
Aku menghadiri dua kali prosesi pemakaman untuk orang yang sama. Rasanya memang mustahil, ada dua kematian untuk orang yang sama di tahun berbeda. Namun, kejadian Mak Iroh bukanlah yang pertama. Sebelumnya, aku mengalami hal serupa tentang kematian seseorang yang terulang.
Pada tahun 2008, seorang mantan paraji di kampungku meninggal dunia. Usia beliau ketika berpulang sekitar 80 tahun-an. Aku cukup kenal beliau, karena ketika kecil pernah diasuh olehnya. Hanya saja, ketika aku beranjak remaja, kami jarang bertemu.
Dalam ingatanku, sosok yang biasa dipanggil Ende Sumi (ende artinya nenek) sudah meninggal dunia karena terjatuh di kamar mandi (menurut penuturan pihak keluarganya). Tetapi dua tahun berselang, tepatnya tahun 2010, beliau dikabarkan meninggal lagi dengan penyebab yang sama seperti yang aku dengar di tahun 2008. Sontak aku tak percaya. Bahkan, aku sempat mengurung diri seharian di kamar untuk memastikan keabsahan fenomena yang aku alami.
Demi hidup yang lebih tenang – ketika itu – aku berpikir mungkin memang ada yang salah dalam ingatanku. Meninggalnya Ende Sumi di tahun 2008 dan 2010 bisa jadi hanya bentuk kekacauan atau tipuan pikiran. Sesuatu yang diyakini benar terjadi, nyatanya telah terdistorsi akibat ingatan yang tidak mampu menampung setiap detil objek secara sempurna. Namun, mengapa penyebab kematian Ende Sumi bisa sama? Sebuah kebetulankah? Aku coba memupus sedikit demi sedikit pertanyaan tersebut.
Fenomena yang kualami memang sulit untuk dipercaya. Tak ada bukti empiris yang bisa ditunjukkan. Orang pun mungkin akan mengatakan hal yang sama dengan ayahku, ngaco. Artinya ceritaku itu hanya dianggap mengada-ada saja.
Seiring berjalannya waktu, rasa penasaranku pasang surut. Terkadang aku tak ingin mengingat kejadian Ende Sumi, namun terkadang pula aku terangsang untuk mencari kebenaran.
Aku pun mencari berbagai informasi di internet untuk menggali data yang berkaitan dengan fenomena yang aku alami. Hingga akhirnya menemukan istilah Mandela Effect. Istilah tersebut, pertama kali, dipopulerkan oleh Fiona Broome – seorang paranormal consultant.
Fiona Broome mengatakan jika mantan presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela, telah meninggal dunia pada tahun 1980-an. Ternyata hal tersebut juga diklaim oleh banyak orang. Bahkan, mereka mengatakan Nelson Mandela meninggal di dalam penjara dan mereka juga mengaku menonton berita pemakaman sang presiden di televisi.
Ada interval sekitar 30 tahun-an hingga sejarah mencatat Nelson Mandela meninggal pada tanggal 5 Desember 2013. Kemudian, istilah Mandela Effect digunakan untuk merujuk kepada sekelompok orang yang keliru dalam mengingat suatu hal.
Mungkinkah ada sebuah konspirasi yang mereka buat atau sebenarnya mereka mengalami konfabulasi? Mengingat rincian suatu peristiwa yang sebenarnya tidak pernah terjadi, karena ingatan manusia bisa saja menambah, mengurangi, atau membelokkan fakta. Atau cerita mereka memang benar adanya? Entahlah! Aku berada pada titik ini. Secara teori sulit diterima nalar, tetapi aku yakin mengalami kejadiannya. Mungkinkah fenomena tersebut berhubungan dengan ranah mistis? Karena di dunia ini banyak hal supranatural yang masih sulit dijelaskan oleh sains. Kesimpulannya, mandela Effect atau ruang mistis?
Kemarin aku bertanya tentang kematian Mak Iroh kepada Ayah dengan maksud mengklarifikasi kebenaran ingatanku. Sayangnya, malah membuatku semakin bingung. Jika ingatanku tidak dibarengi dengan peristiwa-peristiwa mistis yang aku alami, mungkin aku tidak akan merasa begitu gundah.
