
Aku cukup lega, karena Nining tidak melakukan hal yang buruk kepada Teh Yeni. Namun, bebanku bertambah. Aku harus menyingkap kisah Nining dan Mas Bimo dari sisi Mas Bimo.
Aku tak bisa memaksa Nining bercerita lebih banyak. Kondisinya cukup rentan untuk diajak berselancar ke masa lalu. Di sisi lain, aku tak bisa berdiam diri terlalu lama. Terlebih masalahnya berkaitan dengan Mas Bimo, orang yang sudah aku anggap seperti saudaraku sendiri.
Tak ada perasaan aneh dalam diriku ketika berhadapan dengan Mas Bimo. Tetapi, Nining bersikukuh jika Mas Bimo tak sebaik citraannya. Apa yang sebenarnya sudah Mas Bimo lakukan kepada dia? Apa Nining sengaja melebihkan cerita agar aku berada di pihaknya? Atau Mas Bimo yang memang berkamuflase di depanku? Bagaimana kepekaanku bisa luput dari Mas Bimo jika ucapan Nining benar adanya? Aku harus memiliki dasar yang kuat jika ingin bertanya langsung kepada Mas Bimo terkait persoalannya dengan Nining.
Kemudian, ingatanku tertuju pada benda yang aku temukan beberapa hari lalu di kamar Mas Bimo. Mungkin benda tersebut bisa memberiku petunjuk atau jawaban. Aku sadar jika perbuatanku untuk memeriksanya lagi sudah lancang. Namun apa boleh buat, aku tak mau terus menerus dibayangi teka-teki.
Sebelumnya, aku hanya sempat memegang dan melihat sebentar. Benda tersebut memang terasa memiliki kekuatan magis, tetapi aku belum mau bespekulasi terkait fungsi dan cara kerjanya.
Ketika sedang membuka bungkusan tersebut, seseorang melontarkan pertanyaan kepadaku. “Ya, lagi ngapain?” Selalu saja Dani muncul mengejutkanku.
Aku kira telah menutup pintu dengan rapat, nyatanya aku tak mendengar kehadiran Dani sebelum ia berdiri di belakangku. “Dan, kenapa hobi banget memacu adrenalin sih?”
“Memacu adrenalin gimana? Aku kan masuk pelan-pelan. Lagian kamu mencurigakan banget, Ya. Lagi ngapain sih?” Dani membela diri.
“Ini… apa… emmm…. itu….” Mulutku kesulitan untuk menjelaskan. Ibarat maling yang tertangkap basah.
“Apa itu, Ya?” Dani menarik tanganku dan mengambil bungkusan yang ada di tangan. Aku pun tak bisa mengelak.
Dani membuka dengan perlahan. “Jimat? Masih ada aja ya orang yang percaya sama hal beginian. Ini kamu temuin dari lemari Mas Bimo?”
Tuturnya melukiskan dia tahu sesuatu, maka kutodongkan langsung pertanyaan. “Iya. Kamu tahu jimat ini untuk apa, Dan?”
Dani mengusap dahinya, “Aku nggak tahu secara pasti jimat ini untuk apa. Tapi temanku pernah menunjukkan benda seperti ini ketika mau ujian nasional pas sekolah,” terang Dani dengan menunjukkan lipatan kertas bertuliskan huruf Arab dan batu berwarna merah. “Dia bilang kertas ini memberinya kemudahan saat mengerjakan soal ujian, dan batu merah ini fungsinya sebagai pemikat lawan jenis.”
“Bentar, Dan!” Aku mengambil kembali benda-benda itu. Inderaku seakan bisa merasakan fungsi dari benda-benda tersebut. Benda yang genggam ternyata Jimat Pengasihan.
Betul yang dikatakan Dani. Masing-masing benda memiliki fungsi tersendiri. Keris digunakan untuk kewibawaan atau membuat orang (lawan bicara) tunduk, sementara tasbih untuk meredam dan mengikat amarah seseorang. Kemudian, semuanya dibungkus dengan kain putih agar satu sama lain saling terikat fungsinya.
Pertanyaanku, kenapa Mas Bimo menggunakan semua jimat itu? Apa untuk sekadar mendongkrak rasa percaya diri, atau ada niatan lain? Padahal, aku rasa Mas Bimo tidak perlu menggunakan benda-benda tersebut. Aku benar-benar tidak menyangka.
Mendadak mataku mulai berkunang-kunang. Kepala terasa sakit. Seakan efek dari jimat tersebut menjalar ke tubuhku.
