
Harmonis, sebuah kata yang menjadi idaman setiap orang dalam menjalani kehidupan. Baik dalam di lingkungan keluarga, pertemanan, atau pun pekerjaan. Harmonis bisa merujuk pada hubungan dengan orang lain maupun dengan diri sendiri – keseimbangan antara logika dan perasaan.
Meskipun hubunganku dengan Ayah kurang begitu akrab, tetapi tak pernah terpikirkan jika suatu hari beliau menjadi begitu tempramental hingga membuat cap telapak tangan di pipiku.
Apa cara mendidiknya keras? Iya, tetapi sebelumnya tidak pernah sampai menggunakan kekerasan.
Aku mengambil posisi duduk di depan Ayah. Sadrah, berharap ceritaku bisa menjadi penolong dari kepulan amarahnya yang kian membumbung tinggi.
Baru saja menyentuh sofa, Ayah langsung menembakkan pertanyaan, “Kamu sebenarnya ke mana dan dari mana? Apa yang kamu perbuat hingga pulang dalam keadaan kumuh?”
Sabar dan tenang. Api tidak bisa dipadamkan dengan api juga. “Arya ke toko buku, terus pulang. Tapi tadi jalanan macet banget. Jadi….”
“Maksud Ayah kenapa kamu bisa meninggalkan motor di pemakaman?” Suara Ayah masih mengejutkan jantungku.
Aku atur ritme nafas sejenak. “Soal itu – pas mau pulang – Arya lihat Adam duduk sendirian di saung. Terus dia manggil Arya, dan kita ngobrol sebentar di atas, di pelataran pohon beringin yang di makam. Begitu aja, Yah,” uraiku berdebar.
“Adam?” Ayah memolotiku.
“Iya.”
“Adam mana?”
“Anak Pak Yusuf, yang rumahnya belakang mushola.”
Ayah menggebrak meja dengan cukup kencang. “Arya, Adam mana?”
Karena terkejut, posisiku bergeser beberapa centimeter dan tubuhku gemetar. “Adam anak kampung sini, Yah. Teman kecil Arya yang dulu sering main ke sini juga.”
“Ayah tanya serius. Jangan main-main!”
Melihat emosi Ayah yang justru semakin meledak-ledak, aku menjaga jarak. Aku juga perhatikan tangan Ayah menunjukkan sinyal tak baik.
“Arya serius, Yah. Apa Ayah mengira Arya sedang berbohong? Apa perlu Arya panggil Adam ke sini atau kita sekarang ke rumahnya?”
“Arya!!!” Ayah menyerukan namaku hingga terasa bergaung di telinga.
“Ayah marah begini karena tidak suka Arya main sama Adam lagi? Yah, Arya udah gede. Arya tahu batasan kok. Dari dulu pun, ketika Arya main sama Adam, Arya tetap jadi diri Arya. Nggak pernah Arya neko-neko,” keluhku pilu dengan suara bergetar.
Ayah bangkit dari sofa. Tak disangka, beliau menarik kerah kaosku. Plaaaaak!!! Sebuah tamparan mendarat lagi. Kali ini, giliran pipi kiriku yang harus menahan “tegurannya”.
Tak bisa kubendung lagi, mataku berlinang. Kerasnya telapak tangan Ayah yang mendarat di pipiku tak lebih sakit daripada kata-kata yang beliau hunuskan dan perubahan sifat yang ditunjukannya. Rasanya teramat pedih.
"Yah, seberapa fatal kesalahan Arya di mata Ayah hingga tiba-tiba Ayah nampar Arya lagi? Apa udah nggak toleransi dalam diri Ayah? Padahal Arya cuma ngobrol sebentar sama Adam. Kalau karena kelalaian Arya ninggalin motor begitu aja, Arya mengaku salah. Tapi kenapa belakangan ini setiap Arya melakukan kesalahan, di mata Ayah seakan Arya melakukan dosa besar yang perlu penyucian atau hukuman,” tuturku sendu. Meminta klarifikasi bagian mana dari ucapan atau sikapku yang telah menyulut amarahnya.
"Ayah sudah menyampaikan ke kamu. Bukan motor yang Ayah khawatirkan, tapi kamu”, bentaknya, “Lagi pula, sikap dan perilaku kamu semakin hari semakin aneh.”
“Aneh bagian mananya, Yah?”
Ayah melepaskan cengkramannya, tetapi gesturenya masih membuatku takut. “Barusan kamu bilang ketemu Adam teman masa kecilmu. Kamu mau pakai cerita itu untuk menutupi kebohongan?”
Berkali-kali aku mengatur nafas. Berkali-kali itu pula aku mencoba melepas rasa sakit yang mulai membungkus hati. “Harus bagaimana Arya menegaskan jika Arya nggak berbohong?”
