Di Sekitar Kita

Di Sekitar Kita
Bab 12: Kesumat


__ADS_3

Bulan purnama begitu terang menyinari bumi. Kupelototi wajah Nining agar dia mau memberikan penjelasan atas perbuatan kejinya.


Setelah cukup lama kami terdiam, Nining kembali bersuara, “Apa yang kalian mau?”


“Hentikan semua ini!” tegasku.


“Hahaha… Tidak akan,” ucapnya terkekeh.


Teh Yeni mengencangkan kunciannya terhadap tangan Nining. Wajahnya begitu geram. Dia menatap teman sekelasnya dengan bengis, “Nining, kurang baik apa Bimo sama kamu?”


“Hem… Hah?!… Haha…” tawanya mengerikan. “Baik.  Iya, dia sangat baik kepadaku. Bahkan kepada semua orang, kan?”


“Lalu, apa yang memotivasi kamu untuk melakukan ini semua? Begini caramu membalas kebaikan Mas Bimo?” Aku semakin kesal dibuatnya. Eskpresinya sama sekali tak melukiskan penyesalan sedikit pun.


Nining menangis. Aku tahu dia memendam banyak emosi. Tetapi tetap saja, yang dia lakukan sudah di luar batas kewajaran. “Dia sudah terlalu baik. Awalnya, aku pikir dia hanya baik sama aku. Dia sering bantu aku ngerjain tugas. Dia sangat sabar ketika ngajarin aku. Dia menghiburku saat sedih. Dia membelaku saat ada yang membullyku. Tapi kenapa, dia malah memilih kamu menjadi pacarnya.” Wajahnya berubah menjadi beringas. “Dasar wanita sialan!” umpatnya kepada Teh Yeni. “Padahal kamu yang memulai duluan sebelum aku.”


Plaaak!!! Sebuah tamparan mendarat kembali di pipi Nining. Cukup keras dan masih di tempat yang sama, di pipi kanannya. “Tutup mulutmu! Aku tidak sama seperti kamu!”


“Sabar, Teh! Kendalikan emosi Teteh. Dia sengaja menyulut emosi kita.” Aku tidak menyangka Teh Yeni memiliki sisi yang begitu garang.


Nining menengadahkan wajahnya. Dia menantang kami untuk menggunakan kekerasan. “Ayo, tampar lagi! Sebelah kiriku belum kamu sentuh, Yen!”


Teh Yeni nyaris terpancing. Aku coba menghalau tangannya yang sudah mengayun ke arah yang Nining sodorkan, “Jangan, Teh! Jangan sampai kita yang justru terbakar oleh amarah kita sendiri!”


“Haahahaha….” tawa Nining semakin keras.


“Kamu memang tidak tahu diri ya, Ning. Bimo sudah banyak membantumu, tapi kamu balas kebaikannya dengan cara yang sangat laknat seperti ini. Dasar iblis kamu, Ning,” cerca Teh Yeni.


“Apa? Munafik sekali kamu, Yeni? Kamu berlagak sok suci, padahal kamu dan aku tidak jauh berbeda. Bedanya kamu melakukannya lebih dulu.” Nining mendamprat balik Teh Yeni dengan kata-katanya.


Dia dua kali mengatakan “Teh Yeni yang duluan”. Apa maksudnya? Sepertinya ada masalah pribadi juga di antara mereka berdua. Sikap beringas Teh Yeni sedari tadi memang agak janggal.


“Jangan lempar batu sembunyi tangan!” Teh Yeni mencengkram dagu Nining.


“Kamu takut?” Nining tampak memegang kartu truf Teh Yeni. Sikapnya berubah menjadi tenang. “Lepasin tangan aku, Yen! Jangan khawatir, aku nggak akan kabur.”


Aku melirik kepada Teh Yeni, memberikan kode dengan anggukan kepala supaya dia melaksanakan permintaan Nining.


“Awas kamu, Nining!” ancam Teh Yeni setelah melepaskan cengkramannya. Namun, aku merasakan ada getaran ketakutan dalam kalimat ancamannya.


“Siapa nama kamu, Aa kasep (tampan)?” tanyanya seraya melemparkan senyum kepadaku.


Aku jawab sambil membuang muka, “Arya.” Aku sangat tidak ingin terlibat kontak mata dengannya. Bisa-bisa darahku kembali mendidih.


“Kamu terlalu polos, anak muda nan rupawan.” Nining seolah bersyair. Namun, aku tidak ingin mendengar itu. “Kamu mungkin berpikir orang yang datang bersamamu malaikat, padahal dia juga iblis,” lanjutnya.