Kulihat Ayah sedang santai di sofa sambil memainkan ponselnya. Aku hampiri beliau untuk meminta sudut pandangnya mengenai dunia paralel. Memang agak canggung dan sangsi, karena aku jarang sekali berbicara hal serius maupun masalah pribadi dengannya.
“Ayah lagi ngapain?” tanyaku untuk memastikan jika Ayah bisa diajak berbincang tanpa melibatkan banyak emosi.
“Baca berita yang lagi trend belakangan ini,” jawabnya sambil menaruh ponsel di atas meja. “Ada apa, Ya?”
“Arya pengen ngobrol sama Ayah,” jelasku.
“Tumben. Ada hal apa, Ya? Tentang kuliah atau masalah pribadi?” tanyanya lagi dengan pandangan serius.
“Bukan, Yah.
“Lalu?”
Melihat ekspresi Ayah, ada sedikit keraguan untuk bercerita. Namun, kami sudah saling berhadapan. Tanggung untuk tidak dilanjutkan, “Ayah percaya nggak jika ada dunia lain selain yang kita tempati sekarang?”
Ayah menganggukan kepala. “Maksdunya alam gaib? Itu memang ada.”
Kugelengkan kepala, “Bukan, Yah. Maksud Arya gini…” Aku coba lakukan pendekatan dengan berbicara secara lembut. Aku berharap Ayah memberikan ulasan yang mengena di pikiranku, “Dunia kita ini memiliki dunia lain yang jumlahnya satu atau dua atau bahkan tidak terbatas, yang disebut dengan multiverse atau dunia paralel. Jadi, dunia kita ini bukan hanya berdampingan dengan dunia gaib, tapi mungkin ada dunia lain yang isinya persis dengan yang ada di dunia kita, bahkan aktor-aktor di dunia tersebut pun yaitu kita juga. Hanya mungkin proses dalam menjalani kehidupannya yang berbeda. Misalnya, Arya yang di dunia ini masih hidup, sedangkan Arya yang ada di dunia pararel ternyata sudah meninggal beberapa tahun yang lalu.”
Ayah menarik tangan kirinya menyangga dagu, “Kamu cerita tentang film yang kamu tonton? Atau bercerita tentang buku fiksi yang kamu baca?” Nada suaranya mulai menukik.
__ADS_1
“Bukan, Yah. Arya serius. Ini berkaitan juga dengan pengalaman Arya.” Kata-kataku mulai agak terbawa emosi.
“Ayah juga dari tadi serius dengerin kamu,” suaranya meninggi, “Kamu di Bandung sholat 5 waktu nggak bolong, kan? Ngaji juga, kan?”
“Kok Ayah malah jadi tanya hal itu? Yah, Arya masih ingat kok buat sholat 5 waktu, ngaji, dan menjalankan kewajiban yang lainnya sebagai Muslim.”
“Masih ingat? Bukan selalu ingat?” Raut wajahnya mulai tegas menatapku. Aku lupa jika Ayah begitu teliti, terutama dalam menginterpretasi kata. “Dari awal Ayah nggak setuju kamu kuliah di luar kota. Nge-kost di tempat yang Ayah juga nggak tahu orang-orang gimana. Keseharian kamu yang sulit untuk Ayah awasi. Inilah yang menjadi ketakutan terbesar Ayah ketika kamu jauh dari pandangan Ayah. Pertanyaan yang barusan kamu ajukan itu sesuatu yang realitasnya tidak ada. Hanya teori konspirasi untuk menjauhkan manusia dari agama. Jangan-jangan pikiran kamu sudah disusupi paham-paham liberal ya?”
“Yah, kenapa suara Ayah jadi tinggi gini ke Arya? Maksud Arya tuh pengen diskusi sama Ayah, pengen tahu pendapat Ayah. Kenapa jadi membahas hal yang lain?” Komentarku dengan nada yang agak kesal. Aku pikir akan ada masanya Ayah menjadi terbuka, mau mendengarkan ceritaku lebih dahulu tanpa menjentikkan amarah.
