
Mata sudah mengisyaratkan untuk tidur. Badan pun terasa cukup lelah. Namun, entah kenapa sulit sekali untuk terlelap. Pikiranku begitu gelisah mengingat peristiwa yang belakangan menyekap logika.
Aku terus berusaha untuk tidur, karena paginya ada kelas. Doa sebelum tidur pun sudah dilantunkan berkali-kali.
Setelah berjuang susah payah untuk tidur, akhirnya aku bisa memulai petualangan di alam mimpi. Tetapi, samar-samar terdengar suara pintu kamarku diketuk. Ah, padahal aku sedang menuju kesempurnaan tidurku.
Aku terpaksa bangkit dan membuka mata untuk memastikan siapa dan ada keperluan apa. Apakah itu Dani atau Mas Bimo atau yang lain? Jika teman kost biasanya mereka mengetuk pintu sambil memanggil nama.
Saat kubuka pintu, ternyata tidak ada siapa pun. Aku lihat sekeliling – mungkin di kamar yang lain – tidak ada juga tanda-tanda kedatangan seseorang. Suasana cukup sunyi. Sepertinya semua penghuni juga sudah tidur dalam keadaan lelap. Hem, padahal aku sangat yakin pintu yang diketuk yaitu pintu kamarku.
Aku mencoba merasakan aura yang ada. Tiba-tiba terdengar langkah kaki yang begitu cepat menuruni anak tangga. Aku langsung mengikuti sumber suara tersebut.
Tampak bayangan putih setengah berlari. Aku coba kejar untuk memastikan. Namun perasaanku mendadak sedih. Ada apa ini? Sambil mengejar sosok itu, aku merasakan ada hawa kedukaan yang terpancar.
Setelah sampai di depan gerbang kost, aku mellihat bayangan putih itu sedikit lebih jelas. Dia seperti perempuan yang mengenakan mukena. Dia masuk menembus pagar kost putri di pertigaan gang. Batinku semakin bertanya dalam getir.
Teh Yuli? Apakah itu dia? Bukannya sore hari dia meneleponku dan mengatakan sedang ada di rumahnya, di Cianjur. Tidak. Itu bukan dia. Tetapi kenapa naluriku berkata itu memang dia. Mungkinkah dia menemuiku untuk menyampaikan perpisahan? Ada apa dengan pikiranku? Kenapa aku bisa berpikir seperti itu?
Air mata tak terasa mengalir. Aku sangat takut jika itu sebuah pertanda kematian. Aku pun tertunduk lemas, berharap ketakutanku tidak menjadi nyata.
Kemudian, ada tangan yang mengusap bahuku. “Ya, lagi ngapain di sini?” Seseorang sudah ada di belakangku tanpa kudengar suara pintu terbuka, atau aku tak mendengar karena terlalu fokus mengamati peristiwa di hadapanku.
Aku langsung menoleh, melihat siapa yang menyapaku. “Dani… Emmm… Nggak. Aku lagi nggak ngapa-ngapain.” Aku berkilah sambil mengusap air mata.
“Ada apa, Ya? Cerita sama aku!” Dani tampak khawatir. Dia menggoyangkan kedua bahuku seperti aku sedang hilang kesadaran.
“Nggak ada apa-apa, Dan.” Aku tak bisa menyembunyikan wajah sedihku, tetapi aku pun belum siap bercerita.
Kemudian, Dani menuntunku untuk kembali ke kamar. Aku masih berargumen dengan pikiran, cerita atau tidak ke dia.
Kulihat wajah Dani. Aku tahu di benaknya ada pertanyaan tentang peristiwa yang terjadi kepadaku. Terbersit keyakinan untuk menyampaikan kejadian yang aku alami. Bisa saja jika aku ceritakan, firasatku tidak akan terbukti.
“Dan.”
“Iya.” Dani menunjukkan sikap serius.
“Tadi aku mendengar ada orang yang mengetuk pintu kamarku. Awalnya, aku kira itu kamu atau Mas Bimo atau yang lain. Tetapi setelah aku buka pintu, tidak ada siapa-siapa,” tuturku.
Dani pun tampak fokus mendengar ceritaku.
“Aku coba amati sekeliling, tak siapa pun juga di luar kamar. Lalu, terdengar suara langkah kaki menuruni tangga. Aku pun melihatnya untuk memastikan siapa yang barusan datang ke kamarku.” Aku tenangkan diri sejenak dengan mengatur nafas.
“Terus itu siapa, Ya?” tanya Dani dengan raut penasaran.
“Aku tidak tahu pasti. Hanya terlihat bayangan putih yang tampak seperti seorang wanita yang mengenakan mukena. Namun, sosoknya masuk ke kost pertigaan itu. Entah kenapa, aku langsung merasakan sosok tersebut adalah Teh Yuli”, singkapku sembari menahan laju air mata. “Setelah itu – tiba-tiba – entah kenapa aku takut sesuatu terjadi kepadanya. Aku tahu itu bukan fisiknya dia, namun dia seperti memberi pertanda atau ingin menyampaikan sesuatu.”
“Tapi Teh Yuli kan sedang di rumahnya, Ya.”
