
Manusia hidup dengan pelbagai masalah. Pun begitu, setiap orang memiliki cara tersendiri dalam menyelesaikan problematika hidupnya. Tak ada masalah yang tak memiliki solusi. Sabar dan percaya jika Tuhan tak akan menguji manusia di luar batas kemampuannya.
Sebelum menjenguk Nining kembali, aku putuskan membeli kue basah atau jajanan pasar di depan kampus untuk cemilan dan pendamping obrolan kami nanti . Setelah itu, kembali ke kost untuk untuk ganti baju.
Namun ketika turun tangga, Dani mencegatku,
“Kamu mau ke mana pagi-pagi begini, Ya?” tanyanya menghadang langkahku.
“Ke Citarum.”
“Ngapain, Ya?”
“Jenguk teman,” jawabku sambil menggeser badan Dani agar memberiku jalan.
“Kamu masih masih marah sama aku, Ya?”
“Nggak. Udah nggak sama sekali.”
“Kalau gitu aku boleh ikut?”
Tadinya aku ingin mengelak. “Aku mau jenguk Nining. Kamu benar mau ikut?”
“Iya, aku mau ikut. Nggak apa-apa kan?”
“Ayo.”
“Kita pakai motor Mas Bimo atau…?”
“Aku udah order taksi online.”
Sepanjalang jalan menuju RSJ dadaku mendadak sesak. Seperti sebuah firasat akan datangnya hal yang menguras emosi. Semoga tidak seperti yang ada dalam bayanganku.
Baru saja kaki masuk area rumah sakit, seorang petugas menghampiriku tergesa-gesa. “A, ayo ke ruangan Teh Nining. Aa sudah ditunggu,” katanya panik.
“Apa yang terjadi?”
“Nanti Aa lihat saja ya! Tadi saya telepon beberapa kali tapi nggak diangkat sama Aa.”
“Maaf, tadi saya lagi di jalan dan hape saya selalu di-silent.” Aku memang bisa dikatakan jarang menyentuh ponsel.
Kami berlari menuju ruangan Nining. Perasaanku makin tidak karuan. Mata mulai berkaca-kaca. Hati terus memohon, tetapi pikiran mengalamatkan sebuah perpisahan.
Nining terbaring dengan raut kesakitan. Dia dikelilingi 2 orang petugas perempuan, 1 orang petugas laki-laki, dan seorang ustad. Aku dan Dani segera mengambil posisi di dekat Nining.
Wajah Nining menadah ke langit dengan termengap-mengap. Kusentuh tangannya terasa begitu dingin. Mulutnya meringik. Air mata mengalir dari kedua sudut matanya yang menatap kosong ke atas.
“Ning, ini aku, Arya. Bertahan ya, Ning!” tuturku halus sembari menahan kesedihan.
Pak Ustad melihat ke arahku. “Bantu bacakan doa ya, Dek!” ucapnya.
Air mata makin tak kuasa kubendung melihat Nining terus merintih. Aku tak ingin mengatakannya. Aku tak ingin mendahului takdir Tuhan. Namun, ucapan Pak Ustad pun menyiratkan jika Nining di penghujung hidup.
Aku berbisik di telinga Nining, “Ikhlas, Ning. Kami juga ikhlas.”
Dani merangkul pundakku, “Ya, sabar ya!”
Aku sebenarnya tak ingin menitikan air mata di hadapan Nining. Jika dia melihatku menangis, itu mungkin akan menghambat jalannya. Jika ini yang terbaik untuknya, ampuni segala dosanya, tempatkan dia di sisi terbaik-Mu, mohonku membatin.
“Apa adek bisa kontak saudara dan orang tuanya?” tanya Pak Ustad.
“Saya tidak ada kontak mereka, Pak Ustad.” Aku berusaha menyeka air mata.
“Ya sudah, kalau gitu bantu bacakan kalimat Tauhid dan Syahadat di telinganya ya, Dek. Ikhlaskan agar perjalanannya mudah. Kita sama-sama memohon ampun kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas segala dosa dan kesalahan yang diperbuat saudari Nining.”
Aku mengangguk. Inikah yang dinamakan sakaratul maut?
__ADS_1
“La ilaha Illallah.” Pak Ustad menuntun Nining agar bisa melafalkan kalimat Tauhid secara perlahan dilanjutkan kalimat Syahadat. “Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna muhammadar rasuulullah.”
