Di Sekitar Kita

Di Sekitar Kita
Bab 13: Kembali


__ADS_3

Masih banyak misteri yang sebenarnya belum terpecahkan. Perwujudan Mas Bimo, aura kematian, pria tua di kost putri, perpindahan dimensi, guna-guna, dan Bulu Perindu si pemikat hati. Aku merasa khawatir jika kejadian yang berkaitan dengan hal-hal tersebut baru sebatas pembuka atau perkenalan. Ah, semoga saja firasatku salah.


Aku berusaha fokus belajar untuk menghadapi UAS, tetapi pikiran terus berkelana menyusuri berbagai kejadian yang lepas. Apakah situasinya sudah mulai kondusif? Atau ini hanya jeda?


Segala prasangka sudah kucoba hilangkan. Namun, batinku merasakan guncangan yang hebat. Seakan ada yang terus membisikkanku untuk tetap berhati-hati.


Aku coba rebahkan badan sejenak. Pasrahkan segalanya kepada Tuhan. Tiada daya dan upaya, selain atas pertolongan-Nya.


Hal yang memakan ruang penyimpanan cukup besar di otakku yaitu – salah satunya –  tentang Teh Yeni dan Nining. Aku sama sekali tak merasakan ada aura jahat dalam Teh Yeni, dan aku merasakan Nining menjalani hidup dengan penuh kesengsaraan batin. Ah! Tak semestinya aku memikirkan mereka lagi.


“Ya, ada yang nyariin kamu di bawah,” ucap Kak Sandy – penghuni depan kamarku – sambil mengetuk pintu.


“Iya, Kak. Nuhun (terima kasih).”


Aku segera turun, meski dengan pikiran bertanya-tanya. Waktu menunjukkan jam setengah 10 lebih 6 menit. Aneh, ada yang mencariku di malam hari. Teman sekelas? Rasanya tidak mungkin.


Aku buka gerbang untuk memastikan. Hah, Nining? Kejadian yang abnormal. Benarkah dia ingin menemuiku? Atau sebenarnya ingin menemui Mas Bimo? Rupanya dia sama sekali tak menghiraukan ucapanku untuk tak lagi menampakkan diri di jangkauan mataku.


“Arya!!!” serunya menyuarakan namaku dengan setengah berteriak. Tampaknya dia sudah lupa mengucapkan salam.


Dani terdengar membuka pintu. “Ada apa, Ya? Tumben ada di luar jam segini?” tanyanya sambil menguntit di belakangku.


“Aku mau mengusir tamu tak diundang,” jawabku sinis akibat kesal melihat Nining.


Dani menatap sejajar denganku. “Biar aku aja yang usir, Ya.”


Aku menahannya. Kemudian, aku mundur dua langkah dan memposisikan Dani tetap ada di belakangku. Aku lihat Nining datang dengan itikad tak baik.


Penampilannya sangat urakan. Dia masih mengenakan pakaian malam itu yang berbalut debu. Matanya bak bola api menatapku penuh kilatan emosi. Rambutnya mengembang tak tentu arah dijepiti ranting-ranting kecil. Aroma tubuhnya mengeluarkan bau yang tidak sedap. Tercium jelas jika dari peristiwa 4 hari yang lalu di kediamannya hingga ia berdiri di hadapanku, tubuhnya tak terbasuh air.


Pandanganku pun mengarah ke tangannya yang tampak jelas menunjukkan amarah.  Tangan kirinya  mengepal erat, sedangkan tangan kanannya mencengkram sesuatu. Apa dia ingin membuat perhitungan denganku? Aku akan kabulkan ambisinya.


Namun, apa yang ada di tangan kanannya? Kuamati dengan seksama. Ternyata dia membawa senjata. Benar, itu Kujang. Bentuknya pendek melengkung, berwarna hitam, dan ujungnya sangat runcing.


Aku mundur lagi sekira 1 meter dengan tetap memperhatikan gestrure Nining. Dani malah berusaha maju dan ingin berada di depanku. Apa dia tidak melihat apa yang dibawa Nining? pikirku.