“Justru topik yang kamu bawa untuk bercerita membuat Ayah menjadi khawatir. Tiba-tiba kamu ngomongin tentang apa itu… dunia paralel. Mana ada dunia seperti itu. Manusia semakin pintar, semakin ingin tahu tentang segala sesuatu. Tetapi karena semakin dalam menggali pengetahuan, berpotensi mengaburkan keimanan terhadap Tuhan. Akhirnya apa? Ayah takut kamu lebih sibuk mengurusi data duniawi sana sini sehingga melupakan mana yang haq dan mana yang batil.” Ayah semakin bernafsu menasehatiku. Baru pembukaan saja sudah terlalu sulit.
Inilah alasanku dari dulu enggan bercerita kepadanya tentang hal-hal di luar nalar yang aku alami. Ujung-ujungnya Ayah akan membabatku dengan kata-kata mutiara. Bukan aku tidak suka, tetapi aku lebih membutuhkan pandangannya terlebih dahulu – bertukar pikiran atau informasi yang mungkin melintasi generasi.
“Maaf , Yah. Kekhawatiran Ayah terlalu berlebihan. Terima kasih atas waktu Ayah. Kalau gitu Arya tidur dulu.” Aku bangkit dari kursi.
“Arya… Ayah belum selesai bicara,” panggilnya setengah berteriak.
“Arya udah ngantuk, Yah,” sahutku.
Aku coba rebahkan badan bersimbah suasana hatiku makin tak puas. Tak jawaban yang bisa aku sandingkan untuk mengungkap misteri ini.
Kejadian Ende Mar dan Mak Iroh meninggal dunia dan kemudian meninggal lagi membuat otakku diselimuti segudang pertanyaan. Jika aku yang keliru dalam mengingat, kenapa dalam rentang waktu meninggal pertama hingga kedua aku tak pernah bertemu atau mendengar kabar mereka?! Padahal kami hidup dalam satu kampung. Apa karena aku juga yang jarang keluar rumah? Tetapi jarang bukan berarti aku tidak pernah bersosialisasi dengan masyarakat. Ah, misteri apa lagi yang menantang hidupku!
Aku paham jika pikiran dan ingatan manusia sangat bisa salah dalam menyimpan sebuah informasi. Tetapi, aku benar-benar mengalami hal yang mungkin orang anggap hanya rekaan.
Aku coba hubungi Arya untuk menceritakan pengalamanku dan bertukar pikiran dengannya. Dialah satu-satunya orang yang setidaknya tahu jika banyak hal yang tak biasa dalam riwayat hidupku.
“Assalamualaikum, Dan,” sapaku dengan penuh harap.
“Walaikum salam, Ya,” balasnya semangat. “Gimana kabarmu di rumah?”
“Kabarku baik, Dan. Kamu sendiri gimana?”
“Baik juga. Emmm… Kayaknya ada hal yang penting yang ingin kamu ceritakan?” Dia bisa menerka, karena jika bukan hal yang penting aku akan lebih memilih berbincang melalui chat.
“Kamu belum mau tidur kan, Dan?” tanyaku.
“Belum. Apakah ini tentang Mas Bimo?”
“Bukan, Dan.”
“Lalu?”
__ADS_1
Aku atur nafas sejenak, mempersiapkan diri jika tanggapan Dani mungkin sama dengan Ayah. “Gini, Dan. Kemarin ada tetanggaku yang meninggal.”
“Terus?”
“Aku sudah menyaksikkan pemakaman beliau sebelumnya, 3 tahun yang lalu”, ucapku tenang.
“Maksudnya beliau pernah mati suri?” tanyanya.
“Tidak seperti itu, Dan. Jadi, 3 tahun yang lalu beliau sudah meninggal dunia. Aku turut melayat dan menyaksikan pemakamannya. Masalahnya, beliau meninggal lagi kemarin. Aku tahu hal tersebut kayaknya mustahil. Tapi aku benar-benar ingat kejadian pertama saat beliau meninggal”, terangku dengan yakin, “Aku coba cerita sama ayahku, tapi beliau menganggap aku ngaco dan menuding aku ngarang cerita. Padahal aku benar-benar mengalami hal tersebut. Aku sangat yakin memoriku tidak salah, Dan.”
“Sorry ya, Ya! Jika ada orang yang meninggal 3 tahun lalu dan kemudian meninggal lagi kemarin, rasanya memang mustahil. Saranku, kamu coba tenangkan dirimu dulu. Kamu ingat-ingat lagi secara detil bagaimana kejadiannya. Bisa aja yang kamu alami merupakan bagian fenomena yang disebut Mandela Effect.”
