Di Sekitar Kita

Di Sekitar Kita
Bab 28: Tarung


__ADS_3

Tak ada kesulitan tanpa jalan keluar. Begitu pun, tak ada kemalangan yang abadi. Jika yakin dan percaya, Tuhan akan selalu mengirimkan pertolongan di kala petaka menimpa badan.


Aku sangat bersyukur bisa lolos dari kekejian Mas Bimo. Orang yang tak pernah kusangka akan menjadi begitu kejam, hanya demi menjaga citra dan reputasi.


Setelah tenagaku berangsur pulih, ibu Nining dan dan pria yang membantuku –  yang ternyata ayah tiri Nining bernama Pak Sigit – mulai mengajukan beberapa pertanyaan.


“Kenapa Aa bisa ada di rumah Ibu?” tanya ibu Nining


“Saya disekap di sana, Bu,” jawabku pilu. Aku tak bisa menahan rasa kesal dan kecewa.


“Sama siapa?” tanyanya lagi penuh penasaran.


Aku belum siap untuk sepenuhnya cerita. Tak ingin rasanya mengumbar aib seseorang, terlebih orang yang kukenal cukup dekat.


Pak Sigit mengelus pundakku.“Emang ada masalah apa, A?”


“Hanya masalah pribadi aja, Pak.”


“Tapi kenapa kok bisa sampai di rumah Ibu? Apa ada kaitannya dengan anak ibu, Nining?” Ibu Nining cukup peka menganalisis situasi.


Aku mengangguk. Dengan berat hati harus mengungkap hal yang bisa mengobarkan keharuan.


“Kamu kenal dengan anak Ibu?” sambungnya lagi.


“Iya, Bu,” terangku dengan suara pelan.


Ibu Nining menitikan air mata. Suaranya mulai bergetar. “Kalau ibu boleh tahu, sejauh apa kamu kenal anak ibu?”


Aku menghela nafas perlahan, meneguhkan diri untuk bercerita. “Sebenarnya saya kenal sama anak ibu baru satu bulan lebih. Kebetulan orang yang dulu pernah dekat dengan Nining teman se-kost saya.”


Seketika emosinya meluap – di tengah tangisan – mendengar kalimat terakhirku, “Kamu temannya Bimo? Si brengsek itu?”


“Sabar, Is. Sabar!” Sang suami mencoba menenangkan.


Dari umpatannya, kentara ada kebencian yang begitu dalam tertanam.


“Pasti Nining meninggal gara-gara dia, kan?” nadanya makin tinggi.


Tak mungkin aku menceritakan segalanya, terutama hal yang bersifat buruk seperti kepercayaan Nining kepada ilmu hitam. Bagaimana pun, tak perlu mengungkit sisi gelap orang yang sudah tiada.


Aku menoleh kepada Pak Sigit, dia pun memberi anggukan. Dia seakan paham jika aku meminta izin untuk mengurai fakta.


“Saya hanya tahu Nining rindu dengan orang tuanya. Dia merasa kesepian hingga depresi. Seminggu sebelum pergi, dia sempat dirawat di RSJ. Jujur, di luar itu saya tidak begitu tahu masalah yang dihadapinya. Dia hanya bercerita rindu kepada ibu dan ayahhnya, rindu kepada kehidupannya yang dulu,” jelasku.


Ibu Nining memelukku. Ia begitu tersedu menyandarkan wajah di bahuku. Sementara suaminya terlihat tenang dan terus berusaha menenangkan.


Setelah beberapa saat menangis, tuturnya menjadi lebih terkendali. “Aa teh yang dulu ikut ngurus pemakaman Nining, kan?”


Aku mengangguk.


“Iya, saya ingat. Waktu adik saya video call pas Nining meninggal saya sempat lihat wajah Aa. Waktu itu adik saya juga cerita jika ada dua orang teman Nining yang membantu pengurusan jenazah anak saya,” lanjutnya mengkonfirmasi.


