
Aku tahu Dani belum sepenuhnya percaya dengan firasat yang aku rasakan. Aku bisa memahaminya. Siapa pun meyakini jika kematian merupakan rahasia Tuhan yang tidak diketahui oleh manusia.
Jika manusia tahu kapan kematian akan datang, maka sebelum ajal menjemput, dia akan menjadi taat untuk mengejar surga. Tapi bukankah kita juga sering mengungkapkan suatu firasat setelah orang terdekat kita meninggal?
Aku percaya jika orang yang akan meninggal dunia sebenarnya menunjukkan tanda-tanda kepergiannya. Umumnya dia sudah menunjukkan tanda tersebut dari mulai 40 hari sebelum dirinya tiada. Memang tidak semua orang bisa mengenali tanda tersebut. Aku pun sempat sangsi jika bisa melihat aura kematian pada diri sesorang. Namun, berbagai kejadian yang aku alami seolah berakumulasi menjadi sebuah teori.
Tanda atau ciri yang tampak dari orang yang mau meninggal – yang acapkali – aku rasakan yaitu adanya perubahan sikap yang ditunjukkan orang tersebut dan hawa dari tubuhnya terasa dingin. Jika ia dalam kondisi sakit, seminggu sebelum kematiannya ada hari di mana ia merasa badannya bugar. Ia menyadari hidupnya tidak akan lama lagi dan ia pun berusaha menyampaikan “wasiat” kepada keluarga atau orang terdekatnya. Bisa juga ia justru meminta dipertemukan dengan keluarga atau saudara atau orang terdekatnya. Ia ingin menatap mereka untuk terakhir kalinya di dunia. Selain itu, ketika tidur tangannya berupaya untuk membuka baju yang ia kenakan, karena ia tahu pakaiannya akan segera berganti.
Pada orang yang sehat, ciri yang biasanya aku rasakan yaitu ia seperti dilanda kebingungan. Sikapnya akan terasa berbeda, bahkan aneh. Jika biasanya dia orang yang mudah bersosialisasi, ia tiba-tiba menarik diri dan cenderung menyendiri. Ia akan tampak seperti orang linglung, padahal itu dikarenakan ingatannya mulai berkurang atau hilang.
Pertanda lain yang aku rasakan akan datangnya kematian seseorang yaitu melihat sosoknya yang tampak berbeda. Bukan hanya dari perubahan sikap dan perilakunya, tetapi perwujudan dia yang tak terlihat dalam pandangan orang lain. Ini memang cukup sulit dijelaskan dan diterima nalar.
Apa aku bisa merasakan aura kematian pada jiwa setiap individu? Tidak. Insting tersebut muncul begitu saja. Hal ini juga membuatku ragu untuk bercerita kepada siapa pun.
Lalu, apakah orang yang akan meninggal dunia tahu bahwa Tuhan segera memanggilnya? Dalam pandanganku, mereka tahu Malaikat Izrail sedang begitu dekat dengan dirinya, mereka hanya buta kapan waktunya. Maka dari itu, ada yang mempersiapkan diri dan ada yang tak sempat melakukan persiapan karena berharap itu hanya sangkaan batinnya.
Kematian bukanlah sebuah fiksi, ia sesuatu yang pasti menghampiri setiap makhluk yang bernyawa. Tetapi terkadang kita dihadapkan ketakutan yang luar biasa. Takut tak bisa bertemu dengan orang-orang yang mengisi hidup kita dan takut tak bisa menyentuh surga karena dosa semasa di dunia.
Aku tak bisa mengubah takdir, namun aku pun berpikir jika usaha yang aku lakukan merupakan bagian dari takdir. Aku akan mencoba mengatakan penglihatanku kepada Mas Bimo. Namun, apakah dia akan percaya jika aku katakan kematian sedang mengincarnya? Pun jika dia percaya, apakah takdir akan berubah? Atau jangan-jangan peristiwa tragis yang akan menimpanya – seperti yang ada dalam intuisiku – terjadi justru karena ucapanku yang menambahkan beban di pikirannya?
