Di Balik Pilar Masjid

Di Balik Pilar Masjid
17.ADP" Surat.."


__ADS_3

Suasan masih hening, tidak ada obrolan yang keluar dari keduanya, Al masih di sibukan dengan tumpukan-tumpukan yang ada di atas mejanya, sedangkan Adiba disibukan dengan pikiran yang mengajaknya ke berbagai pertanyaan. Waktu terus berjalan, 30 manit sudah Adiba bertahan di dalam kesunyian ruang Gus Al, bosan seakan akan mengajaknya untuk segera keluar dari ruang itu. Adiba melirik sekilas sosok yang sedang berkutat dengan waktu di depanya, tak terasa sorot matanya tertahan disana, di wajah yang seakan memaksanya untuk melihat detail yang ada, wajah yang teduh, sorot mata yang tegas, hidung mancung, terlalu sempurna untuk Adiba nikmati.


"Kenapa Diba?" ucap Gus Al yang ternyata menyadari akan tatapan Adiba yang mengarah kepadanya.


"Ngga ada pak,..maaf" Adiba menundukan kepalanya seketika, mukanya memerah karena menahan rasa malunya.


"Kamu nanti untuk sementara tinggal di ndalem aja dulu ya, biar nda usah naik turun tangga" ucap Gus Al kemudian beranjak dari duduknya.


"mboten ngantos Pak, Diba masih bisa untuk kekamar Diba sendiri," ada getir kegugupan dalam ucapan Adiba, ada rasa tidak enak kitika harus menolak tawaran Gus Al.


"Tapi kamu kan tadi dengar sendiri saran dari dokter Fandi kan? kaki kamu tidak boleh menopang terlalu berat, lah jarak jalan kamu ke kamar kamu lumayan loh Diba?" Gus Al melirik ke arah Adiba, ada raut kehawatiran yang iya nampakan dalam raut wajahnya.


"Nda papa Pak, nanti bisa di bantu sama temen Diba" Adiba masih enggan untuk mengiyakan ajakan Gus Al, karena Adiba hawatir jika nanti Adiba iyakan tawaran itu akan menimbulkan kecemburuan bagi santri lain. karena selama ini jika ada santri yang sakit mereka akan tetap tinggal di kamar masing masing.


Gus Al mengajak Adiba keluar dari ruangannya, sebelumnya Gus Al telah memanggil Retno untuk membantu Adiba menuruni tangga. setalah sampai di depan Gedung Adiba menunggu Gus Al yang sedang ke palkiran untuk mengambil mobilnya.


"Ayo Diba.." ajak Gus Al, kini Gus Al sudah berada dihadapan Adiba.


Adiba mengagukan kepalanya, kemudian di bantu Retno untuk memasuki mobil Gus Al.


"kamau besok nda usah masuk kerja, tunggu sampai kaki kamu sembu ya" Gus Al memulai percakapan, karena dari tadi mereka terjebak dalam diam mereka.


" Enggih Gus..." jawab Adiba.


Percakapan mereka diahiri, karena saat ini mereka telah sampai di lingkungan pondok pesantren Darrul Muttaqin. Gus Al turun dari mobil, bermaksud untuk membukakan pintu untuk Adiba, tetapi terlihat Adiba telah terlebih dahulu keluar dari mobil milik Gus Al.


Adiba mengawasi sekiling pondok pesantren, ada beberapa pasang mata yang sedang menatap kearah dirinya, Adiba tau apa yang sedang mereka fikirkan, karena hal inilah yang sebenarnya Adiba hawatirkan tadi ketika Gus Al bersikeras untuk mengantarnya pulang.


"Adiba permisi Gus.. assalamu'alaikum"


Adiba memandangi paving yang tertata rapi yang dipijak kakinya, enggan untuk menatap langsung kearah Gus Al.


"Diba,.Tunggu sebentar, biar saya panggilkan salah satu santri untuk mengantarmu ke kamar" Gus Al mengarahkan pandanganya, mencari sosok santri yang bisa mengantarkan Adiba.


"Saya bisa sendiri Gus, kaki saya sudah tidak apa-apa" Adiba mengegerakan kakinya, menunjukan kalau memang dirinya sudah baik baik saja.


"Mba, mba..."


Gus Al memanggil salah satu santri yang sedang membaca buku di pojokan.

__ADS_1


Santriwati itu berjalan ke arah Gus Al, sama seperti Adiba santri itu juga tidak berani menatap wajah Gus Al.


"Dalem Gus.."


"Mba, tolong kamu nanti Adiba naik kekamarnya ya, kakinya sakit"


"Enggih, Gus.."


"maturnuwun Gus, Diba permisi Assalamu'alaikum.."


Adiba menganggukan kepalanya, kemudian di bantu temanya melangkah meninggalkan Gus Al yang masih tetap setia menatap punggung perempuan yang telah berani masuk kedalam kehidupanya untuk saat ini.


Setelah dipastikan bahwa Adiba telah sampai di kamarnya, Gus Al masuk kedalam rumahnya, ingin mengistirahatkan tubuhnya.


