Di Sekitar Kita

Di Sekitar Kita
Bab 10: Tabir


__ADS_3

Keesokan paginya – sebelum berangkat kuliah – aku membereskan kamar Mas Bimo. Aku ingat pakaiannya masih berserakan di lantai.


Kurapihkan pakaian Mas Bimo satu per satu dan menyusun kembali ke dalam lemari. Aku belum menemukan sesuatu yang aneh. Padahal aku yakin salah satu medium guna-guna itu ada pada salah satu pakaiannya.


Tas jinjing berwarna hijau berisi jas almamater terasa tidak mencurigakan. Namun, aku membawanya ke Mas Bimo untuk menggali informasi perihal benda tersebut.


“Gimana kondisi Mas Bimo hari ini?” tanyaku sebelum melakukan wawancara singkat dengannya.


“Sudah jauh lebih baik, Ya,” jawabnya yakin. Dia sudah bisa berdiri tegap.


Aku senang melihatnya sudah mulai pulih, tetapi dalam pandanganku tetap saja ada hal yang aneh.


“Mas, kemarin Mas Bimo merasakan kepanasan ketika memegang tas ini?” Aku sodorkan benda yang dimaksud.


“Emmm… Kenapa, Ya?”


“Ini punya Mas Bimo, kan?”


“Betul.” Mas Bimo mendekati sambil memeriksa. “Ada apa Ya dengan jas almamater ini?” Kemudian, dia mengambil jas tersebut dan memakainya. “Aku keren kan pakai ini? Akhirnya, besok aku sidang juga.”


Ternyata jas itu tidak menyimpan sihir. Aku merasa sedikit lega walaupun itu artinya aku harus memeriksa benda lain yang ada di kamarnya.


Aku berpikir untuk mencari informasi lain. Aku sebenarnya tak tega membahas masalah itu. Namun, lebih cepat diselesaikan akan lebih baik.


“Maaf, apa Mas Bimo ngerasa punya musuh atau pernah nyakitin orang?”


Dia menengadah ke langit, mencari jawaban sambil mengingat-ingat. “Aku sih ngerasa nggak ada. Hubunganku dengan teman-teman juga baik-baik aja.”


Pelik. Bagaimana aku bisa tahu pelakunya jika tidak ada clue yang bisa aku dapatkan. “Emmm…”


“Ya, sebenarnya apa yang mau kamu sampaikan.” Mas Bimo mengajakku duduk untuk berbincang dalam mode serius. “Aku nggak apa-apa kok, Ya.”


Aku kembali berpikir sembari menyusun kalimat. “Apa Mas Bimo merasa jika kondisi Mas Bimo saat ini tidak wajar? Tanyaku dibalasnya dengan mengangguk. Aku pun melanjutkan eksplorasiku. “Aku merasa ada orang yang tidak suka kepada Mas Bimo. Dia – lalu – mengirimkan guna-guna kepada Mas Bimo. Itulah alasan utama mengapa di kamar Mas Bimo terasa angker sehingga aku melarang Mas Bimo tidur di sana untuk saat ini.”


“Guna-guna, Ya?” Mimik Mas Bimo menjadi gelisah dan takut. “Padahal aku merasa tidak punya musuh dan tidak pernah juga menyakiti orang lain.”


“Itulah, Mas. Aku baru sebatas merasakan. Aku juga belum ada petunjuk yang nyata.”


Mas Bimo tertunduk, dan seketika menangis. “Aku takut, Ya. Tolong bantu aku!”


“Mas….” Aku berusaha merangkulnya. Aku menyesal malah membangkitkan kesedihan.


“Aku memang merasa ada yang aneh dalam diriku. Tapi hatiku masih menyangkal jika ada yang guna-guna aku, Ya.”


