
kreeeekkkk....pintu kamar terbuka, satu ruangan dengan beberapa tempat tidur tanpa ranjang menjadi pemandangan pertama yang Adiba lihat setelah mereka mereka memasuki satu ruangan yang cukup besar itu...
"ya Alloh, apa Diba mampu untuk menjalani skenario takdir Mu ya Alloh,..ini terlalu sulit bagi Diba,,,tapi Bukankah Egnkau Takan membebani sesuatu kepada ciptaanMu diluar kemampuannya???..temani Diba ya Alloh,..temani Diba...."
batin Diba terus bersuara, tanganya terlihat meremas ujung tali tas yang sedang Diba bawa,langkahnya terasa begitu berat, seakan kakinya terikat tali yang memaksanya untuk mundur saja.
"Assalamu'alaikum...."
Faizah memberikan salam seraya menyapa satu santri yang sedang memasukan baju bajunya ke salah satu lemari yang ada di pojok ruangan.
"wa'alikumsalam..."
santri itu menoleh,menarik salah satu ujung bibirnya, kemudian mendekat, menjabat tangan dan membantu Adiba memasuki ruangan.
__ADS_1
"ayo mba, tempat tidur mba Deket dengan tempat tidurku, diujung sana,kita nanti akan jadi tetangga tidur"..santri itu mencoba menjelaskan
"enggih mba,..."jawab Adiba masih singkat padat dan jelas, bukan karena apa, tapi karena separuh jiwanya sedang tidak ada di sini, sebelah jiwanya sedang memberontak untuk kembali ke rumahnya.
"oh ya namaku Mia,,nama mba siapa??"Mia mengulurkan tangannya.
"Adiba,...bisa panggil Diba.."..Adiba menerima uluran tangan Mia detemani senyuman yang dibuat semanis mungkin
Adiba memasukan baju bajunya ke dalam lemari di bantu mama dan Faizah, sementara Mia terlihat sedang menyiapkan tempat tidur untuk Diba, tempat tidur yang tadinya tergulung sudah di buka dan di pasang Sprai.
"mba Diba, Mia mau mandi dulu ya, soale nanti kalau santriwati sudah selesai ngajinya, ngantri mandi tuh kaya ngantri ambil sembakau gratisan"crocos Mia sambil berlalu meninggalkan Adiba dan mamanya.
"Diba, kamu harus betah disini,,,harus kuat, inget, mama dan ayah melakukan ini demi kebaikanmu, mama pingin kamu jadi wanita yang dirindukan surga, menjadi anak yang nantinya mampu menjemput mama dan ayah ke tempat terindah yang Alloh siapkan untuk umatnya,..Diba.....bukankah Diba pengin kita berkumpul bukan hanya di di dunia ini???Diba mau kan kita berkumpul sampai d surganya Alloh????"
__ADS_1
mama Diba memeluk anak kesayangannya, mengelus puncak kepalanya, memberikan kecupan disana.
"nggih ma,...Diba insya Alloh akan betah disini,,Diba mau jadi perempuan yang di rindukan surga ma"...diba trisak, tak mampu lagi melanjutkan ucapannya, kata katanya tertahan, terkalahankan oleh butiran bening yang sekarang mulai keluar dari sarangnya.
"Diba anak baik,..serap ilmu disini sebanyak yang diba bisa, seimbangkan antara kuliahmu dan nyantrimu,,,Diba sudah besar, Diba sudah bisa mengatur waktu, sudah bisa memilih mana yang terbaik untuk Diba..."
"iya ma, ..doain ya ma..."
"doa mama selalu menyertai kemanapun Diba melangkah ..ayo turun...ketemu ayah sekalian sowan kyai Sidiq..."
Adiba menuruni lantai dua pondok pesantren Putri Darrul Muttaqin, sekilas Diba melirik halaman masjid yang terpampang jelas dari tempat yang diba pijak sekarang, terlihat begitu banyak anak manusia berlalu lalang disana,..santri putra has dengan sarung dan kokonya,..sedangkan santri putri terlihat memakai mukena yang mereka gulung sampai dekat dengan dada.
setelah bertemu dengan ayah dan sowan ke kyai Sidiq, kini Adiba mengantar orang tuanya sampai ke mobil yang mereka tumpangi tadi.
__ADS_1
"ayah mama pamit sayang,..betah betah ya...inget ini bentuk kewajibanmu untuk menuntut ilmu,,Diba harus ikhlas menjalaninya,,,ayah tau ini berat untuk Diba,,tapi semua untuk kebaikan Diba"..
Diba sudah tidak mampu berucap, hanya mampu memeluk kedu orang tuanya, menyaksikan kepergian mereka kembali ke desanya diiringi dengan tekad yang sudah membulat dalam benaknya, ya...dia bertekad,,,betah tidak betah, Diba harus bertahan di pesantren ini, karena Diba mau jadi perempuan yang dirindukan surga.