"Al, ko jam segini sudah Di rumah?"


Umi Sangadah bertanya kepada Gus Al, karena memang tidak biasanya di jam siang anaknya sudah ada di rumah.


"Nggih Um, tadi ngaterin santri yang magang di tempat Al, kemarin katanya jatuh jadi kakinya bengkak, Al Anter pulang aja, kasian kalau harus cari angkot dalam kondisi seperti itu." Jelas Gus Al.


"Hmm,...kalau gitu makan siang dulu,baru nanti lanjutin istirahatnya." Umi Sangadah mengusap punjak kepala anaknya, kemudian melangkah meninggalkan Gus Al yang masih duduk di tepian ranjangnya.


Al masih enggan untuk sekedar makan siang, Al masih saja menghawatirkan Adiba, tapi masih bingung untuk sekedar menanyakan keadanya saat ini, walaupun baru sekitar satu jam yang lalu mereka bertemu.


Al mengacak rambutnya, kemudian pergi untuk mengisi perutnya.


***


Setelah mengisi pengajian seperti biasanya, Gus Al keluar dari masjid, para santri yang masih di sekitar masjid seketika berebut mencium tangan Gus Al, sedangkan santriwati hanya saling menundukan pandanganya, menganggukan kepalanya sebagai tanda hormat mereka kepada putra Kyai sidiq dan sebagai salah satu Ustadz mereka.


" Mba, mba.."


Gus Al memanggil salah satu santrinya yang hendak meninggalkan area Masjid.


"dalem Gus.."


Santri itu berdiam di tempatnya, memastikan keperluan Ustadznya dengan dirinya.


"Kamu yang satu kamar sama Adiba ya,?"

__ADS_1


Gus Al menayakan keadaan Adiba, karena siingatnya santrinya itu adalah teman satu kamar Adiba, karena mereka terlihat sering melakukan aktifitas bersama.


"Enggih Gus,."


Mia menjawab seperlunya, karena sama dengan santri yang lain, saat mereka berhadapan langsung dengan Gus Al, seketika tubuh mereka seperti tidak mempunyai tulang didalamnya. Aura yang mampu menenggelamkan kaum hawa ke alam halunya menjadikan mereka gugup dihadapanya.


"Bagaimana keadaan kaki Adiba?apa sudah berkurang bengkaknya?" Gus Al mencoba menormalkan raut wajahnya, tapi sebenarnya tidak setenang itu hatinya.


"Masih bengkak Gus, katanya masih sakit untuk jalan" ucap Mia.


"Kamu bisa antar saya kekamarnya?" Gus Al meminta persetujuan santri yang ada dihadapannya.


"Bisa Gus..Monggo" Mia mempersilahkan Gus Al untuk jalan mendahuluinya


Sepanjang perjalanan mereka ke kamar Adiba, banyak santriwati yang dibuat terkejut oleh kedatangan Idola mereka, karena jarang sekali Gus Al memasuki Pondok Putri. Satriwati yang sedang duduk duduk didepan kamar mereka seketika berdiri menyapa kearah Gus Al, mereka yang sedang bermain main seketika terdiam di tempatnya. ada juga yang mengintip dari balik pintu mereka, karena terlalu kepo dengan keperluan Gus Al di sana.


"kamu masuk dulu, liyat kondisi Adiba, kalau sedang tidur tidak usah dibangunkan" Gus Al terihat menempati salah satu kursi Yang ada dihadapanya.


Setelah Mia masuk kedalam kamarnya, dan sudah menyelesaikan kehebohan yang terjadi di dalam kamarnya, Mia menghampiri Gus Al yang masih gagah duduk di tempat duduknya.


"ngapunten Gus...Adiba sudah tidur, mungkin efek obat Gus, tadi kayanya habis Isya Adiba minum obat yang dia bawa tadi"


Gus Al berdiri kemudian mengambil sesuatu dari saku kokonya.


"Ya udah, syukur kalau sudah bisa istirahat,..Oh ya tolong titip ini, kasih keadiba, bilangin dari tempat magangnya ya" Gus Al terlihat mengasih amplop putih kearah Mia.


"Enggih Gus"


Mia menerima surat itu, kemudian menganggukan kepalanya.


"Terimakasih ya, assalamu'alaikum.."Gus Al pamit kemudian meninggalkan arena pondok putri.


"Wa'alikumsalam,," Mia masuk kedalam kamarnya.


"kok surat dari kantor kaya ngga resmi banget ya, apa Adiba dapat peringatan untuk berhenti magang?tapi kenapa?bukankan Adiba masuk terus...ah sudahlah, besok kepoin aja ke Adiba"


Mia meletakan surat yang Gus Al titipin di bawah bantalnya.Berniat untuk mengasih keadiba besok paginya.


*bersambung

__ADS_1


🤭☺️☺️ikan hiu..ikan bawal..


🤔🤔🤔🤔🤔🤔🤔🤔


__ADS_2