Aku terbelalak dengan pernyataan Nining. “Apa maksudmu?”


“Kamu seharusnya mencari tahu tentang perempuan ini terlebih dahulu.” Jari telunjuk Nining menghadap muka Teh Yeni, “Dia sudah lebih dulu mengirimkan pelet kepada Bimo.”


“Jangan fitnah kamu, Nining,” bentak Teh Yeni dengan tangan mengepal.


Aku segera duduk di antara dua perempuan yang saling memercikan api.


“Kamu pikir aku tidak tahu kenapa Bimo bisa sama kamu? Aku tahu Yen, karena kamu memeletnya. Aku sadar Bimo baik kepada semua orang. Tetapi, setelah kamu mengirimkan guna-guna itu kepadanya, sikap Bimo menjadi berubah. Padahal aku nyaris memilikinya,” tutur Nining.


Aku terperangah. Aku tak menyangka Teh Yeni juga punya andil dengan kondisi yang Mas Bimo derita. Aku pun mencoba menatap Teh Yeni untuk mencari petunjuk ucapan Nining tersebut benar atau hanya sebuah karangan.


Dia membuang muka. “Apa buktinya kamu bisa bicara seperti itu Nining. Jangan melemparkan dosamu kepadaku!”


“Oh, bukti,” ucap Nining sinis. “Kamu ingat kan kalau kita dulu berteman dan begitu dekat? Kamu mengatakan kamu suka dengan Bimo. Tapi ketika kamu menyatakan cinta kepadanya, Bimo menolakmu. Lalu, aku mencoba membantumu karena aku dan dia sering satu kelompok dalam tugas. Kami menjadi dekat, tapi kamu malah menjauhiku. Cemburu? Kamu juga kan yang menggiring teman-teman untuk membenciku, untuk membullyku setiap hari. Tapi sayangnya, itu tidak menjadikan Bimo menjauhiku.”


“Jangan asal bicara kamu, setan!” Teh Yeni tampak semakin murka.

__ADS_1


“Mau sampai kapan mengelak?” Nining seakan berada di atas angin. Kata-kata yang keluar dari mulutnya mengalun dengan semakin tenang. “Kita sudah saling mengenal sejak SMA. Aku tahu kamu orang yang ambisius. Sayangnya, kamu juga pendendam. Jika kamu mendapat penolakan dari seseorang, kamu akan membalasnya dengan segala cara.”


“Itu dulu. Jangan membawa masa lalu dalam kasus ini!” sanggah Teh Yeni.


“Oke. Mungkin kamu sekarang berubah. Tetapi, kamu berusaha memikat Bimo dengan Bulu Perindu. Kamu heran kan bagaimana aku bisa tahu?” pungkas Nining.


“Ternyata kamu orang yang sangat menjijikan. Kasihan, kamu mengarang cerita dan membalikkan fakta. Kamu tidak tahu diri, brengsek,” bantah Teh Yeni sembari berusaha menjangkau tubuh Nining untuk menghadiahinya pukulan. Aku masih mencoba menghalangi, karena fakta belum seluruhnya tersingkap.


“Aku mengarang cerita? Hahaha… “ sindir Nining dengan gelak tawa. “Aku punya buktinya. Aku tahu siapa dukun yang kamu datangi. Aku sudah mengamati dan menyelidiki kamu sejak sikap Bimo tiba-tiba berubah. Dia menjadi dekat dengan kamu, dan tak lama kalian mengumumkan kepada teman-teman kelas – bahkan satu jurusan – bahwa kalian telah resmi berpacaran.”


“Katakan saja jika kamu iri? Jangan mengatakan hal-hal yang di luar logika! Bimo suka sama aku, karena aku yang membuatnya begitu. Aku memperjuangkan cintaku dengan tulus?” tentang Teh Yeni.


Aku masih belum tahu siapa yang berkata jujur. Lebih baik aku menjadi pendengar dan tak menginterupsi dulu pertikaian mereka.


“Tulus? Padahal kamu mengikatnya dengan sihir setan. Setiap hendak bertemu dengannya, kamu mengusapkan minyak Bulu Perindu ke kedua alismu. Kamu juga tidak pernah mau diajak ke toilet dan mesjid selama di kampus. Karena apa? Karena itu pantangannya. Kamu juga sering menaruh sesuatu dalam makanan Bimo sambil membaca mantra. Kamu pikir tidak ada orang yang tahu. Aku tahu kamu, Yen. Aku paham setiap gerak-gerik kamu.”


