Di Sekitar Kita

Di Sekitar Kita
Bab 19: Enigma


__ADS_3

Hidup – sejatinya – sebuah misteri. Tak ada manusia yang bisa menerka masa depan dengan pasti. Semua berjalan sebagaimana skenario Tuhan. Manusia bisa membuat rencana untuk hari esok, namun yang terjadi bisa sangat berbeda.


Sama halnya dengan yang aku alami. Tak pernah terlintas dalam pikiran jika aku harus terlibat dalam takdir orang lain. Beberapa peristiwa yang lahir dari pandangan terjadi secara nyata, terutama tentang kematian. Hingga memaksaku untuk turut ambil bagian.


Dulu, aku hanya diam ketika merasakan orang yang dihadapanku di penghujung usia. Tetangga, kerabat, dan teman yang pergi ke hadirat Ilahi, aku anggap bagian dari ketentuan hidup yang tak bisa aku campuri. Lagi pula, aku tidak bisa melakukan apa pun jika sudah berkaitan dengan kuasa Tuhan. Pikirku.


Namun, semua berbeda. Setelah lebih dekat dengan pengalaman kematian dan penderitaan hidup orang lain, aku ingin mengubah skenario takdir. Jika memang orang di sekitarku sudah waktunya untuk pergi ke alam baka, aku ingin mereka pergi dengan tenang. Tanpa harus meninggalkan urusan dunia yang bisa menghambat ketentraman mereka.


Betul, aku terlalu idealis. Tetapi, itu juga harapan untuk hidupku. Aku berusaha semampuku menanam kebaikan agar bisa dilimpahi kebaikan pula.


Mas Bimo terlelap di tempat tidurku. Semalam dia tak mau pulang jika aku tidak ikut dengannya. Akhirnya, aku putuskan membawa ke kamarnya dan menyuruhnya istirahat. Kulihat dia juga cukup lelah.


Aku bisa memaafkan perbuatannya, tetapi tidak dengan melupakan jejak tangannya di pipi dan dadaku. Bagaimana pun, aku hanya manusia biasa. Aku butuh waktu untuk memuaikan rasa kesal agar tidak bertranformasi menjadi benci atau dendam.


Kubangunkan Dani dengan menepuk-nepuk kakinya perlahan. Dani membuka mata. Kemudian, menerawang sekeliling.


Dia kaget melihat Mas Bimo tertidur di tempatku. “Ya, kok ada Mas Bimo di sini?”


Aku memberi kode dengan menegakkan telunjuk di antara bibir agar Dani memelankan suaranya. “Semalam dia ke sini.”


“Ada apa? Dia nggak ngapa-ngapain kamu lagi, kan?” Wajahnya khawatir.


“Nanti aja aku cerita. Sekarang kamu sholat Subuh dulu. Terus kita langsung ke terminal ya.”


Dani menatapku heran, “Kita pulang sekarang?”


“Iya. Kita naik bus aja ya, Dan. Kalau naik kereta harus nunggu sampai sore nanti.”


“Iya, nggak apa-apa, Ya. Tapi kamu yakin udah kuat untuk pulang?


”Aku udah baik-baik aja. Lagian lusa aku mau pulang kampung, ayah memintaku pulang. Udah cepat sholat dulu. Jangan sampai Mas Bimo keburu bangun!” desakku.


“Siap!”


Kuamati Mas Bimo begitu pulas. Sejujurnya, aku masih khawatir dengan nasibnya yang muncul dalam prekognisiku. Namun, aku harus tega supaya dia juga bisa menguraikan kesalahannya. Kecewa, kesal, sedih, takut, khawatir, dan penat, semua berpadu dalam sanubari. Aku bisa membenci sifatnya, tetapi tidak dengan dirinya sebagai individu.


