
Aku ingin tidak peduli, tetapi aku takut untuk berlari. Seakan semua semakin menghantui, tapi tak menjelaskan fenomena yang terjadi. Bagaimana aku bisa menghindari, sementara hidup bagai berada di dua dimensi.
Rumah Nining masih menyimpan misteri, dan aku tak diperbolehkan untuk kembali. Konon, rumah tersebut memang haram untuk dijejaki oleh warga sekitar. Semenjak ayah dan ibu Nining pergi untuk bekerja, tak pernah sekali pun mereka pulang untuk menengok anaknya. Mereka rutin mengirim uang kepada Nining, tetapi tak pernah memperhatikan psikologisnya.
Beredar rumor jika Nining mengalami depresi akibat berbagai tekanan yang ia dihadapi. Dia merindukan sosok kedua orang tuanya. Dia juga mengalami pengkhianatan dalam percintaan dan pernah menjadi korban asusila. Warga sebenarnya tidak abai dengan kondisi Nining, hanya saja tak pernah ada yang berani mendekatinya.
Banyak warga mengaku sering meihat penampakan di rumah Nining. Beberapa bisa jatuh sakit hanya karena bertemu dan menyapa Nining. Bagi mereka yang “bisa melihat”, jiwa Nining katanya terkunci di alam lain. Sosok yang tampak bukanlah jiwa Nining yang sebenarnya.
Aku sangat ingat saat pertama kali bertemu dengannya. Dia memang tampak aneh. Namun, aku tak berani berasumsi lebih jauh.
Setelah mendengar cerita dari warga sekitar tempat tinggal Nining, aku pun menurut dan menahan hasrat untuk kembali ke rumah angker itu. Agar batinku tenang, aku terus melakukan stimulasi positif dalam otakku.
Aku cukup lama melamun di Alun-Alun Kota Bandung hingga tak terasa hari sudah malam. Setelah check up di rumah sakit, aku memutuskan melihat pemandangan. Meihat berbagai sisi kehidupan yang mejemuk. Berupaya menyibukkan pikiran dengan menyaksikan keseharian manusia.
Sesampainya di kost, Dani menyambutku di pintu gerbang. Sontak aku sangat terkejut.
“Ya, kamu dari mana jam segini baru pulang?” Dani menunjukkan jam di ponselnya. Tertulis pukul 19.30.
“Habis dari rumah sakit, kontrol,” jawabku.
Dani masih belum puas dengan jawabanku. “Kok bisa pulangnya malem banget, Ya?”
Aku tahu dia khawatir. “Tadi mampir ke alun-alun dulu,” jelasku sambil menyunggingkan senyum.
“Ngapain di alun-alun? Kok nggak minta temenin sama aku?”
“Tadi habis UAS, aku langsung ke sana.” Energiku terasa habis terkuras.
“Coba lihat!” Dani mengangkat kemejaku. “Lukamu kayaknya jadi lebih parah, Ya? Bukannya kemarin jahitannya udah kering.”
“Nggak, Dan. Kan emang butuh waktu lama buat sembuh,” tepisku.
“Aku ngerasa belakangan ini kamu aneh. Semalam kamu nggak pulang ke kost, karena katanya nginep di rumah teman. Sekarang pulang malam. Jika ada yang mengganjal di pikiranmu, aku selalu siap jadi pendengar,” ucapnya dikuti dengan menepukkan tangan di pundakku.
“Iya, Dan. Nanti aku cerita. Sekarang aku duluan ke kamar ya. Aku ngantuk banget,” pamitku kepadanya. Mataku sudah mengajak merebahkan badan di kasur.
“Iya, Ya. Selamat istirahat!”
Aku hanya bisa mengangguk untuk meresponnya.
Sebelum tidur, aku tunaikan shalat Isya terlebih dahulu. Berharap ketika besoknya terbangun, semua masalah mendapatkan titik temu.
Saat tiba di alam bawah sadar, aku mengalami mimpi yang sangat aneh. Nining mengajakku ke rumahnya. Paras dan pembawaannya sangat berbeda. Dia jauh lebih ceria, penampilannya pun anggun dan cantik dengan balutan kaftan putih. Tak tergambar ada kesedihan yang terpancar dalam dirinya. Ini kah potret dia sesungguhnya? Aku nyaris tak mengenalinya.
Nining tidak mengatakan sepatah kata pun. Dia hanya menunjukkan foto-foto masa kecilnya. Wajahnya tampak sumringah menunjukkan kaleidoskop hidupnya ketika anak-anak hingga remaja.
