Di Sekitar Kita

Di Sekitar Kita
Bab 26: Temberang


__ADS_3

Menghindar memang bukan cara yang tepat dalam menyelesaikan masalah. Itu bisa membuat masalah mengambang atau bahkan menimbulkan masalah yang baru. Tetapi, terkadang kita perlu menepi sejenak ketika masalah yang dihadapi menemui kebuntuan. Penting untuk menjernihkan pikiran terlebih dahulu sembari mengatur strategi agar masalah bisa diakhiri secara damai.


Setidaknya, jarak mungkin bisa meleburkan ego di pikiran kami. Aku dan Ayah sama-sama butuh waktu untuk menginisiasi rindu.


Aku bereskan pakaian dan perlengkapan lain untuk kembali ke Bandung. Hanya itu tempat yang bisa kutuju untuk mendamaikan hati. Bukan aku tega meninggalkan Ayah dalam kebimbangan, namun kemelut masih rawan muncul kembali ke permukaan. Aku tak ingin membenturkan kisahku dulu dengan logika Ayah.


Hal yang membuatku mantap untuk mencari tempat perenungan yaitu ajakan Ayah berkonsultasi dengan pakar kesehatan mental. Itu agak berlebihan, menurutku. Tapi ya sudahlah, aku tak ingin memperkeruh keadaan. Biar saja nanti aku tunjukkan jika aku baik-baik saja.


Semua kejadian mistis yang mewarnai hidupku memang kerap menyiksa batin dan pikiran. Namun, semuanya masih dalam batas kendali. Maksudnya, sekalipun aku dibuat gundah gulana, tetapi aku masih bisa mengembalikan kondisi dan mood-ku seperti semula. Kewarasanku masih tetap terjaga, aktivitasku juga masih berjalan sebagaimana mestinya. Aku tahu kapan harus berkonsultasi dengan para ahli, baik psikiter/ psikolog dan kiai/ ustad.


Kuhampiri Ayah yang sedang duduk di depan televisi. Beliau tampak lelah sepulang mengajar.


“Yah, Arya mau pamit kembali ke Bandung sekarang,” ucapku perlahan.


“Hah!” Ayah tampak terkejut. “ Kamu mau balik ke Bandung sekarang? Bukannya masih libur, Nak?”


“Lusa Arya ada bimbingan KRS,” jelasku.


Ayah berdiri dan memegang pundakku. “Kenapa berangkatnya nggak lusa aja atau besok?”


Sorot mata Ayah begitu sendu, tapi tekadku sudah bulat. “Nggak apa-apa kan Yah kalau Arya ke Bandung sekarang?”


“Tapi habis ngisi KRS kamu pulang lagi, kan?”


“Nanti Arya lihat situasinya ya, Yah!”


Ayah terduduk kembali dengan gestur lemah.  Sejujurnya, aku selalu menunggu Ayah berbagi kisah tentang beban yang menyelimuti pikirannya.


“Sekarang kamu nggak nyaman ya di rumah?” Wajahnya menunduk seakan menyembunyikan kesedihan. “Kamu marah sama Ayah? Atau bahkan sudah mulai benci dengan sikap Ayah akhir-akhir ini.”


Aku sama sekali tak memiliki pikiran untuk membenci atau mendendam kepada Ayah. Bagiku, konflik yang terjadi di hari itu selesai di hari itu juga. Jika masih ada perasaan kesal, aku konversikan menjadi sebuah pembelajaran untuk ke depannya supaya konflik tersebut tak terulang.


Aku duduk dan memeluk Ayah dari samping. “Nggak, Yah. Nggak ada sama sekali terbersit tentang hal tersebut,” terangku.


“Lantas kenapa kamu kayak buru-buru pengen balik ke Bandung? Semenjak kamu kuliah di luar kota, Ayah merasa begitu kesepian di rumah,” lirihnya.


Aku bingung dalam mengemukakan alasan kepada Ayah. Haruskah mengarang cerita?


Kupeluk Ayah lebih erat, “Yah, boleh kan Arya berangkat sekarang?”


Ayah terdiam sesaat. Kemudian, beliau mengangkat wajahnya dan menatapku. Ayah pun mengangguk pasrah melihatku sudah dalam keadaan siap berangkat. “Kamu naik travel atau bus?”


“Travel, Yah.”


“Ya udah, Ayah antar ke shelter ya. Tapi Ayah ganti baju dulu sebentar yah.”


“Ayah kan baru pulang ngajar. Emangnya nggak capek?”


“Nggak. Kamu tunggu bentar, Yah.”


Aku mengiyakan. Melihatnya bersedih ingin rasanya mengurungkan niat untuk pergi. Tetapi, hatiku mengatakan jika keputusanku sudah tepat.