Aku coba telepon Mas Bimo untuk sekadar mengetahui kabarnya. Menelepon orang terlebih dahulu memang bukan kebiasaanku.
“Hallo, Ya. Ini benar kamu telepon aku?” sapanya dengan tanya begitu tersambung.
“Iya, hallo Mas. Mas Bimo apa kabar?
“Kabar baik. Ada apa, Ya? Maaf, ini tumben banget kamu telepon.”
“Nggak ada apa-apa, Mas. Cuma mau tanya kabar Mas Bimo aja.” Aku tidak boleh membuatnya bertanya lebih banyak kepadaku. “Lagi ngapain, Mas?”
“Lagi rebahan aja. Banyakin istirahat buat sidang minggu depan.”
Mas Bimo mengubah mode suara ke video. Lalu, dia menunjukkan gambar dirinya yang sedang berbaring di kasur. Aku mengamati setiap sudut potret dirinya yang tampil di layar ponsel.
“Mas Bimo, hari apa balik ke Bandung?”
“Rencananya sih lusa, hari Kamis.” Mas Bimo balik menatapku. “Ya, kamu lihat aku serius banget kayak ada sesuatu. Ada apa, Ya?”
“Mas, Mas Bimo nanti naik bus atau naik kereta?” Aku berusaha mengendalikan ekpresiku dari kepanikan yang seketika menyergap pikiran.
“Aku mau naik motor dari sini ke Bandung.”
“Motor?” Aku kaget. Batinku mengatakan dia tidak boleh berkendara sendiri.
“Iya.”
“Sendirian, Mas?”
“Iya. Kenapa, Ya?”
Kalau aku langsung mengatakan jika ada sesuatu tidak baik tengah mengintai hidupnya, aku yakin dia tidak akan lantas memercayai hal itu.
“Emmm… Apa nggak lebih baik Mas Bimo naik kereta atau bus a…tau pe….sa….wat gitu?” Ucapanku mulai terbata-bata.
“Aku udah lama nggak motoran, Ya. Di rumah juga motor jarang ada yang pakai. Kan sayang kalau cuma dianggurin, nanti bisa turun mesin. Mending aku bawa ke Bandung”, ungkapnya. Kemudian, gelagatnya mulai heran menatapku. “Kenapa sih, Ya?”
Apa aku katakan saja sejujurnya? Aku merasa mengendarai motor dari Malang ke Bandung lebih riskan. Itu jarak yang sangat jauh.
__ADS_1
“Maaf, Mas! Aku nggak bermaksud mengatur rencana Mas Bimo. Tapi apa nggak coba dipikirkan lagi rencana Mas Bimo itu? Butuh waktu sehari semalam kan untuk sampai ke sini? Apa lagi Mas Bimo sendirian, pasti akan sangat melelahkan,” paparku.
“Ya, makasih ya kamu udah khawatir sama aku. Rencananya, aku akan banyak berhenti di beberapa titik kok di sepanjang perjalanan. Jadi, mungkin sampai Bandung malah di hari Minggu.”
Aku sudah tak punya amunisi lagi untuk mencegah Mas Bimo mengendarai motor. “Aku minta maaf ya, Mas. Pokoknya Mas Bimo hati-hati aja di jalan.”
“Iya, Ya.”
Sambungan telepon pun ditutup. Sementara aku terus berusaha mengontrol emosi. Aku harus tetap bersikap tenang.
Kemudian, aku beranjak ke kamar Dani untuk mendiskusikan sikap apa yang sebaiknya aku ambil. Akan menemukan solusi atau tidak, intinya, aku harus mencoba terlebih dahulu.
“Dan…” panggilku sambil mengetuk pintu kamarnya.
“Masuk, Ya!” Terdengar suara Dani agak berat dan disertai batuk.
“Kamu sakit, Dan?”
“Iya nih. Badanku agak meriang.”
“Kamu udah minum obat?”
“Belum.”
“Ya udah, kamu tunggu bentar ya! Aku belikan kamu obat dulu”, ucapku sembari mengatur posisi tidurnya dengan meninggikan bantal sedikit. “Kamu udah makan belum, Dan?”
“Udah, barusan.”
“Oke. Aku pergi dulu ya, Dan!”