“Tenang. Aku ke sini bukan untuk ngelukai kamu atau temanmu yang ada di belakangmu itu?” Nining menyadari sikap waspadaku.


“Lalu, kamu mau apa?” Dani tersulut maju mendekati Nining.


Spontan aku menariknya ke posisi semula. “Diam di sini, Dan! Kamu nggak lihat dia bawa apa?” Bisikku kepadanya.


Dani malah ingin menunjukkan keperkasaannya. “Aku nggak takut, Ya!”


Aku tetap menjaga Dani agar berada dalam jarak aman. Nining dalam kondisi kalut, dia bisa lebih buas dari yang diperkirakan.


“Arya, di mana Bimo?” tanya Nining sambil mengacungkan senjata yang dibawanya.


“Dia nggak ada di sini. Dia lagi pulang ke Malang.” Aku paham permainannya. Dia memang senang memprovokasi lawan terlebih dahulu.


“Bohong! Kamu sengaja kan menyembunyikan dia.”


“Ada perlu apa kamu nyari Mas Bimo?” Amarah Dani tersundut.

__ADS_1


“Cepat panggilkan Bimo!” Nining membentak kami dengan lantang. “Bawa dia ke sini. Aku akan membalas semua rasa sakit hati yang dia berikan selama ini. Jika iblis tak mampu menembus badannya, sekarang aku yang akan langsung mencabut nyawanya dengan tanganku sendiri.”


“Istigfar! Kamu udah dikuasai setan,” perintahku kepadanya. Tindakannya semakin menjadi-jadi dan di luar batas.


“Hah? Aku dikuasai setan? Bagaimana bisa setan menguasai iblis? Iya, kalian yang bilang aku ini iblis kan?! Hahaha…” tawa Nining mencekik pekatnya malam.


Nining yang semula hanya berdiri di jalan depan bangunan kost, mulai mendekat. Akan sangat berbahaya jika dia masuk ke dalam kost. Aku merasa dia sudah tak punya ketakutan apa pun lagi. Tindakannya bisa sangat brutal.


Aku lihat ada celah untuk menghentikan kekacauan yang hendak dibuat olehnya yaitu dengan menutup pintu gerbang kost kembali. Walaupun jaraknya lebih dekat dengan gerbang kost dibandingkan aku, tetapi dia sepertinya tengah sedikit lengah.


Aku berlari untuk menutup gerbang. Namun, ternyata Nining membaca gerakanku. Karena jarak yang tak seimbang, dia mampu menahan gerbang kost.


Tindakan dia selanjutnya sangat di luar dugaanku. Aku kesulitan mengantisipasinya. Dia mencoba menghunuskan Kujang yang digenggamnya. Dia mengarahkan senjata itu ke perutku. Aku terdorong duduk ke lantai.


Walaupun aku bisa menghindari serangannya, tetapi lengan kananku – di bawah siku – tersayat cukup lebar. Dani pun dengan gesit menendang tubuh Nining hingga membuatnya terkapar.


“Sorry, aku sangat respect sama perempuan, tapi kamu sendiri yang mengatakan kalau kamu itu iblis. Kamu pantas mendapatkan stempel kakiku, karena kamu lebih dulu melukai temanku,” terang Dani.


Nining mengerang kesakitan sambil memegang dadanya. Tendangan Dani memang sangat keras. Ketika kaki Dani menyentuh tubuh Nining, terdengar suara yang begitu nyaring. Nining pun terlempar cukup jauh.


“Kalian juga akan mati malam ini.” Mulutnya menjadi semakin lancang. Dia benar-benar sudah gila.


Lenganku terasa begitu perih. Darah segar terus mengalir. Aku berusaha bangkit dengan menahan luka sayatan.