Saat pandanganku normal, aku berada di suatu tempat yang ramai. Di sebuah ruang kelas. Terlihat Mas Bimo duduk di barisan paling belakang sendirian dan menaruh bungkusan atau jimat seperti yang persis ada di tanganku ke dalam dompetnya. Dia menggunakannya ketika hendak ujian. Memang hal yang masih lumrah terjadi di tengah masyarakat, jika seseorang mempercayai jimat sebagai pembawa keberuntungan dan peningkat derajat.
Walaupun agama jelas melarang jimat karena termasuk penyekutuan Tuhan, tetapi faktanya masih ada yang menjadikannya tumpuan.
Aku – kemudian – dibawa ke bawa pada scene di mana Mas Bimo menjemput teman perempuannya. Lalu, perempuan itu diajak ke kamar kost Mas Bimo. Lampu dimatikan, lalu terdengar perempuan itu merintih.
Setelahnya, Mas Bimo mengantarkan perempuan itu pulang dengan wajah tersenyum. Scene itu terus berulang dengan perempuan berbeda dan tempat berbeda. Dari kamar kost Mas Bimo, hotel melati dan berbintang, hingga sebuah rumah yang jauh dari keramaian. Betul, itu rumah Nining.
Jadi, Mas Bimo memang benar tak sebaik yang aku kira. Dia bukan hanya seorang playboy, tetapi juga hypersex. Ternyata jimat yang ada di tanganku digunakan untuk hal-hal yang tidak baik.
“Ya, kamu kenapa Ya?” Dani menggoyang-goyangkan badanku.
Aku buka mata dan kembali ke dunia nyata. “Ternyata Mas Bimo tak sebaik yang kita kira”, ucapku kecewa.
“Ya, semua orang pada dasarnya baik. Dari awal aku hanya menganggap dia begitu, baik sebagaimana manusia lain pada umumnya.”
Pernyataan Dani membuatku terhentak, “Maksud kamu, Dan?”
Dia menepuk pundakku. “Aku ingin mendengar penjelasanmu dulu. Kenapa kamu mengatakan dia tidak sebaik yang kita kira?”
Kusodorkan semua jimat milik Mas Bimo, “Benda ini dia gunakan juga untuk memuaskan syahwatnya.”
__ADS_1
Dani hening sesaat. “Ya. Sebenarnya aku sudah pengen ngomong hal ini dari dulu ke kamu. Mas Bimo memang baik, tetapi dia itu penjahat kelamin. Aku tahu dari cerita kakakku. Dia bilang aku tidak boleh terlalu dekat dengan Mas Bimo. Mas Bimo tidak sebaik penampilannya. Kakak dulu kan teman dekatnya. Dia tahu bagaimana kehidupan Mas Bimo. Mas Bimo sering mengendap-endap bawa perempuan ke kost ini dan selalu berhasil menggoda siapa pun untuk memuaskan birahinya, hanya untuk cinta satu malam,” jelas Dani.
Aku terperangah. “Terus, nggak ada kah yang memperingatkannya?”
“Justru ketika ada yang mengingatkan, Mas Bimo menggunakan uang untuk menutup mulut mereka. Ada yang diajak juga ke club, difasilitasi wanita PSK (Pekerja **** Komersial). Sedangkan bagi mereka yang alim, diancam agar tidak banyak bicara. Mas Bimo memiliki banyak uang untuk membayar orang yang berusaha mengusik hidupnya. Itu terbukti, ketika ada penghuni kost di sini yang melapor kepada pemilik kost agar memasang CCTV. Mas Bimo membayar orang untuk menghajar orang itu. Anehnya, orang itu pun seakan tak berdaya untuk melapor kepada polisi. Bahkan siapa pun yang mengetahui hal tersebut memilih pura-pura tidak tahu. Mereka tak mau berurusan dengan Mas Bimo. Itu artinya Mas Bimo sebenarnya cukup berbahaya.” Aku perhatikan wajah Dani. Sorot matanya meneguhkan kejujuran.
“Bagaimana dengan kakakmu?”
“Dia sudah berupaya mengingatkan, tetapi Mas Bimo mengatakan jangan ikut campur urusan pribadinya. Kakakku sering bertanya tentang Mas Bimo sudah berubah atau belum. Aku jawab masih sama seperti yang dulu.”