“Arya, Adam – teman kamu itu – sudah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu. Bagaimana mungkin kamu bertemu dengan dia barusan?” Ayah menempelkan telunjuknya di kepalaku, “Itu mustahil. Apa kamu nggak ingat hal itu? Ayah dua kali tampar kamu karena kamu makin ngaco, tidak jelas. Berbicara tentang hal-hal yang di luar nalar terus. Otak kamu sepertinya sudah dipenuhi khayalan.”
"Yah...."
Ayah tak memberiku kesempatan untuk berkata lebih lanjut. “Kamu ini sebenarnya kenapa jadi banyak berhalusinasi begini? Beberapa waktu lalu kamu juga sempat mengatakan Mak Iroh meninggal 2 kali. Tadi sore, Bahri ke sini nyariin kamu. Katanya mau bilang terima kasih, karena kamu sudah bantu ngusir penunggu yang ada di rumahnya. Sejak kapan kamu jadi sok indigo? Apa kamu sudah kehilangan akal sehat dan kesadaran selama di Bandung? Hah?”
Kutundukkan wajah sejenak untuk berdiskusi dengan nurani. Jika aku diam, situasi tidak akan clear. Jika aku terus menjawab, seakan aku yang memicu pertengkaran. Aku tegarkan hati supaya lebih kuat lagi.
"Arya dalam keadaan sadar, Yah. Terus kalau Arya bilang semua itu benar, Ayah akan percaya?" ucapku halus dan pelan.
"Ayah sekolahkan kamu hingga perguruan tinggi agar nalar kamu jalan.” Nada suara Ayah mulai turun sedikit, “Hal yang gaib itu ada, tapi dimensi kita dan mereka berbeda. Mak Iroh sudah meninggal, dan orang yang sudah meninggal arwahnya sudah ada di alam baka. Adam, juga sudah meninggal sejak kalian SMP. Terus kamu katakan habis ngobrol dengan dia, ada buktinya? Dari mana kamu yakin itu bukan cuma imajinasi atau karangan pikiran kamu?"
__ADS_1
Imajinasi? Karangan? Aku mengalami secara nyata. Bukti? Hem, sudahlah.
Susana hening hingga hampir setengah jam. Mungkin Ayah juga sudah lelah mengamuk. Aku pejamkan mata, berharap akan datangnya ketenangan.
Byaaarrr!!! Ingatanku membawa pada satu kenangan yang menyedihkan. Betul, Adam sudah meninggal dunia pada tahun 2011. Saat itu sepulang sekolah, Adam mengajakku pulang dengan nge-BM (Bajak Mobil atau menghentikan mobil bak terbuka yang melaju, dengan tujuan menumpang). Aku sadar tindakan tersebut berbahaya, maka ajakannya kutolak. Aku juga mencegahnya juga agar tidak ikut. Firasatku mengatakan akan ada hal buruk yang menimpa kami jika ikut nge-BM.
Sayangnya, Adam bersikeras pulang dengan cara konyol tersebut bersama teman-teman yang lain. Keinginannya tak bisa aku larang dengan cara apa pun. Aku pulang dengan perasaan was was.
Sore harinya, ada polisi datang ke kampungku mencari rumah orang tua Adam. Lalu, tersebar berita jika Adam terjatuh dari mobil truk yang coba ia naiki. Adam terpeleset, karena kalah gesit dengan laju mobil tersebut. Tubuhnya menghantam aspal. Dia pun terlindas truk lain yang ada di belakang truk yang ia “begal”.
Adam mengalami pendarahan akibat terjatuh dan terlindas truk. Ia meninggal seketika di tempat.
Aku membuka mata. Ayah menatapku dengan lebih tenang. Kenapa aku bisa lupa tentang Adam yang sudah tiada? Pantas Ayah mengatakan penjelasanku mustahil.
Ketika bertemu dengan Adam tadi, aku memang agak aneh melihatnya. Tubuhnya kurus, wajahnya agak pucat, dan posturnya masih seperti anak SMP. Bisa-bisanya aku terhipnotis dan mengobrol dengannya bak dua orang teman lama yang sekian purnama tak bertemu.
Air mataku menetes kembali. Aku benar-benar merasa kacau.
“Yah… Ayah boleh nggak percaya sama Arya, tapi tolong jangan nekan Arya seperti ini!” ujarku menghempaskan keheningan.
“Ayah nekan kamu? Ayah itu sangat khawatir sama kamu.”
