
Niat hati ingin mendapat ketenangan, tetapi justru misteri bertambah. Laksana baru keluar dari lubang sumur, lalu terjebak dalam labirin. Jika tak bisa mengendali dan mengidentifikasi pikiran, maka selamanya akan berada dalam ruang teka-teki.
Entah kepada siapa lagi cerita ini akan dilabuhkan. Tidak! Aku tidak boleh menggantungkan harapan kepada orang lain. Aku harus percaya pada diri sendiri bahwa pasti akan kudapati jawaban atas segala peristiwa yang kualami.
Waktu menunjukkan jam 11 malam lebih 13 menit. Sunyi dan begitu senyap. Semilir angin bertiup kencang. Langit mendung menutupi cahaya bulan. Kulangkahkan kaki menyusuri jalan kampung menuju sebuah warung. Perutku ingin menyantap mie instan.
Namun belum sampai di tempat yang dituju, langkah terhenti kala melihat ada yang aneh di sebuah rumah yang hendak kulalui. Siapa orang yang duduk termenung di teras rumah Mak Iroh? Dari jarak sekira 10 meter, kulihat dia mengenakan kebaya putih dan kain motif batik berwarna gelap (entah cokelat atau warna lain, terlihat samar).
Kemudian, rasa penasaran mendera batin. Kucoba dekati untuk memastikan. Dia terdengar menangis. Ada aura yang tak biasa, tetapi kuputuskan untuk menyapanya.
Belum sempat terucap kata, justru dia lebih dulu membalikkan badan dan menatapku tajam. Aku tercengang, “Mak Iroh?” Kontan mulutku menyebut namanya. Ingin berlari, tetapi kaki tak mau diajak bergerak.
Aku terpatung dengan mulut rapat. Bulu kuduk mulai berdiri karena tak percaya dengan yang ada di hadapanku.
“Hampura nyah mun Emak loba salah (mohon dimaafkan jika Ibu banyak salah),” ucapnya tersedu.
Aku menutup mata. Mimpi? Ini mungkin hanya mimpi. Mak Iroh sudah meninggal.
“*Pang bejakeun ulah raribut nyah meh Emak*bisa tenang (Tolong sampaikan agar jangan pada ribut agar Ibu bisa tenang),” lanjutnya sambil terus menangis.
Bibirku pun sulit untuk dibuka. Lidah terpenjara, diam tanpa kata.
Kemudian, terdengar langkah dari dalam rumah yang mendekat. Pintu dibuka, lalu segera kubuka mata.
“Arya? Ada apa Ya malam-malam ke sini?” sapa pemilik rumah yang membuka pintu.
__ADS_1
Aku kaget bukan kepalang. “Maaa…Mang Bahri (mang = paman). Nggak Mang, Arya kebetulan lewat aja.” Tubuhku pun bisa bergerak normal kembali.
“Ya udah, masuk aja dulu sini?” ajaknya sambil menarik tanganku.
Aku tak bisa menolak, karena ada pesan yang juga harus disampaikan ke Mang Bahri. “Sepi ya, Mang? Saudara Mamang nggak pada nginep? Tadi pas tahlilan kayaknya masih rame.”
“Beginilah, Ya. Dari tahlilan pertama hingga tadi ketujuh pun nggak ada yang nginep di sini. Pada langsung pulang, bahkan adik-adik Mamang cuma datang pas pemakaman aja.”
“Maaf ya, Mang. Arya nggak maksud….” Aku merasa pertanyaanku membangkitkan kesedihannya.
“Nggak apa-apa, Ya. Kamu mau ngopi atau minum apa?”
“Nggak, Mang. Arya cuma sebentar aja kok.”
“Padahal mamang senang ada yang nemenin.” Aku melihat ada banyak kegundahan yang ingin dia bagi kepada orang lain. Tetapi jika dia tidak memulai cerita, aku tidak mau mengundangnya bercerita. “Emang kamu mau ke mana atau dari mana?” tanyanya lagi.
“Terus, kok bisa ada di depan rumah Mamang?”
Jika aku langsung cerita, sepertinya Mang Bahri tidak akan langsung percaya. Aku harus memperhatikan timing yang sesuai. “Em… Arya… tadi…” Aku cukup gugup.
Mang Bahri memotong ucapanku, “Kamu lihat Emak di teras?”
Aku terbeliak. Bagaimana Mang Bahri bisa tahu? Apa dia juga melihatnya? “Hah! Kok Mamang bisa tahu?”
“Banyak yang mengaku pernah melihat Emak duduk di teras beberapa malam terakhir. Padahal Emak kan sudah tiada,” ungkapnya. Wajahnya menunduk pilu. Tampak jelas dia sebenarnya tak tahan ingin mengurai kisah.
