
Hidup itu bagaikan perjalanan selembar daun yang terlepas dari ranting pohon. Sebelum menyentuh tanah, ada angin yang akan menyeretnya. Semakin tinggi tempatnya terjatuh, semakin jauh ia akan tersapu. Pun, ia tak selalu jatuh dalam keadaan kuning dan kering. Semakin kencang angin yang berhembus, semakin dekat ia dengan perpisahan. Ia tak bisa memilih, karena alam yang menentukan.
Ibarat kematian, ajal bisa kapan saja menjemput. Pertanyaannya, sudah siapkah menghadapi panggilan-Nya? Sudah seberapa banyak bekal pahala yang dikumpulkan untuk meraih surga? Setiap manusia pasti berharap menghadap Ilahi dalam keadaan terbaik, bahkan tanpa ada rasa sakit.
Kucoba rekap percakapan dengan Mang Bahri tadi malam. Tentang Mak Iroh yang misterius, seperti memiliki dua jiwa dan hidup di dua dimensi. Aku terpacu untuk membuktikan hal tersebut. Juga memberi keyakinan pada diri bahwa pengalaman spiritual yang pernah aku alami nyata terjadi, bukan ilusi atau tipuan pikiran.
Langkah yang harus aku lakukan yaitu berkunjung ke rumah Mang Bahri. Instingku mengatakan aku harus ke sana jika ingin tahu lebih banyak tentang Mak Iroh dan kejadian di baliknya. Aku tak bermaksud mengungkit kehidupan orang yang sedang tidur dengan tenang. Aku hanya mengikuti kata hati untuk mengungkap misteri.
Aku mengendap-endap keluar rumah. Kulihat Ayah sudah tertidur di kamarnya. Jika Ayah terbangun, aku tidak akan leluasa pergi. Akan ada banyak pertanyaan yang diajukannya agar pintu terbuka, seperti mau ke mana, ketemu siapa, tujuannya apa. Aku paham kekhawatiran Ayah, namun aku merasa masih seperti anak kecil di matanya.
Kubuka pintu perlahan, seseorang berdiri di hadapanku. Wajahnya tampak ketakutan.
“Mang Bahri! Ada apa ke sini?” tanyaku pelan.
“Maaf Ya kalau Mamang ganggu kamu malam-malam begini,” jawabnya gemetaran.
“Ada apa, Mang?”
“Boleh ikut ke rumah Mamang sebentar? Mungkin kamu bisa menjelaskan apa yang terjadi di sana? Mamang nggak tahu harus ke siapa,” ajaknya dengan bergidik ngeri.
Secara kebetulan, aku memang berniat ke rumahnya. “Ayo, Mang!”
Di perjalanan, Mang Bahri bercerita jika ada hal aneh di rumahnya. Ketika hendak masuk setelah pulang kerja, terdengar gaduh di dapur. Dia langsung memeriksa, dan begitu kaget melihat piring dan gelas berhamburan di lantai. Awalnya, dia mengira itu ulah tikus atau kucing. Namun setelah dicari, tak ada tanda atau suara yang menggaung dari salah hewan tersebut.
Kemudian – lanjutnya – di kamar almarhum ibunya terdengar ada suara dua orang perempuan yang mengobrol. Pas kamarnya dibuka, tidak ada siapa pun. Padahal dia sangat yakin mendengar suara tersebut.
Setiba di depan pintu, aku merasakan energi yang sangat kuat bersemayam di dalam rumah Mang Bahri. Lalu, terdengar gemuruh diikuti berbagai keributan lain seperti saling melempar benda-benda yang terbuat dari kaca.
“Kamu masuk duluan ya, Ya!” serunya.
Kakiku tertahan ragu untuk langsung membuka pintu. “Sebentar! Apa Mamang nggak dengar ada suara berisik di dalam?”
“Justru itu, Mamang jadi makin takut.”
“Apa kita coba panggil orang lain?”
“Tapi siapa, Ya?”
Kembali atau memberanikan diri? Bismillah. Tahu lebih cepat, maka akan lebih baik.
Aku buka pintu dan berjalan masuk selangkah demi selangkah, dan Mang Bahri mengikuti dari belakang. Kemudian, terlihat bayangan hitam melaju dengan cepat ke arahku. Aku tak bisa menghindari.
Kepalaku terasa pusing akibat serangan itu. Pandanganku berubah samar. Aku terus menggoyangkan kepala agar memperoleh kesadaranku kembali.
Tak lama, mataku mampu melihat dengan normal lagi. Namun, aku berada di tempat yang lain. Di sebuah kamar yang dipenuhi makanan. Terdengar juga suara musik menggema dengan keras. Sepertinya di sebuah hajatan. Tapi bagaimana aku bisa sampai ke tempat ini?
