
Pikiranku berkelana tak tentu arah. Hingga sebuah ketakutan kembali melanda kala mengingat “kegilaan” Nining. Dia mengatakan bukan datang untuk melukaiku, nyatanya dia menorehkan scars di tangan dan perutku.
Nining, Teh Yeni, dan Mas Bimo, rasanya sulit untuk tidak memikirkan mereka. Kutelusuri kontak WhatsApp di ponselku. Tadinya aku mau menanyakan kabar Mas Bimo, tetapi telunjukku mengajak menari. Kemudian, berhenti untuk melihat aktivitas terakhir dari Teh Yeni.
Namun, tak ada pembaharuan di profil Teh Yeni. Bahkan last seen-nya seminggu lalu, di jam saat kami berangkat dari RSHS menuju rumah Nining.
Aku coba meneleponnya, namun hanya bertuliskan “memanggil” bukan “berdering”. Artinya, WhatsApp dia tidak aktif. Aku coba menghubunginya dengan panggilan biasa, jawabannya justru dari operator seluler yang mengabarkannya jika nomor yang dituju tidak aktif.
Apa Teh Yeni baik-baik saja? Sekalipun aku masih kesal kepadanya, tetapi aku juga mengkhawatirkannya. Terlebih aku meninggalkannya tanpa tahu siapa yang menjadi pemenang dalam pertarungan itu dan apa yang terjadi setelahnya.
Rasa penasaranku membuncah, menggiringku menuju Gedung FISIP. Aku ingin memastikan keadaan Teh Yeni.
Aku berputar dari taman, kantin, lapangan olahraga, aula, ruang kelas, dan tempat-tempat yang biasa digunakan mahasiswa untuk beraktivitas di luar kelas. Apes, tak kudapati keberadaannya.
Barulah setelah lelah mencari, aku coba bertanya kepada seseorang.
“Maaf Kak, kenal Teh Yeni?” tanyaku kepada mahasiswi yang berjalan ke arahku.
“Yeni?” Dia berpikir sejenak. “Anak HI (Hubungan Internasional) 2012?”
“Emmm….” Aku lupa Teh Yeni angkatan tahun berapa. “Emmm… Dia sekelas sama Mas Bimo, Bimo Setiadji.”
“Oh, benar berarti Yeni HI 2012,” simpulnya.
Sepertinya di FISIP ada banyak nama Yeni.
“Kakak lihat dia nggak hari ini?”
“Nggak lihat. Cuma kalau teman-temannya ada di lapangan basket.”
Padahal aku dari sana, tetapi tak melihat mereka. Mungkin karena aku lebih fokus mencari Teh Yeni. “Baik, Kak. Terima kasih infonya ya, Kak.”
“Sama-sama.”
Tanpa pikir panjang aku segera menuju lokasi. Walaupun baru sekali bertemu, aku masih ingat wajah dua teman Teh Yeni.
Dari seberang lapangan basket, terlihat mereka asyik mengobrol dengan menggenggam minuman di tangan masing-masing. Aku mendadak cemas, karena tak melihat Teh Yeni bersama mereka.
Aku segera mendekati mereka. Namun saat hendak menyapa, aku mendengar mereka menyebut nama Mas Bimo terlebih dahulu. Aku memutuskan untuk menguping. Aku tahu itu tindakan tidak terpuji, tetapi mungkin ada informasi yang bisa aku peroleh.
“Uyuhan (masih mending) si Bimo teh dulu mau sama dia ya,” ungkit teman Teh Yeni yang berambut panjang dengan satir.
“Heem, sok cantik emang oge si Yeni mah,” tambah temannya berambut sebahu.
Apa begini pertemanan perempuan? Ketika tengah bersama, mereka begitu akrab dan hangat, tetapi di belakang saling mencibir. Ah, bukan urusanku. Tujuanku bukan untuk menghakimi atau pun mendengarkan gosip.
Namun, aku tersentak mendengar kalimat berikutnya yang dilontarkan si Teteh berambut panjang.
“Jiga na si Bimo bogoh ka menehna karena dipelet deh (kayaknya si Bimo suka ke dia karena dipelet).”
“Feeling urang geh kitu (menurutku juga begitu).”