Jujur, meskipun batinku mengkonfirmasi cerita Dani sama dengan yang kulihat, tetapi aku masih berusaha menepisnya.“Tapi selama aku di sini, dia baik-baik aja. Aku belum pernah melihatnya mengajak perempuan masuk ke kamarnya.”
Dani membuang nafas. “Itu karena kamarmu di atas dan kalau malam kamu tidak pernah turun kan. Aku pernah melihatnya membawa perempuan sekitar 4 kali selama tinggal di sini. Mas Bimo membawanya di waktu tengah malam atau siang saat dia pikir tidak ada siapa pun di kost.”
“Kenapa kamu nggak pernah cerita ke aku, Dan?” ungkapku kesal. Dani menyimpan rahasia sebesar ini sendiri. Padahal aku berpikir kami merupakan teman.
“Aku tak ingin memiliki masalah dengannya. Makanya, aku acuh tak acuh dengan dia. Terus aku lihat kamu baik sama dia. Jadi, aku pikir kamu pasti tidak akan langsung percaya jika aku menceritakan sisi gelapnya.”
“Jadi, kamu sebenarnya tahu betapa bejatnya dia?”
“Iya.”
“Apa lagi yang kamu tahu tentang dia, Dan?”
“Perempuan yang menusukmu dan mengirimkan kue kepada Mas Bimo sebenarnya sering ke kost untuk mengintai Mas Bimo. Aku pernah mengobrol dengannya. Dia bercerita jika dia pernah hamil anak Mas Bimo. Namun, Mas Bimo minta perempuan itu menggugurkan kandungannya.” Dani sedikit menundukkan kepala. “Aku minta maaf. Malam itu aku ingin menolongmu, tetapi kamu justru menghalangiku.”
Bak ditampar ribuan orang, ternyata banyak hal yang ada di sekitarku yang justru tak terdeteksi sedikit pun. Aku merasa begitu bodoh. “Aku pikir kita teman, Dan,” sindirku sambil beranjak meninggalkannya
“Arya. Tunggu, Ya!”
Padahal Dani tahu aku dibuat tidak tenang dengan berbagai kejadian yang singgah di kost ini, tentang Mas Bimo dan mereka yang mengintai di baliknya. Ah, aku merasa tidak ada lagi yang bisa dipercaya.
Orang yang aku anggap teman, semuanya berhasil mengelabuiku. Dani dengan kepolosannya, Mas Bimo dengan pencitraannya.
Aku bisa melupakan amarahku kepada Dani, tetapi tidak kepada Mas Bimo. Jadi, mimpiku tentang Nining memang sebuah gambaran hidupnya yang Tuhan perlihatkan kepadaku. Jasad yang dipendam Nining kemungkinan janin yang terpaksa digugurkannya.
Sekarang aku bisa memetakan circle ini. Terawanganku sulit menembus perilaku Mas Bimo, karena jimat berlapis yang dia gunakan. Selain untuk menambah rasa percaya diri, Mas Bimo menggunakan Jimat Pengasihan untuk memikat dan meniduri perempuan-perempuan yang menggemarinya demi kepuasaan seksual. Jimat itu membantunya mendapatkan perempuan yang dia mau dan menundukkan emosi mereka. Hidup Nining semakin hancur setelah melakukan aborsi dan dicampakkan oleh Mas Bimo. Sementara Teh Yeni, aku merasa dia juga korban libido Mas Bimo. Bedebah!
Esok pagi, petugas RSJ meneleponku, katanya Nining ingin bertemu denganku. Aku pun segera ke sana. Sepertinya ada hal yang sangat penting yang ingin dia ceritakan kepadaku.
Nining duduk menungguku dengan wajah berseri. Dia tampak anggun seperti di mimpiku malam itu. Pembawaannya juga jauh lebih tenang, Aku senang melihatnya. Namun, tak bisa dipungkiri ada ketakutan yang juga terselip di benakku. Apa yang terjadi dengannya?
“Hai, Ya. Apa kabar?” sapanya lembut.
“Hai…” Ada rasa gugup dalam membalas sapaannya.
“Terima kasih udah mau ke sini. Udah mau jengukin aku lagi.” Aku masih tak percaya kata per kata yang dia ucapkan begitu terlantun halus.
“Santai aja, Ning.”
“Ya, aku memintamu ke sini karena ada hal yang sangat penting yang ingin aku sampaikan tentang Bimo. Aku harap kamu lebih berhati-hati dengan dia. Ini bukan tentang rasa benciku kepadanya, tetapi tentang dia yang sangat manipulatif,” cakap Nining antusias.
