
Aku tidak percaya dengan santet , teluh, tenung, atau guna-guna. Tetapi itu dulu, sebelum aku menyaksikannya dengan mata kepala sendiri.
Aku sempat berpikir, setan dan jin hidup di dimensi yang berbeda dengan kita sehingga mereka tidak bisa melukai manusia. Ternyata, mereka bisa menembus batas alam. Mereka bisa diajak bersekutu oleh manusia untuk membalas dendam.
Setahun sebelum aku hijrah ke Bandung, ada tetanggaku yang meninggal dunia karena disantet. Awalnya, dia dikira hanya mengalami penyakit biasa. Aku juga berpikir ilmu hitam tidak akan bisa masuk ke tubuh orang yang taat beragama. Tetapi, dia digempur santet setiap malam. Perutnya membesar, namun bagian tubuh lain mengecil (atau menjadi kurus). Di malam tertentu ia mengerang kesakitan. Dia juga kerap memuntahkan darah dan paku, tetapi tidak semua orang mampu melihat wujud benda tersebut.
Kesaktian orang yang mengirimkan sihir itu disebut mampu membuka celah untuk santet masuk ke tubuh si korban. Dia menggunakan perhitungan hari baik dan buruk orang yang menjadi incarannya.
Beberapa kali aku melihat rumahnya seakan dikelilingi setan dan jin dari segala arah. Semua tampak tak masuk akal. Akan tetapi, aku melihat pergerakannya terkunci. Ke mana ia pergi seolah tak bisa menghindar dari marabahaya hingga dia pun pasrah dan percaya jika ajal merupakan suratan Tuhan. Aku mendadak lemas mengingat kengerian tersebut.
Kenapa orang yang tampak taat beribadah bisa terkena santet juga? Pertanyaan ini membuatku begitu penasaran. Aku pun mencoba menelisik hal tersebut. Ternyata, ada aura negatif dalam diri korban yang bisa ditembus, akibat hati dan pikirannya kurang bersih. Si korban – ternyata – kerap melontarkan kata-kata menyakitkan yang membuat si pelaku sakit hati teramat dalam. Konon, masih banyak orang yang menggunakan ilmu hitam untuk membalas rasa sakit hati daripada menyelesaikan masalah dengan pendekatan persuasif atau berbicara langsung.
Santet, teluh, tenung, dan guna-guna sekilas serupa, bagian dari ilmu hitam yang sangat kejam. Padahal, keempat sihir tersebut memiliki perbedaan yang terletak pada media yang digunakan, pengaruh, dan cara kerjanya.
Santet, serangan jarak jauh dengan menggunakan media benda mati seperti paku, jarum, silet, dan pecahan kaca. Orang yang mendapat kiriman tersebut biasanya akan merasakan sakit di bagian anggota badan tertentu, misalnya perut, dada, kepala, dan punggung. Benda-benda yang menyebabkan si korban kesakitan tidak akan terdeteksi oleh ilmu medis. Tak ada bekas di tubuh yang menunjukkan benda tersebut pernah bersemayam.
Kemudian teluh – yang sebenarnya mirip dengan santet – perbedaannya terletak pada unsur yang digunakan. Teluh memanfaat binatang seperti serangga, cacing, belatung, dan kelabang sebagai media perantara. Jika santet dikirimkan oleh pelaku hampir tidak dapat diketahui, teluh memiliki ciri yang bisa dilihat dan didengar oleh siapa pun. Ciri tersebut misalnya terdengar benda yang jatuh di atas rumah. Suaranya sangat keras, namun ketika dilihat tidak ada apa pun. Bisa juga berupa kilatan cahaya yang masuk ke dalam rumah si korban.
Ilmu hitam selanjutnya yaitu tenung. Serangan ini perpaduan atau pengembangan dari santet dan teluh. Media yang digunakan bisa benda mati atau binatang. Bahkan, si pelaku menyusupkan serangan ini melalui tanah di sekitar rumah si korban. Inilah mengapa ketika seseorang menjadi korban sihir ini, orang-orang akan menggali tanah di depan atau sekitar rumahnya. Umumnya, pelaku menaruh media tenung di bawah pohon.