“Jadi, tamparan ini?” tunjukku ke pipi kiri dan kananku, “Dan kata-kata menyakitkan yang keluar dari mulut Ayah merupakan bentuk kekhawatiran terhadap Arya? Apa tidak bisa Ayah menunjukkannya dengan penuh kasih sayang? Atau jangan-jangan, Ayah hanya sedang melampiaskan beban ke Arya. Jika benar, Arya dari dulu selalu menunggu Ayah bercerita dan berdongeng tentang kehidupan”. Kalimat tersebut begitu saja terlontar secara berani dari lidahku. Sebuah sindiran jika kasih sayang seharusnya diungkapkan dengan cara yang romantis.
“Arya!!!” teriak Ayah.
Aku menutup mata. Aku janji tak akan melawan, walau dihujani pukulan yang lebih keras. Jika itu bisa melepaskan beban dalam pikiran Ayah, aku ikhlas menjadi pelampiasan. Gumamku dalam hati.
Namun, Ayah memilih beranjak dari kursi. Dia masuk ke kamarnya, sedangkan aku termenung tak mengerti. Mengapa semua ini bisa terjadi? Kelebihan yang aku punya justru mulai menggerus sedikit demi sedikit ketenangan hidupku. Aku pikir, aku hanya akan cukup tahu. Rupanya, ini menjadi ujian buatku.
Setelah puas menangis di ruang tengah, aku pindah ke kamar. Tidur, itu bisa membantu melepaskan dan melupakan sementara waktu segala yang baru saja terjadi.
Saat aku berusaha memejamkan mata, terdengar ada yang mengetuk jendela kamarku. Aku bangkit dan langsung memeriksa.
“Lu dimarahi lagi sama Ayah lu gara-gara main sama gue ya?” tanyanya murung.
“Adam, alam kita sudah berbeda,” sambutku geram.
“Maksud lu apa, Ya? Gue pengen main sama lu, tadi katanya lu bilang ke rumah aja. Boleh kan malam ini gue nginep di kamar lu?”
“Tolong, siapa pun lu, lu hanya jin yang menjelma sebagai Adam. Lu berusaha menggoda keimanan gue, kan?” Aku mulai berang, karena merasa dipermainkan.
“Ini gue, Ya. Gue beneran Adam.”
“Adam sudah meninggal beberapa tahu yang lalu. Pergi! Pergi! Pergi sekarang juga!” teriakku mengusirnya diikuti dengan menutup jendela cukup kencang.
Segera aku lafalkan Ayat Kursi untuk memohon pertolongan Allah SWT agar sosok jin yang menyerupai Adam tak lagi mengusikku. Huh! Aku nyaris terpedaya untuk kedua kalinya.
Kemudian, aku mendengar pintu kamarku dibuka. Dari langkah kakiknya, aku yakin itu Ayah. Aku pun segera berbaring di kasur dan menutup mata, pura-pura sudah tidur.
Benar saja. Ayah menghampiriku. Sepertinya beliau datang untuk memeriksa kebisingan yang baru saja aku ciptakan. Ah, tidak! Saking paniknya aku lupa mengontrol suara. Aku berupaya se-natural mungkin berlakon tidur.
Di luar dugaan, Ayah membisikkan kalimat yang hampir saja membangunkanku.
“Maafin Ayah ya, Nak,” ucapnya selepas mencium keningku. Hal yang sangat langka, bahkan pertama kalinya beliau melakukan itu sejauh kuingat.
Setelah meminta maaf, beliau pun pergi. Ayahku memang sangat sulit ditebak.
Aku bahagia mendengar ucapannya yang lembut, tetapi aku juga tak mau berekspetasi lebih. Semoga hari esok semuanya lebih baik.
Keesokan paginya, aku terbangun dengan rasa sakit yang menjalar di hampir seluruh badan. Semalam aku bisa menahan lelah dan kerasnya pukulan Ayah. Namun, justru itu hanya bersifat temporer. Ketika tidur, tubuh beraksi dengan segala sentuhan yang diterima hingga mengumpulkannya menjadi rasa yang tidak nyaman (sakit, pegal, dan linu).
“Sudah sholat subuh, Nak?” sapa Ayah ketika aku hendak ke kamar mandi. Kata-katanya terdengar begitu sopan di telinga.
__ADS_1
“Udah, Yah,” jawabku.
“Mau sarapan apa?”
“Apa aja, Yah.”
Setelah dari kamar mandi, aku kembali ke kamar untuk mengistirahkan badan. Sementara Ayah sedang bergulat di dapur menyiapkan sarapan.
Aku senang sikap Ayah mulai lembut, walau itu juga membuatku semakin bingung. Itu bagai tanda jika aku harus memikirkan cara jitu agar Ayah mempertahankan sikapnya tersebut.
Seharian aku hanya rebahan di kasur. Beristirahat sambil mengevaluasi diri dan merenungi segala fenomena yang terjadi.