Aku bergegas ke warung yang ada di sebrang kost untuk membeli obat flu. Sepertinya Dani terserang gejala flu. Padahal tadi pagi dia terlihat masih sehat. Begitulah, penyakit bisa datang kapan saja.
“Terima kasih ya, Ya! Maaf jadi merepotkanmu.”
“Itulah gunanya teman, Dan. Sekarang kamu istirahat aja ya!”
Aku tidak mungkin mengajak Dani membicarakan hal yang serius mengingat kondisinya yang sedang tidak fit.
Hari berganti malam. Aku menyuruh Dani tidur, malah aku pun ikut tertidur.
“Dan. Bangun dulu, Dan! Udah mau Isya.”
Dani membuka matanya sambil ber-istigfar. “Astagfirullah…”
“Aku Maghrib-an di atas ya. Sekalian mau mandi dulu.”
“Oke, Ya.”
Aku bergegas sembahyang Maghrib dilanjutkan Isya. Nyaris saja kami ketinggalan waktu Maghrib.
Setelah sembahyang aku segera kembali ke kamar Dani untuk mengingatkan dia minum obat lagi dan menanyakan makan malam yang dia mau. Namun begitu membuka pintu kamar, udara terasa begitu dingin. Suasana pun mendadak berubah sunyi. Padahal sebelumnya suasana masih cukup ramai.
Teman-teman kost yang lain juga tak terdengar ada di kamarnya. Bahkan aku pun tak mendengar ada suara yang menggema di sekitar kost. Menghening begitu saja. Sangat aneh!
Tubuhku merinding mendapati kondisi yang tak wajar. Aku berlari menuju kamar Dani.
Kubuka pintu kamar Dani. Aku kaget setengah mati. Dani kejang-kejang dengan mulut berbusa.
__ADS_1
Aku langsung berusaha menolongnya. Aku pegang lehernya dengan tangan kanan dan topang badannya dengan tangan kiri, namun Dani terus meronta. Tubuhnya sangat dingin dan terasa mulai kaku. Aku sangat panik dan ketakutan.
Dalam pikiranku, aku harus segera membawa Dani ke rumah sakit. Tetapi, aku butuh bantuan untuk mencarikan kendaraan untuk mengantarnya.
Aku coba meminta pertolongan kepada penghuni kost yang lain. Tetapi tak ada respon. Aku panggil satu per satu nama mereka. Tak ada yang menyahuti. Tak ada orang lain kah di kost? Aku pun mengetuk dan menyusuri semua pintu kamar di lantai 1 dan lantai 2 untuk memastikan. Tak ada jawaban sama sekali. Ke mana orang-orang? Kenapa bisa tiba-tiba menghilang secara serentak? Tak ada tanda keberadaan siapa pun yang tertangkap mata.
Aku makin frustasi. Kemudian, saat di lantai 2, terdengar suara pintu menutup dengan kencang dari bawah. Aku langsung menuju sumber suara, tetapi masih tak tampak ada orang lain.
Aku lantas memeriksa dua kamar mandi bawah yang tertutup. Mungkin ada seseorang di situ, pikirku. Saat kubuka, tak ada siapa pun juga. Apa yang sebenarnya terjadi? Namun, apa pun itu, aku harus menolong Dani terlebih dahulu.
Aku kembali ke kamar Dani, dia masih kejang-kejang. Ditambah ia pun mengerang kesakitan. Aku berpikir untuk menggendong Dani dan membawanya fasilitas kesehatan terdekat terlebih dahulu yaitu poliklinik kampus.
Saat berusaha mengangkat tubuh Dani, terdengar suara seseorang membuka pintu yang terkunci. Aku rebahkan kembali tubuh Dani untuk memastikan, mungkin ada pertolongan datang.
Mas Bimo? Aku terperangah. Ia membuka pintu kamarnya, lalu masuk, kemudian menutup pintunya lagi. Katanya dia baru akan kembali lusa. Apa dia mengubah rencananya? Ah, itu bisa ditanyakan nanti.