Tenung, bahkan, lebih menyeramkan dari santet dan teluh. Sihirnya bisa juga masuk ke tubuh si korban melalui makanan dan minuman. Ketika korban menyantap makanan yang disisipi sihir tersebut, maka dia akan merasakan sakit di tenggorakan, seperti ada yang mengganjal. Saat dimuntahkan akan keluar benda-benda mengerikan seperti paku, beling, atau serangga bersama darah.
Terakhir, guna-guna. Sihir ini berhubungan langsung dengan benda-benda yang ada dalam keseharian kita. Misalnya makanan, minuman, dan pakaian. Guna-guna memerlukan media nyata yang digunakan langsung untuk menyerang si korban. Jika si korban memakan atau meminum atau mengenakan pemberian si pelaku, tubuhnya seketika merasa tidak enak. Ada rasa gelisah yang tiba-tiba menyergap hingga membuatnya sulit tidur di malam hari. Bahkan jika ia mampu tertidur pun, ia akan selalu dihantui mimpi buruk. Lambat laun, ia merasakan hidupnya seperti tak memiliki gairah. Ia malas beraktivitas seperti hari biasanya. Ia juga merasakan seperti ada yang mengendalikan dirinya, namun sulit untuk dilawan.
Inilah kehidupan. Terkadang kita tidak bisa menerka yang orang lain pikirkan. Mungkin ada orang yang tersinggung atau sakit hati dengan ucapan maupun perilaku kita tanpa kita sadari. Bahkan ada orang yang terlihat baik di depan kita, padahal ia menyimpan dendam, kemudian membalas dengan cara yang sadis. Cara yang di luar nalar.
Apakah santet, teluh, tenung, dan guna-guna bisa menyerang setiap orang? Setahuku tidak. Terutama mereka yang taat beragama, membaca doa dan amalan (seperti Ayat Kursi, Surah An-Naas, Surah Al-Falaq, dan Surah Al-Ikhlas) sebelum tidur bisa terhindar dari ilmu sihir, karena biasanya serangan ilmu hitam tersebut masuk ketika si korban terlelap di malam hari. Selain itu, kita harus senantiasa menjaga pikiran. Jangan biarkan hal-hal negatif tumbuh dan berkembang di dalam otak. Itu memudahkan setan masuk dan menguasai diri kita. Memang sulit dipercaya, namun hal tersebut ada di tengah-tengah masyarakat kita.
Salah satu dan empat sihir itu, aku rasakan sedang berkutat di sekitarku. Mas Bimo mengatakan jika peristiwa semalam karena dia mengalami masuk angin dan kelelahan saja. Namun, aku merasakan ada hal yang lain. Ada yang tak suka dan berusaha menyakitinya melalui perantara magis.
“Mas Bimo udah enakan?” tanyaku melihat Mas Bimo membuka mata.
“Udah, Ya. Kamu ada kelas pagi ya?” balasnya sembari mengembangkan senyum.
“Iya, Mas. Tapi aku udah minta tolong Dani buat nemenin Mas Bimo pagi ini, kebetulan dia kuliahnya siang.”
“Aku udah nggak apa-apa, Ya. Udah sehat.” Dia berusaha meyakinkanku, namun aku tak semudah itu percaya.
“Iya, tapi seharian ini Mas Bimo istirahat aja ya di sini! Ini aku juga udah belikan bubur buat sarapan. Kalau ada yang lain yang Mas Bimo butuhkan, bilang aja ya!”
“Ya…” Aku paham yang ingin diucapkannya.
“Mas Bimo di sini aja. Nanti aku ambilkan pakaian dan kebutuhan Mas Bimo. Sekarang lebih baik Mas Bimo sarapan dulu, terus minum obat.”
Aku kembali ke kamar Mas Bimo. Sejujurnya, baru 2 kali ini aku masuk ke kamarnya secara nyata. Keduanya juga membuatku merasakan ada yang tak wajar bersemayam di penjuru kamarnya.
Cuaca pagi hari cukup cerah. Matahari bersinar cukup terang, tetapi kamar Mas Bimo terasa gelap, dingin, dan lembap. Aku buka jendela kamarnya agar cahaya masuk dan menerangi.