“Jadi, kamu tahu tentang Mandela Effect?”
“Aku pernah baca tentang hal tersebut di Forum Kaskus sekitar 2 tahun lalu. Katanya, pikiran kita ini bisa sangat manipulatif sehingga ketika keliru dalam mengingat sesuatu. Ingatan kita ini kan menampung ribuan bahkan mungkin jutaan memori yang semuanya tidak bisa terpotret secara objektif,” suaranya tampak bersemangat memberikan penjelasan.
Aku agihkan pengalaman tambahan, “Tapi Dan, ini bukan kejadian pertama yang aku alami. Dulu, hal serupa juga pernah terjadi. Seorang nenek, tetanggaku juga, yang aku ingat sudah meninggal dunia cukup lama, dinyatakan baru meninggal dua tahun setelahnya. Aku tahu, ini pengalaman yang tidak masuk akal. Namun, aku benar-benar mengalaminya, Dan”.
“Emmm…” Terdengar Dani bergumam. “Oke. Dua kejadian tersebut memiliki jeda 3 tahun dan 2 tahun, artinya cukup lama. Nah, di waktu tersebut coba kamu ingat-ingat pernah ngga berinteraksi dengan mereka atau mungkin melihat mereka.”
Semua saran dari Dani sudah aku lakukan terlebih berkali-kali. “Justru dalam rentang waktu kejadian meninggal pertama dan kedua, aku juga tidak pernah melihat atau pun mendengar lagi tentang mereka, selayaknya orang yang sudah meninggal yang tidak pernah lagi bertemu dan sudah tidak dibicarakan oleh masyarakat.”
“Terus analisa kamu gimana, Ya? Aku sendiri nggak bisa memberikan banyak pendapat soal itu.”
Kucoba lemparkan premis utama, “Mungkin nggak sih Dan, ada dunia lain yang kembar dengan dunia kita dan berjalan sama persis dengan kehidupan kita?”
Dani masih terdengar antusias, “Maksudmu, dunia paralel?”
“Iya.”
“Aku belum terlalu percaya dengan hal tersebut. Itu kan baru asumsi dari seorang fisikawan melalui mekaninka kuantum yang mengatakan jika sebuah partikel ditembakkan ke dinding maka partikel itu bisa terpental atau menebusnya. Kita mungkin melihatnya terpental, tetapi dalam pandangan dunia yang lain partikel tersebut tampak menembus dinding,” jelasnya menunjukkan sisi pengetahuan/ kepintarannya.
“Lalu, pendapatmu?”
“Mungkin di alam semesta ini ada kehidupan lain di luar bumi yang peradabannya lebih maju dari kita. Tetapi, jika kita memiliki kembaran yang juga hidup di dunia kembar dengan kita, dunia yang berjalan sejajar dengan dunia kita, aku rasa masih butuh pembuktian yang cukup lama untuk teori tersebut. Bisa jadi kita sudah mati ketika ilmuwan menemukan fakta sebenarnya dari dunia paralel atau multiverse,” imbuhnya.
“Nggak salah aku cerita sama anak sains.”
“Ya, jangan mulai! Aku hanya mahasiswa yang salah jurusan, pengen masuk Manajemen malah nyemplung ke Biologi. Haha…”
“Tapi kan sama-sama mempelajari kehidupan. Yang satu mempelajari cara bertahan hidup, yang satu mempelajari siklus hidup. Haha…” Kutimpali tawanya.
Obrolan kami jadinya ngalor ngidur tak tentu arah. Kami asyik bertukar cerita tentang kehidupan sekolah dan latar belakang memilih jurusan kuliah. Aku pun sengaja membelokkan topik pembicaraan, karena ada yang berbeda dari cara pandang kami. Buatku, semua terasa nyata. Bagi Dani, mungkin butuh waktu untuk percaya karena tidak atau belum mengalami kejadian yang menimpaku.
__ADS_1
Dunia paralel atau multiverse merupakan teori yang terus dibuktikan oleh para ilmuwan. Banyak yang penasaran, tetapi tak sedikit yang meragukan kebenarannya. Sains bisa membuktikan berbagai peristiwa secara ilmiah. Namun, bukankah tidak semua hal di dunia ini butuh dan bisa dijelaskan secara ilmiah?