Sepanjang perjalanan menuju Kota Kembang, aku berusaha mengevaluasi diri tentang sikap dan caraku dalam bertutur, dan juga supaya lebih bijak dalam memikirkan orang lain.


Aku juga teringat peristiwa kemarin di makam Adam. Ibu Narsih (ibunda Adam) tampak penuh tekanan hidup. Aku tahu selagi masih bernafas di bumi, hidup manusia tak akan lepas dari masalah. Namun, aku melihat kepelikan yang teramat dalam batinnya.


Sayangnya, setelah ziarah, beliau langsung pamit pulang. Aku ajak mampir ke rumah tidak mau, seperti tengah dikejar waktu. Aku pun hanya bisa berdoa agar beliau senantiasa diberi kesehatan dan keselamatan. Juga untuk Adam, semoga doa yang kami panjatkan membuatnya mampu tersenyum di atas sana.


Aku tiba di Bandung sekitar jam 7 malam.  Saat membuka gerbang kost, terdengar suara ramai di salah satu kamar, tepatnya di kamar Mas Bimo. Aku pun melirik saat melewati kamar tersebut. Ternyata ada dia dan teman-temannya.


“Ya…” panggilnya. “Kamu datang hari ini kok nggak ngabarin aku?”


Langkahku terhenti. “Berangkatnya mendadak, Mas.”


“Oh. Sini gabung, Ya!” ajaknya.


“Maaf, Mas. Aku mau istirahat dulu.”


“Ya udah. Kamu emang terlihat sangat capek.”


Aku melangkah ke dalam kamar. Auranya masih seperti beberapa minggu lalu. Ada keberadaan mereka, tetapi sepertinya sudah tak seagresif sebelumnya.


Sejujurnya, aku bingung besok mau melakukan aktivitas apa atau ke mana. Tidur seharian di kamar? Jika aktivitasnya seperti itu, aku menjadi merasa tak berguna. Ah, mending besok aku coba jalan-jalan keliling Bandung sendiri. Aku bisa ke alun-alun, Gasibu, melihat Gedung Sate, ke Taman Lalu Lintas, atau ke Kebun Binatang. Kalau ke Lembang jaraknya terlalu jauh dan aku yakin besok jalan menuju lokasi tersebut pasti macet.


Sambil memikirkan rencana kegiatan esok hari, aku baca-baca buku untuk mengundang kantuk. Tak lama, Mas Bimo mengetuk pintu kamar dan memanggilku.


“Ya… Kamu udah tidur belum? Boleh aku masuk?”


“Masuk aja, Mas!”

__ADS_1


Dia langsung duduk di sampingku. Entah kenapa aku merasa risih dengan gelagatnya.


“Ya, kamu kenapa susah sekali dihubungi belakangan ini? Chat aku juga jarang sekali kamu balas,” keluhnya.


“Maaf Mas, aku jarang pegang hape kalau di rumah.”


“Besok kamu ada agenda?”


“Nggak ada, Mas.”


“Kebetulan kalau gitu. Aku mau minta tolong besok temenin aku ke makam Nining ya. Aku mau ziarah sekaligus minta maaf sama dia.”


“Besok, Mas?”


“Iya. Kan kamu sendiri yang nyaranin lebih cepat lebih baik. Aku mohon ya Ya besok temenin aku ke sana,” ucapnya memelas. “Ya, aku sadar aku banyak sekali dosa dan salah sama orang-orang dan juga kamu. Sekarang aku benar-benar mau memulai hidup yang baru. Aku tak mau lagi dikelilingi perasaan tak tenang, Ya. Jika memang hidupku yang baru bisa dimulai dari meminta maaf ke Nining, sekali lagi aku mohon temani aku ya.


Aku merasa perkataan Mas Bimo tidak tulus. Apa ada sesuatu yang sedang dia rencanakan? Ah, tapi aku tidak boleh berprasangka buruk dahulu. Pikiran dan ucapan bisa menjadi doa.


“Iya, Mas. Jam berapa ke sananya?”


“Sore aja. Sekitar habis Ashar-lah kita berangkat dari sini.”


“Iya, Mas.”


“Oh ya, kamu udah makan?”


“Udah tadi di jalan.”


“Kalau gitu ikut gabung ke kamarku, yuk!”


“Maaf, Mas. Aku lagi pengen istirahat.”


“Baiklah. Aku nggak akan maksa. Aku balik ke kamarku ya.”


“Heem.”


Kenapa aku berpikir sikap Mas Bimo seperti mengutarakan sisi gelapnya?! Awalnya, aku memang mengenalnya sebagai sosok yang baik, tetapi barusan semuanya seolah rekaan. Sandiwara apa yang tengah ia mainkan? Aku merasakan ada rencana kurang baik yang tengah ia susun. Wajahnya tampak ceria, tetapi menyunggingkan firasat buruk.