Nining meronta. Tangannya seketika mencengkramku begitu kuat. Aku usap dahinya yang terus dibanjiri keringat sembari membisikkan Nining kalimat Tauhid. Dani dan para petugas pun larut dalam haru dan terus melantunkan doa.
Tak lama, kurasakan tangan Nining terlepas tanpa tenaga. Wajahnya diam. Tak ada gerakan apa pun lagi yang ia tunjukkan. Aku periksa tangannya. Terasa semakin dingin dan nampak membiru. Kuperiksa nadinya, dan ternyata sudah berhenti berdenyut.
Pak Ustad memejamkan kedua mata Nining, melemaskan rahangnya, melemaskan lengan bawah dengan menekuk dan menjulurkannya di atas lengan atas, dan juga meluruskan kakinya. Lalu, seorang petugas wanita menutup Nining dengan kain putih. Nining meninggal pada pukul 09.05 pagi.
Aku tertunduk di jasad Nining. Namun, Arya memapahku untuk bangkit dan mengajakku menunggu di luar. “Ya, iklhaskan dia. Sekarang dia sudah tenang,” ucapnya.
Batinku begitu pedih menyaksikan kepergian Nining. Aku tak kuasa menahan tangis. Dia bukan keluargaku, dia orang yang baru aku kenal, tapi cerita hidupnya begitu menulusuk ke relungku.
Kesalahan yang dia perbuat, dendam yang menguasai pikirannya, karena ia tak memiliki tempat untuk berbagi. Aku merasa bersalah, terlambat menyadari situasi yang ia hadapi. Selain itu, aku sudah merasakan kepergiannya, tetapi aku tak bisa melakukan apa-apa.
“Dan, beberapa hari lalu aku bermimpi tentang Nining. Aku juga dihampiri oleh perwujudannya. Terus kemarin, aku lihat dia tampak sehat. Dia juga bercerita banyak kepadaku, tak seperti kesan pertama yang aku lihat tentangnya yang begitu tertutup. Namun, justru di situlah aku merasakan ajalnya sudah dekat. Aku tahu, tetapi aku menolak tahu. Dan, seharusnya kemarin aku lebih lama menemani dia bercerita,” tangisku kembali deras.
“Sudah, Ya. Kamu tidak perlu merasa bersalah.” Dani terus menenangkanku.
Aku sadar kematian bukan kuasa manusia untuk menghentikan atau mengatur kapan ia harus menjemput. Tetapi, Nining pergi tanpa sempat merasakan kembali kehadiran orang tuanya. Dia juga meninggalkan awan kelabu terkait hubungannya dengan Mas Bimo. Aku begitu iba melihat penderitaan yang dia bawa hingga nafas terakhir.
Gelisah pun mendera. Tak tahu harus ke mana untuk memberikan informasi kepergian Nining kepada keluarganya. Tak ada jejak kontak yang aku dapat. Ponselnya pun entah di mana. Menurut petugas RSJ, Nining dibawa hanya dengan pakaian yang menempel di badannya, tak ada benda lain yang melekat.
Pak Ustad menuturkan jika jenazah Nining harus segera dikebumikan demi kebaikannya di alam kubur. Namun, kami juga bingung di mana Nining akan dimakamkan. Sementara tak ada yang tahu nasabnya.
Akhirnya, aku tercetus untuk memakamkan Nining di depan rumahnya. Jika suatu waktu orang tuanya kembali, mereka tahu di mana anaknya berada.
Kami pun – aku, Pak Ustad, Dani, dan petugas pria RSJ yang menghubungiku – melaju ke lokasi rumah Nining. Banyak hal yang harus diurus, seperti penggalian liang kubur, koordinasi dengan ketua RT dan warga setempat, hingga proses sholat jenazah untuk Nining. Kami juga berharap warga sekitar ada yang tahu atau bisa menghubungi orang tua Nining maupun kerabatnya yang lain.
Pak RT setuju jika Nining dimakamkan di depan rumahnya sendiri. Sayangnya, warga enggan membantu menggali kubur dan men-sholat-kan jenazah Nining. Alasannya, Nining telah mencemari nama kampung dengan kerap bertandang ke rumah dukun.