Semua misteri mulai menemukan benang merah. Aku tak sabar untuk mengkonfirmasi retrokognisi yang aku lihat tentang Nining dan Mas Bimo. “Ning, apa hubunganmu dengan Mas Bimo pernah lebih sekadar dari teman?”
“Betul. Tapi aku tidak tahu apa namanya,” suaranya berubah sendu. “Aku terbuai cintanya. Aku pun berpikir kami saling mencintai. Kenapa? Karena dia meminta keperawananku lebih dari sekali. Kami selalu melakukannya di rumahku. Aku sama sekali tak memiliki prasangka buruk tentangnya. Aku hanya tahu kami dimabuk asmara. Hingga suatu ketika, aku hamil. Petaka bermula dari sana. Aku meminta tanggung jawab Bimo, tetapi dia malah tak mengakui pernah melakukan hubungan suami istri denganku. Itu hal yang sangat konyol. Kemudian, aku bercerita kepada Yeni, tetapi dia menyebutku perempuan gila.”
__ADS_1
“Maaf Ning, kejadiannya setelah Mas Bimo putus dengan Teh Yeni atau sebelumnya?”
“Setelah mereka putus. Kamu masih ingat kan ceritaku soal Yeni pelet Bimo?”
“Iya.”
“Itu hanya bualanku agar Bimo terpikat kepadaku dan benci kepada Yeni. Aku ingin membuat Yeni dijauhi oleh seseorang yang pernah dekat di hatinya. Aku ingin dia merasakan yang aku rasakan, bullying yang sudah dia lakukan kepadaku.” Nining tampak berusaha menahan tangis. “Sayangnya, dari situlah aku terjerat cinta dan nafsu hingga begitu mudah menyerahkan kesucianku kepada Bimo.” Akhirnya, tangisnya pecah.
Aku menundukkan kepala, membayangkan betapa suram derita yang dirasakan olehnya. ”Ning, kesempatan untuk menata hidup yang lebih baik masih terbuka lebar untukmu.”
Dia menghela nafas panjang, “Aku nggak tahu, Ya. Langkahku sudah terlalu berat.”
“Ning….”
“Kamu tahu? Ternyata, aku buka korban pertama Bimo. Yeni pun menjadi korbannya. Hanya saja Yeni selalu menutupi, karena Bimo mengancam akan menyebarkan video hubungan mereka. Yeni dari keluarga terpandang. Jika Bimo menyebarkan video persetubuhan mereka, bukan cuma Yeni yang hancur tetapi keluarganya juga,” papar Nining.
Aku begitu terkejut mendengarnya. “Bagaimana kamu bisa tahu?”
“Aku pernah membuka WhatsApp Bimo. Di sana ada grup percakapan dengan teman-temannya. Semua isinya tentang wanita. Aku juga membaca chat ancaman dia kepada Yeni. Aku sempat mengkonfirmasi kepada Yeni, tetapi dia memintaku untuk tutup mulut”, wajahnya menggambarkan begitu dalam luka dan pedih yang dialami.
“Sorry, katamu Teh Yeni juga menjadi korban Mas Bimo, tetapi mereka sempat pacaran dan putus, setelah itu dekat lagi sebagai teman. Apa itu artinya Mas Bimo hanya menjadikan Teh Yeni tameng, setelah tak berguna lalu dibuang? Kemudian, Teh Yeni berusaha menjadi baik dengan maksud membalas dendam?” Semua tanda tanya mulai berubah menjadi tanda seru.
“Aku tahu kamu berbeda. Kamu bisa membaca keadaan dengan tepat. Ya, betul. Kami ingin balas dendam. Tapi cara kami berbeda. Malam itu, saat kamu meninggalkan Yeni dan aku yang sedang berkelahi, kami bicara dari hati ke hati. Yeni menceritakan ketika Bimo mendekatinya, Bimo langsung mengajaknya tidur bareng di sebuah hotel, Yeni yang membayar sewa kamarnya. Di situlah dia melepas keperawanan kepada Bimo. Sama seperti aku, dia berpikir jika Bimo mencintainya, ternyata Bimo hanya ingin menikmati kemolekan tubuhnya. Ketika Yeni yakin untuk meresmikan hubungan mereka, Bimo menolak. Siapa yang hatinya tidak hancur jika dia ada di posisi Yeni?!.” Nining menyeka air mata.
“Kemudian, bagaimana mereka bisa bersatu?”
