
Hawa dingin yang masuk melalui celah celah kecil yang ada di atas jendela kamar membangunkan Adiba dari tidurnya, di tatapnya jam yang menempel pada dinding kamarnya. waktu menunjukan pukul 3 pagi, kesunyian seakan masih merajai setiap sisi pondok putri. Adiba meregangkan otot otonya, kemudian duduk dan merapikan selimut yang baru saja menemani dalam alam mimpinya.
"Kamu bangun Dib?"
suara serak has bangun tidur menyapa Adiba.
"Iya Mia,.eh maaf ya Mi kemarin aku tidur awal" Adiba kembali melanjutkan kegiatan membereskan tempat tidurnya.
"Iya ngga papa, aku seneng malahan kamu bisa tidur," Mia bangun dari tidurnya, kemudian membisikan sesuatu ke arah Adiba.
"Diba, kemarin komandan kesini, beliau mau jenguk kamu, tapi kamu sudah tidur jadi beliau kembali ke ndalem"
Mata Diba membulat, ada kata yang tak sempat iya tangkap dengan jelas, nyawanya yang baru kembali dari alam mimpi masih ragu untuk menerima apa yang baru saja iya dengar." komandan??Gus Al?..."
Mia menganggukan kepalanya, ada kata yang iya setujui.Mia kembali ke tempat tidurnya, iya buka bantal yang iya jadikan tumpuan kepalanya saat iya tidur tadi, ada kertas putih yang iya ambil, kemudian tubuhnya iya kembalikan mendekat pada Adiba.
"Komandan nitip ini, katanya dari tempat magang kamu Dib, " tangan Mia bergerak mengulurkan kertas yang ada di genggaman ya.
"Surat?kenapa aku dapat surat?bukankah aku masih masuk kerja?" Raut wajah Adiba penuh dengan pertanyaan, kebingungan yang iya rasakan saat ini menumpuk jadi satu dalam fikiranya.
Mia mengangkat kedua bahunya, "Kurang paham juga Dib, habis nganter itu komandan langsung pergi"
"Oh, makasih Mi" ditaruhnya kertas itu di saku jaketnya.
__ADS_1
"Aku kepo Dib, Nda dibuka nih,"Mia mendekatkan wajahnya pada wajah ayu Adiba.
"Hust nanti aja,..eh kamu jangan ember ya ke temen temen, awas loh" di acungkan jari telunjuk Adiba ke arah Mia, memperingati sahabatnya untuk tetap menjaga rahasianya.
"Assiap" Mia kembali merebahkan tubuhnya di atas kasurnya.
"Aku ketoilet dulu Mi, jangan tidur lagi udah pagi" Adiba berlalu meninggalkan kamar itu.
waktu masih cukup pagi untuk saat ini, sehingga Adiba tidak perlu mengantri panjang untuk sekedar masuk ke taoilet, setelah di dalam toilet, Adiba mengambil kertas yang ada di sakunya, di tatapnya benda itu, ada kecanggungan yang muncul ketika di pegangnya kertas itu, perlahan Adiba menyobek amplopnya, di tatapnya coretan coretan yang terlihat panjang, nafas Adiba tertahan, jantung sejenak berhenti, ada kata yang tak mampu Adiba telaah di sana, terlalu indah untuk sekedar dia artikan.
"**Assalamu'alaikum..
maaf atas kelancanganku memberikan kamu coretan tinta ini.
Adiba..
Adiba..
Sebelum semua mendarah daging dan mengakar dalam diriku, izinkan aku tuangkan segala harap dan angan yang terus terngiang dalam fikiran ku.
maaf...
jika saya terlalu lancang berharap untuk menjadikanmu halal dalam diriku, tanpaku terlebih dahulu tau posisi hatimu, tapi percayalah, jika memang harapku beda dengan harapmu, biar perasaan ini tetap aku yang miliki tanpa harus memaksamu ikut menikmati.
__ADS_1
Adiba..
Perasaanku datang tanpa saya prediksi waktunya, semua terasa tiba tiba. Jika memang nantinya perasaan ini hanya aku yang miliki, biar Gusti yang membuat skenarionya bagaimana harusnya perasaan ini menghilang atau menetap.
maaf..
sekali lagi maaf,...bukan maksud mengganggu segala aktifitasmu..semoga ini menjadikan lega dalam perasaanku...dan jika ini merupakan dosa, biar saja aku yang ada di dalamnya.
sehat sehat Adiba...karena saat ini melihatmu sehat menjadi salah satu alasan saya bahagia.
Pengagum dirimu
Muhammad Klalilulintang"
Butir bening itu mengalir begitu deras di pipi adiba, ada bahagia yang luar biasa. Rasa kagum yang ternyata terbalas, menjadikan hati Adiba pergi dari tempatnya, hati Adiba seakan terbang, berteriak menyerukan rasa bahagianya.
"Inikah jawaban dari segala mimpiku Gusti...Tapi apakah pantas jika aku iyakan apa yang beliau ungkapkan...Semoga nanti apapun jawabnya adalah yang Engkau Restui Gusti."
****Bersambung...
☺️☺️☺️☺️ikan hiu ikan kakap
🤔🤔🤔🤔🤔🤔🤔🤔🤔🤔🤔🤔*
__ADS_1