
Selama beberapa hari hubunganku dengan Ayah menjadi semakin dingin. Aku mencoba mengerti arti tamparannya dari berbagai sisi. Namun, itu tetap tak bisa menghilangkan trauma di pikiranku. Aku berupaya untuk bersikap biasa, tetapi ada dinding kaca yang disebut pola pikir yang membatasi hubungan kami. Sejatinya, aku ingin hidup harmonis dengan Ayah walaupun tak banyak kata yang terjalin dari mulut kami.
Mungkinkah ini hanya ego para pria yang secara naluri kadang merasa canggung untuk menunjukkan lagi rasa cinta dan kasih? Kuserahkan pada waktu untuk menyalin kembali perasaan tersebut dan menguapkan sakit hati yang kurasa.
Terkadang, aku bisa merasakan atau membaca isi pikiran orang lain. Namun untuk orang terdekat seperti Ayah, itu cukup sulit. Kenapa? Banyak memori yang tersimpan di otakku tentangnya, dan itu bisa mengaburkan persepsi yang timbul. Misalnya, Ayah menamparku karena mungkin terbawa emosi ditambah sedang banyak hal yang dipikirkan. Bisa jadi tragedi tersebut bagian dari kebetulan. Ayah ingin melampiaskan beban pikiran, dan secara tidak sadar aku membuat kesalahan yang meledakkan amarah. Di sisi lain, aku pikir Ayah akan minta maaf keesokan harinya. Ternyata, sikapnya tak menunjukkan adanya penyesalan. Atau Ayah menungguku yang meminta maaf lebih dahulu? Bagaimana pun, aku dalam posisi “korban”. Cukup ambigu, bukan? Dikarenakan banyak penilaian yang muncul berasaskan pengenalan karakter dan perasaan yang dalam.
Meskipun hubungan kami tidak begitu hangat, tetapi ini kali pertama kami terlibat perang dingin. Aku paham, aku harus lebih mengerti tentang Ayah. Beliau sudah melewati masa usiaku, namun aku belum tentu sampai di masa beliau.
Baiklah. Kebetulan aku sedang ingin mencari buku untuk bahan bacaan, sekaligus sedikit refreshing. Meminta izin kepadanya semoga bisa menjadi permulaan membangun kembali jembatan komunikasi. Setelah itu, aku akan belikan hadiah kemeja atau jam tangan untuk “menyuap”-nya.
Aku hampiri Ayah yang tengah duduk santai di teras, “Yah, Arya izin keluar dulu.”
“Ke mana?” Tanya Ayah dengan vokal kencang.
“Karawaci, Yah. Mau cari buku,” Aku balas dengan penjelasan yang lembut.
“Bawa motor? Sendirian?” Nadanya berangsur turun.
“Iya.”
“Jangan pulang malam!” pesan Ayah.
Aku membalas dengan mengangguk dan mencium tangannya. Betul, ini hanya masalah ego dan waktu untuk mencairkan ketegangan antara seorang Ayah dan anak lelakinya yang beranjak dewasa.
Kupacu kuda besi dengan penuh harap. Biarlah rasa trauma sebagai pembelajaran bukan diendapkan menjadi dendam.
Setiba di mall, aku mampir terlebih dahulu ke store pakaian batik. Tadinya, aku ingin membelikan Ayah kemeja polos, tetapi setelah dipikir ulang stok kemeja batik Ayah tidak banyak. Tak butuh waktu lama, aku pilih Batik Keris lengan panjang berwarna cokelat.
Lanjut ke toko buku. Saking asiknya, aku lihat jam sudah menunjukkan pukul 17.30. Aku segera melakukan pembayaran dua buah buku tentang Psikologi yang aku pilih.
Keluar dari parkiran mall, kemacaten manyambutku. Sial!
Aku putuskan melalui jalan alternatif, meski harus memutar lebih jauh. Untungnya – sesuai ekspektasi – lebih lancar. Aku pun memutar gas hingga nyaris mentok agar cepat sampai rumah sebelum gelap menggulung senja. Huh! Seperti ini saja sudah membangkitakaan adrenalinku.
Adzan berkumandang. Aku hanya tinggal melewati jalan pemakaman umum desaku. InsyaAllah masih aman, ucapku dalam hati.
Aku turunkan kecepatan sembari merelaksasi sendi sejenak. Namun, aku perhatikan – di saung pinggir jalan pintu masuk area pemakaman – ada seseorang yang duduk sendirian. Batinku mengatakan untuk tak mempedulikan orang tersebut. Ada aura ganjil yang terpancar darinya.
