
Kepercayaan, sebuah afirmasi positif yang aku berikan untuk diri sendiri dan kepada orang lain. Pada dasarnya, setiap orang memiliki sifat baik. Hanya saja keadaan dan lemahnya penguasaan diri bisa menenggelamkan sifat tersebut.
Aku memang merasakan hal yang tidak baik yang dirancang oleh Mas Bimo. Namun aku percaya jika dalam hitungan detik hati manusia bisa berubah, tergantung dari sugesti yang diberikan. Sayangnya, upayaku tak berbuah manis.
Tubuhku kuyup dan berlapis tanah basah. Tangan dan kaki pun terikat erat. Aku tersudut kembali dalam bahaya.
Saat mencoba berlari dari kepungan Mas Bimo dan teman-temannya, aku terjatuh akibat tanah yang licin terkena guyuran hujan. Dengan cepat mereka berhasil menangkapku. Lalu, aku dikurung di dalam rumah Nining layaknya seorang tawanan.
Salah satu teman Mas Bimo mengusapkan celurit tajam di leherku. “Dek, jangan takut dong! Anggap aja ini OSPEK.”
Dia mencoba melakukan intimidasi. Aku tahu itu, dan berusaha tetap tenang. Pasalnya, jika aku terpancing dengan permainan mereka, justru aku akan semakin dijadikan bahan perundungan.
Kemudian, Mas Bimo menimpali. “Arya, kenapa harus mencoba lari? Coba kalau kamu tadi diem aja, mungkin kita bisa berdiskusi seperti teman.”
Apa? Seperti teman? Padahal aku sudah mengganggapnya lebih dari teman, seperti saudaraku sendiri. Bahkan ketika aku tahu keburukannya, perasaanku dalam memandangnya masih sama. Dalam peribahasa Sunda diungkapkan, "Buruk-buruk papan jati: hade goreng dulur sorangan". Maknanya baik atau buruk suadara kita, dia tetap layak mendapatkan maaf. Memang kami tidak memiliki hubungan darah, tetapi menjalin hubungan persaudaraan sudah hakikat manusia dalam kehidupan sosial, kan?!
Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan. Terkadang perilaku buruk terulang bukan karena keinginan hati dari orang tersebut, melainkan karena cap atau label yang diberikan orang di sekitarnya. Ketika tidak ada yang percaya jika dia bisa berubah, itu seolah memberi motivasi untuknya menjadikan perbuatan buruk (menyimpang) sebagai identitas. Maka dari itu, aku percaya dalam nurani setiap orang pasti ingin menjadi individu yang baik.
“Kenapa diam aja?” tanya lagi Mas Bimo sembari mengangkat daguku. “Arya, katanya kamu bisa memprediksi masa depan. Tapi kenapa kamu bisa masuk dalam perangkapku?”
Aku mengalihkan pandangan, masih tak mau menanggapi perkataannya. Jangan sampai timbul benih kebencian di hatiku yang nantinya menggumpal menjadi dendam.
“Sebenarnya aku nggak tega loh kayak gini sama kamu. Gimana pun kamu orang yang udah sangat baik sama aku. Tapi sayangnya, kamu udah tahu rahasiaku, dan membocorkan kepada Dani, kan?” imbuhnya.
Aku tetap memilih diam. Namun tak disangka, salah satu teman Mas Bimo menyeretku. Dia menarik rambutku sangat kencang. Aku menahan diri dari luapan rasa sakit.
Dia menempatkanku di kamar mandi. Setelah itu, dia juga menendang kepalaku hingga membentur dinding cukup keras. Di situlah, aku tak bisa lagi menahan kesakitan dan kontan merintih.
“Siapa yang suruh nendang dia kayak gitu? ****** (brengsek)!” Mas Bimo memarahinya.
“Sorry Bos, nih anak soalnya dari tadi sok kuat banget,” kilahnya.
“Awas, minggir semuanya!” perintah Mas Bimo.
Mas Bimo menyeringai kepadaku. Sungguh aku tak menemukan akal agar dia menghentikan kekejiannya.
“Arya, gimana caranya bikin kamu amnesia? Apa dengan mencongkel otak kamu? Tapi nanti kamu mati dong. Aku nggak mau dicap sebagai pembunuh,” senyumnya buas bak seekor singa yang berhasil menekuk buruannya.
Aku tahu pikirannya sedang kalut. Itu terpancar dari nada dan bahasa tubuhnya.
“Istigfar, Mas!” suruhku pelan.
“DIAM!!!” balasnya dengan membentak.
Aku tak gentar menghadapinya, justru aku semakin terpantik untuk bersuara. “Padahal aku percaya jika Mas Bimo bisa berubah. Apa yang membuat kamu seakan tak percaya diri untuk memulai hidup yang baru, Mas?”
