Di Balik Pilar Masjid

Di Balik Pilar Masjid
16.DPM "Perhatian.."


__ADS_3

suasana kantor masih begitu sepi ketika Adiba dengan langkah perlahan memasuki ruangan kerjanya, kaki yang masih terasa sakit iya paksakan untuk berjalan. sesampainya di meja kerja ia letakan segera tas yang terasa lebih berat dari hari biasanya. perlahan tubuhnya iya dudukan di kursi, Adiba regangkan otot otot yang seakan ikut menegang.


"mba Zifa sudah selesai disainya"


tanya adiba ke rekan kerja yang ada disebelah meja kerjanya.


"bentar lagi, palingan besok bisa kasih lihat pak Khalil" ucap Zifa


"aku malahan masih belum nemu ide mba, masih bingung, takutnya konsep saya mentah mba" Adiba membuka leptop yang ada didepanya, memainkan mouse untuk mencari ide lewat YouTube atau aplikasi lainya yang bisa memberikan gambaran.


"di coba aja dulu Dib, nanti kalau di tolak sama pak Khalil bisa di coba lagi" Zifa memberikan senyum untuk memberikan Adiba semangat.


"Minta bimbingannya ya mba, "Pandanganya ia ke arahkan ke Zifa memperlihatkan kegugupan akan posisinya.


"Siap Diba, kita sama sama belajar ko, mba juga belum begitu mahir, cuma karena mba lebih dulu di sini jadi mba lebih sedikit tau" Zifa menjawab tanpa mengalihkan pandanganya dari layar leptopnya.


"Adiba.."


Suara mba Retno mengalihkan perhatian Adiba dan Zifa.


"Ya mba, Ada yang bisa Diba bantu?" Adiba menatap mba Retno yang berada di ambang pintu ruangannya.


"Kamu di suruh keruangan pak Khalil,"


"Saya mba,..?" Adiba mencoba menanyakan lagi ucapnya mba Retno.


"Iya kamu, memangnya disini ada Adiba yang lainya?" seulas senyum keluar dari bibir mba Retno


"Iya mba, saya nanti langsung keruangan pak Khalil" Adiba mengotak Atik leptopnya, mengeluarkan aplikasi yang baru di bukanya.


"Sip" mba Retno mengacungkan jari jempolnya, kemudian ditinggalkanya ruangan Adiba.


"Cie Adiba, kayanya ada something nih sama pak Khalil" Zifa menggoda Adiba yang terlihat sudah berdiri dari tempat duduknya.


"ih mba Zifa, something apaan,., Adiba keatas dulu ya mba" Adiba melambaikan tangan ke arah Zifa.


Meski kakinya masih terasa sakit, tapi Adiba Kini telah sampai di ruangan pak Khalil, setelah di persilahkan masuk Adiba perlahan memasuki ruangan pak Khalil, jalanya Adiba buat senormal mungkin, karena takut nantinya akan jadi pertanyaan.


"Kamu kenapa Diba"


Pertanyaan Gus Al membuyarkan fikiran Adiba. Gus Al bangkit dari duduknya, perlahan menghampiri Adiba yang terlihat mematung di tempatnya. Dipandanginya kaki yang terlihat membengkak itu.


"Kakimu bengkak?kenapa?ko kamu ngga ijin aja istirahat?.." Pertanyaan yang berurutan seakan menggambarkan perasaan Gus Al yang begitu khawatir akan keadaan Adiba saat ini.


"Maaf pak, kemarin ngga sengaja jatuh pak, ini sudah di kasih balsem, insyaallah bentar lagi juga sembuh" Adiba mencoba menjelaskan, tapi Adiba enggan untuk menceritakan kejadian sebenarnya, karena Adiba tidak ingin nanti ada yang disalahkan dalam kejadian yang menimpanya.


" Kamu duduk dulu, Biar saya hubungi teman, siapa tau bisa kesini" Gus Al mengambil Handphonnya yang ada di atas meja kerjanya, kemudian menghubungi salah satu kontak yang ada.


"Kamu udah sarapan Diba?" Gus Al bertanya ke Adiba, setelah perbincangan dengan seseorang di ujung teleponnya sudah selesai.

__ADS_1


"Sudah pak, tadi sarapan di Pondok" ucap Adiba sambil memainkan ujung jilbabnya, ada perasaan rikuh yang kini menghampirinya, posisi Adiba yang sekarang hanya berdua di ruangan Gus Al menambah ketidak nyamanan di hati Adiba.


"ngapunten pak, tadi mba Retno menyampaikan ke saya katanya bapak ada perlu dengan saya, untuk apa ya pak?"


Adiba menyoba mengutarakan pertanyaan ke Gus Al, karena setelah hampir 10 manit mereka terperangkap dalam keheningan, tidak ada suara yang keluar dari mulut mereka berdua. Gus Al terlihat sibuk dengan benda pipihnya, menampakan kecemasan dalam raut wajahnya. sedangkan Adiba hanya mampu menundukan kepalanya, bermain main dengan segudang pertanyaan yang berlari lari dalam otaknya.


"Sudah nga jadi,"


Gus Al menjawab sekenanya.


"kalau gitu Adiba permisi dulu pak"


Adiba bangkit dari tempat duduknya hendak meninggalkan ruangan Gus Al.


"Kamu mau kemana, tunggu dulu teman saya bentar lagi kesini, mau mastiin kalau kaki kamu nda papa"


Gus Al perlahan berjalan ke arah Adiba.


"Terimakasih pak, tapi kaki Adiba Nda kenapa napa, cuma bengkak sedikit...."


"Sudah duduk aja, nanti kalau sudah di pastikan baru saya bisa tenang Diba, sebelum ada kepastian jangan dulu kemana mana."


Gus Al menerobos ucapan Adiba yang kini terdengar menggantung.