Aku ceritakan kejanggalan sikap Mas Bimo kepada Dani melalui pesan WhatsApp.


Aku : Dan, aku lagi di kost. Barusan ketemu Mas Bimo. Dia bilang besok minta ditemenin ke makam Nining.


Aku : Aku kok ngerasa ada hal yang tak beres dengan Mas Bimo


Dani : Pokoknya kamu waspada aja sama dia. Sekarang kan kamu udah tahu dia kayak gimana.


Aku : Iya, Dan.


Dani : Saran aku, kamu minta ditemenin sama anak kost yang lain kalau besok pergi sama Mas Bimo.


Aku : Di atas cuma ada Kak Sandy.


Dani : Coba aja ajak dia.


Aku : Sejujurnya aku ragu nemenin Mas Bimo besok.


Dani : Ya udah, jangan pergi. Atau tunggu aku aja. Rencananya lusa aku ke Bandung. Kakakku juga mau ikut dan menginap beberapa hari di Bandung, katanya.


Aku : Coba besok aku ngomong deh ke Mas Bimo.


Dani : Oh iya, Ya. Aku cerita ke kakakku soal kamu dan Mas Bimo. Makanya, dia mau ikut nganterin aku ke Bandung. Dia juga bilang khawatir sama kamu soalnya Mas Bimo susah sekali ditebak. Pokoknya kamu hati-hati ya, Ya. Kabari aku secepatnya kalau gerak-gerik Mas Bimo menurutmu aneh lagi!


Aku : Iya, Dan. Makasih atas saran dan perhatiannya.


Dani : Santai, Ya.


Aku berupaya agar Mas Bimo mau berubah. Namun ketika dia mengungkapkan keinginannya untuk menjadi lebih, aku malah meragukannya. Kenapa dengan aku ini? Inikah jalan menuju kedamaian? Dihadapkan lagi dengan hal-hal yang memicu pertengkaran antara batin dan pikiran.


Keesokan harinya, setelah sarapan, aku langsung menuju kamar Mas Bimo untuk menyampaikan penundaan ke makam Nining. Kuketuk pintu kamarnya, tetapi temannya yang membuka pintu.


“Iya, ada apa ya?” Bau alkohol begitu menyengat dari mulutnya.


“Mas Bimo udah bangun, A?”


“Belum. Mau dibangunin?”


“Nggak usah. Nggak apa-apa. Nanti balik lagi aja ke sini.”


“Heem…”

__ADS_1


Kamar Mas Bimo begitu berantakan. Bau alkohol yang menyeruak ditunjukkan juga dengan mereka yang terlihat beler dan teler. Apa ini yang dinamakan ingin berubah?


Aku putuskan cuci mata dan pikiran sejenak ke Alun-Alun Kota Bandung. Berkeliling sendiri di tengah keramaian. Mungkin terlihat seperti orang galau, tetapi aku suka menikmati kehidupan dari perspektif kesendirian.


Dari Alun-Alun kota Bandung, aku melanjutkan perjalanan ke Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani Nasution. Tempat yang lebih banyak dikunjungi anak-anak. Justru karena itulah aku datang ke tempat ini.


Menyaksikan kepolosan dan keceriaan anak-anak selalu menyenangkan. Rasanya ingin kembali ke masa itu. Masa di mana tangisan mampu mengusir masalah. Kini, setelah beranjak dewasa, menangis hanya untuk mengungkapkan atau meluapkan masalah sesaat. Selanjutnya harus bisa menemukan solusi untuk segera menyelesaikan masalah yang ada.


Tak terasa kumandang adzan Ashar menggema. Aku tunaikan ibadah dulu, baru kemudian mengabari Mas Bimo untuk penrubahan jadwal ke tempat Nining.


Selepas sholat, Mas Bimo menelepon lebih dulu sebelum aku mengetik pesan.


“Ya, kamu di mana?” tanyanya begitu kutempelkan ponsel ke telinga.


“Lagi di Taman Lalu Lintas, Mas,” jawabku jujur.


“Ngapain?”


“Jalan-jalan, refreshing.”


“Sama siapa?”


“Sendiri.”


“Ya udah, kalau gitu tunggu di sana ya. Aku jemput kamu di sana.”


“Tapi Mas… Gimana kalau….”


Belum selesai kalimat yang ingin aku ucapkan, dia menutup percakapan. Lalu, aku kirim pesan saja kepadanya. Mas, bagaimana kalau kita ziarah ke makam Nining lusa aja?


Tak ada balasan darinya. Baiklah, aku tunggu dia di sini.