Renunganku goyah kala mendengar ada yang mengetuk pintu depan rumah. Aku coba biarkan sesaat, karena berpikir mungkin ada Ayah yang akan membukanya. Tetapi, suaranya masih berulang dan semakin keras.
Aku keluar kamar, dan kaget mendapati suasana sudah gelap. Hah, sudah malam kah? Rasanya perputaran waktu begitu cepat.
Kulihat Ayah masih belum pulang. Tumben sekali Ayah mengajar hingga malam. Lekas kubuka pintu.
“Adam,” panggilku memastikan orang yang mematung di hadapanku. Dia bertandang dengan menggunakan seragam baju putih dan celana biru. Kenapa dia masih mengangguku? “Dam, kita sudah beda alam. Tolong jangan ganggu gue lagi!” Pintaku.
Aku tutup pintu. Dengan cepat dia pun menahan begitu kuat.
“Ya, kenapa lu ngusir gue. Gue kan cuma pengen main sama lu,” rintihnya.
“Tolong pergi! Gue lagi butuh istirahat. Gue juga pengen sendiri.”
“Ya, gue bisa ngejelasin apa yang selama ini lu alami. Tolong buka pintunya, gue akan cerita semuanya ke lu.”
“Maksud lu apa?”
“Lu masih bertanya-tanya kan tentang kejadian yang menimpa teman-teman lu? Tentang Teh Yuli, Nining, dan Mas Bimo. Juga tentang Mak Iroh, Ende Sumi, dan gue yang bisa hadir kembali di hadapan lu. Gue bisa bantu lu untuk hidup normal jika lu mau,” jelasnya.
Aku masih gamang. “Dari mana lu tahu tentang mereka?”
“Karena di dunia yang lain, gue bertemu sama mereka. Jika lu nggak percaya, ayo keluar. Lu lihat sendiri ke sini,” serunya
Aku terpancing rasa penasaran. Kubuka pintu dan melihat ke seberang jalan. Dari jarak sekitar 10 meter, mereka melemparkan senyum kepadaku. Ya, mereka – yang Adam sebutkan, kecuali – Mas Bimo bertandang juga ke rumahku.
Pemandangan yang aku lihat begitu mencengangkan. “Tidak, tidak mungkin.” Aku berusaha mengelak kunjungan mereka yang nyata ada di depan mataku.
“Ya, kalau lu pikir kita udah mati, lu salah. Kita masih hidup, tetapi di dimensi yang lain.”
Aku perhatikan lebih saksama, ”Bohong. gue bisa merasakan siapa kalian sebenarnya. Pergi!”
“Ya, dengerin gue dulu”, bujuk Adam dengan menarik tanganku, “Dari pada lu menderita di sini, ikut aja sama kami. Lagian di di dunia yang lu tempati sekarang nggak ada yang percaya sama yang lu alami, kan? Bahkan Ayah lu aja nggak mau dengerin cerita lu dulu. Dia malah bertindak brutal sama lu. Sekarang dia udah bisa nampar lu, kan? Ayo Ya, ikut kami! Di dimensi atau di dunia yang lain, kita bisa hidup sesuka hati kita. Cepat Ya, kita pergi dari sini.”
“Itu hanya fantasi, hanya tipu daya lu supaya bisa menguasai diri gue. Iya, kan?” gusarku, ”Tunjukkin wujud asli lu! Gue nggak takut sama lu semua!”
Mereka pun mendekat sambil menjulurkan tangan pertanda ingin menarikku. “Ikut dengan kami, Ya,” ucap mereka serentak.
Mereka bukan sosok yang asli. Aku berlari ke dalam. Namun karena terlalu fokus melihat mereka, aku menabrak dinding. Bruuuuk!!! Penglihatanku menjadi gelap.
“Ya, bangun Ya! Kamu kenapa?”
Terdengar suara Ayah memanggilku. Aku segera membuka mata. Dengan nafas yang kembang kempis, aku amati sekeliling.
“Kamu kenapa, Ya?” Wajah Ayah tampak cemas.
Ternyata yang aku alami sebuah mimpi. Hari pun masih siang. Tetapi, kenapa aku bisa berada di sofa ruang tengah? Padahal, tadi pagi aku merebahkan badan di dalam kamar. Bagaimana hal ini bisa terjadi?
Ayah menempelkan tangannya di pipi dan keningku, “Badanmu panas sekali. Kita ke dokter sekarang ya.”
Aku tak merespon perkataan Ayah, karena sibuk menelaah mimpiku. Pertama, semua terasa nyata. Kedua, mungkin mimpiku hanya manifestasi dari ekpesktasi dan realitas yang ada dalam keseharianku beberapa waktu terakhir. Kututup mata untuk menghentikan laju segala pertanyaan tajam dalam hidupku.
__ADS_1