Lalu, dia mengajakku ke belakang rumahnya. Suasana cerah berganti malam yang pekat. Dia pun menghilang begitu saja.
Aku lihat di bawah rerimbunan pohon pisang ada seseorang menggali tanah, lalu membenamkan sesuatu. Dia menangis tanpa henti. Ketika kudekati, dia berbalik badan. Nining? Dia meringis melihatku. Aku mencoba menelisik apa yang dia kubur. Sesuatu yang dibalut kain putih. Apa itu manusia?
Nining berlari ke arahku dan hendak mencekikmu. Aku sulit menghidnari serangannya yang tiba-tiba. Aku pun terbangun saat kedua tangannya berada di leherku.
Alhamdulillahilladzi ahyaanaa ba’da maa amaatanaa wa ilahin nushur. Aku panjatkan doa sembari mengatur nafas.
Keringat membasahi seluruh tubuh. Aku merasa jika pengalaman itu bukan sebuah mimpi biasa. Ya, aku tahu mimpi itu bisa berupa perwujudan realita dan ekspektasi di dunia nyata. Namun, aku merasa itu begitu nyata. Seolah ada pesan tersembunyi yang ingin disampaikan Nining kepadaku.
Ah, lebih baik aku ambil wudhu untuk menenangkan hati. Ketika aku memutar keran air untuk mulai menyucikan diri, terdengar ada yang memanggil namaku. Aku selesasikan proses penyucian terlebih dahulu, barulah memeriksa pemanggil tersebut.
Namaku masih bergaung di udara. Suaranya asing di telingaku. Aku berpikir sejenak. Suara perempuan yang lembut, siapa dia? Aku coba dengarkan kembali dengan saksama, mengidentifikasi suaranya berdasarkan rekaman yang ada di kepalaku. Sumbernya berasal dari bawah (lantai 1). Mungkinkah aku masih di alam mimpi? Antara penasaran dan perasaan jika itu mungkin merupakan sebuah godaan dari mereka.
__ADS_1
Tidak! Aku menjaga diri supaya tidak tergoda untuk menghampiri. Itu bukan panggilan dari manusia. Jelas ada hawa penampakan jin yang menyergap kulit dan menembus batin.
Kumantapkan pikiran untuk membuang rasa penasaran. Percuma untuk ditelusuri, lebih baik kembali ke kamar untuk menyambung istirahat.
Mataku terbelalak. Tepat di depan kamarku, ada seorang perempuan menunduk sambil menangis. Aku menarik nafas panjang. Apa yang diinginkannya dengan menampakkan diri di hadapanku? Semoga tidak terjadi. Aku merasakan aura kematian lagi di sekitarku.
“Mau ngapain kamu di sini?” Aku memberanikan diri bertanya dengan bulu kuduk yang merinding hebat.
Dia tak menjawab. Aku memalingkan muka karena tak ingin melihatnya. Dia bukan penghuni kost urutan sebelas dan seterusnya.
Tak lama, kulihat lagi dia sudah tidak ada. Aku lekas masuk kamar dan melafalkan doa supaya dihindarkan dari gangguan mereka yang tak kasat mata.
Siang harinya, aku berpikir untuk menjenguk Nining di RSJ. Seperti ada yang menggiringku untuk segara menemuinya. Semoga dia bisa diajak bicara. Setidaknya, ada informasi tentang Teh Yeni yang bisa aku korek darinya.
Setiba di RSJ, aku mengaku sebagai teman Nining. Petugas pun mengizinkan aku bertemu dengannya, tetapi dengan pengawasan ketat. Awalnya, petugas mengatakan tidak ada siapa pun yang diperkenankan membesuk Nining, karena khawatir keselamatan pembesuk terancam.
Emosi Nining sangat tidak stabil, dia kerap histeris dan menangis, terkadang mengamuk tak terkendali. Setelah melakukan lobi, petugas mengajakku ke sebuah ruangan untuk mengobrol dengan seorang yang menaruh dendam kepada Mas Bimo.
“Arya, mau ngapain kamu ke sini?” tanya Nining begitu melihatku. Suaranya bergetar pedih.
“Ning, bagaimana kabarmu sekarang?” Aku balik melontarkan pertanyaan tentang kondisinya. Namun, dia malah merespon dengan menangis.
“Apa aku terlihat bahagia berada di sini?” satirnya.
“Kamu bisa memulai hidupmu yang baru.”
“Sudah terlambat,” isaknya.
“Dari mana kamu tahu jika sudah terlambat?”