Akan tetapi, saat aku melewatinya, sayup terdengar suara memanggil namaku. Aku penasaran, dan menoleh ke belakang. Apa? Adam? Apa yang dia lakukan sendirian ba’da Maghrib di saung itu?
Dia melambaikan tangan dan tersenyum kepadaku. Aku masih tak bergeming, bimbang antara menghampiri atau tidak.
“Arya, sini!” panggilnya berteriak.
Ya, Tuhan. Kenapa aku malah berprasangka aneh? Itu benar Adam, teman masa kecilku. Mungkin dia ingin menumpang pulang, pikirku,. Aku pun berbalik arah dan menghampirinya.
“Dam, ngapain di sini?” tanyaku dari atas motor.
“Gue mau pulang, tapi kaki gue masih kesemutan. Dari tadi nunggu yang lewat nggak ada satu pun. Eh, kebetulan ada lu, Ya,” jelasnya sembari terus melemparkan senyum.
“Ya udah, yuk pulang!” ajakku.
“Nanti dulu, Ya. Gue masih mau luruskan kaki dulu.”
“Tapi gue belum sholat Maghrib, Dam.”
Dia menarik tanganku, “Tunggu sebentar lagi, Ya. Lu turun aja dulu. Kita ngobrol bentaran.”
Entah mengapa aku pun menurut, lalu turun dari motor. Kata-katanya seolah menghipnotis pergerakanku.
Saat kuamati, ada yang aneh dari karibku kecilku. Dia agak berbeda. “Dam, kok kayaknya lu makin kurus deh. Tinggi lu juga sekarang kalah sama gue.”
Dia menyengir, “Maklum lah, Ya. Semenjak orang tua gue cerai, hidup jadi makin susah.”
“Oh… Tapi kok gue jarang lihat lu sih, Dam.”
Adam menepuk pundakku, “Lu aja yang udah kagak pernah maen ke rumah gue. Padahal gue kangen banget main bareng sama lu kayak dulu lagi. Mandi di sungai, main kelereng, main gambaran, main layangan, cari ikan di sawah, pokoknya semua hal yang biasa kita lakukan bersama dah.”
__ADS_1
“Gue udah 2 mingguan di rumah Dam, lagi libur kuliah.” Aku merenung sesaat. Kenapa selama di rumah aku tidak ingat kepada Adam?! “Tapi kok gue nggak pernah lihat lu, Dam. Emang lu lagi sibuk apa?” Entah dari mana datangnya, kepalaku terasa sakit saat menanyakan hal tersebut. Lalu, beberapa memoriku tentangnya seakan terputus. Aku berusaha mengingat, namun sulit.
“Kita lanjut ngobrol di atas yuk, Ya!” Dia tak menggubris pertanyaanku, malah mengajak ke wilayah utama tempat raga-raga berjejer dalam tanah.
“Tapi, Dam…” Aku ingin menolak, tapi justru kakiku bergerak mengikutinya.
“Ya, apa lu mau jadi sahabat gue lagi kayak dulu? Semenjak lu pergi, gue nggak punya teman. Gue merasa sangat kesepian”, tuturnya sedih.
“Iya, Dam. Kita kan emang dari dulu udah sahabatan. Besok lu main ke rumah gue ya,” ucapku berusaha menghiburnya.
“Lalu, ayah lu gimana?
“Maksudnya?”
“Kayaknya Ayah lu nggak suka banget lu main sama gue. Terakhir waktu pulang sekolah, gue dimarahin karena ngajak lu maen ke Timezone. Katanya, gue bawa pengaruh kurang baik buat lu,” kenangnya.
“Dam, lu tahu kan Ayah gue orangnya emang galak, sama (dan) selalu menerapkan disiplin tingkat tinggi buat gue. Gue harus selalu ikuti aturan dia. Kalau nggak, dia akan memperketat bahkan menambah aturan baru”, uraiku agar Adam paham, “ Setiap pulang sekolah, gue harus nyampe rumah tepat waktu, lanjut les ini dan itu, terus tidur malam nggak boleh lewat dari jam 10, dan bangun jam setengah 5 Subuh. Nilai gue di setiap mata pelajaran pun nggak boleh di bawah 90. Tapi itu dulu kok. Sekarang udah nggak terlalu begitu, meski masih konservatif.”
“Konservatif apaan, Ya?” tanyanya polos.
“Konservatif itu pemikirannya masih mengacu pada zamannya atau kolot gitu.”
“Oh….”
