
Mas Bimo langsung mengeluarkan jurus. Untungnya, aku bisa menghindar dari semua tinju yang ia arahkan. Namun, ia mampu membuatku bersimpuh dengan tendangan kaki kanannya yang begitu cepat. Aku sama sekali tak bisa menghalau kecepatannya.
“Ini ironis. Kamu sama sekali tak memiliki kemampuan dalam bertarung. Bukan lawan yang sepadan buatku. Sejujurnya, aku malas menghadapi orang payah. Karena apa? Hasilnya sudah jelas,” ejeknya sambil menyilangkan kedua tangan di dada.
“Jangan terlalu cepat merayakan kemenangan, Bimo,” ucapku tersengal-sengal.
“Aku bukan sedang merayakan kemenangan. Aku tak perlu itu, karena dari awal sudah terlihat jelas siapa pemenangnya. Gini aja, aku berikan kamu pilihan. Mati di sini atau nurut sama aku untuk memperpanjang nafas.”
Aku menyunggingkan bibir, membalas sinis ucapannya. “Mati di sini atau nurut sama kamu? Gimana kalau yang terjadi justru kamu yang akan tinggal di sini menemani Nining untuk menebus dosa.”
“Bangsat!” cacinya.
Dia berjalan cepat untuk melancarkan serangan lanjutan, sedangkan aku menunggu kesempatan untuk melakukan serangan balasan. Aku berdiri dengan penuh keyakinan.
Kukira dia akan melancarkan tinju atau tendangan lagi. Padahal aku sudah siap menangkisnya, karena pergerakannya sudah mulai bisa terbaca. Tetapi, ia justru mencengkram kerah bajuku. Aku tahu, dia hendak membanting tubuhku.
Kakinya lumayan terbuka. Sebelum dia menjatuhkan tubuhku ke tanah, aku yang akan melakukan itu terlebih dahulu terhadapnya. Kubalas menarik kerah bajunya, lalu memajukan kaki kanan di antara dua kakinya yang terbuka. Ini kesempatanku.
Brukkk! Ternyata, kakinya bertumpu dengan sangat kuat di tanah. Pertahanannya benar-benar kokoh.
Aku gagal. Benar saja, dia yang malah mampu menjatuhkan tubuhku ke tanah. Seketika aku dalam situasi tercekik. Lengannya menahan leherku dan kakinya mengunci pergerakan tubuhku.
“Hem… Bodoh!” seringainya.
Dia meninju pipiku dua kali. Aku tak boleh menyerah dalam situasi konyol ini. Dia bisa dengan mudah menghabisiku jika aku terus dalam posisi bertahan. Sementara tenagaku sudah terkikis banyak sebelumnya.
“Sakit?” tanyanya dengan mimik mengolok.
Aku tegakkan wajahku. “Istigfar, Mas!”
Dia menamparku. “Jawab, adikku sayang. Bukan malah memerintah! Katanya cerdas, tapi kok ditanya malah nggak bisa jawab. Udah pasrah? Nih, ajal kamu sekarang lagi ada di tangan aku. Tapi, aku masih berbaik hati. Pilihan yang tadi masih berlaku. Jadi tentukan pilihan secepatnya. Waktuku nggak banyak.”
Ketika dia mengoceh, di situlah kinerja pikirannya mulai lengah. Aku kumpulkan semua tenaga yang tersisa, lalu melepaskan kunciannya. Dia pun tersungkur dengan seranganku yang tiba-tiba.
Keadaan berbalik. Kudorong tubuhnya ke atas pusaran Nining. Seperti ada yang membisikkan untuk membawanya menghadap kepada orang yang pernah ia sakiti.
Aku berhasil membalikkan keadaan, tetapi jelas tak mungkin bertahan lama. Keringat semakin deras bercucuran, energi sudah hampir mencapai batas, dan nafas pun begitu tersengal.