“Iya, Bu. Waktu Nining di RSJ, saya sempat mencari kontak ibu, ayah, dan kerabatnya yang lain. Namun, hape Nining entah di mana. Saya coba tanya warga sekitar sini juga tidak ada yang tahu”, kisahku.


Dia membalikkan badan. “Semua memang salah saya. Seharusnya saya rutin meneleponnya atau menyempatkan pulang setahun sekali untuk menemuinya. Tetapi, kondisi saya pun di (Arab) Saudi tak bisa berbuat banyak. Paspor ditahan majikan, pulang tak pernah diizinkan, bahkan sekadar ingin menelepon pun susah. Saya hanya bisa mengirimkan uang untuk Nining. Hanya itu yang bisa saya lakukan secara rutin, meskipun saya juga paham kalau itu tidak cukup buat dia.”


“Sudah, Is. Tak perlu terus menyalahkan dirimu sendiri juga. Semua sudah takdir. Memang jalannya sudah begini,” ucap Pak Sigit.


“Tapi, Yah. Kalau saja saya tidak egois untuk pergi ke luar (negeri), mungkin Nining masih ada,” sesalnya sembari terisak-isak.

__ADS_1


Pak Sigit memeluk istrinya. “Is, nggak boleh ngomong gitu. Itu namanya kamu menentang suratan hidup yang sudah Allah gariskan.”


Ibu Nining meneruskan cerita. “Sekitar 1 tahun lalu, saya punya kesempatan buat nelepon Nining. Tapi justru kabar duka yang saya dapati. Nining bercerita jika dia baru saja melakukan aborsi karena diminta pacarnya yang bernama Bimo. Hati ibu mana yang tidak teriris mendengar kehormatan anaknya hancur.”


“Jadi, Ibu tahu soal itu?” tanyaku.


“Dari kecil Nining anak yang terbuka. Dengan riang, dia selalu membagi kisahnya. Ada masalah apa pun atau hal apa saja yang membebani pikirannya, dia pasti bercerita kepada saya. Di luaran mungkin dia pendiam, tapi di rumah dia orang yang nggak bisa menutupi masalah sekecil apa pun,” tuturnya sambil mengusap air mata.


“Waktu Nining cerita tentang hal itu, saya langsung kontak ayahnya, namun nggak pernah nyambung. Saya coba minta bantuan adik saya yang di sini untuk menenangkan Nining. Saya cerita ke dia hal yang sebenarnya. Tetapi seminggu kemudian Nining cerita bahwa orang-orang di kampung ini menggosipkannya, menyebut dia pembunuh, bahkan pelacur. Hati saya benar-benar luluh lantah. Saya pun mencoba kabur dari rumah majikan saat itu. Saya nekat, bagaimana pun anak prioritas utama saya. Tetapi saya tertangkap polisi di jalan ketika hendak menuju kantor imigrasi. Kemudian, saya dikembalikan ke majikan saya. Saya coba ceritakan masalah saya tersebut, namun mereka menganggap saya mengarang cerita untuk lari dari kontrak”, sambungnya merinci kisah pahit sang putri.


Batinku begitu pedih mendengar penuturan ibu Nining. “Saya kenal Nining setelah hatinya hancur. Saya mencoba untuk bisa menjadi teman baginya. Namun, takdir berkendak lain.”


“Saya berterima kasih setidaknya Nining punya teman yang menemaninya hingga peristirahatan terakhir.”


“Oh iya, tadi kamu belum jawab, siapa yang sekap kamu di sana?” tanya Pak Sigit yang semula tampak berkaca-kaca mendengar cerita kami.


Sejujurnya aku ragu menyebut nama. Kutarik nafas dalam-dalam, “Mas Bimo, Pak.”