“Aku nggak suka ada orang yang tahu rahasiaku. Jika itu terjadi, maka aku tidak segan untuk menyingkirkannya,” ucapnya mengancam, “Walaupun kamu udah banyak bantu aku, tapi kamu sangat bisa merusak citraku. Citra yang sudah aku bangun dengan berbagai cara.”
“Citra? Citra sebagai apa? Mahasiswa teladan? Orang baik? Pemuda soleh? Mau sampai kapan ber-acting? Emang Mas Bimo nggak capek menipu diri sendiri?” cecarku dengan pertanyaan yang semoga mampu menerebos mata hatinya.
__ADS_1
Dia menamparku pelan. “Wow! Rupanya anak polos ini mulai menantangku. Kamu semakin menarik, adrenalinku mulai terpacu. Selama ini nggak ada orang yang berani sedikit pun membuka kedokku.”
Kali ini, satir harus dilawan dengan satir. “Kenapa mereka nggak berani? Karena mereka takut dijebak terus dibawa ke rumah kosong dan diikat di kamar mandi seperti aku saat ini. Eh, sorry, bukan karena itu. Tapi karena mereka…” lirikku kepada 4 orang teman Mas Bimo, “Mereka nggak peduli kamu mau jadi penjahat atau iblis sekalipun. Bagi mereka, selama Mas Bimo bisa dimanfaatkan untuk mengisi perut dan memberi hiburan, itu sudah cukup. Mereka bukan ingin menjadi teman Mas Bimo, namun hanya ingin menjadi follower. Kalau sudah bosan, tinggal unfollow.”
“Jangan sembarangan kalau ngomong!” ancam teman Mas Bimo yang tadi menendangku. “Kita selesain aja sekarang, Bos. Nih bocah lama-lama jadi makin songong.”
Mas Bimo mengalihkan pandangannya. Dia menghindari kontak mata denganku. “Bos? Itu sudah jelas, kan? Kenapa bukan panggil nama atau bro atau panggil lainnya yang setara? Bukankah kalian sebaya? Semalam Mas Bimo bilang mereka teman Mas Bimo. Tapi kok sikap mereka seperti anak buah ya,” ucapku sinis.
Mereka berempat mendekat dan seakan hendak melayangkan pukulan kepadaku. Namun, Mas Bimo mengangkat tangan untuk menghalangi mereka.
Tapi ternyata, Mas Bimo malah menarik rambutku hingga memaksa kepalaku menengadah ke langit-langit. “Sekarang kamu sudah mulai pandai membalikkan kata. Di mana sopan santunmu yang dulu? Atau kamu penasaran dengan takdirmu?”
“Arrkkkkh…” Dia menarik rambutku dengan kuat. Rasa sakit yang sebelumnya masih menganga semakin bertambah.
Melihat aku mengerang kesakitan, dia melepaskan jambakannya. “Maaf, aku lupa. Yang tadi aja masih sakit kan ya?”
“Sadar, Mas! Perilakumu sudah di luar batas.”
Dia membalikkan badan. “Cari gunting, cepat!”
Dia menyuruh 4 ajudannya mencari gunting, untuk apa? Hatiku mulai tak tenang.
“Ini aja Bos pake celurit,” sahut salah satu dari mereka.
“Aku pengennya gunting. Cepet cari!”
Tak ada harapan untuk bisa meloloskan diri. Hanya doa yang bisa aku kirim ke langit, memohon pertolongan dari Tuhan.
“Jangan, Mas! Istigfar!” pintaku kala ia mengacungkan gunting di depan wajahku.
“Kok kamu ketakutan begini. Tadi kamu lantang sekali bersuara.”
Ya, aku tak bisa menyembunyikan kepanikan kala ia mulai menggunting baju yang aku kenakan. Tatapannya pun begitu zalim. “Jangan bunuh aku, Mas! Itu dosa besar. Aku bilang istigfar, Mas. Nyebut! Kamu udah dirasuki setan.”
“Tenang! Aku kan udah bilang nggak akan membunuhmu. Maksudnya nggak akan membunuhmu secara langsung. Aku akan buat kamu seperti Nining. Mati dalam keadaan tidak waras.”
Dia menarik kembali rambutku. Perlahan, guntingnya berputar di kepalaku. Aku berupaya menghindar dengan menggeleng-gelengkan kepala.
“Cukup, Mas. Hentikan!”
“Kenapa? Kamu takut tak terlihat tampan lagi?”
“Lepasin aku, Mas! Aku mohon. Sekali lagi, lepasin aku!”
Mas Bimo pun berhenti mencukur rambutku secara serampangan. Orang yang aku kira baik, mampu mengaburkan kepercayaan yang aku benamkan kepadanya.
Dia dan teman-temannya sudah merencanakan penyekapan ini. Aku pun berusaha untuk tabah, karena menyesali tak mengikuti kata hati tidak akan mengubah keadaan.
“Harusnya kamu memohon sebelum ide untuk melenyapkanmu muncul di kepalaku.”