Kuselipkan sebuah tulisan di sampingnya yang berisi wejangan agar dia  tidak mengendarai sepeda motor dan mengurangi aktivitas berkendara jika tidak ada keperluan mendesak. Aku tidak tahu kapan peristiwa yang ada dalam penglihatanku tentang kecelakaan itu akan terjadi. Aku hanya bisa memintanya untuk lebih hati-hati. Jika suasana sudah kondusif, aku berpikir untuk membicarakan langsung dengannya.


Selama di bus – sepanjang jalan pulang ke Bandung – aku bercerita kepada Dani masa depan yang aku lihat tentang Mas Bimo. Aku juga mengatakan merasa bersalah meninggalkan Mas Bimo begitu saja.


Dani heran mengapa aku masih peduli kepada orang yang sudah menghajarku. Aku juga tidak mengerti afeksi yang terjadi dengan Mas Bimo atau dengan orang-orang yang juga hadir seperti Teh Yuli, Teh Yeni, dan Nining. Aku hanya berpikir jika setiap orang memiliki kesempatan untuk berubah. Menghakimi hanya akan mendorongnya bertahan atau lebih erat bersekutu dengan dosa.


Hanya saja menurutnya, Mas Bimo tidak akan berubah dengan cepat. Ia malah takut Mas Bimo memiliki rencana lain terhadapku. Ia juga mengungkapkan jika kemarin dia pergi ke minimarket sekaligus berbincang dengan kakaknya melalui telepon. Berdasarkan penuturan kakak Dani, Mas Bimo sulit ditebak perangainya. Ia orang yang ambisius nan picik.


Sungguh ironi, orang yang aku kenal begitu baik ternyata memiliki jejak yang tidak baik bagi sekitarnya. Entahlah!


***


Perjalanan yang cukup melelahkan ditempuh dalam kurun waktu 4 hari. Dari Bandung ke Malang, istirahat semalam, lalu kembali lagi ke Bandung. Kemudian, besok paginya pulang ke rumah dan tiba sekitar jam 1 siang. Meski begitu, aku cukup antusias ketika mudik. Moment liburan di rumah, aku akan manfaatkan sebaik mungkin untuk memulihkan mental dan mood.


“Assalamualaikum…” sapaku ketika menginjakkan kaki memasuki rumah. Rasa rindu mencair kala melihat Ayah berjalan menyambutku.


“Walaikum salam…” Ayah langsung memelukku. Lalu, dia memperhatikan wajahku yang masih menyisakan lebam. “Mukamu kenapa, Ya? Kamu habis berantem,” ekspresinya berubah.


Aku kembangkan senyum agar Ayah tak mewawancaraiku. “Nggak apa-apa, Yah.”


Ayah justru melemparkan sebuah dugaan, “Kamu berantem kenapa?”


“Siapa yang berantem, Yah. Arya nggak kenapa-kenapa kok,” jawabku pasti.


Ayah memainkan tangannya di pipiku. Dia terus memeriksa setiap bagian yang masih membiru, sedangkan aku menahan rasa sakit yang masih tertinggal. “Kalau kamu berantem untuk membela diri, Ayah nggak ada masalah. Tetapi kalau urusan personal, seperti masalah rebutan perempuan, Ayah nggak suka.”


Aku coba alihkan pembicaraan, “Ayah nyuruh Arya pulang, kenapa?”

__ADS_1


Ayah pun menurunkan tangannya dari wajahku, “Ayah butuh bantuan kamu buat periksa tugas-tugas murid Ayah.”


“Ya udah, Arya mandi dulu.”


“Kalau sekarang sudah selesai semua.”


“Maaf, Yah. Arya telat pulang karena harus ikut UAS susulan juga.”


Astaga, aku malah mengundang balik kecurigaan Ayah.


“Kok kamu ikut UAS susulan? Emangnya kenapa?”


“Ngobrolnya nanti lagi aja ya, Yah,” ucapku tergesa-gesa mengakhiri percakapan.


“Kamu kalau mau makan Ayah belikan dulu lauknya ke warteg,” teriak Ayah.