“Enya. Lagian saha deui nu tahan jeung si Yeni. Lamen di hareupeun jelema anyar weh manis pisan, padahal asli na mah siga preman pasar (Iya. Lagi pula, siapa yang tahan dengan Yeni. Jika di depan teman baru manis sekali, padahal aslinya kayak preman pasar.”
“Aku oge sebenarnya udah males sama dia teh.”
“Sarua urang oge. Mana mun lagi pengen sesuatu, kudu weh diturutan. (Sama aku juga. Apalagi ketika ingin sesuatu, harus diturutin.”
Mereka sama sekali tak menyadari keberadaanku. “Ehem. *P*unten, Teh.”
Wajah mereka berubah tegang. “Eh, ada Arya”, ucap mereka berbarengan.
“Maaf ganggu, Teh.” Aku bingung mencari kalimat yang bisa diajukan tanpa mereka curigai. “Teh Yeni-nya ke mana ya?”
“Nggak tahu. Dia hari ini nggak ngampus (ke kampus) tuh,” jawab perempuan yang berambut sebahu.
Aku masih butuh penjelasan. “Cuma hari ini aja, Teh?”
“Sini atuh duduk dulu,” ajak si Teteh rambut panjang. “Kamu mau minum? Kelihatannya capek.”
Aku tolak secara halus, “Nggak, Teh. Terima kasih!” Aku merasa tidak nyaman setelah mengetahui mereka menjelekkan teman sendiri.
“Tapi kita belum kenalan loh. Aku tahu nama kamu. Tapi namaku belum tercantum di hatimu, kan?! Aku, Jihan.” Dia menyodorkan tangan mengajak bersalaman. Aku pun tak bisa untuk tidak membalasnya.
“Aku, Puput.”
Perempuan berambut panjang bernama Jihan, sedangkan yang berambut pendek bernama Puput.
“Ngapain Ya kamu nanyain Yeni?” Teh Jihan balik bertanya.
__ADS_1
“Eeemm…. Cuma pengen tahu kabarnya aja. Soalnya dihubungi nomornya nggak aktif. Tapi syukurlah, kalau dia baik-baik aja.”
Aneh, ekspresi mereka seolah tak peduli.
“Harapan kami juga gitu sih,” celetuk Teh Puput.
“Maksudnya, Teh?”
“Kami juga seminggu ini nggak lihat dia,” terang Teh Jihan.
“Hah?” Aku kira ucapannya hari ini bermakna literal. “Teteh ada ke rumahnya atau coba kontak dia?”
Teh Puput melemparkan satir, “Ngapain, Ya. Paling dia juga lagi liburan atau lagi senang-senang.”
Teh Jihan memandangku curiga.“Kamu kayaknya khawatir banget sama dia, Ya.”
“Oh… Em… Itu…. Kalau gitu, makasih ya Teh infonya. Saya pamit dulu.” Tak ada cara lain, selain menghindar agar aku tidak diinterogasi oleh mereka.
Masalah pertemanan mereka bertiga yang ternyata tak seseru dan tak sekompak yang aku sangka, biarlah menjadi ranah privasi mereka. Itu bukan wilayah yang bisa aku campuri begitu saja,
Perutku terasa lapar dan kaki pun ikut gemetar. Aku terlalu fokus memikirkan orang lain sehingga lupa untuk memikirkan asupan energi di tubuhku.
Akhirnya, aku putuskan makan di restoran cepat saji yang letaknya di seberang kampus. Setelah tenagaku penuh, aku akan mencari tahu lagi kondisi Teh Yeni.
Ah, sial! Aku lupa menanyakan alamat rumah Teh Yeni kepada dua temannya itu. Aku terlambat memikirkan hal tersebut.
Di sisi gelapku, aku sangat takut Teh Yeni masih tertinggal di rumah Nining. Apa aku coba datangi saja rumah Nining? Tapi mungkin benar kata dua temannya, jika Teh Yeni hanya sedang quality atau me time, menghabiskan waktu untuk menyenangkan diri sendiri.
Aku peduli kepada dia, karena ada perasaan berdosa. Dia mengantarkanku ke rumah Nining, tetapi aku malah meninggalkannya akibat terbakar kecewa.