“Gue kalau pulang malam masih sering diinterogasi. Terus kalau ngobrol sama Ayah juga masih kaku, susah kalau berbagi pendapat dengannya. Bahkan ketika memiih jurusan kuliah, awalnya gue disuruh ngambil jurusan pendidikan. Gue paham, Ayah ngelakuin itu demi kebaikan gue juga. Tapi gue pun punya prinsip yang nggak bisa didobrak secara sepihak atas kemauannya,” kesahku.
Adam menghembuskan nafas, “Kuliah itu kayak gimana sih, Ya? Kayaknya enak ya?”
“Pada dasarnya kuliah itu lebih kepada mengaplikasinya apa yang kita dapat selama sekolah dasar dan menengah. Kalau semasa sekolah kita lebih banyak menampung pengetahuan dan teori, nah pas kuliah cara belajar kita lebih ke menerapkan, mengembangkan, dan mengkritisi. Kalau dibilang enak, buatku belajar selalu menyenangkan,” kisahku.
“Kamu sih enak udah pintar dari sekolah. Jadi belajarnya nggak akan ketinggalan,” pujinya.
“Pendidikan itu kan tempat kita berproses. Jadi, tak peduli bagaimana cara belajar dan daya tangkap kita. Selagi kita mau berupaya mengembangkan diri, akan ada ruang untuk kita tahu dan gali potensi diri kita.”
“Pusing gue, Ya. Nggak nyampe otak gue sama penjelasan lu.”
Adam mengagaruk-garuk kepalanya. Aku balas senyum simpul.
“Kenapa lu, Ya?”
“Nggak tahu nih, tiba-tiba kepala gue sakit dan kleyengan.” Penglihatanku agak kabur.
“Ya udah kita duduk dulu di sana ya!”
Adam memapah dan mendudukkanku di bawah pohon beringin.
“Dam, kita pulang sekarang aja yuk!”
“Lah, katanya kamu sakit kepala. Tunggu dulu aja sampai lu enakan. Sini gue pijetin.”
Adam memijat kepalaku. Hem, terasa lebih baik. Sakitnya sudah mulai reda, mataku pun menangkap gambar dengan normal lagi.
Namun, aku kaget kala memandang makam yang ada di depanku. Di nisannya tertulis, “Iroh, meninggal: 14 April 2012”.
Apa itu makam Mak Iroh? Jantungku berdegup kencang. Apa yang sebenarnya terjadi? Tanah terungguk di depanku yaitu makam Mak Iroh. Posisinya juga sama seperti saat pemakaman terakhir. Sekitar 10 meter sebelah Barat pohon beringin tepatku duduk. Namun makamnya tampak lapuk, bukan seperti makam baru.
Kutanya Adam untuk memastikan. “Dam, itu benar makamnya Mak Iroh?”
“Iya.”
“Maksud gue, Mak Iroh emaknya Mang Bahri.”
“Iya, benar.”
“Tapi di situ tulisannya meninggal 14 April 2012?”
“Emang benar. Kok lu kayak kaget banget, Ya?”
__ADS_1
Bagaimana mungkin? Ah, aku kira riwayat tentang Mak Iroh tak perlu ditelusuri lagi. “Dam, dua minggu yang lalu Mak Iroh juga baru dimakamkan.”
“Ya, kamu mimpi kali.”
“Dam, gue mau tanya serius.” Aku hela nafas dalam. “Yang lu tahu, kapan Mak Iroh meninggal? Terus dia meninggal karena apa?”
“Tiga tahun yang lalu, karena kecelakaan. Katanya dia ditabrak motor pas pulang dari hajatan anaknya.”
Selaras! Kutatap mata Adam mendalam, “Kamu yakin bukan dua minggu yang lalu?”
“Di nisannya itu aja udah jelas tertulis kapan Mak Iroh meninggal,” ucapnya yakin.
Sorot mata dan ucapan Adam tak menyiratkan kebohongan.
Tiba-tiba aku menangkap getaran energi tak biasa. Ada yang aneh dengan semua ini.
“Dam, sebenarnya kita lagi ada di mana sekarang?”
“Ya elah, Ya. Masa nggak tahu ini di mana.”
“Dam, ayo kita pulang.” Kutarik tangannya dengan kuat.
“Pulang ke mana? Di sini aja dulu, Ya. Kita ngobrol-ngobrol sebentar lagi aja. Kakiku juga masih lemas banget nih.”
Kaki Adam lemas? Tapi kenapa dia bisa naik ke area pemakaman dengan jalan biasa. Aku baru menyadari hal tersebut.