Kenapa badan Mas Bimo selalu terasa dingin jika aku sentuh?! “Yang harus Mas Bimo lakukan sekarang yaitu berdoa, meminta pertolongan dari Tuhan. Terus Mas Bimo harus tetap menjaga pikiran Mas Bimo. Aku tahu sulit. Tapi tetaplah buat pikiran Mas Bimo tenang.”


Mendadak terdengar suara pintu kamar dibuka. Aku menoleh. Tampak Dani melongo. “Kalian…. Maaf, jika aku menganggu. Aku tidak tahu kalau kalian sedang…. ” Dia berbalik badan.


Aku memolotinya, “Dan… Masuk!”


Aku memberi tanda supaya Dani tidak bercanda dahulu. Dia pun mengerti setelah aku tunjukkan Mas Bimo sedang sedih.


“Sorry… Sorry…” ucapnya perlahan.


Kuperhatikan Dani membawa sesuatu. Aku pun langsung bertanya karena merasa benda yang dibawanya terlihat janggal, “Kamu bawa apa itu, Dan?”


“Ini buat Mas Bimo,” jawabnya sambil menyodorkan sebuah bingkisan.


Mas Bimo membuka matanya. “Cuma kalian yang peduli banget sama aku. Selama nge-kost di sini, baru kali ini aku merasa seperti punya saudara. Ada adik-adik yang menjaga. Sementara dengan yang lain, meski ada yang sudah kenal cukup lama, tetapi hanya sebatas teman main.”


“Sudahlah, Mas. Kamu kan teman kakakku juga. Lagi pula, di sini kita memang harus menjalin rasa kekeluargaan supaya pertemanan kita juga hangat”, tutur Dani berupaya mengganti suasana supaya lebih cerah.


“Terima kasih ya, Dan. Kamu dan kakakmu sama baiknya,” puji Mas Bimo.


“Oh ya Mas, tadi saya ajak cewek yang nganterin kue ini masuk, tapi dia nggak mau. Katanya malu”, jelas Dani.


“Yeni memang agak pemalu, Dan. Lupain aja! Ayo kita makan sama-sama,” ajak Mas Bimo sambil membuka dua box kue yang diterimanya. Isinya Pisang Bolen dan Brownies.


“Dia kekasih Mas Bimo?” tanya Dani penasaran.


“Sudah jadi mantan.”


“Tapi masih dekat?” lanjutnya menggali informasi.


“Justru kami jadi lebih dekat setelah jadi mantan.”


“Emmm…” Ada yang berbeda dari ekspresi Dani.


“Kalian lanjutin aja ngobrolnya ya. Aku berangkat kuliah dulu,” ucapku sambil meraih ransel.


“Kamu nggak mau cobain bolen dan brownies-nya dulu?”


Mas Bimo mencoba menawarkan, tetapi aku masih kenyang. “Nanti aja, Mas. Barusan habis sarapan soalnya,” tolakku halus.


Dani terlihat lahap menyantap kue yang diberikan Teh Yeni untuk Mas Bimo. “Ini enak banget loh, Ya. Iya kan, Mas?”


“Baru mau saya coba.” Mas Bimo mengambil satu potong pisang bolen. Ia tampak tergoda dengan testimoni yang diberikan Dani. Aromanya memang menggoda, tetapi ada keanehan yang semakin nyata dalam penglihatanku.


Ketika kue tersebut sudah ada di ujung bibir Mas Bimo, segera aku menepuk tangannya. “Jangan, Mas!” Kue itu pun terjatuh ke lantai. Dia dan Dani menatapku heran.


“Kenapa sih, Ya?” tanya Dani dengan mulut penuh, sedangkan Mas Bimo memilih tak bersuara.


Aku lantas menutup jendela dan mematikan lampu kamar. Ruangan menjadi gelap. Mereka makin terlihat kebingungan.


“Lihat, Mas!” perintahku kepada Mas Bimo sambil menunjuk ke dua kotak kue tersebut.


Mas Bimo terkejut bukan main. Dia meremas tanganku dengan cukup kuat, “Apa itu, Ya?”