“Itu hanya asumsi kamu. Semua orang juga tahu kamu itu suka halu (halusinasi),” sanggah lagi Teh Yeni.


“Lalu, kenapa Bimo memutuskanmu? Kamu bilang ke semua orang bahwa alasannya karena kalian sudah tidak cocok lagi. Sebenarnya bukan karena itu, kan? Tapi karena pengaruh pelet kamu memudar,” celoteh Nining.  “Kamu pengen tahu kenapa? Aku yang membuka mata batin Bimo. Aku yang menyadarkannya kalau dia terkena guna-guna dari kamu. Bimo memang tidak langsung percaya, namun perlahan dia tidak lagi mengindahkan pemberian apa pun dari kamu, kan?! Itu karena aku yang melarangnya. Aku juga menunjukkan foto-foto dan video saat kamu memantrainya sebagai bukti konkrit. Kamu tahu respon Bimo saat itu apa? Dia malah ingin mengembalikanmu ke jalan yang benar. Dia bisa keluar dari pengaruh sihirmu, tapi dia tidak membencimu. Dia menjadi dekat denganmu sebagai teman. Itu karena dia ingin menyadarkanmu saja,” papar Nining diikuti tangisan yang pecah.


Suasana hening beberapa saat. Aku coba lihat wajah Teh Yeni, dia pun turut menangis.


“Cukup, Nining! Cukup,” ujar Teh Yeni.


“Sekarang siapa yang tidak tahu diri? Hah?” Kondisi berbalik. Giliran Nining membentak Teh Yeni.


“Iya, aku. Aku, Ning,” tunjuk Teh Yeni ke dadanya sendiri. “Benar. Aku memang pelet Bimo.” Akhirnya, Teh Yeni mengakui walaupun dengan berderai air mata. “Kamu mau tahu alasannya? Pertama, aku ingin membalas rasa sakit hatiku, karena dia menolakku. Aku ingin dia merasakan betapa malunya aku menyatakan cinta kepadanya, tetapi dia malah pergi begitu saja. Dengan mudahnya dia hanya mengatakan maaf. Kedua, aku tidak suka dia dekat denganmu. Kamu boleh lebih pintar dari aku, tetapi aku tidak sudi melihatmu mendapatkan sesuatu yang seharusnya menjadi miliku. Terlebih kamu sangat tidak tahu diri. Bilangnya mau membantuku, tetapi kamu malah menyimpan rasa kepadanya,” ungkapnya.


“Kamu dengar sendiri kan, Arya? Dia sudah mengakuinya. Tak ada lagi celah baginya untuk menyangkal. Orang yang memaki aku dengan sebutan iblis, ternyata sama iblisnya kan denganku, Arya?”


Aku tak mengerti mengapa Nining terdengar bangga mengakui dirinya iblis. Entahlah! Mungkin dia ingin membela diri. Dia menjadi jahat akibat mendapatkan perilaku yang jahat.


Memang benar, seseorang bisa menjadi lebih ganas ketika di masa lalu ia selalu mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari sekitar, seperti perundungan, kekerasan verbal dan fisik, dan pelecehan seksual. Tidak semua orang mampu membalikkan keadaan dengan menjadikan pengalaman pahit sebagai motivasi untuk menjadi individu yang baik. Perlu adanya dorongan dari diri sendiri untuk mengkonversi kesakitan menjadi semangat, dan tentu harus didorong support system yang baik dari keluarga dan lingkungan.


“Kamu percaya Arya? Dia ini pandai berbicara dan pandai ber-acting sejak dulu. Sekarang dia mengatakan dengan lembut bahwa dia sudah bertobat, sedangkan tadi dia begitu berapi-api meneriakiku seolah aku manusia paling berdosa.” Nining menggoda agar aku memihaknya.


Teh Yeni tak merespon. Dia hanya menunduk, menangis tersedan-sedan. Aku pun tak ingin terkesan memihak siapa pun.


“Kamu dari tadi belum menjawab inti pertanyaan dari peristiwa ini. Kenapa kamu juga malah ikut menyerang Mas Bimo?” tanyaku setelah cukup lama menjadi pendengar.


“Aku hanya ingin menyelamatkannya,” jawabnya santai.


“Menyelamatkannya?” Frasa yang dia raungkan membuatku muak. Berusaha membunuhnya dengan guna-guna, kamu bilang ingin menyelamatkannya.”