Tiba-tiba saja, pintu kamar Mas Bimo menutup dengan kuat saat aku berbalik badan menuju lemari pakaian. Itu bukan dorongan angin. Cara menutupnya berbeda. Jika dikarenakan angin, maka akan terasa pula hembusannya, sedangkan ini seperti ada yang mendorong dengan kuat.
Aku segera keluar dari kamar Mas Bimo. Lalu, mengetuk kamar Dani.
“Dan, aku udah mau berangkat kuliah. Pakaian Mas Bimo sekalian kamu bawa ya ke atas,” titahku kepada Dani.
“Oke. Bentar, Ya!” Dia setengah berteriak sambil membuka pintu.
Kulihat wajahnya tampak biasa. Maksudku apa dia tidak mendengar suara pintu yang menutup dengan sangat kencang?! Juga cukup aneh, teman-teman yang lain pun tak ada yang complain atau sekadar melihat sumber bantingan keras itu.
Aku lantas bertanya kepada Dani. “Dan, tadi kamu dengar suara pintu menutup dengan kencang nggak?”
Dani menggelengkan kepala, “Nggak tuh, Ya.”
Mataku menerawang suasana, semua tampak normal. “Oh! Ini pakaiannya ya, Dan. Tadi sih Mas Bimo lagi sarapan. Aku selesai kelas jam 10, dan akan langsung balik kok.”
“Iya, Ya. Santai aja!” Dani seperti hendak bertanya, namun aku bergegas ke kampus. Aku sudah hampir terlambat.
Selama di kelas, aku terus memikirkan Dani dan penghuni kost lain yang tidak mendengar adanya suara gebukan pintu kamar Mas Bimo. Rasanya mustahil suara sekencang itu tidak terdengar oleh mereka. Apa hanya aku lagi yang bisa mendengar dentuman keras yang kerap terjadi di kost? Ah!
Seusai kelas, Mas Bimo mengirimkan pesan meminta tolong mengambilkan jas almamter yang dipinjam oleh temannya. Mas Bimo pun mengatakan agar aku langsung ke taman fakultas FISIP (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) saja, temannya sudah menunggu di sana.
Sesampainya di FISIP, aku lihat ada seorang mahasiswi yang duduk sendiri di taman sambil menenteng tas jinjing berwarna biru. Aku pikir dia orang yang dimaksud Mas Bimo. Aku langsung menghampirinya.
__ADS_1
“Permisi, Teh Yeni ya?” sapaku halus.
Dia menoleh, tetapi tak merespon sepatah kata pun. Wajahnya tampak penuh amarah. Ada hal yang janggal dengan perempuan di hadapanku. Tapi ciri-ciri yang dimaksud Mas Bimo ada pada dirinya. Perempuan dengan rambut sebahu, kulit putih, duduk sendirian di taman menghadap ke Selatan. Tak ada orang lain lagi dengan posisi serupa.
“Arya!” Aku mendengar ada yang memanggilku dari arah belakang.
Terlihat dia berjalan menghampiri. “Teh Yeni?” tanyaku memastikan.
“Iya. Kamu udah lama di sini?”
“Baru sampai, Teh.”
“Ini almamaternya Bimo,” ucapnya dengan ramah sambil menyerahkan tas jinjing berwana biru berisi almamater Mas Bimo. Tetapi tas itu Identik dengan yang dibawa oleh perempuan yang ada di sebelah kami yang sebelumnya aku kira Teh Yeni. “Kondisinya sekarang gimana, Ya?”
“Udah mendingan, Teh.”
“Dia emang orangnya susah dibilangin. Udah tahu lusa mau sidang, malah nekat riding sendiri dari Malang ke sini.”
Aku hanya bisa mengiyakan dengan menganggukkan kepala.
“Kalau gitu aku duluan ya. Aku lagi nunggu dosen pembimbingku di dalam.” Dia pun pamit dengan langkah yang anggun.
“Iya, Teh.”
Ketika aku melangkah pulang, perempuan di sebelahku menatap sinis. Aku tidak paham maksudnya melihatku dengan tak bersahabat seperti itu. Ah sudahlah! Dia mungkin merasa terganggu saat aku hampiri. Aku balas tatapannya dengan senyuman.