“Nanti Arya beli sendiri aja, Yah,” sahutku. “Ayah udah makan?”


“Udah.”


Selama satu semester aku meninggalkan rumah. Rasanya pikiranku begitu rileks ketika melihat lagi sudut-sudut ruangan yang menjadi saksi hidupku.


Pemandangan yang tersaji di sekitar rumah memang tak terlalu istimewa. Tak ada hamparan bukit, gunung, pesawahan yang hijau, aliran sungai yang jernih, atau bahkan pantai. Hanya rumah-rumah yang hampir menempel satu sama lain. Tetapi, kampung halaman tetaplah tempat terbaik untuk kembali. Tempat kelahiran – tempat pertama menyongsong kehidupan – yang penuh dengan memori indah.


Jam 9 malam mataku sudah terasa berat. Hal yang langka buatku selama 6 bulan terakhir. Di Bandung, aku baru bisa tidur rata-rata di atas jam 11 malam.


Kupejamkan mata dan ucapkan doa. Semoga tidurku nyenyak tanpa gangguan mimpi yang tak enak. Namun, ponselku berdering. Aku kira Dani, ternyata Mas Bimo. Sempat ragu untuk menjawab panggilannya, tetapi kusentuh juga ikon “diterima”.


“Assalamualaikum, Mas. Maaf, ada apa ya?” sapaku dengan pertanyaan tanpa basa basi.


“Ya, tolong aku Ya!” suaranya tampak sedang panik.


“Kenapa, Mas?”


Padahal aku sudah pernah menyodorkannya solusi. “Mas Bimo masih ingat kan rumah Nining?”


“Aku ingat.”


“Saranku, Mas Bimo ziarah ke makam Nining. Makannya tepat di depan rumahnya.”


“Kamu mau kan temani aku ke sana?”


“Aku lagi di rumah, Mas.”


“Kapan kamu balik lagi ke Bandung?”


“Bulan depan, pas bimbingan pengisian KRS (Kartu Rencana Studi).”


“Ya, terus gimana? Kamu nggak kasihan sama aku?” Tiba-tiba terdengar benda dari kaca yang jatuh di tempat Mas Bimo. Duarrr! “Kamu dengar kan, seperti ada benda yang terjatuh di rumahku. Padahal di rumahku tidak ada siapa-siapa, selain aku. Orang tuaku sedang di luar kota. Ya, aku beneran nggak tahu harus minta tolong ke siapa lagi. Aku harus gimana nih?” suaranya makin menggigil ketakutan.


“Mas Bimo udah sholat Isya?”


“Belum.”


“Mas Bimo sholat dulu. Doakan Nining. Sampaikan permohonan maaf Mas Bimo sama Allah.”


“Tapi Ya….”


“Mas Bimo cepat ambil wudhu dan sholat.”


“Aku takut arwah Nining datang untuk membunuhku.”


“Mas, tidak ada arwah manusia yang bisa membunuh manusia yang masih hidup”, terangku.

__ADS_1


Dia merengek, memanggil namaku berulang. “Ya… Arya…Ya….”


“Mas, atau kalau nggak Mas Bimo nginep dulu di rumah teman. Tapi ingat, seperti pesan yang aku tulis untuk Mas Bimo, jangan kendarai motor.”


“Kenapa, Ya?”


“Intinya Mas Bimo jangan lakukan itu dan selalu hati-hati ketika di jalan!”


“Iya. Tapi bolehkah teleponnya jangan dimatikan, Ya?” Dia memohon seperti anak kecil.


Aku sempat tak kuasa untuk menolak permintaannya. “Iya. Tapi Maaf, Mas. Hari ini aku cukup lelah, aku ngantuk banget. Aku izin tidur dulu ya, Mas.”


“Ya sudah. Aku tutup aja teleponnya kalau gitu.”


“Iya, Mas.”