Untungnya, Pak Ustad berhasil mengajak sebagian warga agar mau mengurus jenazah Nining. “Bagaimana pun, sudah kewajiban umat Muslim untuk membantu sesamanya terutama dalam hal pengurusan jenazah. Suatu saat kita pun akan dipanggil Yang Maha Kuasa,” jelas Pak Ustad di hadapan warga.
Kemudian, ada salah satu warga yang melakukan panggilan video dengan orang yang disebut ibu dari Nining. Dia mengabarkan jika Nining sudah meninggal dunia. Suasana menjadi haru ketika ibu Nining menangis tersedu-sedu dan memohon anaknya dimakamkan setelah dia kembali ke Indonesia. Sayangnya, dia juga tidak tahu kapan akan bisa pulang.
Hal yang lebih miris dan mencengangkan, ternyata orang yang mengabari ibu Nining yaitu bibi Nining sendiri, adik dari ibunya. Aku tak habis pikir, dia tinggal satu kampung dengan Nining, namun abai dengan kondisi keponakannya.
Memang benar Nining menggunakan sihir untuk balas dendam, tetapi sikap bibinya jelas tidak bisa dibenarkan. Ia seharusnya menuntun keponakannya pada jalan hidup yang benar, bukan malah membuat Nining semakin menderita.
Segala yang sudah terjadi tak bisa ditarik kembali. Sesal pun tak berarti lagi. Hanya doa dan keihklasan yang dibutuhkan Nining menuju keabadian.
Akhirnya, jenazah Nining dimakamkan pada pukul 17.07. Semua proses pemakaman berjalan lancar. Warga pun belajar dari kasus Nining untuk lebih peka terhadap tetangga. Bukan penghakiman yang harus didahulukan, melainkan pendekatan secara persuasif untuk saling mengingatkan dan membantu sesama dari masalah yang tengah dihadapi.
Warga kembali ke rumah masing-masing usai jenazah Nining tertutup sempurna dengan tanah. Aku pun berusaha tak lagi meratapi kepergian Nining.
Langit menyongsong malam. Angin berhembus kencang. Pohon-pohon bergesekan. Daun-daun berjatuhan ke tanah. Lalu, suara keributan terdengar dari dalam rumah Nining.
Aku bangkit untu melihat apa yang terjadi. Namun, Dani menarik tanganku. “Mau ke mana kamu, Ya?”
“Aku mau lihat di dalam rumah Ninng ada apa?”
“Jangan, Ya! Lebih baik kita segera pulang.” Dani semakin erat menggengam tanganku.
“Kamu nggak dengar, Dan? Di dalam rumah Nining ada suara benda berjatuhan dan pintu-pintu yang terus dihentakkan. Aku harus lihat, Dan.”
“Ya, lebih baik kita pulang. Tidak ada siapa-siapa di dalam sana. Lagi pula, semuanya sudah selesai.” Dani berupaya menarikku, sedangkan aku mempertahankan diri karena terdorong oleh rasa penasaran.
“Kamu mau bilang aku berhalusinasi?”
Dani membentakku, “Aku dengar yang kamu dengar juga, Ya. Justru karena itu lebih baik kita pulang.” Kemudian, dia menggeser wajahku agar memandangnya. “Kamu pandang wajahku! Aku dengar suara keributan itu. Dari tadi aku berusaha menahan rasa takut, Ya. Ini pengalaman pertamaku merasakan tubuh begitu merinding. Mungkin kamu penasaran, tapi tolong rasakan ketakutan aku juga.”
Aku terdiam. Sungguh egois jika aku tidak menghiraukan yang Dani rasakan.
Kami pun memutuskan untuk segera beranjak dari rumah Nining. Rumahnya semasa hidup dan juga rumahnya yang abadi. Aku tidak tahu suara yang ada di rumah Nining berasal dari apa. Namun, aku berharap itu pelepasan benda-benda sihir yang pernah Nining gunakan semasa hidup untuk mengguna-gunai Mas Bimo.
Selepas menyeberangi jembatan, aku membalikkan pandangan, melihat kembali tempat tinggal Nining. Tampak dia mengenakan pakaian putih sambil meggendong bayi berdiri di depan pintu rumahnya. Dia terus melambaikan tangan kanannya ke arahku. Aku balas dengan senyuman.
__ADS_1
***
Aku tak sekali pun merespon chat maupun telepon dari Mas Bimo semenjak aku tahu tentang kebejatannya dari Nining. Aku berusaha menahan diri hingga nanti bertemu dengannya langsung.