Nining mengusap air matanya. Dia tampak berusaha untuk mengungkapkan kesedihannya. “Sudah tak ada lagi yang merindukan kehadiranku. Mama dan Bapak pergi meninggalkanku sendiri di rumah. Kata mereka, mereka bekerja untuk memenuhi kebutuhanku. Namun, aku juga butuh sosok mereka. Tahun ke tahun aku sabar menanti. Ternyata, kehidupan tak sama lagi. Tak ada lagi harapan untuk berfoto bertiga seperti dulu.”
“Mereka sudah bercerai dan masing-masing sudah memiliki pasangan baru. Aku tahu setelah melihat foto-foto mereka di Facebook. Mereka tak mengatakan apa pun kepadaku, bahkan tak berusaha menjelaskannya. Aku terus hidup dalam kepura-puraan. Menutup mata, menganggap semuanya mimpi. Aku sudah tak lagi berharga bagi mereka sehingga tak satu pun yang mengabariku. Mereka rutin memberiku uang setiap bulan. Padahal, aku juga butuh sosok mereka di sampingku.” Matanya semakin berderai.
Caranya bertutur mengindikasikan tekanan yang hebat yang dia alami selama hidupnya. Dia berusaha dengan sekuat tenaga agar mampu bertahan, tetapi tak ada support dari sekitar yang membantunya untuk tetap tegar.
“Ning, aku tahu tak ada tempat mengadu lagi seperti dulu merupakan tekanan yang berat. Namun, kamu bisa memulainya lagi dengan menunjukkan ke mereka jika kamu perempuan yang hebat. Kamu juga masih memiliki teman yang mewarnai hidupmu. Selama ini, kamu merasa sendiri karena kamu yang menarik diri. Setidaknya – kamu pernah bercerita – ada orang yang menjadi teman dan pelindungmu kan di kampus.” Aku berusaha memberinya semangat, meski aku tahu dia juga butuh lebih dari sekadar kata-kata.
“Siapa?” mimiknya berubah heran.
“Mas Bimo,” ucapku halus.
“Bimo? Hahaha….” Dia malah tertawa. “Kamu tahu, dia telah mencampakanku. Aku sudah mengatakan berkali-kali jika Bimo tak sebaik yang kamu kira. Dia manusia yang acting-nya begitu sempurna,” terangnya dengan nada pilu.
Aku menjadi bertanya-tanya, apa yang mendasari opini Nining tentang Mas Bimo yang begitu berbeda dengan yang aku rasakan? Misterius. Namun, Nining pun terlihat tidak sedang mengada-ada. “Bimo mencampakkanmu? Bukankah kamu yang merasa cemburu, lalu menjauhinya.”
“Kamu memang terlalu polos. Kamu telah dibodohi olehnya. Aku memang cemburu, tapi aku juga sadar diri.” Nining menarik nafas panjang. “Aku pikir dia malaikat yang dikirimkan Tuhan untuk membantuku bangkit. Ya, berkat dia aku bisa bangkit dari kondisi keluargaku yang hancur. Dia selalu memberiku semangat untuk melalui cobaan yang aku alami. Tetapi, dia juga yang membuatku kembali hancur hingga lebih berserakan seperti sampah. Dia telah membuat hidupku berantakan seperti ini. Dia memberiku angin surga yang ternyata itu hanya tipu daya. Karena pada akhirnya, dialah membuatku hidup seperti di neraka.”
Walaupun aku merasa jika Nining tidak mengarang cerita, tetapi aku perlu menyelidikinya terlebih dahulu. Setidaknya, ada kata kunci untuk memulai investigasi dari sisi Mas Bimo.
“Selama ini aku lihat Mas Bimo orang yang baik. Sorry, aku sedang tak memihak siapa pun,” ucapku tenang.
“Jujur, aku kasihan kepadamu.”
Aku singkirkan sejenak tentang Mas Bimo tanpa bermaksud mengalihkan topik atau menghentikan ceritanya. Tujuan utamaku menemuinya bukan untuk membicaran Mas Bimo, meski informasi itu juga cukup penting. “Ning, sebenarnya ada hal lain yang ingin aku tanyakan.”
“Apa?”
“Setelah peristiwa kita di malam itu, bagaimana kabar Teh Yeni?”
__ADS_1
“Dia mati,” ketusnya.
Aku menatapnya dengan tajam, “Ning, kamu jangan main-main!”
“Aku berharap dia juga mati.”