“Ayo Ya, kita ke rumah sakit agar tanganmu segera mendapat pengobatan”, ajak Dani sambil membantuku berdiri. Tetapi, matanya masih memandang Nining dengan membara. Kemudian, Dani melemparkan peringatan kepada perempuan jalan itu, “Aku akan menghabisimu lebih dulu, sekarang juga, jika kamu tidak segera pergi.”


Teman-teman kost dan beberapa warga sekitar berhamburan keluar. Sepertinya mereka baru ngeh sedang ada keributan kala mendengar laungan amarah Dani.


“Aya naon iyeu (ada apa ini)?” tanya mereka kepada kami.


Mendengar kalimat Dani, aku lihat Nining berusaha bangun meski tertatih. Dia pun mengarahkan Kujang kepada orang-orang yang berusaha meringkusnya. Dia juga berusaha mencari ruang untuk kabur, karena sudah terkepung.


Mataku mulai berkunang-kunang, tubuh perlahan kehilangan energi. Efek dari banyaknya darah yang keluar perlahan menimbulkan reaksi.


Dani menyadari tubuhku melemah. “Kang, punten (maaf) bisa bantu keluarin motor Mas Bimo? Kuncinya ada di kamar aku di atas lemari. Arya harus segera dibawa ke rumah sakit”, ucapnya kepada Kang Ade, teman kost kami yang menghuni kamar di samping kamar Dani. Mas Bimo memang menitipkan motornya kepada Dani.


Teman-teman kost dan warga masih mengepung Nining. Mereka pun berusaha mencari kelengahannya. Mereka tak mau gegabah, karena sikap Nining terlihat begitu liar.


Naas, kami yang pada akhirnya justru lengah. Saat mereka hendak membantuku naik ke atas motor yang akan dikendarai oleh Dani, tak ada yang memantau Nining. Semua fokus kepadaku. Dia pun berhasil mneyelinap dan malah kembali menyerangku.


Sekira 2 cm bagian pangkal Kujang merobek kaos yang aku kenakan, dan berhasil menembus bagian sisi kanan perutku. Saat ditusukkan hanya terasa perih, tetapi setelah beberapa saat terasa sakit yang teramat.


Aku pun tak tahu nasib Nining setelahnya. Insiden penusukan kedua membuat aku tak sadarkan diri.


Aku terbangun dalam kondisi tangan di-infus, lengan diperban, dan perut mendapat 7  jahitan. Aku merasakan akan mendapati kemalangan, tetapi tak bisa menghindarinya.


“Ah!!!!!!!!!!” Aku berteriak dengan kencang kepada diriku sendiri.


“Ya, ada apa?” Dani menghampiri dengan berlari. Aku tidak tahu ada dia di dalam ruangan.


“Nggak apa-apa, Dan,” kilahku sambil sekuat tenaga menahan sakit dan tangis.


“Ya, tenangkan dirimu!”

__ADS_1


“Iya, Dan. Maaf!”


***


Selama dua hari aku mendapatkan perawatan di rumah sakit. Untung saja aku punya asuransi kesehatan sehingga tak mengeluarkan biaya untuk pengobatan selama terbaring lemah.


Dani bercerita jika setelah kembali menusukku, Nining ditangkap oleh warga dan langsung dibawa ke kantor polisi. Namun setelah dilakukan pemeriksaan di kantor polisi, Nining dibawa ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Provinsi Jawa Barat karena didiagnosa mengalami gangguan jiwa.


Tak pernah kusangka dalam semester pertama kuliah banyak sekali kejadian yang mengiris hati. Niat baikku berbuah petaka tak berkesudahan.


Sekali lagi, Dani benar. Intuisi yang kumiliki hanya menjadi kesialan. Aku ingin menyelamatkan teman-temanku, tetapi siapa yang sudah berhasil aku selamatkan? Jawabannya belum ada. Atau sebenarnya tidak ada.


Kutengok waktu di ponsel menunjukkan pukul 02.00. Niat belajar dari selepas Isya malah berujung perang batin hingga pagi.


Tenggorokanku merasa dahaga. Sementara air di kamar ternyata sudah habis. Aku lupa memeriksanya.