“Bimo?” Ibu Nining begitu terkejut. “Kita cari dia sekarang. Saya mau balas dendam atas apa yang menimpa kepada anak saya.” Amarahnya kembali berkobar.


Aku mencoba mendinginkannya. “Sabar, Bu. Dendam tidak akan membuat Nining tenang. Biar Tuhan yang mengatur bagaimana pembalasan yang setimpal untuknya.”


“Dengar itu, Is. Apa yang dikatakan si Aa itu benar. Dendam hanya akan menyakiti hatimu lebih dalam,” tambah Pak Sigit.


Namun, ibu Nining keluar dari klinik dengan berapi-api. Semua yang menyaksikan tampak bingung. Aku dan Pak Sigit pun menyusul.


“Pokoknya, saya mau ketemu si Bimo itu, Yah,” tegasnya.


“Iya, Is. Tapi….” Pak Sigit mencoba menghalangi dan menoleh kepadaku.


Aku mengerti maksudnya. “Saya udah mendingan kok, Pak. Tadi subuh saya hanya lapar dan kedinginan. Setelah makan dan ganti baju, saya sudah merasa sehat lagi.”


“Terus kita cari dia ke mana?” tanya Pak Sigit kebingungan.


Kami pun naik ke mobil dan langsung menuju lokasi. Aku yakin Mas Bimo akan balik ke tempat itu lagi.


Benar saja, saat menyebrang jembatan terlihat Mas Bimo berputar-putar di halaman rumah Nining. Setelah cukup dekat, terdengar ia menyerukan namaku.


“Arya, di mana kamu? Kenapa kamu bisa lolos? Kamu dibantu setan teman-teman kamu ya? Hahaha…. Keparat kamu, Arya!” teriaknya.


Kuamati sekeliling, sepertinya Mas Bimo datang sendiri. Meskipun begitu, aku meminta ibu Nining dan suaminya tetap waspada terlebih dahulu. Mungkin saja teman-teman Mas Bimo sedang mengitari sudut lain untuk mencariku.


Namun, ibu Nining tak bisa menarah amarah. Wajahnya penuh bara. Dia pun berlari kencang, lalu menyeruduk Mas Bimo.


“Apa yang udah kamu lakuin sama anak saya? Anak saya mati pasti karena kamu kan? Kamu yang tidak bertanggung jawab,” murkanya.


Mas Bimo terlihat naik pitam. Aku dan Pak Sigit langsung bersiaga di belakang ibu Nining.


“Oh, ada yang membawa bala bantuan rupanya,” tatapan Mas Bimo mengarah tajam kepadaku. “Dan kamu ibu tua, menyingkir cepat! Jangan sampai saya gelap mata!” Kemudian, ia mendorong ibu Nining hingga tersungkur.


“Mas, jangan kasar sama orang tua!” kecamku.


“Arya… Arya… Nasib kamu memang selalu mujur. Tapi sekarang mungkin tidak lagi. Bahkan kalian bertiga akan saya baringkan satu liang lahat dengan si menyedihkan itu,” tunjuknya angkuh.


“Kamu pikir saya takut! Meskipun saya sudah tua, saya masih cukup bertenaga untuk menghajar kamu,” tantang ibu Nining.


Pak Sigit bergegas membela istrinya. Ia yang justru lebih dulu menyerang Mas Bimo. Perkelahian pun tak terelakkan.


Awalnya pertarungan berjalan sengit, namun Mas Bimo pandai mencari kelengahan. Ia berhasil memukul mundur Pak Sigit.

__ADS_1


Aku langsung bergegas menghampirinya. Ia bersikeras ingin mengadu kekuatan dengan Mas Bimo. Aku sempat kewalahan menahan hasratnya.


Mas Bimo dalam kondisi kesetanan. Ia pasti akan mengerahkan seluruh tenaganya. Dia akan sulit untuk ditandingi.


“Kalian pergi aja, minta pertolongan warga. Biar si Bangsat ini, Bapak yang hadapi,” perintah Pak Sigit.