“Sekarang, aku yang akan menawarkan pilihan,” ucapku membalas kesombongannya. “Tinggal di sini atau minta maaf. Bukankah kamu mengatakan ingin ziarah ke makam Nining dan meminta maaf sama dia?”
“Bedebah! Baru berhasil menyerang sekali aja kamu sudah belagu.”
“Kata orang, terlalu banyak bicara akan membuatmu mati,” ledekku.
“Brengsek!”
Dia berupaya bangkit. Aku merasakan kekuatannya yang begitu dahsyat. Dia pun mampu mendorongku hingga tubuhku terpelanting cukup jauh.
Tak berhenti di situ. Kemudian, dia mencabut nisan Nining. Matanya melotot penuh bara. Urat tangannya terlihat menonjol kuat.
Dia menghampiriku seperti hendak menghunuskan papan tersebut ke perutku. Aku sudah tak berdaya. Jangankan untuk lari, bergeser untuk menghindar pun rasanya sudah tak sanggup. Aku hanya bisa berdoa dan membaca Syahadat.
Namun saat dia melakukan aba-aba dengan melayangan tangan ke atas, tiba-tiba saja ia terjatuh. Kakinya seperti ada yang menyeret kembali ke atas gundukan makam Nining.
Terima kasih, Tuhan. Berkali-kali aku lolos dari kemalangan, ujarku dalam hati.
Mas Bimo berteriak panik. “Arya… Arya… Tolong aku, tubuhku seperti ada yang menarik. Aku nggak bisa gerak.”
Diam. Aku tak merespon erangannya.
Dia tak henti memohon pertolongan dan terus mencoba meraihku dalam posisi tengkurap.
“Sakit. Kakiku sakit. Tolong Arya, ada yang menarik kakiku. Tolong, aku mohon!” Matanya tampak berlinang.
__ADS_1
“Maaf, Mas. Aku benar-benar lemas. Aku pulang dulu ya. Mau makan, ganti baju, dan lainnya. Kalau ingat, aku nanti ke sini jengukin Mas Bimo. Pesanku, baik-baik di sini.”
“Arya, tolong jangan pergi! Bantu aku. Aku mohon. Aku nggak mau di sini,” rintihnya.
“Teman-teman Mas Bimo yang semalam mengurungku ke mana? Tunggu aja dia ya, Mas!”
Aku bangkit dengan tertatih. Kali ini, aku tak ingin sok menjadi pahlawan. Kuputuskan melangkah tanpa membalikkan pandangan.
“Arya…. Tolong aku! Aku janji akan berubah setelah ini. Aku mohon, Ya! Kamu tahu kan, minggu depan aku wisuda. Aku juga pernah bilang di moment itu aku ingin menjadikannya hari paling bersejarah buatku, karena didampingi orang tuaku. Ya, aku memang penuh dosa. Tapi aku mohon bantu aku untuk menebusnya dengan cara lain. Aku ingin hadir di acara wisuda. Aku ingin melihat ayah dan ibuku tersenyum melihatku memakai toga,” urainya terisak.
Aku terenyuh dengan kata-katanya. Bagaimana pun, setiap orang berhak untuk dibantu menggapai hari baru. Aku pun berbalik badan dan menghampirinya.
“Mas, ucapkan Istigfar dulu, lalu diikuti Syahadat dan bacaan Tauhid!”
“Itu bukan pengantar untukku mati, kan?”
Betul. Entah mengapa ketika aku melihatnya lebih dalam seakan dia tengah berhadapan dengan hari terakhirnya di dunia.
“Mas, ikuti aja dulu ya!”
Dia menurut. Dia mengucap semua yang kusarankan dengan fasih.
“Udah, Ya. Tapi kenapa kakiku masih belum bisa digerakkan,” keluhnya.
“Mas, coba ucapkan permintaan maaf dengan tulus kepada Nining?”
“Bagaimana kata-katanya, Ya?”