Aku periksa waktu di ponsel. Lalu, terlintas nama Mas Bimo. Ya, aku coba tanyakan kepada Mas Bimo alamat rumah Teh Yeni.
Siang, Mas! Gimana kondisinya sekarang? Maaf, bolehkah aku minta alamat rumah Teh Yeni. Isi chat-ku kepada Mas Bimo.
Dia justru membalas dengan menelepon.
“Halo, Ya. Kamu nanyain rumah Yeni buat apa?” Dia langsung menyodorkan pertanyaan. Kata-kata yang menyebrang terdengar tak biasa. Ya, bukan nada penasaran, melainkan ada amarah yang mengalun.
“I….i…ini, Mas. Saya ada perlu penting dengan dia. Kebetulan dia tidak bisa dihubungi dan saya cari di kampus juga nggak ketemu”, jelasku sedikit terbata. Aku merasa gugup.
“Keperluan pentingnya apa, Ya?” Melodi yang mengalir dari Mas Bimo menunjukkan ketidaksukaannya jika aku dekat dengan Teh Yeni.
Dari awal niatku bukan untuk mendekati Teh Yeni. “Mas, maaf jika Mas Bimo mungkin kurang suka aku dekat dengan Teh Yeni. Tapi aku….” Ah, aku tak bisa berterus terang kepadanya perihal maksudku.
Aku memotongnya kalimatnya, “Mas Bimo sudah salah paham. Ini nggak ada kaitannya dengan apa yang Mas Bimo bayangkan.”
“Oke, aku mengerti. Tapi aku nggak bisa kasih kamu alamat Yeni,” tegasnya.
Aku tak bisa lagi melakukan manuver. Tak ada ruang yang bisa aku gunakan untuk memohon apa lagi mencari ramuan kata-kata rayuan.
“Ya udah, Mas. Terima kasih!”
“Bentar, Ya!” suaranya melunak. “Kamu jadi kan ke tempat aku?”
“Maaf, Mas . Aku belum bisa memutuskan sekarang.”
“Kenapa, Ya?”
Otakku masih terlalu penuh untuk memikirkan hal itu. “Mas, aku sholat Dzuhur dulu ya. Assalamualaikum.”
Dia menutup telepon tanpa membalas salamku.
Semua menjadi rumit. Aku bingung memetakan kejadian yang aku hadapi. Sepertinya, aku harus menyusunnya berdasarkan skala prioritas.
Selesai sholat Dzuhur, aku memutuskan ke kediaman Nining. Hanya itu petunjuk terakhir agar pikiranku tenang.
Setiba di jembatan bambu menuju rumah Nining, langit berubah dengan cepat. Awan yang cerah menjadi mendung dan turun hujan lebat.
Aku berteduh di rumah Nining sembari mengamati setiap sudut rumahnya. Suram. Hanya kesuraman yang aku rasa dari rumahnya.
Kreeek!!! Suara pintu kayu dibuka. Aku berbalik badan. Kutunggu sesaat untuk mengetahui siapa yang membukanya. Namun, tak ada siapa pun yang keluar. Apa itu sinyal bahwa ada yang menyuruhku masuk?
Niatku hanya memeriksa bagian luar rumah, tetapi alam seakan memintaku mengenali kondisi di dalam rumah Nining. Aku pun masuk dengan langkah siaga.
Ketika masuk, aku langsung dihadapkan dengan ruang tamu. Ada sofa yang berjejer membentuk huruf L. Lalu, aku menjelajahi bagian tengah atau inti. Terdapat ruang keluarga yang dihiasi televisi. Di sebelah kirinya ada 2 kamar yang berjajar.
Aku penasaran melihat bagian belakang yaitu dapur dan kamar mandi. Namun, aku mendengar ada suara benda dari kayu yang didorong dan ditarik kembali. Itu terdengar seperti bunyi yang dihasilkan dari kursi atau meja yang digesekkan.
Dalam hatiku berujar kata maaf, karena aku lancang ingin memeriksa setiap kamar di rumah Nining. Satu per satu kamar dibuka mulai dari posisi kamar yang menempel dengan ruang tamu.
__ADS_1
Aku merasakan suasana yang hangat ketika masuk ke kamar tersebut. Entah utopia atau fatamorgana. Aku melihat sosok anak kecil yang bermanja dengan ayah dan ibunya.