Aku balik bertanya kepadanya, “Apa yang Mas Bimo lihat?”

__ADS_1


Dia ketakutan, “Ya, kenapa di kue itu ada belatung dan jarum?


“Aku nggak lihat apa-apa,” sanggah Dani.


Aku kembali buka jendela dan nyalakan lampu. Kue yang sebelumnya tampak lezat dan menggiurkan menjadi lembek dan berair. Tercium juga bau busuk dari kue tersebut.


Dani lihat potongan Bolen di tangannya, lalu segera melemparkannya. “Kok bisa jadi gini, Ya?” Dia pun bergidik ngeri.


“Mas Bimo yakin ini dari Teh Yeni,” tanyaku memastikan.


“Iya, Ya. Semalam dia chat aku kalau mau ngirim kue.”


Intuisiku mengatakan kue tersebut bukan dari Teh Yeni. Tetapi, aku pun perlu memastikan terlebih dahulu.


“Mas, Dan, pokoknya kalau ada yang ngasih makanan atau benda apa pun buat Mas Bimo jangan diterima ya!” ucapku waspada.


Mereka pun mengangguk setuju. Terlalu cepat untuk menariik kesimpulan, tetapi harus dilakukan pencegahan sedini mungkin.


“Sekarang aku kuliah dulu. Maaf, aku udah hampir telat,” pamitku sambil membawa semua kue yang tersisa untuk dibuang ke tong sampah.


Dani berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan Bolen yang sempat melalui dan masih tersangkut di kerongkongannya. Sasaran utamanya bukan Dani. Meskipun dia telah menelan makanan tersebut, namun tidak akan ada reaksi apa pun dalam dirinya.


Teh Yeni. Dia memiliki aura positif. Aku masih menyangsikan jika dia yang menaruh guna-guna di dalam makanan yang ditujukan untuk Mas Bimo.


Mas Bimo mengatakan jika dia tidak memiliki musuh dan juga merasa tidak pernah menyakiti perasaan seseorang, sementara Teh Yeni mantan kekasihnya. Apa mungkin sebenarnya ada rasa sakit hati dalam diri Teh Yeni akibat hubungannya kandas dengan Mas Bimo? Sebuah teka-teki kembali menantangku.


Setelah selesai mengikuti mata kuliah pagi, aku langsung menuju Gedung FISIP untuk mencari Teh Yeni. Dalam tubuh Mas Bimo masih terdapat guna-guna. Jika masalahnya tidak segera diselesaikan, aku sangat khawatir kondisinya kambuh dan bahkan bisa menjadi lebih parah.


Beruntung, dari kejauhan aku lihat Teh Yeni sedang duduk di kantin bersama dua temannya. Sejujurnya, aku merasa canggung untuk menghampiri dia.


Teh Yeni melirik ke arahku. “Arya…” panggilnya sambil melambaikan telapak tangan ke arah dalam.


“Hallo, Teh,” sapaku seraya menggaruk bagian belakang kepala.


Teh Yeni memintaku duduk di antara mereka, “Kamu ada perlu apa ke FISIP?”


Aku belum sempat menjawab, tetapi dua teman Teh Yeni tertawa kecil.


“Kamu mahasiswa baru ya?” tanya salah satu teman Teh Yeni.


Aku mengangguk.


“Fakultas apa?” lanjutnya.


“FIB (Fakultas Ilmu Budaya), Teh.”


“Jadi ini Yen gebetan baru kamu,” timpal satu temannya yang lain. “Manis juga, dan tampak pintar,” sambungnya memberikan pujian.


“Husss, kalian nggak sopan,” tepuk Teh Yeni kepada kedua temannya.


“Maaf ya, kami cuma bercanda,” guraunya. “Tapi serius loh Aa-nya manis dan bikin hati adem ngelihatnya.” Aku tersipu malu. Baru pertama kali ada wanita yang menggodaku se-frontal ini.