__ADS_1
Tiba-tiba pintu rumah membuka dan menutup sendiri. Diikuti suara benda berjatuhan ke lantai. Mereka semua tampak terkejut dan was-was.
“Kita pulang aja yuk, Bos. Sepertinya para penunggu rumah ini mulai bermunculan,” ajak salah satu dari mereka yang mengikatku dengan tali tambang.
Kupejamkan mata dan atur nafas. Kulafalkan doa dalam hati. Ini semua bukan akhir. Aku harus percaya akan kuasa-Nya.
Aku terhentak kala melihat bayangan Mas Bimo mengalami kecelakaan. Walaupun aku kesal kepadanya, tetapi aku tak bisa abai dengan instuisiku.
“Besok pagi aku ke sini lagi buat bawain kamu makanan dan kita main-main lagi ya,” ucapnya seraya berdiri, “Jadi, malam ini nggak masalah kan tidur di tempat gelap begini? Kan kamu udah biasa melihat sosok astral. Minta aja bantuan mereka biar kamu bisa keluar dari sini. Atau kamu panggil arwah Nining biar bisa kamu ajak ngobrol semalaman. Hahaha…”
“Mas, aku mohon jangan pulang sekarang. Aku punya firasat nggak enak tentang kamu di jalan.”
“Oh, kamu pengen ditemenin? Kalau gitu memohonlah dengan kata-kata yang mampu membuatku iba.”
“Aku serius, Mas.”
“Emangnya aku bakal kenapa? Kecelakaan? Mati? Dari dulu juga kamu ngomong kayak gitu. Buktinya aku masih baik-baik aja, kan. Eh tapi, berkat wejangan dari kamu juga sih aku jadi lebih hati-hati. Terima kasih ya, adikku tersayang,” ucapnya mengejek dengan menepuk pipiku dua kali.
Mereka pergi. Energiku terkuras habis. Aku hanya bisa tidur dan berharap akan datangnya keajaiban. Mereka tak hanya mengikat tangan dan kakiku, mereka juga melakban mulutku sebelum pergi.
Jelas, aku tak mau berakhir seperti ini. Aku yakin akan datangnya uluran tangan dari Tuhan.
Hati manusia ibarat sungai. Meskipun permukaannya tampak tenang, tetapi di dalamnya mungkin ada arus yang kuat. Pikiran bisa tampak dari permukaan wajah, namun sifat bisa sangat manipulatif – sulit ditebak.
Suasana di rumah Nining memang mengerikan. Aku menangkap kehadiran mereka. Semoga mereka hanya memperhatikan. Aku pun tak akan tergoda memohon bantuan selain kepada Tuhan.
Ah, lebih baik aku berusaha tidur agar sel-sel tubuhku bisa melakukan pemulihan. Kuabaikan segala kepahitan, kegelapan, dan kekecewaan.
Tak kusangka, aku mampu tertidur tanpa penerangan. Hingga terbangun ketika mendengar suara ayam berkokok. Sayangnya, aku tak bisa mengira waktu dan melihat fajar.
Badanku mulai menggigil hebat. Aku berusaha merangkak keluar dari kamar mandi, mencari tempat yang lebih hangat. Namun, upaya yang aku lakukan hanya menghabiskan tenaga. Sudahlah, aku pasrah. Aku harus bisa menggunakan sisa tenaga dengan efisien.
Kemudian, terdengar suara pintu terbuka. Lalu, langkah kaki berdetak selangkah demi selangkah. Apakah itu Mas Bimo? Atau orang lain? Aku menguatkan pendengaranku.
“Tos lami ditinggalkeun, bumi teh meni acak-acakan kieu (sudah lama ditinggalkan, rumah menjadi berantakan begini),” ucapnya.
Suara seorang wanita. Siapa dia? Aku coba pancing lewat suara yang bisa aku keluarkan sebagai kode untuk memanggilnya, seperti membenturkan kepala dan menghentakkan badan ke dinding.
“Nining, maafin Mama ya!” lanjutnya dengan suara terisak.
Aku kuatkan lagi panggilanku. Langkahnya pun terdengar semakin dekat.
Dia histeris ketika mendapati aku terduduk di kamar mandi tak berdaya. “Saha maneh (siapa kamu)!”
Aku menganggukkan kepala agar dia membuka ikatanku terlebih dahulu. Namun, dia malah berlari keluar.
Tak lama, dia kembali lagi dengan seorang pria. Dengan sigap pria itu melepaskan semua ikatan yang mengunci pergerakanku.
“Aa siapa? Kok bisa ada di sini?” tanya Ibu Nining dengan wajah panik.
__ADS_1
“Udah jangan ditanya-tanya dulu. Si Aa kelihatannya lemah banget, kita bawa ke klinik dulu aja.” Pria itu pun menggendongku ke dalam mobil dan langsung membawaku untuk mendapatkan perawatan.