__ADS_1
“Sebetulnya, memang benar tadi Arya lihat Mak Iroh lagi duduk di teras. Awalnya Arya kira siapa, makanya Arya samperin,” terangku dengan hati-hati. Aku khawatir Mang Bahri menjadi tambah sedih dengan mengira arwah ibunya bergentayangan.
“Arya sempat ngobrol sama Emak?” Raut Mang Bahri berubah penuh harap. Aku semakin yakin ada hal yang ingin diceritakan olehnya, hanya dia masih meraba siapa yang bisa menjadi pendengarnya.
Aku pun beranikan diri menyampaikan pesan yang diucapkan Mak Iroh. “Mang Bahri boleh percaya atau pun nggak.” Kucoba atur nafas sejenak, “Tadi Mak Iroh menyampaikan pesan agar keluarganya bisa hidup rukun dan damai.”
“Terus Emak ngomong apa lagi, Ya?”
“Hanya itu, Mang.”
Mang Bahri menghela nafas dan memutar pandangan, “Sepertinya Emak masih khawatir anak-anaknya meributkan soal warisan. Memang adik-adik Mamang sudah ada yang menyinggung hal itu. Padahal, makam Emak aja masih basah. Peninggalan Emak juga cuma tinggal rumah ini dan tanah yang di ujung jalan, tepi sawah,” tuturnya haru. “Jadi, rupanya itu yang ingin Emak sampaikan untuk kami.”
Aku pernah mendengar, ketika orang meninggal, ruhnya masih ada di sekitar rumahnya. Dia mengamati kehidupan keluarganya setelah ia tinggalkan. Ada juga yang mengatakan jika 7 hari setelah kematian merupakan periode ujian bagi ahli kubur di mana saat itulah ia menghadapi pertanyaan dari Malaikat Munkar dan Nakir. Initinya, penampakan Mak Iroh mungkin sebuah manifestasi agar keluarganya mendoakan dia daripada meributkan masalah duniawi.
“Maaf Mang, itu yang sebenarnya ingin Arya sampaikan. Arya tak bermaksud ikut campur atau pun ingin tahu masalah dalam keluarga Mang Bahri,” imbuhku.
“Semasa hidup Emak sudah cukup menderita. Anak-anaknya hanya meributkan masalah harta,” getirnya. “Di sini Emak hanya tinggal berdua dengan Mamang. Ketiga adik Mamang sudah berkeluarga dan punya rumah masing-masing. Sayangnya, mereka jarang sekali menengok ibunya. Bahkan pas Idul Fitri pun jarang berkumpul. Mereka baru ke sini jika ada maunya.”
“Mang, sekarang kita doakan aja supaya Mak Iroh tenang,” ucapku halus.
“Mamang masih ingat, tanggal 14 April tahun 2012”, suaranya memantapkanku untuk duduk lebih lama mendengarkan cerita yang ingin disingkap. “Pada saat itu, Emak minta diantar ke Tenjo (Kabupaten Bogor) buat ngehadiri acara khitanan cucu bungsunya. Padahal waktu itu kondisi Emak sedang tidak enak badan. Namun, Emak ngotot pengen ke sana. Malamnya, Emak ngajak pulang. Katanya pengen tidur di rumah aja. Mamang tahu, adik Mamang cuek sama kehadiran Emak.
Tadinya mau Mamang tegur, namun Emak ngasih kode supaya tidak buat keributan. Kami pun pulang sekitar habis Isya, jam setengah delapan-an. Lalu, di jalan Emak minta berhenti sebentar, katanya kepalanya mendadak sakit,” suaranya mulai bergetar sedih.
“Mamang berhenti di depan minimarket untuk beliin Emak obat dan minum. Mamang minta Mak tunggu di luar karena di dalam ada AC. Mak mengiyakan. Tetapi, pas Mamang keluar Emak tidak ada di depan. Kemudian, terlihat orang ramai di tengah jalan sambil berteriak ada yang kecelakaan. Batin Mamang saat itu udah nggak enak, Mamang lari untuk ngelihat. Ternyata, Emak yang terkapar di jalan. Kata orang, Emak mau nyebrang ke tukang sate, terus tiba-tiba ada motor melaju kencang banget dan nabrak Emak hingga terpental sejauh 15 meter. Di situ tubuh Emak udah nggak bergerak, dan yang ngendarain motornya pergi gitu aja. Mamang segera bawa Emak ke rumah sakit naik angkot. Ada yang meminta nunggu ambulans. Namun melihat kondisi Emak, pikiran Mamang udah pengen cepat-cepat bawa Emak ke rumah sakit aja.”
__ADS_1
Air matanya bercucuran. Aku pun terbawa suasana.
“Saat mengangkat tubuh Emak, Mamang ngerasa tubuhnya udah mulai kaku. Warga yang turut membantu pun sempat bilang supaya sabar. Mamang benar-benar takut di situ. Mamang ngerasa begitu bersalah. Harusnya Mamang nggak biarin Emak menunggu.”