“Iya.”
Dani mencoba menenangkanku dengan terus mengusap pundakku. Aku ambil ponselku untuk melihat jam. Ternyata pukul 2.15 dini hari atau sudah memasuki waktu pagi.
“Dan, perasaanku mengatakan jika Teh Yuli sudah bahagia.”
“Kakakku juga mengatakan kondisinya sekarang sudah jauh lebih baik.”
__ADS_1
Aku mencoba meluruskan pernyataanku, tetapi aku belum sanggup untuk langsung mengatakan substansi dari ketakutanku. “Maksudku, sosok yang aku lihat barusan seperti representasi Teh Yuli yang ingin pamit. Dia sudah mencapai batas waktunya.”
Dani mengerutkan keningnya. Dia terlihat berupaya mencerna kalimatku. “Maksudmu dia sudah mencapai batas waktu hidup di dunia? Dia akan meninggal dalam waktu dekat? Betul begitu yang mau kamu katakan, Ya?”
“Dan, aku tahu jika kematian merupakan takdir Tuhan. Tidak ada satu pun manusia yang mengetahui kapan kematian akan datang menjemput. Namun, ini bukan pengalaman pertamaku. Perasaan ini pun muncul begitu saja.” Air mataku jatuh kembali tak terbendung. “Aku tidak akan memintamu untuk mempercayai hal ini, karena aku pun berharap ini memang hanya delusiku.”
Aku tahu Dani enggan berdebat denganku. Mungkin ada sedikit rasa trauma juga di dirinya mengingat kejadian yang lalu di kantin.
“Sekarang kamu istirahat aja ya, Ya. Tenangkan dirimu!”
Aku jatuhkan badan di kasur. Betul kata Dani, aku harus bisa mengatur emosiku dahulu.
“Maaf Dan, aku bukan bermaksudmu mengusirmu. Aku baik-baik saja kok. Kalau kamu mau kembali ke kamarmu, nggak apa-apa. Kamu juga butuh istirahat.”
Dani menarik selimut dan memakaikannya ke tubuhku. “Kabari aku secepatnya jika ada hal yang ingin kamu ceritakan ya, Ya!”
“Terima kasih banyak, Dan.”
“Anytime.” Dani menyunggingkan senyum sebagai ucapan pamit untuk kembali ke kamarnya.
Aku berusaha menutup mata. Tidur memang tidak akan menghindarkan kita dari masalah, namun setidaknya bisa membuat kita lebih tenang.
Setelah terbangun, tubuhku terasa lebih segar dan emosi sudah lebih terkontrol. Hari tampak sudah siang. Aku lupa ada kelas pagi.
Aku buru-buru mandi. Kulihat sudah jam 9 lebih 16 menit. Ini sudah terlambat. Aku telah melewatkan mata kuliah pertama, dan ketinggalan mata kuliah kedua.
Aku tetap berangkat ke kampus. Namun, kemudian, memutuskan untuk ke perpustakaan. Aku coba cari ketenangan di sana sambil membaca buku. Mau masuk kelas pun waktunya sudah hampir selesai.
Aku pun ingat ada buku yang aku cari, tetapi belum tersedia di perpustakaan. Aku lantas berpikir untuk ke toko buku Gramedia. Waktunya cukup untuk sekaligus menunggu kelas selanjutnya yang dimulai jam 2 siang. Segeralah aku pergi.
Aku kembali lagi ke kampus sekitar pukul 1 siang setelah Jum’at-an dan makan siang di sekitaran toko buku. Agar tidak terlambat masuk kelas, aku menunggu di taman depan fakultas.
“Ya, ada yang nyariin kamu tadi,” terang Hari, teman sekelasku, yang muncul saat aku hendak membuka laptop.
“Orangnya di mana, Ri?”
“Nggak tahu. Dia tadi nungguin kamu di sini sebelum Jum’atan.”
“Oh, oke! Makasih ya, Ri.”
“Oke.”
Siapa yang mencariku? Aku coba buka ponsel. Ternyata ponselku mati. Aku berpikir orang yang mencari pasti ada urusan yang penting denganku dan dia pasti lebih dulu menghubungiku. Naasnya, aku pun lupa bawa charger ponsel.
Aku memasukkan kembali laptop ke tasku. Dugaanku mengarah kepada Dani. Aku bergegas menuju kost, berharap dia ada di sana.
“Arya!” Terdengar suara Dani memanggil. Ia pun berlari ke arahku.
“Tadi kamu nyariin aku, Dan?” Aku langsung tanya tanpa basa-basi.
“Iya.” Nafasnya agak terengah-engah. “Kamu dari mana? Aku telepon nomormu nggak aktif.”
“Aku dari toko buku.” Melihat wajah Dani, tersirat hal yang begitu krusial yang ingin dia sampaikan kepadaku. “Terus hapeku mati, semalam lupa nge-cas.”
Dani pun menunjukkan sesuatu di layar ponselnya. “Lihat ini, Ya!”
__ADS_1
Sebuah status WhatsApp dari kakak Dani berisi sebuah foto dengan caption mengiris hati: Innalillahi wa inna illahi rojiun, telah berpulang ke rahmatullah sahabat kami Yuli Komalasari, Sosiologi 2009. Semoga amal ibadahnya diterima Allah SWT!