“Mak, itu bolunya udah dipotongin belum? Cepet atuh, Mak! Tamu-tamu makin rame di luar, jangan sampe kita kaisinan (malu) karena jamuannya kurang. Geura atuh Mak mun gagawe teh (Lebih cepat kalau bekerja, Bu),” perintah perempuan muda dengan suara berteriak.
Aku amati orang yang dimarahi perempuan itu. Ternyata Mak Iroh. Rupanya aku dibawa pada kejadian di masa lampau yang dialami Mak Iroh.
“Iya, Neng. Sabar! Udah Neng di depan aja, bagian dapur mah ada Emak,” ucapnya tenang tak tersulut sedikit pun.
Kemudian, seorang pria datang. Ya, itu Mang Bahri.
“Naha (kenapa) Emak ada di dapur? Emak itu harusnya ada di depan, nyambut tamu. Ini kan ibu kamu juga, Lilis. Harusnya dalam acara seperti ini keluarga tuh nggak perlu ngurusin dapur. Keterlaluan kamu, Lis!” Nadanya langsung tinggi melihat sang ibu tertunduk.
“Wajar kali A kalau Emak bantu-bantu konsumsi. Lagian ini kan acaranya Lilis. Tamu yang datang juga kan tamu-tamu Lilis bukan tamu Emak.” Wanita yang merupakan adik Mang Bahri makin mencak-mencak. Sangat terlihat ia tak terima dinasehati.
Tangan kiri Mang Bahri mengepal, telapak tangan kanannya terbuka dan siap mengayun. Untung saja, hal yang ditakutkan tidak terjadi.
“Udah, Ri. Malu banyak orang. Jangan sampe buat adikmu malu juga!” ucap Mak Iroh dengan santun menengahi.
Teh Lilis pun berlalu dengan wajah kesal. Sementara, mata Mang Bahri berkaca-kaca dan wajahnya memerah. Terlihat jika dia menahan amarah dan rasa kecewa.
Mak Iroh cukup peka menyadari raut wajah Mang Bahri. Dengan mengembangkan senyum, ia meminta si sulung mengerti. “Ri, kamu bantu-bantu lagi di depan. Kamu harus bisa memaklumi adikmu. Namanya juga orang hajatan, pasti ripuh (repot) mikirin sana sini.”
__ADS_1
Mang Bahri pun mengangguk dan berjalan keluar. Setelah tinggal seorang diri, Mak Iroh mulai meneteskan air mata. Namun, tangannya tetap telaten mempersiapkan kue untuk diberikan kepada tamu yang datang. Sungguh sebuah ironi. Seorang ibu yang seharusnya turut merasakan kebahagiaan, justru harus tabah dengan perlakuan anaknya.
Hari berangsur gelap. Latar pun berubah dengan cepat. Seketika aku berada di depan sebuah minimarket. Belum tuntas pikiranku mencerna satu perkara, aku dibawa ke tempat yang lain. Apakah semua tentang peristiwa silam yang dialami Mak Iroh? Mungkin scene yang disuguhkan hakikatnya untuk menjawab rasa penasaranku juga.
Tepat di depanku, Mang Bahri memberi instruksi agar ibunya duduk di kursi yang disediakan di sudut minimarket. “Mak, tunggu aja dulu di sini ya. Jangan ke mana-mana!”
Mak Iroh menunggu sambil memijat kening. Ia juga sesekali memegangi perut. Aku menduga Mak Iroh merasa lapar. Benar saja, ia – kemudian – berjalan dengan agak tertatih mengarah ke seberang jalan.
Mak Iroh melambaikan tangan kepada tukang sate. Ia mengacungkan dua jari yang maksudnya dua porsi. Celakanya, ketika menyebrangi jalan, ia malah sibuk mencari uang di tasnya, bukan menengok ke kanan dan kiri memperhatikan kendaraan yang lewat.
Boom!!! Seorang pengendara motor melaju dengan kecepatan tinggi. Posisinya yang sudah segaris dengan Mak Iroh membuatnya kesulitan menghindar.
Begitu pun dengan Mak Iroh yang tak berkutik. Ia tak menyadari ada bahaya di depan mata. Tanpa ampun, motor tersebut menghantam badannya hingga terlempar cukup jauh. Si pemotor sempat terjatuh, tetapi ia dengan cepat bisa bangkit lagi dan melarikan diri. Kejadian yang aku saksikan persis dengan yang diceritakan Mang Bahri.
