
Aku bergegas menuju kantin setelah kelas usai. Mungkin memang sudah saatnya aku memiliki teman untuk berbagi kisah di luar nalar ini. Aku butuh penglihatan orang lain untuk memvalidasi peristiwa-peristiwa yang sudah aku lalui.
Ketika hendak mencari tempat ngobrol yang pas, aku kaget melihat Dani sudah duduk di salah satu sudut kantin. Posisi yang dipilih pun seperti yang aku rencanakan. Meja yang sepi dan tidak menjadi tempat lalu lalang pengunjung.
“Sejak kapan kamu di sini, Dan?” Sapaku dengan pertanyaan, karena aku lihat di meja tersaji makanan yang tinggal sedikit.
Dani menoleh dengan kaget. Ponselnya hampir saja terjatuh.
“Huh! Bisa nggak sih nggak usah ngagetin, Ya.”
“Kamu yang terlalu serius main game?”
Aku langsung mengambil posisi duduk di hadapannya. Terdapat sisa Batagor di piring dan setengah gelas es teh manis.
“Kamu dari jam berapa di sini, Dan?”
“Dari jam setengah sembilan,” jawabnya sambil menaruh ponsel di meja.
“Pantes. Kamu bolos?”
“Nggak bolos, cuma skip mata kuliah yang aku anggap membosankan aja.”
“Jangan dibiasakan ya, Dan!”
“Siap, Bos! Baru kali ini juga begini.” Dani tertegun sejenak. “Loh kok malah jadi nasehatin aku. Katanya kamu curhat?”
“Sebentar! Aku pesan minuman dulu. Kamu masih ada yang mau dipesan, nggak?”
“Aku udah kenyang dari tadi.”
Aku pun memesan jus alpukat dan kentang goreng untuk cemilan kami ngobrol. Dani menatapku seperti sudah tidak sabar ingin mendengar ceritaku.
“Aku mau cerita yang semalam dulu ya,” ucapku yang dibalas tatapan oleh Dani. “Tapi kamu nggak perlu juga lihat aku seperti ini. Kayak ngobrol seperti biasa aja.”
“Oke, oke. Sorry! Aku terlalu antusias mendengar seorang introvert mau berbagi kisah denganku”, godanya.
Aku merespon dengan menunjukkan wajah serius.
“Dan, semalam aku lihat Mas Bimo jalan di depan DPR pas hujan.”
Dani menyela. “Pas kamu jalan pulang?”
“Iya. Mas Bimo berjalan dengan tampak santai di tengah guyuran hujan.”
“Tapi aku berani sumpah kalau kemarin Mas Bimo dari siang sampai malam nggak ke mana-mana.”
“Justru itu, Dan.” Aku berusaha merangkai kata-kata yang bisa dicerna oleh Dani. “Aku pun berpikir rasanya nggak mungkin Mas Bimo hujan-hujanan. Tapi….”
Dani tak bisa menahan rasa penasarannya. “Bagaimana kamu bisa tahu itu, Mas Bimo?”
“Aku sempat memanggilnya dan menanyakan dia mau ke mana. Tapi dia hanya menoleh. Nah, dari wajah dan posturnya, aku sangat yakin itu Mas Bimo,” jelasku.
Dani menaruh kedua tangannya di kepala. Lalu, menatapku lagi seperti tatapan yang sebelumnya.
“Apa kamu bisa melihat mereka?” tanyanya pelan.
Aku paham yang Dani maksud mereka yaitu makhluk astral. “Tidak selalu, Dan.”
“Tapi kamu bisa merasakan keberadaan mereka.”
Insting Dani cukup akurat. Apa dia juga sebenarnya bisa merasakan keberadaan mereka yang tak kasat mata? Aku ikuti dulu saja alur yang dibuat.
“Bisa. Tapi adakalanya aku tidak tahu kehadiran mereka.”
Dani pun kemudian bercerita bahwa DPR dan kost yang kami tempati memang angker. “Ya, kakaku sering bercerita bahwa DPR memang terkenal angker. Bahkan setelah Maghrib tidak ada yang berani melintas di sekitar itu. Mereka yang kost-nya di belakang kampus pasti memilih memutar ke gerbang depan, lalu berjalan lebih jauh untuk sampai ke tempat yang dituju. Sudah jadi rahasia umum kalau DPR itu zona terlarang untuk dilewati di malam hari.”
“Lalu bagaimana dengan kost kita?”
Dani meninggikan kedua alisnya. “Kost kita?”
