur tubunya ada nama yang muncul di ingatnya.


"Komandan.." Mulut Adiba mengeluarkan satu nama setelah matanya menemukan sosok yang di tabraknya.


"Maaf Gus.." Adiba menarik lagi arah pandanganya.


"Loh Adiba sudah mulai masuk kerja lagi, ?"


"nggih, baru mulai hari ini" Adiba menahan gemetar tubuhnya.


"Kenapa ngga keatas tadi?kan pulangnya bisa bareng" Ada bentuk perhatian yang sengaja Gus Al tunjukan ke Adiba


"Anu..maaf.."


"lah aku memangnya ngapain harus ke atas, keruanganya Gus Al, bukankah aku tidak ada kepentingan dengan beliau hari ini, ini situasi apaan si"


batin Adiba masih terus berkecamuk.


"Ya udah,kamu hati hati, jangan lari lari, jangan sampai telat ikut jamaah, assalamu'alaikum" Gus Al berlalu meninggalkan Adiba yang masih terdiam di tempat.


"wa'alikumsalam"


"Sosok yang sempurna, tapi kenapa masih ada ragu yang mampir dalam diriku"


*Bersambungggg*

__ADS_1


__ADS_2