"bisa tenang?apa maksudnya?apa seperti ini perhatian Gus Al kepada semua karyawannya? ternyata hatinya seindah wajahnya"


"Assalamu'alaikum"


laki laki itu mengucapkan salam, Gus Al berdiri dari tempat semula, kemudian menghampiri tamunya, menyalami kemudian mengajaknya duduk di sofa Dimana Adiba duduk sekarang.


"Coba kamu pastiin keadaan kakinya, katanya kemarin jatuh, tapi kayanya ada yang salah, soalnya bengkak" Gus Al mencoba menjelaskan keadaan Adiba ke temanya yang ternyata seorang dokter.


laki laki yang lebih di kenal dengan sapaan dokter Fandi itu kemudian mencoba memeriksa keadaan Adiba, sesuai dengan apa yang telah di ceritakan Gus Al tadi. Dokter Fandi meminta ijin ke Adiba untuk mengangkat sidikt roknya yang menutupi pergelangan kakinya.


bruk


"kenapa?ada yang salah?"


dokter Fandi menanyakan ke arah Gus Al, karena tiba tiba Gus Al memukul lengan atasnya.


"Apa ya perlu pegang kaya gitu, di lihat aja kan bisa?" Gus Al terlihat begitu gusar ketika dokter Fandi memegang pergelangan kaki Adiba


"Hay...kamu kan pintar ya? kenpa tiba tiba bodoh si...ini yang sakit jelas jelas kakinya, emang saya punya Indra ke enam yang hanya melihat terus bisa mastiin keadanya, yang sakit tuh kakinya, jelas aku periksa kakinya, masa aku harus periksa jilbabnya?"


dokter Fandi protes ke arah Gus Al yang menurutnya tingkahnya aneh untuk saat ini.


"loh kamu kan dokter, bukankah kamu sudah paham dengan keadan seperti ini?"


Gus Al masih mencoba bertahan dengan pendapatnya.

__ADS_1


"Al..setiap kejadian itu Harus bisa di pastikan dulu, bukan cuma dilihat, tapi kami juga harus bisa mastiin dengan mengecek langsung keadaanya,.."


"Ini jadi di lanjutin apa nda, kalau nda saya tak kembali ke rumah sakit aja"


Dokter Fandi merapikan alat-alatnya, karena tidak ada respon dari temanya. Sedangkan Adiba hanya diam menyaksikan percakapan yang menurutnya sedikit konyol.


"ngapain kamu beres beres, di priksa dulu baru bisa pulang, emang aku telepon kamu kesini cuma buat numpang duduk?"


Gus Al terlihat gusar, sambil sesekali mencuri tatapan ke arah Adiba.


"hemm...aneh,ok saya lanjutin, kamu diam saja" dokter fan di mengajungkan jari telunjuk ke arah Gus Al, sebagai syarat untuk tidak ikut campur dalam urusan pemeriksaan.


"Cuma keseleo pergelangan kakinya.." ucap dokter Fandi setelah melakukan pengecekan terhadap Adiba.


"Bahaya ngga?" tanya Gus Al penasaran dengan keadaan Adiba.


"Pergelangan kaki keseleo terjadi ketika ligamen (jaringan penyambung kuat yang menghubungkan tulang-tulang) pada kaki cedera. Ligamen berfungsi untuk membantu menstabilkan sendi dan mencegah gerakan yang berlebihan. Posisi kaki yang berubah atau memutar secara tiba-tiba, dapat membuat ligamen meregang terlalu jauh atau bahkan sobek. Begitu pula jika menapakkan kaki dengan sudut yang salah atau menggunakan terlalu banyak tenaga, ligamen dapat tersentak."


dokter Fandi mencoba menjelaskan sedetail mungkin ke arah Gus Al.


"trus Giman biar cepet membaik?"


Gus Al masih belum puas dengan jawaban dari teman kecilnya itu.


" ada beberapa yang harus di lakukan, yang terpenting istirahatkan pergelangan kakinya, jangan dulu buat aktifitas yang berat, ini seharusnya kemarin di bebat, karena pembebatan ini bertujuan untuk meredakan bengkak,mengurangi pergerakan dan menopang" dokter Fandi kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Adiba


"Trus nanti kamu kalau kamu tidur, usahakan kaki kaki kamu lebih tinggi dari dada kamu, biar ada pengurangan pembengkakan di angkle"


Adiba hanya bisa mengangguk mengiyakan saran dari dokter Fandi, karena sampai saat ini Adiba masih bingung dengan situasi yang disajikan dihadapanya, kenapa Gus Al sampai se posesif ini terhadap dirinya.


"Ini saya kasih obat penahan nyeri, semoga lekas membaik"


Dokter Fandi memberikan obat yang telah di raciknya, kemudian bergegas menyalami Gus Al.


"Aku permisi dulu Al, banyak pasien yang menunggu, tanang dia ngga papa, Assalamu'alaikum.." dokter Fandi menepuk pundak Gus Al, ada lengkungan bibir yang terlihat mengejek di sana.


"Hem.. wa'alikumsalam."balas Gus Al.


Setah dokter Fandi pergi, kini adiba hendak meninggalkan ruangan itu lagi.


"Jangan kemana mana, biar saya antar kamu pulang, tak selesaikan dulu tugas saya" ujar Gus Al


"kenapa harus seperti ini, kenapa Engkau membiarkan perasaan hambaMu semakin menguat ya Alloh, jangan baiarkan perasaan hamba kepada maklukMu semakin besar, hingga nanti ahirnya hamba tidak lagi Sadar akan posisi hamba yang hanya Santrinya."


Bersambung


☺️☺️☺️ikan hiu ikan lele


☺️☺️☺️I love you yeeee

__ADS_1


__ADS_2