“Ayo, Dam! Kita lanjut ngobrol di rumah gue.”
Adam melepaskan tanganku. “Kagak mau. Gue takut dimarahin Ayah lu. Ya udah, kalau lu mau pulang, pulang aja. Tinggalin aja gue sendiri. Gue cukup tahu, orang yang gue anggap sahabat sejak kecil ternyata udah berubah. Udah nggak mau lagi nemenin gue. Padahal, selama ini gue bener-bener kesepian, nggak punya teman.” Adam menangis.
Adam membuatku serba salah. Dia tak mau diajak pulang, sedangkan aku merasa tak seharusnya bertahan di tempat ini.
“Balik! Anteupkeun, tong dipedulikeun! Leumpang bae terus ulah nempo ka tukang! Geura! (Pulang! Biarkan, jangan dipedulikan! Jalan terus, jangan lihat ke belakang! Cepat!” Ada suara pria yang membisikkanku dengan tegas untuk meninggalkan Adam.
Aku fokuskan pandangan ke depan. Jika aku berbalik badan dan melihat Adam menangis, aku pasti tak akan tega.
Langkahku terhuyung-huyung. Rasanya jarak dari pohon beringin hingga keluar area pemakaman sangat jauh sekali.
Akhirnya, sampai jumpa di saung tempatku bertemu dengan Adam. Tapi, di mana motorku? Aku yakin memarkirnya di depan saung.
Celaka! Seingatku, aku tak mencabut kunci motor dari kontaknya. Akkkhhh! Aku bodoh sekali. Aku terlalu larut dalam obrolan dengan Adam hingga melupakan detil seperti itu. Sekarang, motornya mungkin sudah berpindah tangan. Ayah pasti akan memarahiku.
Gontai kakiku berjalan pulang. Aku tinggalkan Adam sendiri, dan bersiap menghadapi masalah baru.
Kulihat, Ayah berdiri di teras sambil berkacak pinggang. Memang aku yang salah.
Kuucapkan salam dengan pasrah, “Assalamualaikum…”
“Walaikum salam. Masuk!” jawab Ayah dengan nada tinggi.
Aku hanya bisa menunduk.
Ayah mengangkat daguku, “Dari mana kamu? Pulang dengan pakaian kotor dan penuh keringat lagi? Kamu habis dari toko buku atau habis dari mana?”
“Dari toko buku, Yah!” Aku tak berani memandangnya.
“Toko buku? Terus kenapa kamu tinggalin motor dengan kunci menggantung dan lengkap dengan tas kamu juga di depan saung Mang Ade? Apa yang kamu lakukan di kuburan?”
“Arya….”
Ayah melepaskan cengkramannya, tetapi tatapannya masih menggelora bak kayu yang baru menjadi bara. “Untung ada Pak RT yang menjaga motor kamu dan langsung mengabari Ayah. Pak RT juga bilang muter-muter cari kamu, tapi kamunya nggak ada di sekitar lokasi. Sebenarnya kamu ke mana? Hah?”
Aku tengok, ternyata benar motorku ada di dalam rumah. Spontan aku memanjatkan syukur, “Alhamdulillah.”
“Alhamdulillah apa? Motornya nggak jadi hilang? Kamu pikir Ayah lebih mengkhawatirkan motor daripada kamu?” Terdengar suara nafas Ayah berhembus cepat. “Kamu sudah mulai menjadi pembangkang akhir-akhir ini!” Telapak tangan Ayah sudah nyaris menadarat di pipiku, tetapi dia turunkan lagi. “Mandi, bersihkan badanmu. Terus sholat. Ayah yakin kamu sudah melewatkan sholat Maghrib.”
“Iya, Yah.”
__ADS_1
“Ayah benar-benar nggak nyangka, anak yang selalu Ayah banggakan bisa berubah dalam sekejap. Setelah selesai sholat, terus makan. Ayah tunggu di ruang tengah! Kita bicarakan semuanya secara serius. Ayah udah nggak bisa men-tolerir lagi sikap kamu.” Ayah terus menggurutu mengomentari sikapku.
Apa yang ada dalam pikiran Ayah tentang aku? Kenapa seakan aku sudah melakukan dosa yang sangat besar? Aku tak mampu mengidentifikasi penyebab utama situasi ini. Salahku? Atau sebuah pelampiasan? Batinku lebih sakit menerima murkanya dibanding kerasnya pukulan yang mungkin akan dihadiahkannya lagi kepadaku.