Aku terkejut melihat pintu kamar Mas Bimo terbuka. Didapati dia sedang membuka lemari pakaian. “Mas Bimo kok ada di sini?”
“Arya!” Mas Bimo menoleh. “Aku lagi cari *sweate*rku.”
“Oh! Dani udah berangkat, Mas?”
“Udah, barusan.”
“Ini dari Teh Yeni, Mas.”
Aku menyerahkan titipan dari Teh Yeni, Tapi aku shock Mas Bimo melemparkan tas tersebut.
“Panas?” Aku agak panik melihat reaksi Mas Bimo.
“Iya, Ya. Nggak tahu kok tiba-tiba aku kayak pegang api.”
Aku ambil tas tersebut dan memastikannya. Tidak terasa apa pun. Gestur Mas Bimo memang seperti memegang sesuatu yang panas. Ada yang tidak beres, tetapi aku rasa bukan pada tas itu.
“Ketemu Mas sweaternya?” Aku berusaha mempercepat proses pencarian. Mas Bimo tidak boleh terlalu lama di kamarnya.
“Belum, Ya. Apa aku lupa nyimpennya ya?!” keluhnya sambil garuk-garuk kepala.
“Kalau gitu pakai punya aku aja, Mas. Aku ada beberapa sweater dan jaket. Ukuran kita juga sama, kan”
“Ya udah deh. Aku kok jadi pelupa gini ya.”
“Ayo, Mas!”
“Tapi aku bereskan ini dulu ya,” ucapnya sambil meraih satu per satu pakaiannya yang berserakan di lantai.
“Nggak usah, Mas. Biar nanti aku aja yang bereskan.”
“Tapi Ya…”
Kupegang tangan Mas Bimo. Tubuhnya terasa dingin. Segera saja aku luruskan tangan kirinya ke pundakku. Lalu, memapahnya ke kamarku. Mas Bimo menggigil kedinginan saat keluar dari kamarnya.
Aneh. Dia menggigil, tapi tubuhnya terasa dingin. Padahal jika dia menggigil karena deman, maka tubuhnya justru akan terasa hangat atau panas.
Mas Bimo belum mau diajak berobat. Dia memilih untuk beristirahat saja. Selain faktor magis, sakitnya pun karena memang ada hal medis. Ini bisa jadi karena serangan magis duluan yang membuat imunitasnya menurun.
Selepas Ashar, aku dan Dani membawa Mas Bimo ke poliklinik kampus. Kami memaksanya, karena dia mengeluh sakit kepala.
Menurut dokter di poliklinik, Mas Bimo hanya masuk angin dan kelelahan fisik (fatigue) saja. Persis seperti yang dikatakannya juga.
Akan tetapi – kemudian – aku menceritakan jika malam sebelumnya Mas Bimo sempat muntah darah. Dokter sempat kaget, karena berdasarkan hasil pemeriksaan tak ada tanda-tanda peradangan di tenggorokan atau organnya. Dokter menegaskan dia murni memerlukan istirahat saja. Dokter pun hanya memberikan obat pereda nyeri dan vitamin.
__ADS_1
Dani terus menatapku penuh tanya. Aku pun memberi kode jika tidak mau bercerita di hadapan Mas Bimo. Aku tidak mau pikiran Mas Bimo terkontaminasi dengan ceritaku. Itu bisa membuatnya semakin drop.
Setelah minum obat, Mas Bimo langsung tertidur. Aku lantas bercerita kepada Dani,
“Aku ngerasa ada yang tak beres dengan sakit Mas Bimo.”
Dani menatapku bingung, “Maksud kamu, Ya?”
“Semalam dia muntah darah. Aku yakin itu bukan karena kelelahan.”
“Artinya?”
“Sakitnya tak wajar, Dan.”
Dia masih bingung, “Aku masih belum ngerti, Ya.”
“Aku juga belum bisa memastikan. Namun, aku merasa dia terkena guna-guna?” Aku memelankan suaraku, khawatir Mas Bimo mendengar meskipun tengah terlelap.