“Dan, aku bisa minta tolong tanyakan alamat rumah Mas Bimo di Malang!” pintaku ketika melihat Dani sedang memainkan ponsel di kamarnya.
“Ada apa, Ya? Kamu mau ke sana?”
“Iya, Dan.”
“Nggak, Ya. Kamu nggak boleh pergi ke sana. Sekarang aku bisa membaca raut wajahnya yang kesal”, tatapnya tajam.
Aku mencoba menjelaskan motifku ingin segera bertemu dengan Mas Bimo. “Dan, sudah 3 hari Nining pergi dan dia masih menghantui mimpiku.”
“Ya, kenapa kamu jadi pendendam begini?”
“Dan, aku nggak dendam. Aku hanya ingin Mas Bimo minta maaf kepada Nining?”
“Gimana caranya? Nining udah meninggal?” Dani tampak kesal.
“Pertama, dia harus mengakui kebejatannya. Kedua, dia harus mengunjungi makam Nining dan meminta maaf di sana.”
“Ya, kita tunggu saja dia kembali ke sini.”
Aku bersikukuh ingin Mas Bimo segera menebus dosanya kepada Nining. “Dan, itu masih lama. Ini juga demi kebaikan Mas Bimo.”.
“Oke, oke. Aku chat dia sekarang.”
Tak lama, Mas Bimo membalas chat Dani dengan panggilan telepon. Dani sempat meminta persetujuanku untuk diangkat atau tidak. Tetapi, dia malah tak sengaja mengklik ikon telepon berwana hijau. Dia juga inisiatif me-loudspeaker obrolan dengan Mas Bimo.
“Halo Dan, Arya-nya di mana?” Mas Bimo menyapa dengan pertanyaan.
Aku balik menatap Dani. Memang aku yang meminta dia menanyakan, tapi maksudku tak perlu menautkan namaku.
“Arya lagi ke kamarnya dulu, Mas?”
“Kenapa nggak dia langsung yang tanya ke aku? Dia marah sama aku? Aku telepon, aku WA nggak pernah dibales sama dia berhar-hari sampai sekarang,” tanyanya lantang.
“Oh itu… Mas… Hapenya rusak.” Dani terlalu berinisiatif hingga melemparkan kebohongan.
“Serius?”
“Iya, benar.”
“Jadi, kapan katanya dia mau ke sini? Besok? Bilang aja sama dia nanti tunggu aja di bandara. Aku akan jemput dia. Habis ini tiket pesawatnya akan langsung aku kirim,” terang Mas Bimo.
Aku memberi kode supaya Dani mengatakan tidak perlu mengirimi aku tiket pesawat. Dia malah memberikan ponselnya kepadaku.
“Ini Mas, Arya udah ada.”
“Ya, kamu marah sama aku?”
“Mas, boleh minta kirim alamat rumah Mas!” ucapku datar tanpa menanggapi pertanyaannya.
“Kapan kamu mau ke sini?”
“Besok.”
“Kamu tunggu aja di bandara. Setelah ini, kirimkan dulu nama lengkapmu biar tiketnya bisa aku pesan segera.”
Aku berusaha mempertahankan nada suaraku agar tak meninggi. “Nggak perlu, Mas. Aku udah pesan tiket kereta.”
“Kenapa kamu nggak ngabarin aku dulu, Ya? Kan aku udah janji untuk akomodasinya aku yang tanggung.” Justru suara Mas Bimo yang naik.
“Maaf, Mas. Kami mau makan siang dulu.” Aku mematikan telepon dan mengajak Dani makan siang. Aku tidak berbohong. Hanya menjadikan makan siang sebagai alasan yang memang sudah waktunya mengisi perut.
__ADS_1
Selama makan siang Dani memaksa ikut denganku. Dia tahu maksudku menemui Mas Bimo karena perkara Nining. Aku mengatakan dengan jujur bahwa aku tak ingin melibatkannya, tetapi dia mengungkapkan khawatirkannya jika aku pergi sendiri. Tak ada lagi alasan yang bisa menghalaunya.
Aku terpaksa berbohong kepada ayah jika di kampus masih ada kegiatan, padahal seluruh rangkaian UAS sudah selesai. Aku tak bisa menunda menyelesaikan masalah. Aku harus segera meminta pertanggungjawaban Mas Bimo.