“Kamu ada perlu apa atau cari siapa ke FISIP, Ya?” tanya Teh Yeni.


Selesai mengutarakannya, dua teman Teh Yeni malah menyoraki.


“Aku?” ulangnya mengkonfirmasi.


“Iya, Teh.”


“Oke deh, kalau gitu kami pamit dulu ya,” kata salah satu temannya yang memujiku manis. “Selamat berkencan adek berondong yang manis dan tante cantik.”


Mereka pun pamit dan berlalu meninggalkan kami berdua. Teman-teman Teh Yeni memang terlihat pribadi yang rame, seru, dan senang bersenda gurau.


“Jangan diambil hati ya, Ya! Teman-temanku memang begitu.”


“Nggak kok, Teh. Santai aja.”


“Oh iya, sorry, apa yang mau kamu obrolkan denganku?”


Aku mengamati sekitar. Suasana kantin cukup ramai untuk membicarakan maksudku.


“Maaf Teh, gimana kalau ngobrolnya di taman?”


“Oke. Yuk!”


Kami pun pindah ke taman, tempat yang lumayan sepi. Bagaimana pun, percakapan kami cukup sensitif. Aku perlu memastikan obrolan kami tidak menggema ke telinga orang lain.


Setelah duduk di taman, aku langsung mengajukan pertanyaan inti. “Maaf, tadi pagi apa Teh Yeni ke kostku untuk memberikan kue kepada Mas Bimo?”


Dia menggelengkan kepala, “Tidak.”


“Tapi kata Mas Bimo semalam Teteh chat dia dan bilang mau membawakan kue.”


“Iya, betul. Tapi rencanaku habis dzuhur nanti, karena kan toko kuenya buka siang.” Matanya memandang tegas dan wajahnya tak berpaling.


Aku perhatikan mimik wajah dan bahasa tubuhnya. Tak ada isyarat atau gerakan yang menunjukkan jika dia tidak jujur. Jika bukan Teh Yeni, lalu siapa? tanyaku dalam hati.


“Oh gitu ya, Teh.”


“Heem. Emang ada apa ya, Ya?” Dia berbalik ingin tahu.


“Tadi pagi ada yang antar kue untuk Mas Bimo.”


“Siapa?”


“Yang nerima teman aku. Nah, kata Mas Bimo mungkin itu dari Teteh.”


“Tapi sumpah, aku belum ngirim, Ya!” tandasnya.

__ADS_1


“Iya, Teh. Aku percaya.”


Ekspresinya berubah khawatir. “Apa ada hal yang aneh?”


“Mmm…” Aku belum siap menceritakan kejadian sebenarnya. “Gini Teh, setahu Teteh ada orang yang nggak suka atau pernah berselisih paham dengan Mas Bimo, nggak.”


Teh Yeni mencoba mengingat. “Setahuku teman-teman kelas atau di jurusan atau di fakultas baik semua sama dia. Karena dia juga orangnya baik,” terangnya. Kemudian, dia hening seolah memikirkan sesuatu.


“Teh….” Aku sangat berhati-hati dalam mengeluarkan kata.


“Kalau berselisih paham. Mungkin sama aku. Aku mantannya dia. Tapi semuanya udah clear kok, dan kita udah jadi teman biasa aja,” lanjutnya dengan suara sedikit bergetar sedih.


“Begini maksud….”


Belum sempat rangkaian kataku diucapkan seluruhnya, kemudian, dia bercerita, “Kami sempat selisih paham karena hal sepele sebenarnya. Jujur, aku orang yang pencemburu, sementara Bimo orangnya nggak enakan. Aku dan Bimo pacaran selama hampir dua tahun. Selama itu pula aku harus tahan dengan sikap cewek-cewek yang nge-fans sama dia. Dia sangat populer di FISIP bahkan di kampus ini. Dia kan sempat jadi ketua HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan) dan duta kampus. Kadang aku merasa nggak dianggap. Mereka tahu Bimo punya pacar, tapi masih aja pada ngirimin hadiah dan makanan.”