“Aku memang sakit hati. Aku pikir Bimo baik, karena dia mencintaiku. Ternyata dia hanya kasihan melihatku. Aku juga menyatakan cinta kepadanya. Namun, dia menolakku. Dia justru bercerita bahwa dulu saat di sekolah dia kerap dibully teman-temannya. Dia mendekatiku hanya karena dia tahu rasanya menjadi korban perundungan. Dia hanya iba melihatku,” kesahnya terisak. “Tetapi, kenapa dia seolah memberikan harapan yang luar biasa untuk aku mendapatkan cintanya sebagai seorang kekasih. Itu bagian yang paling aku benci dari Bimo,” sambungnya.


“Jika Mas Bimo memang baik kepada semua orang, kenapa kalian merasa diberi harapan?” Aku menggunakan pronoun “kalian” untuk menegaskan jika dua wanita di sampingku sudah salah dalam menafsirkan perasaan.


“Tapi kenapa dia malah jadian dangan Yeni? Setelah itu dia menjauh dariku?” Nining berkelit.


“Bukankah kamu tadi mengatakan karena itu pengaruh pelet. Inti dari pertanyaanku dari tadi hanya satu, kenapa kamu kirimkan guna-guna kepada Mas Bimo? Untuk menyelamatkannya? Sakit hati? Jangan coba mengecohku!” Aku semakin gregetan menghadapi Nining.


“Aku pikir lebih baik Bimo mati saja. Supaya tidak ada yang memilikinya. Supaya ia juga terbebas dari pelet Yeni.” Dia mengatakan kalimat tersebut dengan tampang tanpa dosa.


“Aku bisa menamparmu jika aku mau,” bentakku.


Namun, aku segera menarik nafas panjang. Aku menahan diri supaya tidak kesetanan sepertinya.


“Lalu, aku berubah pikiran. Aku sudah tidak peduli lagi dengan cintaku kepadanya. Setelah aku tahu Yeni yang menjadi dalang atas perundungan yang aku terima, dan aku tahu dia juga meminta bantuan dukun untuk memelet Bimo, aku pikir akan seru jika aku membunuh Bimo dengan cara yang tak terlihat oleh mata. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Bimo mendapatkan balasan atas rasa sakit hatiku, begitu pun Yeni. Ketika Bimo mati, aku akan sebarkan bukti-bukti Yeni pergi ke dukun. Teman-teman akan membullynya juga. Dia akan tahu gimana perasaanku.” Nining cekikan. Sudah hilang kewarasannya. “Aku hanya melanjutkan apa yang sudah dimulai oleh mantan sahabatku ini. Hahaha….”


Sinting! Dasar psikopat! Aku benar-benar ingin memberi dia cap jariku. Tidak! Percuma! Aku tidak boleh menjadi seperti mereka.


Teh Yeni yang semula tertunduk, dengan cepat bangkit. Ia membabi buta menyerang Nining hingga tersungkur.

__ADS_1


“Bangsat kamu, Nining,” serapahnya. Dia menjambak rambut Nining. Nining pun melawan.


Aku ingin menghentikan perkelahian mereka, tetapi mereka sama bejatnya. Aku tidak menyangka juga Teh Yeni tak semanis tampilannya.


Selagi mereka berkelahi. Aku mengumpulkan semua media guna-guna Nining. Kulihat juga ada korek api di tanah. Aku lantas membakarnya.


Setelah api menyala, baru aku berusaha melerai mereka. “Stop!” suaraku lantang sambil menarik tubuh Teh Yeni yang berada di atas tubuh Nining. “Aku mohon setelah ini kalian tidak lagi mencelakai Mas Bimo. Jika tidak, semua yang kalian lakukan akan berbalik kepada diri kalian.”


Mereka berhenti saling memukul. Aku putuskan untuk pulang. Tabir telah terungkap. Tugasku tinggal membantu mengeluarkan pengaruh guna-guna yang tersisa di dalam tubuh Mas Bimo. Caranya? Dengan memohon kepada Tuhan dan membangkitkan lagi gairah hidupnya.


Ketika aku berjalan pulang, Teh Yeni terus memanggil namaku. Aku sudah tidak peduli lagi dengannya. Jika dia ingin melanjutkan pertarungan dengan Nining, terserahlah. Itu sudah jadi urusan mereka berdua. Aku tak mau lagi melihat mereka.


Aku terus berjalan menuju jalan besar. Aku berharap ada transportasi untukku pulang. Aku coba membuka ponsel untuk memesan ojek atau taksi online yang semoga ada di tempatku berada. Namun ketika hendak mengatur pin lokasi, Dani menelepon.


“Ya, kamu di mana? Kok lama banget?” tanyanya terdengar risau. “Ini Mas Bimo nanyain kamu terus nih.”