Aku ingat, Mang Bahri juga mengatakan jika tak ada luka apa pun di tubuh ibunya. Terdengar mustahil. Terpelanting ke aspal dengan sangat keras, tapi tak mengalami lecet sedikit pun.
Aku mendekati kerumunan untuk memastikan kebenaran. Ketika Mang Bahri mengangkat tubuh ibunya dengan berderai air mata, kulihat memang benar tak ada luka atau pun darah yang keluar. Aku begitu tercengang sembari larut dalam suasana yang mengharu biru.
Sulit untuk dipercaya. Tetapi, bukankah semua peristiwa yang aku alami juga selalu sulit untuk dipercaya? Betul. Acapkali kejadiannya melintasi batas logika manusia.
Aku membalikkan badan untuk menelaah segala yang ditangkap mata. Lalu, aku terbelalak kala pandanganku lurus kepada seorang wanita baya yang juga memandang ke arahku. Dia duduk dengan menampa piring berisi sate di tangannya. Mak Iroh? Tubuhku bergetar hebat.
Di lokasi kecelakaan masih ramai orang yang membantu evakuasi Mak Iroh, tetapi di hadapanku dia tampak tenang. Aku bolak-balik melihat keduanya, memvalidasi mana sosok Mak Iroh yang sesungguhnya.
Tiba-tiba, aku sudah berada di depan pintu kamar Mak Iroh dengan setting yang masih malam. Entah apa lagi yang ingin ditunjukkan, aku mulai merasa tidak tahan.
Mak Iroh duduk di depan cermin sambil merapikan rambutnya. Tatapannya begitu sinis, jelas bukan seperti Mak Iroh yang kukenal.
“Geus maneh cicing bae di dinya, ulah hayang pipilueun! Ayeuna pasrahkeun weh ka urang. (Kamu diam saja di situ, jangan ikut-ikutan! Sekarang, pasrahkan saja kepada saya),” ucapnya.
Lalu, terdengar ada yang membalas ucapan Mak Iroh. “Ulah ganggu kaluarga urang (jangan ganggu keluarga saya). Gue pengen pulang, lepasin gue. Gue udah kagak betah begini,” balasnya berteriak. Selain dari intonasi, percampuran bahasa yang diucapkan kentara sekali sebagai bentuk perlawanan akibat mengalami tekanan begitu hebat.
Aku mencoba mendekat. Aku benar-benar penasaran dengan siapa Mak Iroh berbicara. Apa mungkin ada seseorang di dalam cermin? Atau beliau hanya sedang monolog? Tetapi, mulutnya tertutup ketika ada suara yang membalas makiannya.
Sosok di depan cermin tampak bengis, sedangkan sosok di dalam cermin kebalikannya, wajahnya bersimbah air mata. Tanpa sadar, aku menyapa sosok yang ada di dalam cermin karena kurasa itulah jiwa yang asli. “Mak Iroh….” lantunku rendah.
Mak Iroh yang ada di depan cermin menoleh ke arahku, lalu bangkit dan berjalan ke arahku. Wajahnya menyeringai, tangannya tegak mengarah kepadaku seakan ingin mencekik.
Aku berusaha lari. Namun, aku kalah cepat dengannya. Tangannya berhasil mencengkram leherku.
Aku berusaha melepaskannya, hanya saja tenaganya sangat kuat. Aku mulai kesulitan bernafas. Dengan terengah-engah, kulafalkan Ayat Kursi dalam hati.
Kemudian, bruuuuk!!! Aku merasakan tubuhku terjatuh ke lantai. Segera kubuka mata. Leherku masih terasa sakit hingga membuatku terbatuk-batuk. Syukurlah, aku bisa kembali.
Mang Bahri membantuku bangun dan menyodorkan segelas air putih.“Kamu kenapa, Ya?” tanyanya cemas.
“Nggak apa-apa, Mang,” jawabku lemas.
“Mamang tadi panik banget Ya lihat kamu. Mamang takutnya kamu kesrurupan soalnya kamu tiba-tiba berdiri kayak patung, terus matamu sesekali mendelik.”
Aku sandarkan tubuh ke dinding sambil mengatur nafas. Aku dibawa ke masa lalu, tetapi ada hal yang ganjil. Kenapa aku bisa diserang oleh sosok yang aku lihat? Sepertinya ada yang masih tertinggal di rumah ini.
“Benar kamu nggak kenapa-kenapa, Ya?”
Aku mengangguk pertanda tak ada yang perlu dikhawatirkan dariku.
Aku lantas mencoba berdiri, walaupun nafas masih tak beraturan. “Mang, tolong antar Arya ke kamar Mak Iroh.”