“Bimo cerdas, dia pandai dalam segala hal, termasuk membaca situasi. Dia tahu Yeni bukan dari kalangan keluarga biasa. Yeni bisa saja berbalik menghancurkan kehidupannya dengan power yang dimiliki oleh keluarganya. Bimo mengetahui hal tersebut. Di situlah dia mulai memacari Yeni. Bimo juga merayu Yeni kembali untuk berhubungan suami istri kapan pun dia mau. Yeni – namanya juga wanita – meski tahu lelakinya buaya, tetapi dia tetap saja mudah terbuai tipu daya. Bimo berjanji setelah lulus akan menikahi Yeni. Ternyata, itu hanya trik Bimo untuk menyusun senjata. Bimo selalu merekam hubungan intimnya dengan Yeni. Akhirnya, Yeni tak berdaya. Hubungan mereka renggang dan berakhir. Apa yang bisa Yeni lakukan? Tidak ada, selain memulihkan mental dan traumanya.” Nining mengatur nafas sejenak. “Yeni sengaja membuat teman-teman mem-bully-ku. Katanya, agar aku menjauh dari Bimo. Tapi Bimo justru tampil bagaikan pahlawan di mataku. Aku terbuai kata-kata manis Bimo, yang ternyata hanya penasaran dengan tubuhku.”
Aku paham kisah mereka yang rumit. “Jadi, kamu mengarang cerita jika Teh Yeni memelet Mas Bimo sebagai bentuk balas dendam kamu ke dia, kan? Terus foto dan video ancamanmu yang kamu katakan sebagai bukti Teh Yeni pergi ke dukun, itu maksudnya bukti chat mesum dan video syur mereka yang kamu temukan di ponsel Mas Bimo, kan ?”
“Tepat,” tegas Nining seraya meluruskan pandangan secara horizontal.
Kami terdiam beberapa menit. Kemudian, Nining mengajak mengobrol di taman rumah sakit. Petugas pun mengizinkan.
“Yeni kembali dekat dengan Bimo untuk mencari celah agar bisa menghapus video-video mesumnya, sambil mencari cara untuk mencari kelemahan Bimo. Sementara, aku tak bisa lagi menahan pedih. Aku pergi dari satu dukun ke dukun lagi untuk menumbangkan Bimo. Perbuatan mesumnya sudah menelan banyak korban, tetapi entah kenapa Bimo tetap dipuja bak idola. Aku ingin Bimo mati, karena untuk membongkar kedoknya begitu sulit.”
“Tapi Ning….”
“Aku tahu itu dosa besar, tetapi aku pun tak punya pilihan. Tak ada juga yang bisa aku ajak cerita. Sekarang hubunganku dengan Yeni sudah clear. Namun, dia akan pindah ke luar negeri untuk melanjutkan kuliah sekaligus menyembuhkan mentalnya.”
“Apa kamu masih mau melanjutkan misimu?”
“Sekarang, aku dan Yeni sudah pasrah.” Dia menengadahkan muka ke langit dengan miris.
“Ning, yang sudah terjadi biarlah menjadi pembelajaran.”
”Kamu terlalu baik, Ya. Andai dari awal Bimo berteman denganmu, mungkin sifatnya tidak akan se-biadab sekarang. Tapi ya sudahlah, aku juga coba ikhlas karena lihat kamu begitu baik menjaga Bimo. Semoga kamu bisa membuatnya berubah.” Nining membenamkan harapan kepadaku. Entahlah! Aku sendiri masih belajar dan terus belajar menjadi pribadi yang lebih baik.
Aku tengok jam di ponsel, tak terasa sudah pukul 9.45. “Ning, besok aku ke sini lagi. Kita ngobrol lagi hal yang lain yang bisa membuatmu lebih bergairah,” ucapku mencoba memantik semangatnya dengan diikuti senyum lebar.
“Kamu ada kuliah?”
“Aku ada UAS susulan.”
“Ya sudah, berangkat sana. Sekali lagi, terima kasih banyak ya, Ya. Rasanya aku lega banget punya teman cerita sebaik kamu. Coba aku kenal kamu duluan ketimbang si brengsek itu. Hahaha…” Nining tertawa dengan bahagia. Pemandangan yang sangat menyentuh kalbu.
__ADS_1
Mas Bimo! Aku akan membuatnya bertanggungjawab atas segala yang sudah dia perbuat. Aku tidak menyesal mencoba membantunya lepas dari guna-guna, tetapi aku akan menjadi sangat menyesal jika tak mampu mengubah perilakunya.