Kuputuskan untuk ke kamar Dani. Semoga dia tidak merasa terganggu jika aku bangunkan untuk meminta air minumnya.


Saat aku hendak mengetuk pintu kamar Dani, terdengar suara berisik di belakangku, seperti lemari yang dibanting.  Lalu, terdengar suara benda-benda tumpul bersahutan di lantai. Siapa yang main lempar-lemparan di saat sebagian besar oramg tengah terjaga.


Aku urungkan sejenak untuk memanggil Dani. Aku lebih penasaran dengan suara di kamar Mas Bimo. Tidak mungkin itu dia, karena dia masih di kampung halamannya. Apa di kamar sebelah?


Aku tempelkan telingaku di pintu kamar Mas Bimo. Betul, suara dari dalam kamarnya. Bahkan saat kucoba membuka pintunya, suara tersebut masih tak bergeming. Apa dikunci dari dalam? Tapi siapa? Sedangkan kunci kamar Mas Bimo ada di kamarku.


Aku merasakan ada yang tak beres di kamar Mas Bimo. Aku segera balik ke kamarku untuk mengambil kunci.


Kreeeek!!! Suara keributan hilang dengan cepat ketika pinta dibuka. Aku yakin ini ulah mereka. Namun, untuk apa mereka kembali? Siapa yang mengutus mereka?


Gelap dan pekat. Aku lupa untuk menyalakan lampu di kamar Mas Bimo waktu sore hari. Ternyata, ada akibat yang fatal yang harus diterima. Buku-buku dan alat tulis Mas Bimo berserakan di lantai, pun dengan baju-bajunya yang keluar semua dari lemari. Sama halnya dengan sepatu yang bertebaran, terpisah dari pasangannya.


B*ngs*t!!! Bisa-bisanya mereka mengobrak-abrik kamar manusia. Aku sungguh tak habis pikir. Dasar makhluk astral sialan! Kecamku dalam hati.


Ketika aku hendak menaruh pakaian Mas Bimo ke dalam lemari. Tangan kananku yang menopang tumpukkan baju di posisi bawah bersentuhan dengan sesuatu. Karena penasaran, aku mengambilnya.


Sebuah bungkusan yang dibalut kain putih. Aku lantas membukanya. Di dalamnya tertumpuk keris kecil, sebuah kertas yang dilipat bertuliskan huruf Arab, batu akik berwarna merah, dan tasbih kecil. Punya Mas Bimo, kah? Biarlah!


“Panggihan (temui) si Nining!” lirih suara pria di telingaku.


Aku langsung memutar badan, memastikan perintah yang kudengar nyata atau hanya manifestasi suara angin. Namun, kalimatnya begitu jelas menyuruhku.


Katanya, aku harus menemui Nining. Untuk apa? Aku sudah memaafkan perbuatannya, tetapi bukan berarti aku bisa melupakan kebengisannya. Bertemu dengan dia hanya akan mengungkit dan memancing dosa. Aku tak ingin diriku dikuasai amarah begitu melihatnya.


“Ya, lagi ngapain di kamar Mas Bimo?” Pertanyaan yang mengalun di telingaku cukup membuat jantungku berdegup kencang. Namun, suaranya sangat familiar.


“Dani!” Dia tak pernah gagal mengejutkanku. “Mmm… Nggak, aku cuma lagi cari minum di kamar Mas Bimo soalnya di kamarku juga habis. Eh ternyata, di sini juga abis,” jelasku sambil buru-buru memasukkan penemuanku ke tempatnya semula.


“Oh! Kenapa nggak ketuk kamarku aja?”


“Ini baru mau!”


“Ya udah, habis minum kamu tidur lagi. Kondisimu kan belum pulih, masih harus banyak istirahat. Aku mau kencing dulu.”


Aku mengangguk.

__ADS_1


Kemudian, aku segera mengunci kembali kamar Mas Bimo. Ruang yang paling misterius di kost, penuh dengan keganjilan.


__ADS_2