__ADS_1
“Iya. Apa kakakmu juga bercerita sesuatu tentang tempat tinggal kita sekarang?”
“Masih menurut kakakku, kost yang kita tempati juga ada penunggunya. Tapi memang tidak pernah sampai ada yang kesurupan seperti di kost putri yang di pertigaan gang itu. Paling hanya ada suara orang mandi, tapi pas diperiksa tidak ada orangnya.”
Artinya Dani mengamini kejadian mistis yang aku alami memang karena pengaruh tempatnya yang memiliki penghuni lain. Tetapi, ini baru sebatas pendapat kakaknya yang disampaikan ke dia.
“Oh iya, aku mau tanya sesuatu dulu ke kamu.” Tiba-tiba aku teringat pernyataan Dani yang aku rasa tepat untuk dikonfirmasi lagi ke dia. “Kamu dulu pernah bilang bahwa kamu tidak percaya jika orang yang kesurupun tubuhnya ditumpangi oleh jin?”
“Iya. Aku masih sulit menerima premis tersebut, karena aku belum pada tahap merasakan atau mengalami sendiri,” ucapnya dengan lugas.
“Tapi pada dasarnya kamu percaya kan bahwa di sekitar kita ada dunia yang tak kasat mata yaitu alam gaib, dan ada mereka yang bisa menembus dimensi kita, lalu menampakkan diri untuk mengganggu kehidupan kita?” Aku mencoba melakukan probing, karena ingin mendengar persepsi Dani lebih detil.
“Aku percaya.” Perbincangan kami mulai seru. “Cuma maksudku orang yang tidak memiliki kepekaan atau kepercayaan terhadap hal-hal di luar nalar, landasan mereka pasti berpikir rasional.”
“I see, Dan”. Meskipun obrolan kami memanas, namun aku mencoba kembali pada tujuan pertama pertemuan kami. “Sorry, sebenarnya begini Dan… Soal Mas Bimo…” Aku mencoba mencari kosa kata yang sesuai. “Ini mungkin atau memang tidak rasional.”
“Ya, aku tak menampik jika ada orang yang memiliki sensitivitas dalam merasakan dan melihat sosok yang tidak tampak di hadapan orang lain, termasuk kamu. Tapi sebagai teman, apa tidak lebih baik kamu melepaskan penglihatanmu itu,” sarannya.
“Dan…” Aku ingin mengklarifikasi, namun Dani menunjukkan gestur enggan disela.
“Aku hanya khawatir jika hal-hal yang kamu alami justru akan menjadi beban untukmu sendiri. Bahkan bisa saja membuatmu mengalami psikosis.” Aku nyaris saja marah kepadanya, tetapi setelah dia mengucapkan kata “khawatir” aku bisa meredam emosiku. Sayangnya, kata terakhir yang keluar dari mulutnya memicu kekecewaan.
Psikosis. Ucapan Dani menyiratkan jika aku kemungkinan mengalami delusi dan halusinasi. Seperti itukah? Dia yang masih ragu dengan perkataannya atau aku yang tidak bisa menangkap maksudnya?! Situasi berubah. Padahal aku menaruh harapan dan berusaha percaya kepadanya.
Aku pikir Dani mau mendengarkan penjelasanku terlebih dahulu. Dia mengatakan percaya pada keberadaan dunia tak kasat. Dia percaya ada orang-orang yang dititipkan kepekaan merasakan semua itu. Tetapi mengapa sikapnya menjadi ambigu?
“Dan, sorry, aku lupa mau ngembaliin buku ke perpustakaan.” Mungkin aku sudah terbawa perasaan, karena menghentikan perbincangan secara tiba-tiba.
Dani hanya memandangku. Aku pun undur tanpa menunggu kata persetujuan darinya.
Selang berapa langkah Dani memanggilku. “Ya, tunggu dulu!”
Aku sadar tak seharusnya bersikap demikian kepada dia. “Nanti kita sambung ceritanya di kost ya,” ucapku hanya agar dia tidak salah paham. Namun entah cerita ini bisa disambung lagi atau tidak, aku tidak berani berekspektasi.
Aku meneguhkan langkah menuju perpustakaan. Tetapi dalam setiap langkah yang berayun, kalimat terakhir yang disampaikan Dani terus mengiang di pikiranku. Mungkinkah memang aku mengalami gangguan mental? Aku memang bisa melihat mereka, namun hal tersebut kemudian berubah menjadi delusi dan halusinasi.