“Keluarkan dari hati Mas Bimo.”
Dia terdiam dan mengatur nafas. Mungkin sedang merangkai kata-kata juga. Namun, aku menekankan kata-kata apa pun yang disampaikan harus dengan hati yang tulus.
“Ning, aku tahu kesalahanku kepadamu sudah terlalu banyak. Tapi, aku mohon maafkan aku. Aku janji akan menjalani hidup lebih baik lagi. Aku juga akan minta maaf kepada perempuan-perempuan yang pernah menjadi pelampiasan nafsuku,” tuturnya tersedu-sedu.
Melihatnya menderita, batinku tak kuasa.
Mas Bimo mencoba menggerakkan badannya.
“Ya, aku udah bisa gerak lagi,” peluknya bahagia.
“Syukurlah, Mas! Semoga ini menjadi pembelajaran berharga untuk, Mas Bimo.”
“Tentu, Ya.”
Kemudian, dia melepaskan pelukannya dan berjalan arah pulang. Namun, dia tidak mengatakan sepatah kata pun kepadaku untuk pamit. Apalagi mengajakku pulang bersama. Dia tidak melakukan “basa-basi” sebelum pergi.
Dia berlalu tanpa sekalipun membalikkan badan. Aku bukan mengharapkan imbalan. Aku hanya merasakan kejanggalan.
Sudahlah. Aku memang sempat begitu kesal. Menanggalkan kata sapaan ketika memanggilnya. Namun, itu semata untuk membuncahkan semua amarah dalam jiwaku.
Aku rebahkan diri untuk mengusir lelah. Semoga ibu Nining dan Pak Sigit juga cepat kembali.
Kala kucoba pejamkan mata, terdengar di udara seruan namaku, “Arya…”
Aku pun bangun dan menelisik sumber suara. Ternyata Dani bersama ibu Nining, Pak Sigit, dan satu orang lagi yang mungkin kakaknya. Syukurlah mereka datang.
Dani langsung memangku tubuhku, “Ya, kita bawa kamu ke rumah sakit ya.”
“Nggak perlu, Dan,” tolakku halus. Aku tak mau merepotkan siapa pun lagi.
“Tapi Ya, kamu perlu perawatan segera.” Dani bersikukuh.
“Iya, betul itu,” timpal ibu Nining.
__ADS_1
Aku memang merasakan sakit teramat di sekujur badan, tetapi aku yakin tak perlu harus opname. “Aku cuma lapar, pengen mandi, dan tidur aja.”
“Ya, kami serius.”
“Aku juga serius, Dan.”
“Si Bimo ke mana?” tanya Pak Sigit.
“Udah pulang, Pak,” terangku.
Kemudian, aku dibawa ke rumah Pak Sigit. Katanya, jika aku tak mau dibawa ke rumah sakit, lebih baik aku dirawat oleh dia dan istrinya dulu. Ibu Nining pun memberikan ponsel dan tasku. Dia menemukan benda milikku itu di dalam rumahnya.
Sementara, Dani dan Kakaknya izin kembali ke kost. Kakak Dani bahkan berujar akan membuat perhitungan dengan Mas Bimo. Aku menyampaikan tak perlu untuk memperbesar masalah, karena Mas Bimo sudah bertobat. Mendengar penjelasan tersebut, ia tak percaya begitu saja. Ia pun berkata ingin memastikannya.
Hal yang aku khawatirkan yaitu terjadi perkelahian di antara mereka. Namun, Dani mengatakan aku tak perlu risau. Kakaknya tidak akan sampai gelap mata. Pungkasnya.
***
Setelah bermalam di rumah Pak Sigit, pagi harinya aku pamit kembali ke kost. Pak Sigit menawarkan untuk mengantarkanku, tetapi aku tak nyaman jika harus merepotkan orang lain. Lagi pula, rumah Pak Sigit tidak terlalu jauh dari kostku. Pun, kondisiku sudah membaik. Aku sudah merasa bugar.