Kupanggil namanya berkali-kali sambil menggedor pintu kamarnya. Tetapi tak ada umpan balik yang diterima. Padahal sangat jelas aku lihat dia masuk ke kamarnya. Tidak mungkin dia tidak mendengar suaraku.
Lalu, aku coba mengungkit gagang pintu kamarnya. Seperti terkunci dari dalam, pegangannya keras. Namun aku tak putus asa, terus saja kucoba membuka pintu. Setelah beberapa kali dipaksa, pintunya terbukanya.
Hah! Kosong? Padahal sangat jelas kulihat Mas Bimo membuka pintu, dan masuk ke kamarnya. Apa ini? Seketika aku menjadi gagap.
Kulihat lagi Dani. Badannya sudah diam, tetapi matanya masih melotot dan mulutnya terus mengeluarkan busa diikuti suara erangan yang semakin keras.
Area kompleks pun sunyi. Warung depan kost tutup. Semua rumah bak tak berpenghuni. Tidak mungkin. Baru setengah delapan malam, tetapi suasana seperti tengah malam. Aku berlari keluar kost sambil berteriak minta tolong. Tak ada siapa pun juga. Air mataku semakin bercucuran.
Kemudian, pandanganku mengarah ke sebuah rumah. Feelling-ku berkata ada seseorang di sana. Aku langsung berjalan menghampiri rumah tersebut, rumah kost yang pernah ditinggali oleh almarhumah Teh Yuli.
Pagarnya tertutup, namun pintu depannya terbuka. Aku yakin ada seseorang yang bisa membantuku.
Benar saja, seorang pria tua keluar dari dalam rumah. Posturnya tinggi, mengenakan jubah putih, dan sorban yang diikatkan di kepala.
Tetapi, aku merasa ada yang dengan kakek tersebut. Kenapa beliau muncul dari rumah itu?
Sudahlah! Fokusku yaitu agar Dani segera mendapatkan pertolongan tambahan. Aku simpan semua pertanyaan ganjil di kepalaku.
“Pak! Tolong saya, Pak! Teman saya sakit. Saya harus segera membawanya ke rumah sakit. Saya mohon tolong teman saya, Pak!” pintaku sambil berjalan ke arahnya.
Beliau hanya melambaikan telapak tangan luar sebanyak tiga kali. Sebuah isyarat untuk aku pulang saja.
Jarakku hanya tinggal beberapa langkah menuju kakek tersebut. “Pak! Saya mohon, Pak.” Aku tidak tahu harus memelas ke siapa lagi.
“Mulih (pulang)! Enggal (cepat)!” Beliau bersuara dengan lantang. Setelah itu, beliau pun kembali ke dalam rumah dan menutup pintu.
Langkahku terkunci. Ke mana lagi aku harus mencari bantuan. Tangis semakin tak tertahan.
Tidak! Aku tidak boleh menyerah. Aku pun segera berlari ke kost.
Apa lagi ini? Pintu kamar Dani kenapa tertutup? Siapa yang menutupnya?
Saat kubuka, Dani tengah duduk di atas kasur sambil memainkan ponselnya. Kemudian, dia berdiri menyambutku. Hah? Apa aku baru saja bermimpi? Tapi kejadiannya tidak terputus.
“Ya, kamu dari mana aja? Aku ke kamarmu, tapi kamu tidak ada. Aku telepon kamu, tidak diangkat juga,” ucapnya dengan kondisi yang tampak bugar.
Aku hanya bisa memandangnya tanpa kata. Ada ucapan syukur yang mendalam, karena Dani baik-baik saja. Tetapi, segudang pertanyaan bersemayam di pikiran.
Kemudian, suasana menjadi riuh kembali. Aku mulai mendengar suara teman-teman, suara dari rumah di sekitar kost, dan suara kendaraan yang melintas. Apa sebenarnya yang terjadi?
__ADS_1
“Ya… Arya… Kamu kenapa bengong aja dari tadi? Kamu juga kelihatan habis nangis. Ada apa, Ya?”
Dani terus bertanya. Sementara di otakku pun penuh dengan keganjilan. Peristiwa yang baru saja kualami, entah mimpi, halusinasi, atau peristiwa beda dimensi.