Semua yang terjadi semakin sulit dimengerti. Dani dan mindsetnya, Mas Bimo dan sebuah pertanda.
Tiba-tiba tubuhku bergetar, dada terasa sedikit sesak, dan pikiran mengarah kepada Mas Bimo. Apa hanya perasaan atau ada hal yang ingin ditunjukkan?
***
Selama 3 hari, aku dan Dani tidak saling bertegur sapa. Sebenarnya, sudah tak ada perasaan kesal sedikit pun terhadapnya. Rasa itu sudah memuai di hari itu juga.
Pertemananku dengan Dani menjadi canggung. Aku ingin menyapanya, namun tak memiliki rasa percaya diri.
Sepulang kuliah, sekitar jam 5 sore, aku berencana pergi ke toko buku. Namun, tiba-tiba ponselku berdering. Sangat jarang ada yang meneleponku. Kulihat nama yang terpampang di ponselku “Teh Yuli”. Aku ragu untuk menjawab atau tidak.
Aku biarkan panggilannya mati. Saat hendak direspon dengan chat, Teh Yuli tampak memanggil lagi di layar ponsel. Jika dia menelepon hingga 2 kali di waktu yang berdekatan, sepertinya ada hal penting yang ingin disampaikan
“Hallo, Teh!” sapaku setelah menempelkan ponsel di telinga.
“Assalamualaikum, Arya,” balasnya dengan salam lembut.
“Walaikum salam, Teh.”
“Maaf ya ganggu. Kamu lagi ngapain?”
“Ini aku baru selesai kelas, Teh.”
“Syukurlah. Jadi aku telepon kamu di moment yang pas.”
Moment yang pas? “Maksudnya, Teh?”
“Aku mau bilang terima kasih banyak sama kamu, Ya. Sekarang aku sudah jauh lebih baik”, terangnya. Dari suaranya terdengar dia sudah kembali ceria.
“Iya, Teh. Tapi itu semua sebenarnya berkat usaha, semangat, dan doa dari Teteh sendiri.”
“Betul, yang bisa mengubah diri kita sebenarnya diri kita sendiri. Tapi kita kan makhluk sosial yang juga membutuhkan orang lain untuk berinteraksi, berbagi, dan saling men-support”, timpalnya. Aku merasakan aura yang jauh lebih positif dari Teh Yuli. “Oh iya, aku kayaknya nggak akan balik lagi ke Bandung. Aku memutuskan untuk berhenti dulu kuliah. Mungkin nanti dilanjut lagi, tapi rencananya sih di kampus lain. Aku harus memulihkan kepercayaan diriku dulu. Begitu kan, Ya?” sambungnya. Dia seperti sudah menemukan jati diri dan kepercayaan diri lagi.
__ADS_1
“Iya, Teh. Aku cuma bisa mendoakan yang terbaik buat Teteh. Pokoknya, temukan dan lakukan hal-hal yang membuat Teteh nyaman.”
“Iya, Ya. Aku berterima kasih banget sama kamu. Sekarang pikiranku lebih enteng, badan jadinya terasa jauh lebih segar. Percaya atau tidak, aku seperti terlahir kembali, Ya.”
Aku sangat senang mendengar kabar Teh Yuli yang sudah lebih baik. Aku yakin, selain dari dirinya sendiri yang memiliki semangat kuat untuk bangkit, keluarganya juga memiliki andil yang sangat besar. Bagaimana pun, tempat terbaik untuk kembali yaitu keluarga. Maka, keluarga harus memiliki support system yang baik pula. Peran keluarga sangat krusial dalam mengembalikan jati diri dan membentuk karakter.
“Ya, nanti kita sambung lagi ya. Teteh mau siapin makanan dulu buat pengajian rutin malam Jum’at.”
“Iya, Teh.”
“Assalamualaikum, Ya.”
“Walaikum salam.”
Jika aku bayangkan, Teh Yuli tampaknya sudah menemukan kembali kebahagiaannya. Namun, firasatku mengatakan ada hal yang lain.
“Ya, lagi ngapain di sini?” Dani muncul begitu saja di hadapanku. Hal itu jelas membuatku kaget. “Maaf, Ya! Aku nggak bermaksud mengagetkanmu,” ucapnya mengapit kedua tangan membentuk kerucut.
“Aku lagi mau ke toko buku. Kamu sendiri mau ke mana, Dan?”