“Maaf, Teh. Aku potong. Perasaan Teteh setelah putus dari Mas Bimo gimana?”


“Emmm… normallah kalau aku sakit hati dan kecewa. Namun, setelah itu aku sadar bahwa kami emang nggak cocok. Bimo mengatakan selalu berusaha ngertiin aku. Aku pun juga mengatakan begitu. Hubungan kami waktu itu udah terlalu toxic untuk dipertahankan,” paparnya.


Banyak perempuan yang mengidolakan sama Mas Bimo dan sering ngasih dia hadiah. Itu seakan kalimat kunci. Tapi bagaimana mencari suspect-nya, sementara aku saja tidak tahu siapa saja fans Mas Bimo. Apa Mas Bimo juga masih ingat barang yang diberikan dan siapa yang memberikan?


Aku menduga guna-guna yang diterima Mas Bimo awalnya ditujukan sebagai pelet atau pemikat. Namun, kemudian berubah arah menjadi dendam.


“Ya, apa yang sebenarnya terjadi dengan Bimo?”


“Aku belum bisa cerita sekarang ke Teteh. Aku izin pamit dulu ya, Teh. Terima kasih banyak Teteh udah mau aku ajak ngobrol.”


Dengan rendah hati, ia pun menyimpan rasa penasarannya. “Iya, Ya. Tapi kalau ada apa-apa dengan Bimo, kabari aku ya.”


“Baik, Teh.”


“Aku boleh minta nomor kamu?”


“Tentu.”


Kami lantas bertukar nomor telepon. Lalu, aku bergegas pulang.


Ketika di jalan, aku merasa ada yang mengikuti dan memperhatikan sejak keluar Gedung FISIP hingga ke gerbang belakang kampus menuju kostku. Aneh! Tapi aku sangat yakin ada yang menguntitku.


Saat aku membuka kamar, Mas Bimo tengah melamun. Aku segera menghampirinya.


“Mas Bimo! Mas! Mas Bimo kenapa?” tanyaku agak panik.


Dia hanya menggeleng-gelengkan kepala.


“Dani udah berangkat kuliah, Mas? Mas Bimo udah makan dan minum obat, belum?” tanyaku lagi sembari menatap wajahnya. Namun, dia tetap tak membuka mulut. Hanya memandang kosong dan mulai menitikkan air mata.


Kontan aku memeluknya. Layaknya seorang adik yang khawatir dengan kakaknya.


Dani tiba-tiba muncul, “Ya, kamu dari mana?”


Aku balik bertanya. “Mas Bimo kenapa, Dan?”


“Aku juga nggak ngerti, Ya.” Wajah Dani menunjukkan ketakutan. “Aku panik, Ya. Mas Bimo bengong aja dari tadi. Di kost juga anak-anak lagi sepi. Anak-anak lagi pada kuliah semua. Aku nggak tahu minta tolong ke siapa.”


Aku coba menghela nafas. Ada sakit yang menyergap dengan sigap. Nuraniku begitu tersentuh. Namun, aku tidak boleh memperlihatkan raut kesedihan di depan mereka.


Kulihat Dani sudah dengan pakaian rapi. “Kamu kalau udah mau berangkat sekarang, berangkat aja, Dan.”


“Aku berangkat kuliah dulu ya, Ya. Kalau ada apa-apa, kabari aku!”


Setelah Dani pergi, aku kembali fokus kepada Mas Bimo. Aku coba menepuk-nepuk pipinya dengan perlahan. “Mas…. Mas Bimo makan dulu ya, terus minum obat,” ucapku lembut sambil berusaha memancingnya untuk tersenyum.


"Ya…” Dia mulai bersuara.


“Iya, Mas.”