“Mama, Bapak, nanti kalau aku ranking 1 kita ke kebun binatang ya, terus beliin boneka Hello Kitty yang gede biar aku ada temannya pas tidur,” ucap seorang anak perempuan. Suaranya terdengar manja dan polos.
“Iya, Neng (atau Eneng, panggilan untuk anak perempuan)! Pokoknya mah nanti kita jalan-jalan ke kota seharian jeung (dan) sepuasnya,” balas ayahnya menyetujui, sedangkan ibunya hanya memeluk haru si anak. Potret keluarga yang harmonis.
Pandanganku – lalu – tertuju ke tempat tidur. Terdapat boneka sebesar manusia dewasa yang lusuh. Betul, itu boneka Hello Kitty-nya, tetapi tampilannya begitu menyeramkan; kotor dan robek di beberapa sisi.
Bayangan keluarga kecil itu pun menghilang saat aku berusaha meraih boneka tersebut. Apa itu gambaran kehidupan Nining dan keluarganya di masa lalu? Masa kecilnya tampak penuh cinta.
Aku penasaran ingin memegang boneka itu, tetapi suara dari kamar samping mengejutkanku. Terdengar ada dua orang yang bertengkar.
“Makanya Bapak teh cari kerja. Da si Eneng teh makin gede makin banyak keperluannya. Biaya sekolah, terus biaya kuliah,” ucap seorang wanita paruh baya dengan intonasi setengah membentak.
“Bapak kurang kumaha (apa lagi)? Bapak udah kerja sana sini demi Si Neng, demi Mama, demi keluarga. Mama teh juga harusnya bantu ekonomi keluarga, bantu kebutuhan Si Eneng,” bela pria yang merupakan suami dari wanita tersebut.
“Jadi, mama ambil aja gitu tawaran kerja di Saudi? Teras si Neng saha nu ngajaga (terus siapa yang menjaga si Neng)? Terus Bapak mau di rumah aja gitu leha-leha sambil nunggu transferan dari Mama? Bapak pengen mama kerja jauh, sementara bapak di kampung enak-enakan ngapel janda. Kitu (begitu)??!” suaranya makin meninggi.
“Naha ai mama suudzon wae ka bapa (kenapa mama berprasangka buruk terus kepada bapak)?”
Aku segera melihatnya. Kubuka pintu kamar. Tampak nyata dua orang yang sama dengan di kamar sebelumnya.
Mereka berhenti beradu argumen dan menyambutku. Sorot mata yang tajam langsung menembakku. Aku yakin mereka orang tua Nining, dan aku yakin mereka tak nyata, tapi bukan juga hologram. Aku segera menutup kembali kamar tersebut.
“Balik!” Terdengar bisikan seorang pria menyuruhkan pulang. Suaranya tidak asing, sudah berkali-kali kudengar. Aku memang merasa takut, tetapi rasa penasaranku jauh lebih besar.
Suasana mendadak lebih pekat, seperti di malam hari dengan langit hitam tanpa bintang dan bulan yang menari di angkasa. Hujan pun masih belum reda, menambah kesan angker di dalam rumah.
Aku tak boleh gentar sebelum asaku tercapai. Aku berjalan menuju pintu belakang rumah Nining. Semoga aku tidak mendapati Teh Yeni di sana. Ketakutan dan harapan bertempur di sanubari.
Praaak!!! Suara piring berjatuhan. Aku terkejut bukan main. Aku coba turunkan saklar lampu. Namun, tak ada perubahan. Entah mati listrik atau ada yang sengaja menahannya.
Aku ambil ponselku. Kucoba nyalakan senter dan berjalan menuju dapur. Tak ada sama sekali beling yang berserakan. Aneh!
Kemudian, ada suara menangis tersedu-sedu. Sumbernya berasal dari kamar mandi. Batinku sempat menduga itu Teh Yeni. Aku pun memastikan dengan membuka pintu kamar mandi. Ternyata, kosong. Tidak ada siapa pun.
Kepanikan melanda ketika kaki dan tanganku merasakan hawa panas, disusul suara gemuruh dari belakang rumah Nining. Pohon-pohon pisang terdengar saling beradu.