“Maksudnya santet gitu, Ya?” Dani pun mengerti untuk menurunkan volume suaranya.
“Kita harus mencari sesuatu yang melekat dari Mas Bimo yang membuat dia seperti ini.”
“Sebentar. Aku masih belum ngerti nih, Ya.”
“Mas Bimo diguna-guna, dan itu ada perantaranya atau media yang bersentuhan langsung dengan Mas Bimo. Maka dari itu, kita harus mencoba mencari benda tersebut,” jelasku dengan pelan. Aku berharap Dani mampu memahami eksplanasiku.
Dia memejamkan mata sesaat seolah berupaya mengingat sesuatu. “Oke, aku paham. Artinya Mas Bimo terkena guna-guna melalui benda yang diterima atau yang dipakai oleh dia?”
“Ada yang melalui makanan atau minuman dan ada yang melalui benda yang bisa dipakai oleh Mas Bimo. Kalau untuk makanan atau minuman, sekarang yang bisa kita lakukan hanya mewaspadainya. Benda itu sudah menyatu dalam tubuh Mas Bimo. Sementara kalau dari pakaian, kita harus menemukan dan segera membakar pakaian itu,” uraiku.
“Gimana caranya kita bisa menemukan itu?”
“Aku akan coba memeriksa di kamarnya.”
“Terus, apa efek guna-guna itu akan langsung hilang.”
Aku terdiam sejenak. “Kita usaha dulu. Jika ingin langsung hilang, maka kita harus mencari orang yang mengirimkan guna-guna ke Mas Bimo.” Aku, Dani, dan Mas Bimo sudah seperti saudara meski baru beberapa bulan saling mengenal.
“Caranya?” tanyanya lirih.
Tiba-tiba Mas Bimo berteriak. “Minum… minum… Ya. Aku minta minum, Ya!”
Segera kuambilkan segelas air putih. Namun begitu hendak menyodorkan kepada Mas Bimo, aku terpukul mundur. Aku pun sontak berteriak. “Pergi!”
“Ada apa, Ya?” tanya Dani terkejut.
Aku tidak bisa mengatakan jka aku melihat ada yang mencoba masuk ke tubuh Mas Bimo. Tak ada waktu untuk menjelaskan. Kami melihat wajah Mas Bimo menjadi pucat pasi. Dengan sigap Dani mengambil air minum kembali, dan langsung memberikan kepada Mas Bimo.
Setelah habis 7 gelas air, kondisi Mas Bimo mulai stabil. Aku membersihkan keringat yang begitu deras mengucur dari tubuhnya.
“Mas, maaf. Bagaimana jika besok aku antar Mas Bimo pulang ke Malang?” Aku menawarkan dengan hati-hati. Aku merasa orang yang “mengerjai” Mas Bimo ada di sekitar kost dan memantau kondisinya hampir setiap hari.
“Maaf jika aku merepotkan kalian,” jawabnya. Suaranya begitu lemah.
“Maksudku bukan begitu, Mas.” Aku coba memperbaiki kata-kataku. “Atau…”
Belum selesai kalimatku, Dani melanjutkan seolah satu pemikiran denganku.
“Apa tidak lebih baik jika Mas Bimo juga mengabarkan orang tua Mas?”
Mas Bimo menyeka air yang menetes dari kedua sudut matanya. “Percuma! Mereka tidak akan peduli juga. Mereka sibuk bekerja hingga tak pernah bertanya tentang kondisiku.”
Di balik sosoknya yang supel, cool, dan periang, ternyata ada kesedihan yang mendalam.
Mas Bimo bangkit dari posisinya, aku dan Dani dengan cepat menahannya.
“Mas… Udah, jangan ke mana-mana!” pintaku
“Aku mau ke kamar mandi dulu.”
“Oh, oke. Aku antar ya, Mas.”
__ADS_1
Aku memapahnya dengan perasaan sedih. Air mataku mengalir tak tertahan mengingat ucapan Mas Bimo dan melihat kondisinya yang mendadak ambruk. Aku berikrar – terlebih dahulu – akan mencari pelaku yang mengirimkan sihir kepadanya.