“Kenapa ada orang yang tega guna-guna aku ya? Aku salah apa sama dia? Apa dia menginginkan nyawaku sebagai tumbal? Tapi tumbal untuk apa? Padahal besok aku sidang skripsi. Terus kalau besok lulus, bulan depan bisa ikut wisuda. Moment yang aku tunggu selama kuliah. Berfoto dengan kedua orang tuaku dalam satu bingkai,” ujarnya mengundang keharuan.


Air matanya pun mengalir lebih deras. “Aku hanya ingin orang tuaku bangga. Selama ini mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan. Moment berharga yang seharusnya ada mereka, justru tidak terjadi. Seperti ambil raport ke sekolah, mendampingiku saat pertama kali kuliah. Mereka mengaku tidak ada waktu. Jadi, aku sangat berharap pada hari wisuda nanti, mereka datang dan menemaniku memakai toga.”


Aku merasa sangat bersalah telah menceritakan jika ada sihir yang bersarang di dalam tubuhnya. Namun, tak ada niatan dan tak terbersit jika akan membuatnya takut maupun menjadi over thinking. Tujuanku tidak seperti itu. Aku hanya ingin dia melawannya dengan doa dan kekuatan pikiran yang positif.


Aku gagal. Aku seharusnya membantu dalam diam. Benar kata Dani, aku seharusnya bersikap tenang seorang diri. Mencari cara yang lebih manjur tanpa membebani pikiran Mas Bimo. Aku justru sudah memperburuk keadaan.


Aku kembali memeluk Mas Bimo dengan lebih erat. Dia sempat terkejut, karena mungkin tak menyangka aku melakukannya lagi.


“Besok kan Mas Bimo sidang skripsi. Sekarang makan dulu ya, terus minum obat. Please! Setelah itu kita persiapkan apa aja yang Mas Bimo butuhkan buat sidang.”


Ujungnya, aku yang malah larut dalam emosi. Aku tak kuasa membendung air mata hingga berjatuhan membasuh pundak Mas Bimo. Aku orang yang sensitif dan mudah tersentuh. Aku sangat mengakui kedua sifat itu tertanam dalam diri sedari kecil.


Mas Bimo mengusap punggungku. Aku coba keluar dari keharuan.


Sambil mengusap air mata, aku memberikannya semangat. “Mas Bimo, kita sama-sama anak tunggal, hanya terpaut usia Mas lebih tua aja dari aku. Aku senang kenal Mas Bimo, orang yang ramah, baik, mudah bergaul, keren. Aku udah anggap Mas Bimo itu kakakku sendiri, panutanku. Ingat Mas, hari wisuda sudah di depan mata.”


“Arya…” lirihnya menyebut namaku.


“Kayaknya jadi Mas Bimo pas wisuda nanti bakalan sangat menyenangkan,” ucapku mengawang. Dibalasnya dengan sebuah tatapan yang seakan heran dengan pernyataanku. “Mas Bimo kan populer, pasti bakal dapat banyak hadiah dari para penggemar.”


“Kamu tahu dari mana aku populer?”


Aku hanya menjawab dengan senyuman.


Gelap mulai tersingkap. Tawa pun perlahan kembali merekah.


Malamnya, aku dan Dani berinistiaf mengadakan pengajian di kost bersama teman-teman yang lain dan mengundang warga sekitar. Kami sepakat menggelar pengajian untuk mendoakan kelancaran sidang skripsi Mas Bimo. Selain itu, untuk mengusir para pengganggu dari dunia lain.


Selesai pengajian, aku menghampiri Dani. “Dan, orang yang tadi pagi nganterin kue buat Mas Bimo, ini bukan?” Aku tunjukkan foto profil WhatsApp Teh Yeni.

__ADS_1


“Bukan.”


Penelusurkanku mulai mengerucut. Aku akan kembali menemui Teh Yeni untuk menelisik lebih lanjut.


__ADS_2