“Balik!” Bisikan yang menyuruhku pulang menggema lagi di telingaku. Kali ini, ia seakan memarahiku.
Rumah Nining menjadi jauh lebih mencekam. Terasa ada banyak sekali penghuni yang berdatangan. Mereka memberikan tanda bahaya untukku, bukan sekadar untuk mengusirku.
Aku berlari di tengah guyuran hujan. Sebelum menyebrang jembatan bambu, aku coba mengatur nafas terlebih dahulu. Bambu memiliki sifat licin, terlebih jika dilapisi air. Aku harus memperhatikan setiap pijakan yang diayunkan.
Aku merasa sudah sangat berhati-hati, tetapi aku malah terpleset. Kakiku menyentuh air sungai yang deras. Aku bertahan dengan sisa tenaga yang ada, menggenggam bagian tali jembatan yang terubuat dari nilon.
Jahitan di perutku belum pulih, dan terasa perih kembali. Aku tetap berpikir optimis. Aku pasti bisa sampai ke tepian jembatan.
Namun, kedua kakiku menjadi keram. Aku kesulitan menaikkan tubuh ke badan jembatan. Aku pun pasrah.
Ternyata, Tuhan memberikanku pertolongan. Ada seorang bapak yang menolong ketika aku merasa harapan yang tersisa yaitu tinggal berjuang di derasnya air.
Rupanya dia kebetulan melintas sepulang bekerja. Awalnya, dia mengira aku tak nyata. Tetapi setelah diperhatikan lebih teliti, dia yakin aku manusia. Dia pun membawaku ke rumahnya untuk diberikan pertolongan lanjutan.
Aku bermalam di rumah bapak tersebut. Dia tak mengizinkan aku pulang. Aku tahu kondisiku lemah. Namun, aku pun sebenarnya tak ingin merepotkan siapa pun.
“Udah, Aa nginep dulu aja di sini. Besok baru pulang,” ucap ramah istri si bapak pemilik rumah.
“Terima kasih banyak, Bu. Maaf, saya jadi merepotkan.”
“Nggak apa-apa, A. Kan sesama manusia harus tolong menolong,” senyumnya. “Tapi si Aa teh habis dari rumah itu iya? Ngapain?” Ekspresi si ibu berubah ngeri ketika mengajukan kalimat tanya tersebut.
“Nyari teman saya, Bu.”
“Si Nining?” terkanya seraya keheranan.
“Bukan.”
“Di sana mah nggak ada siapa-siapa lagi selain si Nining, A,” celetuk suami si ibu. “Terus si Niningnya juga kan lagi di RSJ. Katanya malem-malem dia ke kota terus nyerang seseorang di kost belakang kampusnya dengan Kujang,” lanjutnya.
“Beneran, Pak? Ibu baru tahu ini.”
Mereka tidak tahu jika akulah orang yang diserang oleh Nining. Aku juga tak perlu membeberkannya. Biar saja aku dengar obrolan mereka terkait Nining. Mungkin satu misteri akan tersingkap secara sempurna.
“Bener atuh, Bu. Masa Bapak bohong. Kan ada dari polisi dan perwakilan RSJ ke rumah Pak RT. Cuma emang Pak RT bilang jangan sampai warga tahu. Malu katanya Pak RT teh,” paparnya.
“Huh, semenjak mama dan bapaknya pergi teh si Nining mah bikin ulah wae. Jadi dia tuh kabur dari sini berhari-hari, ternyata berkeliaran ke kota. Ibu mah masih nggak habis pikir, naha (kenapa) jadi pembunuh si Nining teh? Padahal anaknya dikenal pintar di sekolah dan selalu juara kelas,” jabar si ibu yang membuatku tidak tenang.
“Husss… Ibu….” Suaminya memberi kode dengan menempelkan jari telunjuk ke mulut.
__ADS_1
“Pembunuh?” tanyaku mengkonfirmasi.
Apa yang dimaksud si ibu mengarah pada kondisi Teh Yeni? Aku pun berpikir untuk kembali ke rumah Nining. Penyelidikanku di sana belum selesai. Aku harus merancang ulang waktu yang sesuai agar tak diganggu oleh mereka.