Tidak. Ini tidak nyata, kan? Ini hanya kebetulan, kan? Aku berlari pulang. Dani mengejar dan terus memanggil namaku.
Sesampainya di kamar kost, aku langsung menundukkan kepala. Kenapa aku bisa merasakan aura kematian, tetapi tidak bisa melakukan apa pun. Sekuat tenaga menahan emosi dan tak menyalahkan diri sendiri, tetapi malah berbalik semakin menyiksa batin sendiri.
Dani datang merangkulku. “Ya, tenangkan dirimu dahulu!”
Air mata sudah membanjiri pipiku. Aku sebenarnya tak mau menangis di hadapan Dani. Bahkan aku tak ingin menunjukkan ekspresi kesedihan di depan siapa pun., namun pikiranku begitu terguncang.
Aku tarik nafas panjang, kemudian mencoba menatap Dani. “Teh Yuli ke sini sekitar 40 hari yang lalu. Saat itu kami berbincang mengenai kondisi dia. Nah, di saat itulah aku sudah merasa hidupnya seperti daun yang sudah terlepas dari ranting pohon. Hanya tinggal menunggu jatuh ke tanah.”
Dani merespon dengan terus mengusap punggungku.
“Ini memang tidak rasional. Ketika semalam aku melihat sosok yang mendatangiku, aku merasakan dia ingin berpamitan denganku. Kemarin pun dia meneleponku. Suaranya terdengar sangat bahagia, tapi justru aku malah merasakan dia seperti ingin mengatakan akan pergi. Dia bahagia, dan mungkin sekarang lebih bahagia.” Tangisanku semakin sulit dikontrol. Ada rasa bersalah, meskipun dia pergi dengan keadaan yang sudah bisa mengembangkan senyuman kembali.
Aku pun menutup rapat wajahku dengan kedua tangan dan menundukkan kepala kembali. Maafkan aku, Dan! Aku tak mampu mengendalikan emosiku.
“Ya, tenangkan dirimu! Seperti katamu, Teh Yuli kan sudah bahagia. Sekarang pun pasti dia sudah tenang. Aku ambilkan minum dulu ya!”
Aku coba kembali mengatur nafas dan memejamkan mata, namun dalam gelap muncul bayangan Mas Bimo. “Mas Bimo!” Spontan aku meneriakkan namanya. Aku bangkit menuju kamar Mas Bimo.
Dani tampak begitu kaget. Dengan spontan ia melempar gelas kaca berisi air. Dia mencoba menghalangi jalanku. “Ya, tenangkan dirimu dahulu! Aku mohon! Kamu pasti bisa mengendalikan emosimu!”
“Dan, Mas Bimo ada di kamarnya, kan? Aku takut, Dan,” suaraku bergetar, tubuhku menggigil ketakutan. “Mas Bimo, Dan. Aku harus mengingatkan dia, Dan!” Aku begitu panik. Aku merasa ada hal tragis yang akan dihadapi Mas Bimo sehingga merenggut nyawanya.
“Arya, tenang!” Dani memegangi tubuhku.
“Dan, aku ingin bertemu dengan Mas Bimo.”
“Arya!” Dani membentakku. “Mas Bimo sedang pulang ke Malang. Dia baik-baik saja. Sekarang tenangkan dirimu!”
“Tidak, Dan. Aku takut, Dan. Mas Bimo….”
Dani membanting tubuhku ke kasur. “Maaf, Ya, maafin aku! Aku nggak bermaksud!” Matanya tampak berkaca-kaca,
Aku bisa memaklumi kekesalan yang dia sampaikan. Betul, panik hanya akan memperburuk suasana.
Kami cukup lama terdiam. Suasana menjadi hening hingga tak terasa langit sudah menjadi gelap.
“Dan, maafkan tingkahku yang sangat kekanak-kanakan hingga membuatmu kesal.”
“Santai aja, Ya. Mending sekarang kamu mandi dulu! Setelah itu kita cari makan di luar yuk!”
Aku mengangguk.
“Dan, kamu percaya aku kan?”
“Iya, Ya. Aku percaya sama kamu. Sekarang pokoknya kamu bersihkan badan dulu, ganti baju. Aku tunggu di bawah ya!”
“Thanks, Dan!”
“Udahlah, jangan sungkan begini! Nanti kita jadi canggung lagi.” Dani tak hanya setahun lebih tua dariku, pembawaannya juga jauh lebih dewasa.
Hem! Teh Yuli sudah pergi dengan tenang. Apa benar Mas Bimo yang akan menyusul selanjutnya? Aku tak ingin hal itu terjadi. Apa aku bisa mencegahnya atau menghindarkan dia dari kejadian tragis yang muncul dalam intuisiku? Kematian memang takdir Tuhan yang tak bisa dihindarkan, tetapi aku hanya ingin mengubah sedikit suratan hidup dengan menghilangkan bagian yang mengenaskan. Aku juga ingin membuktikan firasat ini hanyalah perasaan semu.
__ADS_1