Dia pun mengakhiri percakapan. Namun, pikiranku seakan menangkap hal yang aneh dari setiap kata yang diucapkannya. Benarkah Nining (atau Jin Qorin Nining) mendatanginya? Ah, kupikirkan besok saja. Lebih baik aku sambung lagi tidurku yang terinterupsi.


Aku terbangun pukul 5 pagi. Namun entah dari mana datangnya, terbersit di dalam pikiran jika akan ada orang yang meninggal dunia. Orang yang ada di sekitarku.


Kulihat Ayah tidak ada di kamarnya. Motornya pun tidak ada. Aku coba tenangkan diri dan segera mengambil air wudhu untuk menunaikan sholat Subuh. Semoga yang aku rasakan hanya perasaan belaka.


Sekitar setengah jam kemudian, Ayah memanggilku. “Ya, kamu udah bangun, belum? Sarapan dulu nih!.”


“Iya, Yah.” Aku segera keluar kamar.


“Kamu udah sholat Subuh?”


“Udah.”


“Sekarang sarapan dulu, cepat!”


“Nanti aja. Jam segini Arya belum lapar.” Kuperhatikan Ayah tampak tengah terburu-buru. “Ayah mau ke mana kok kayak lagi dikejar waktu?” tanyaku penasaran.


“Barusan banget Ayah ketemu Pak RT di depan rumah. Dia ngasih kabar kalau ibunya Mang Bahri meninggal.”


Jawaban Ayah meghentakkan pikiranku. Innalillahi wa inna ilaahi rojiun.


“Mak Iroh meninggal, Yah?” Kukonfirmasi berita yang Ayah sampaikan.


“Iya.”


Aku mencoba menerawang masa lalu. Ada yang janggal, maka kupastikan lagi kepada Ayah, “Beliau meninggal lagi, Yah?”


Ayah tercengang dengan pertanyaanku, “Maksud kamu apa, Ya?”


“Bukannya beberapa tahun yang lalu Mak Iroh sudah meninggal?” uraiku perlahan.


“Ngaco kamu. Makanya Ayah selalu bilang kalau habis sholat Subuh jangan tidur lagi. Jadinya, kamu masih ngelindur kan?” Ayah justru menasehatiku.


Aku masih ingin menggali memori Ayah, “Tapi, Yah… Arya…”


Ayah memotong kalimatku, “Udah sana cepat ganti baju! Kita bantu-bantu untuk doa dan pemakaman.”


Seketika aku sadar, tak ada gunanya mendebat Ayah. “Iya, Yah.”


Aku sangat ingat dan begitu yakin Mak Iroh sudah meninggal tiga tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 2012 atau saat aku duduk di bangku kelas IX (SMP). Peristiwa itu masih melekat kuat di benakku.


Aku juga tidak pernah melihat atau pun mendengar kabar – yang menceritakan – tentang Mak Iroh dari kematiannya yang pertama tahun 2012 hingga kudengar beliau meninggal lagi.


Apa dulu beliau hanya mati suri? Bukan. Beliau sudah dimakamkan dengan tenang. Apa peristiwa dulu bagian dari mimpi? Atau sebuah persepsi dari luar ruang nyata? Atau ada masalah dengan memoriku? Tidak. Pada saat itu, kejadiannya juga di pagi hari. Aku pun sempat takziah bersama ayah. Aku menyaksikan tubuh Mak Iroh dibalut kain kafan. Melihat orang-orang yang melayat, keluarga yang menangis berduka, dan prosesi pemakamannya. Semua masih terpampang nyata dalam pandanganku.


Apakah pengalamanku tersebut sebagai bentuk penjelajahan waktu yang tak kusadari? Bukan juga. Kejadiannya ada di masa lalu dan setelahnya (masa depan). Apakah ada dua Mak Iroh? Atau dunia manusia sebenarnya memilki kembaran? Aku pikir liburan di rumah akan membebaskanku dari hal-hal yang mengerutkan nalarku.

__ADS_1


__ADS_2