“Ini aku jalan balik ke rumah sakit, Dan”, jawabku tenang.


Setelah berjalan cukup jauh menuju keramaian dan menunggu cukup lama, ada juga pengemudi ojek online yang menerima orderanku. Syukurlah! Kehadiran transportasi daring terasa cukup membantu.


Setiba di rumah sakit, aku langsung menuju ruang inap Mas Bimo. Aku menyadari jika aku melupakan sesuatu. Aku lupa mengambil pakaian ganti untuknya. Hah, sudahlah!


Mas Bimo menyambutku dengan senyuman, “Ya, kamu dari mana?”


Dani malah menatapku heran. Dia menarik kemeja yang aku pakai, “Baju kamu kenapa kotor begini, Ya? Kamu habis ngapain dan dari mana sebenarnya?”


Mas Bimo terpengaruh untuk memperhatikan penampilanku. “Ya, kamu nggak kenapa-kenapa, kan?”


“Nggak ada apa-apa kok.” Aku mengalihkan pikiran mereka dengan hal lain. “Mending kita cari makan yuk, Dan. Aku laper nih.”


Paginya, ayah dan ibu Mas Bimo datang menjenguk. Mereka juga kaget mendapati kondisi anaknya terbaring di ranjang rumah sakit. Aku pun tak bisa menceritakan semuanya kepada mereka.


Kemudian, orang tua Mas Bimo meminta rujukan untuk perawatan di Malang. Mereka mengaku tak bisa meninggalkan pekerjaan. Aku sedih mendengar pernyataan tersebut. Namun, aku mencoba memahami – sebagai orang tua – mereka ingin anaknya tidak mengalami kekurangan secara finansial, meskipun seorang anak sebenarnya lebih menginginkan kebersamaan dengan orang tuanya.


Aku dan Dani menawarkan diri untuk membantu menjaga Mas Bimo secara bergantian. Mas Bimo pun tampak enggan pulang. Ia mengaku tak ada yang menemaninya di sana. Hingga terjadi kesepakatan Mas Bimo mau pulang ketika kondisinya sudah pulih dan orang tua Mas Bimo harus meluangkan lebih banyak waktu untuk menemaninya selama di rumah.


Sore harinya, orang tua Mas Bimo kembali ke Malang dengan menumpang pesawat. Aku dan Dani coba membesarkan hati Mas Bimo. Mas Bimo tampak begitu tegar. Mungkin karena ia sudah terbiasa juga seperti penuturannya kepadaku.


Setelah 3 malam mendapatkan perawatan di rumah sakit, kondisi Mas Bimo berangsur pulih. Ia tak lagi mengeluh sakit.


Aku mengantar Mas Bimo ke Bandara Husein Sastranegara. Dani tidak ikut, karena ada kelas pagi.


“Minggu depan kamu selesai UAS (Ujian Akhir Semester) kan, Ya?” tanyanya sebelum menuju counter check in.


“Iya, Mas.”


“Kamu temani aku ya di Malang. Nanti kita balik lagi ke Bandung pas aku wisuda. Aku juga udah bilang sama orang tuaku, dan mereka setuju. Nanti biaya akomodasinya dari aku kok,” jelasnya bersemangat.


Aku bingung untuk memutuskan. Satu sisi, Mas Bimo memerlukan seseorang untuk mendampingi proses pemulihannya. Di sisi lain, ayah menyuruhku pulang.


“Maaf, Mas. Sebenarnya….”


Dia memotong ucapanku. “Aku mohon, Ya! Aku butuh teman.”


Aku tak bisa menolak jika seseorang sudah memelas di hadapanku. “Iya, Mas.”


Sambil jalan pulang, aku coba pikirkan alasan yang tidak membuat ayahku marah.


Setidaknya, aku sudah merasa lega. Tak ada lagi rasa was-was melihat Mas Bimo. Keputusannya untuk sementara waktu kembali ke rumahnya di Malang sudah tepat.


Semua pakaian Mas Bimo – pemberian Teh Yeni dan Nining –  yang disinyalir memiliki ajian guna-guna sudah dibakar. Kamar Mas Bimo sudah aku atur ulang, tetapi dia berkata belum mau menempatinya kembali.


Tentang Teh Yeni dan Nining, mereka tak menampakkan diri lagi baik di hadapan Mas Bimo atau pun aku. Aku juga tidak bercerita bahwa “kiriman” yang Mas Bimo dapat berasal dari dua perempuan itu.

__ADS_1


__ADS_2