Sekitar 30 menit menunggu, Mas Bimo muncul. Dia langsung menyuruhku naik ke motornya.


“Ayo naik, Ya!”


“Bentar, Mas! Gimana kalau kita ke sananya lusa aja?”


“Kenapa harus lusa, Ya?” Ekpresinya bingung.


“Sekalian tunggu Dani dan kakaknya ke sini.” Maksud hati mencari kata-kata lain yang bisa diterima Mas Bimo tanpa ia curigai, aku malah keceplosan.


Rautnya berubah kesal. “Apa hubungannya dengan mereka? Mereka kan nggak ada sangkut pautnya dengan hal ini? Kamu cerita ke mereka? Kamu takut aku bertindak kriminal sama kamu?”


Aku dicecar pertanyaan yang membuat posisiku jadi serba salah. “Bukan gitu maksudnya, Mas. Gini loh, Mas…”


Dia langsung menyela. “Aku tahu aku ini penuh dosa. Mungkin kamu juga ragu sama aku, kan? Tapi kenapa kamu harus cerita ke orang lain? Segitu enggak percayanya kah kamu sama aku sekarang, Ya? Memang aku ini jahat, tapi apa aku pernah berbuat jahat sama kamu? Kamu yang nyuruh aku buat ngelakuin hal ini secepatnya. Ya, aku pengen banget masalah ini cepat kelar. Aku tak mau lagi dihantui Nining.”


Kecerobohan dalam bertutur justru menjadikan suasana begitu dramatis. Mas Bimo mulai menitikan air mata. Aku tak sanggup melihat orang lain menangis dan memohon di depanku.


“Ya udah, Mas. Kita berangkat sekarang,” pungkasku.


Dia pun membalas dengan tersenyum. Namun, aku merasa dia sedang mengenakan topeng di wajahnya. Semoga aku salah mengira.


Setiba di rumah Nining, perangai Mas Bimo makin terasa aneh. Wajahnya yang semula sedih, berubah menjadi bengis. Dia pun tertawa mengejek kepadaku.


“Kita langsung ziarah yuk, Mas!” ajakku menetralisir suasana sebelum memastikan maksudnya.


“Apa? Ziarah? Siapa yang ke sini mau ziarah? Aku ke sini cuma penasaran aja melihat tempat ini. Udah lama sekali aku nggak ke sini.” Dia layangkan pandangan mengitari rumah Nining diiringi tawa sinis yang menggelegar. “Hahahahaha…. Arya yang polos dan baik hati. Nining emang udah pantes mati. Kamu tahu kan di udah berusaha guna-guna aku. Eh, malah dia sendiri yang kena karma instan. Tapi sayangnya, dia mewariskan cerita kepada orang lain. Aku nggak suka itu.”


“Apa yang sebenarnya Mas Bimo rencanakan?” tanyaku cemas.


Dia menepukkan kedua tangan seolah kode memanggil orang lain. Benar saja, 4 orang temannya yang semalam kulihat muncul dari belakang rumah Nining.


“The game has begun (permainan telah dimulai). Sebenarnya ini maju beberapa hari dari yang aku rencanakan,” seringainya.


Kuamati teman-teman Mas Bimo, ada yang mengayunkan gesper, membawa celurit, membentangkan tali tambang, dan menenteng tongkat panjang, Hanya Mas Bimo yang bertangan kosong. Seharusnya aku bisa lebih tegas mengikuti kata hati.


“Mas, kamu mau membu….” suaraku bergetar dan tubuh gemetar.


Mereka membentuk formasi lingkaran, mengelilingiku. “Tenang! Aku hanya ingin menguji kemampuanmu. Aku juga nggak akan membunuhmu. Tapi, aku akan menyembunyikanmu.”


“Tolong Mas, Istigfar! Jangan semakin menjerumuskan diri dalam dosa!”


Ucapanku justru direspon dengan tatapan yang makin bengis. Aku pun mencoba mencari celah untuk melarikan diri dari kepungan Mas Bimo dan teman-temannya. Aku memeriksa sekeliling, mencari bahan untuk mengalihkan perhatian mereka.


Kemudian, langit tiba-tiba menumpahkan air dengan deras. “Mas, kita bisa bicarakan ini baik-baik. Sekarang mending kita masuk ke rumah Nining untuk berteduh.”


“Ide yang bagus. Nggak lucu juga jika kamu sakit sebelum waktunya.”

__ADS_1


Ketika mereka berjalan untuk berlindung dari hujan, di situlah terbuka ruang untuk berlari. Tak kusia-siakan kesempatan tersebut. Aku langsung mengayunkan kaki sekuat tenaga. Syukurlah, kelengahan mereka bisa aku manfaatkan dengan baik.


__ADS_2