“Aku mau pulang ke kost.” Dani memiringkan wajahnya, melihatku penuh tanya. “Katanya mau ke toko buku, tapi kok kamu kayaknya lagi bingung.”
“Nggak. Cuma mendadak berubah pikiran aja. Kayaknya akan turun hujan. Jadi, lebih baik pulang.”
“Ya udah, pulang bareng yuk! Ada yang mau aku bicarakan juga!”
Aku merasakan ada hal yang seketika mengganggu pikiranku. Teh Yuli sudah baik-baik saja, tetapi timbul rasa khawatir yang menyeruak begitu saja. Ah, semoga ini hanya perasaanku.
Dani memegang pundakku. “Ya, tentang kejadian kemarin aku minta maaf ya. Aku nggak ada maksud apa pun. Maaf, seharusnya aku bisa menjadi pendengar yang baik terlebih dahulu.” Tak seperti sebelumnya, kalimat yang diucapkan Dani memiliki vibrasi.
Permintaan maafnya terdengar begitu tulus. Bahkan seperti sudah dirancang dalam waktu yang lama.
“Aku juga minta maaf, Dan. Intinya saling memaafkan ya,” balasku.
Dani menyetujui dengan tersenyum. Ini hanya kesalahpahaman kecil yang tidak perlu dianggap sebagai suatu perkara besar.
Kami berjalan bersama menuju peraduan. Namun ketika melewati DPR, mataku secara spontan menerawang sekeliling pohon beringin yang rimbun. Beberapa mahasiswa terlihat beraktivitas di bawah pohon tersebut. Beberapa terlihat asyik mengobrol dan sebagian berkumpul dengan buku di tangan masing-masing.
Kemudian, seperti ada yang memberi isyarat, mataku menangkap potret Mas Bimo yang duduk bersandar di pohon besar itu. Pandangannya menyamping ke arah matahari terbenam. Sekilas, dia seperti sedang dilanda kesuraman. Dia sendirian, tidak terlibat kesibukan dengan yang lain.
Aku menepuk lengan Dani. “Dan…”
“Iya, Ya. Ada apa?”
Niatku mengarahkan penglihatan Dani ke DPR. Akan tetapi, saat aku memimpin pandangannya, Mas Bimo sudah tidak tampak di tempat yang semula kulihat. Hanya beberapa detik mataku luput, dia sudah pergi. Apa Dani akan percaya jika aku mengatakan ada Mas Bimo yang duduk di akar beringin dengan raut sedih?
“Ya, kenapa? Ada sesuatu yang ingin disampaikan?” tanyanya seakan mengerti jika ada hal ganjil yang aku lihat.
Belajar dari kejadian beberapa hari lalu di kantin, aku masih butuh waktu untuk membicarakan hal ini dengan Dani. “Oh, aku cuma mau tanya kamu mau cari makan dulu atau mau langsung ke kost.”
“Emmm… Tapi kenapa kamu lihat ke DPR terus?”
“Nggak ada apa-apa, Dan.”
Ketika keluar dari area kampus, Mas Bimo berdiri di hadapan kami. Aku tidak bisa menyembunyikan ekspresiku yang begitu terkejut mendapatinya muncul begitu saja.
“Mas Bimo!” Aku menatapnya cukup lama.
“Eh, Upin dan Ipin baru pulang ya?” Dia malah menggoda kami. Memadankan kami dengan karater utama animasi anak-anak terkenal dari Malaysia.
“Mas Bimo dari mana dan mau ke mana?” Aku tak bisa menahan diri untuk melakukan interview, mengulik informasi dan fakta untuk menyandingkannya dengan penglihatanku barusan.
“Dari tempat fotokopi, dan sekarang mau ketemu dosen pembimbing.” Dia yang terlihat di DPR sangat berbeda dengan dia di hadapanku atau dalam keseharian. “Duluan ya!” Dia menepuk pundakku pertanda tengah terburu-buru.
Aku masih tercengang dengan apa yang aku saksikan. Ditambah, ketika Mas Bimo menepuk pundakku, jari kelingking dan jari manisnya sempat menempel di kulit leherku. Tangannya terasa sangat dingin seperti es. Batinku berkecamuk, langkahku terpaku.
“Ya, ada apa? Arya…” Dani menarikku untuk melanjutkan perjalanan yang hanya tinggal beberapa langkah lagi.
Mungkinkah hanya halusinasi? Mungkinkah hanya seseorang yang mirip dengan Mas Bimo? Semoga keyakinanku yang keliru.
__ADS_1