Mang Bahri keheranan. “Ada apa, Ya?”
Aku sedang tak memiliki banyak tenaga untuk memberi penjelasan.
Ketika masuk di kamar Mak Iroh, mataku hanya tertuju pada cermin besar yang menyatu dengan lemari. “Mang, hancurkan cermin itu!” seruku tersengal.
“Ada apa emangnya, Ya?”
__ADS_1
“Mamang percaya aja sama Arya sekarang ya!”
Mang Bahri langsung mengambil kursi ke ruang tamu, lalu menghujamkannya tanpa ampun ke cermin. Aku menjaga jarak agar tak terkena serpihannya.
“Udah, Ya?”
Aku mengangguk. Badanku terasa lemas. Baju yang kukenakan pun makin dibanjiri keringat.
Praak, praak, praak!!!! Beberapa figura yang menempel di dinding jatuh. Mang Bahri kembali ketakutan. “Ada apa ini, Ya?”
Kuambil figura yang jatuh di dekatku. Kubalikkan untuk melihat foto yang terpasang. Foto setengah badan dari Mak Iroh yang mengenakan kebaya persis seperti yang aku lihat semalam. Aku tersenyum menatapnya. Ada perasaan lega menyapa pikiran.
“Mang, Arya pulang ya!” Aku butuh mengistirahatkan badan.
“Ya, nginep di sini aja. Temenin Mamang. Mamang masih takut banget ini.”
Aku bukan tidak kasihan, tetap aku takut diinterogasi Ayah jika tidak pulang. “Mang, tenang aja. Udah nggak ada apa-apa kok!”
“Tapi, Ya…”
“Mang, maaf ya Arya harus cepat pulang. Maaf juga nggak bisa bantu beresin semua ini.”
“Iya, Ya. Mau mamang antar?”
“Nggak usah, Mang.”
Aku melangkah kembali ke rumah. Jalanan sudah sepi. Apa sudah tengah malam? Aku keluar dari rumah sekiar jam 9 malam, dan rasanya hanya sebentar di rumah Mang Bahri.
Kutarik gagang pintu perlahan. Semoga tidak seperti malam sebelumnya, Ayah tiba-tiba berdiri di balik pintu.
Huh! Aman, syukurlah.
Cekrek!!! Suara saklar lampu dihidupkan. “Dari mana kamu tengah malam baru pulang?” Suara Ayah lantang bertanya.
“Habis dari luar, Yah?”
“Menghadap ke Ayah!” perintahnya dengan nada yang semakin tinggi.
Antara lemas, takut, dan ngantuk. Tapi sepertinya Ayah tak akan membiarkanku untuk langsung beristirahat.
Ayah mendekat, kemudian memeriksa bajuku. “Ayah tanya sekali lagi, kamu dari mana? Habis olahraga? Atau habis ngapain?”
“Dari rumah Mang Bahri.”
“Ngapain kamu di sana hingga selarut ini? Baju juga bisa penuh keringat begini?”
“Cuma silaturahmi, Yah!”
“Kenapa silaturahmi ke sana malam-malam? Sebenarnya kamu habis ngapain? Tumben-tumbenan kamu main ke rumah orang sampe tengah malam. Sejak kapan kamu seperti ini? Pulang muka pucat, baju lengket bau keringat. Jawab!!!” bentak Ayah dengan terus menembakkan pertanyaan.
Aku terpantik menaikkan nada. “Kalau Arya cerita, apa Ayah akan percaya?”
“Gimana Ayah mau percaya, kamu cerita aja belum.”
Haruskah berdebat di tengah malam dalam kondisi lelah? Itu sama aja aku menyalakan api di tubuh yang disiram bensin.
“Maaf, Yah. Arya lelah. Ayah ingin istirahat dulu,” ucapku dibarengi langkah menuju kamar.
“Arya!” Ayah meneriaki namaku. “Semenjak kamu kuliah di luar kota, sikap kamu mulai membangkang dan tidak sopan sama Ayah.”
Aku berhenti dan bersiap mendengar ocehan Ayah lebih lama. Anggaplah memang benar aku yang salah.
Paaaakkk!!! Tangan Ayah mendarat dengan kencang di pipi kananku. Tak pernah kusangka Ayah akan memukulku. Dengan sisa tenaga yang tersisa, aku berdiri tegar di hadapannya dan menahan tangis.
Ayah menganggap sikapku tak lagi respect kepadanya, padahal aku hanya ingin menikmati sebagian dari kebebasan hidupku. Tak pernah sedikit pun terlintas untuk tidak menghormatinya. Sebenarnya, aku atau Ayah yang berubah?
__ADS_1