“Jadi, Teh Yeni baik-baik saja kan?” Aku meminta klarifikasi.
“Kenapa kamu tidak temui dia aja langsung?”
“Kamu tahu rumahnya?”
“Di Buah Batu, Jalan Saturnus No. 20.”
“Terima kasih infonya, Ning.”
Aku berdiskusi dengan nurani. Mengatur rencana untuk melangkahkan kaki setelah dari tempat ini.
“Aku minta maaf, malam itu telah melukaimu. Aku mengira kamu itu Bimo,” ujar Nining. Dia menghadapkan wajah ke bawah seakan merasa begitu berdosa.
“Aku sudah memaafkanmu. Tapi, aku masih belum mendapati alasan pasti kenapa dendammu kepada Mas Bimo begitu besar.” Aku yakin dia masih ingin menyambung cerita tentang Mas Bimo.
“Dia…… Aaaaaaakkkkhhhh!” Nining histeris dan berusaha mengobrak-obrak ruangan tempat kami bertemu.
Petugas segera membawa Nining ke ruangan khusus. Sebesar itukah kebenciannya kepada Mas Bimo? Cinta yang telah menjadi abu berganti dendam yang begitu menggebu.
Aku memtuskan pergi karena kondisi Nining kembali penuh emosi. Namun, aku meninggalkan nomor teleponku dan meminta petugas jaga mengabari perkembangan kondisi Nining. Ada rasa iba yang menjalar dalam pikiran kala menatap sorot matanya secara langsung.
Nining mampu bertutur dengan tenang di awal perbincangan. Bahkan dia seperti ingin bercerita banyak tentang kehidupannya. Sayangnya, ketika menyebut nama Mas Bimo, dia begitu emosional seakan ada dendam yang begitu dalam tertanam di hati. Untuk mengungkap hal tersebut, aku harus bersabar menunggu kondisinya membaik.
Banyak kegundahan dalam diri Nining yang bermetamorfosa menjadi belenggu yang begitu hebat yang mengikat jiwanya. Tampak sulit untuk mengajaknya keluar dari lembah hitam. Namun, sulit bukan berarti tidak ada harapan.
Mengingat raungannya di rumah sakit, berita yang tersebar di lingkungan rumah Nining tampaknya bukan isapan jempol. Jiwa Nining sudah dikuasai oleh “teman baiknya”. Teman yang ada juga pada diri setiap manusia. Sejak ia diciptakan hingga mati.
Betul, Jin Qorin. Jin yang berasal dari golongan setan. Ia senantiasa mendorong manusia untuk melakukan dosa dan maksiat. Nining sudah ada dalam kendalinya. Itulah mengapa bahasa tubuhnya penuh dendam.
Sekalian arah jalan pulang, aku memantapkan diri untuk menengok Teh Yeni di rumahnya. Aku ingin membuktikan informasi dari Nining,
Setiba di alamat yang diberikan oleh Nining, aku sempat takjub, ternyata rumah Teh Yeni ada di kompleks elit. Rumah besar bertingkat berjejer nan mewah. Tak mudah masuk kawasan itu. Di pos satpam, aku sempat diinterogasi terkait tujuan rumah yang akan dikunjungi, siapa yang ingin ditemui dan ada keperluan apa, bahkan harus menitipkan KTP sebagai jaminan.
Setelah menekan bel dan menunggu sekitar 10 menit, ada juga yang menghampiri. Dia pun langsung bertanya. “Maaf, cari siapa ya?”
“Ini benar rumahnya Yeni?”
“Iya, benar. Aa siapanya?”
“Saya teman kuliahnya. Teh Yeni-nya ada di rumah, Bu?”
“Emmm… Neng Yeni… Lagi… Lagi…. Lagi pergi ke luar kota.” Dia gugup. Jelas ada hal yang ditutupinya.
“Kapan dia balik lagi ke sini, Bu?”
“Emmm… Nggak tahu, A. Udah ya, saya masih banyak kerjaan di dalam.” Dia menghindari untuk aku tanya.
Aku pun pasrah. “Baik. Terima kasih informasinya, Bu.”
Saat aku memutuskan pulang, kucoba mengintip dari celah pagar. Ada perempuan duduk di teras sambil bermain handphone. Betul, itu Teh Yeni. Dugaanku benar, ART (asisten rumah tangga) tadi berbohong atau mungkin diminta untuk berbohong.
Sudahlah, intinya aku sudah tahu jika Teh Yeni baik-baik aja. Tujuanku untuk memastikan kondisinya sudah tercapai.
__ADS_1