“Bapak yakin bisa melawan saya? Kalau Bapak ngerasa sanggup, silakan berdiri. Tapi sebelumnya sampaikan dulu permintaan terakhir,” jajat Mas Bimo.


Aku terpancing emosi melihat kesombongannya. Dia sudah keterlaluan. Jiwanya sudah dirasuki iblis. Aku tak menyangka ucapan tak beradab keluar dari mulutnya.


“Cukup, Mas! Lebih baik Mas Bimo pergi sekarang, sebelum warga berdatangan menangkap Mas Bimo!”


“Kamu mau menakuti aku, Ya?”


“Dasar iblis!” hujat Pak Sigit sambil membuang ludah ke tanah.


“Coba ngomong sekali lagi, Pak Tua!” Mas Bimo mendekati Pak Sigit dengan urat-urat tangan yang tercetak jelas.


Aku segera berdiri menghalangi. “Istigfar, Mas! Kamu udah dikuasai setan!”


“Diam kamu, Arya! Atau kamu mau jadi yang pertama tewas di tempat ini,” gertak Mas Bimo dengan mengeluarkan pisau dari saku belakang celananya, “Ini di luar rencanaku. Tapi aku minta maaf jika kamu harus jadi yang pertama mati.”


Dengan cepat dia berjalan mengarah kepadaku. Aku sempat bimbang, karena di hadapannya ada aku dan Pak Sigit yang bisa saja menjadi mangsanya juga.


“Pak…. Bapak ajak ibu segera keluar dari tempat ini,” bisikku.


“Tapi….”


“Bapak nggak usah khawatir, saya akan baik-baik aja. Saya akan alihkan perhatiannya, Bapak langsung pergi ya.”


Pak Sigit pun mengerti rencanaku. Tenagaku memang belum kembali sempurna, namun aku mengerti ke mana harus membawa Mas Bimo.


“Mati? Kamu mengancamku atau mengajak bermain kucing-kucingan? Menyentuhku aja kamu kayaknya nggak bisa kan, Bimo,” ucapku kesal. Darahku sudah bergolak hebat, tak ada lagi sapaan halus yang aku layangkan kepadanya.


Aku mulai berlari ke tempat yang jauh dari Pak Sigit dan ibu Nining. Mas Bimo mengejarku. Lalu, aku menemukan bambu kering sekira dua meter. Kuayunkan bambu tersebut untuk menghantam kakinya. Dia ternyata cukup lincah, bisa menghindar dan menangkis seranganku yang bertubi-tubi.


“Katanya bisa melihat masa depan, tapi kok nggak bisa menebak gerakanku?” cibirnya.


Aku tak peduli dengan cibirannya. Aku hanya ingin melumpuhkannya sesaat untuk mengeluarkan jiwa sesat dalam dirinya.


Aku coba sekali lagi menghantam badannya. Kali ini berhasil mengenai sisi kanan perutnya. Dia mengaung kesakitan.


Dia pun memaki. “Kamu bermain curang, Arya.”


“Aku terpaksa. Maafkan aku, Bimo,” ejekku.


Kemudian, dia mengacungkan telunjuk. “Gimana kalau kita berduel secara jantan tanpa senjata?”


“Oh, pengen duel?”


“Takut?”


“Oke. Tapi lemparkan dulu pisau itu!”


“Gampang,” cakapnya arogan.


“Cepat lakuin sekarang!”


Dia pun membuang jauh pisau di tangannya. “Tuh, udah aku buang.”

__ADS_1


Harus berkelahi dengan orang yang pernah kuanggap sebagai teman, rasanya begitu miris. Walaupun terlihat sulit untuk menang, tetapi aku akan mencoba semampuku.


Kujatuhkan bambu dan pasang kuda-kuda. Pertama kali dalam sejarah, aku menjadi petarung jalanan.


__ADS_2