Ketika hendak masuk bangunan kost, aku lihat ada mobil polisi. Firasatku mengatakan ada hal yang tidak baik. Apa mereka mau menangkap Mas Bimo? Tetapi kami belum ada yang membuat laporan ke polisi perihal perbuatannya.
Terlihat Dani berbicara dengan salah seorang polisi. Aku bergegas masuk untuk memastikan yang terjadi.
“Ada apa, Dan?” tanyaku lirih.
“Katanya Mas Bimo kecelakaan sejam yang lalu. Diduga dia hendak menyalip bus, namun justru ia tersenggol badan bus. Dia terjatuh dan terlindas bus itu, terus wajahnya pun hancur menyapu aspal. Sekarang jenazahnya ada di RSHS,” jelas Dani bergidik.
Tubuhku mendadak lunglai. “Kita pastikan ke sana yuk, Dan.”
“Nah, justru Pak Polisi ini sedang mencari teman yang bisa membantu mengidentifikasi.”
“Benar. Kalau kalian bersedia melihat ke sana, bisa ikut dengan mobil kami,” ucap Pak Polisi dengan ramah.
“Yuk, Dan,” ajakku lagi.
“Oke. Tapi aku ke atas dulu ya kabari A Ilham, tadi dia lagi ngobrol sama Kak Sandy.”
“Iya.”
Setiba di RSHS, kami langsung diajak ke ruang jenazah. Kemudian, kami disodorkan jenazah yang diduga Mas Bimo. Begitu disingkap, aku tak kuasa melihat wajahnya yang hancur. Aku langsung meminta petugas menutupnya lagi.
Dari pakaian yang dikenakan, itu memang benar Mas Bimo. Baju dan celananya masih sama dengan kemarin. Tragis!
Aku tertunduk lemas. Lagi, aku merasakan ajalnya sudah begitu dekat kemarin. Harusnya aku bisa lebih keras mencegah takdir berjalan sesuai dengan intuisiku.
***
Sepekan berlalu dari tragedi yang begitu mencabik kalbu. Mas Bimo, semoga tenang dalam pangkuan-Nya. Semoga segala kesalahan yang diperbuat mendapatkan ampunan-Nya.
Aku berpakaian rapi untuk menghadiri acara wisuda di kampus. Orang tua Mas Bimo meminta aku menggantikan anaknya. Aku sebenarnya sempat ragu, tapi akhirnya aku mau karena mereka memohon.
Ibu Mas Bimo mengirimkan pesan sudah siap di lokasi inaugurasi. Aku harus cepat-cepat. Aku terlalu gugup sehingga tak memperhatikan waktu.
Perihal sikap, perilaku, dan kehidupan kelam Mas Bimo, aku simpan itu sebagai cerita untukku sendiri. Tak sedikit pun kubuka kepada orang tuanya. Biarlah Mas Bimo senantiasa terpatri di hati mereka sebagai putra kebanggaan.
Aku lekas menuruni anak tangga. Namun, aku tercengang melihat sosok yang berdiri di depan kamar Mas Bimo. Dia menggunakan pakaian rapi sepertiku. Jas hitam, kemeja putih, dasi, celana bahan hitam, dan pantofel hitam.
“Mas Bimo…” sapaku dengan akal tak percaya.
“Baru mau aku panggil. Yuk, acaranya udah mau dimulai nih. Ayah sama ibu aku udah nunggu di sana,” ucapnya tersenyum.
Aku tercengang dengan pemandangan di depanku. Benarkah ini Mas Bimo? Kupegang tangannya, nyata. Aku bisa menyentuhnya. Dia bukan ilusi.
__ADS_1
Jika ini bukan mimpi, lantas peristiwa yang terjadi seminggu lalu, apakah itu imajinasi? Atau realitas dalam beda dimensi?
Semua terasa nyata, namun mengaburkan fakta dan cerita.