
Sepanjang perjalanan di dalam kereta, aku memilih untuk diam. Tak banyak obrolan yang tercipta di antara aku dan Dani. Dia pun tak banyak bicara seakan mengerti jika aku sedang ingin menyimpan energi dan kata-kata.
Selama 13 jam di dalam kereta, sampai juga di Stasiun Malang. Berangkat sore hari sekitar jam 5, sampai tujuan pukul 06.30. Cukup melelahkan, cukup mendebarkan, dan cukup dekat untuk mendapatkan ketenangan batin.
“Ya, Mas Bimo sedang on the way jemput kita ke sini. Barusan dia WA aku,” ucap Dani.
Aku gamang mendengar berita tersebut. “Dan, bilang ke Mas Bimo kalau dia nggak perlu jemput kita ke sini. Kita juga nanti cari penginapan aja ya di pusat kota.”
“Tapi, Ya….” Dani hendak menolak.
“Aku nggak mau merasa berhutang budi sama Mas Bimo. Kamu tahu kan tujuanku ke sini?”
“Iya, Ya. Cuma aku harap kamu tidak terbawa emosi,” pintanya.
“Kamu nggak perlu khawatir, Dan”.
Kami bergegas menuju pusat kota untuk mencari penginapan agar segera bisa beristirahat. Aku meminta Dani untuk mengatur pertemuan dengan Mas Bimo di sore hari selepas Ashar. Aku tak mau tergesa-gesa. Pikiran dan badan harus prima agar mampu mengendalikan emosi saat nanti berhadapan dengan Mas Bimo.
Awalnya, aku tak ingin terlalu dalam menceburkan diri di masalah segitiga antara Mas Bimo, Nining, dan Teh Yeni. Sayangnya, hidupku menjadi tidak tenang ketika aku mencoba menghindar. Kenapa aku harus berlagak jadi pahlawan? Apa yang sebenarnya terjadi dalam diriku? Pertanyaan tersebut terus menggelayut mengikuti bayanganku. Aku akan berusaha semampuku, dan mengamini jika semua ini bagian dari garis hidup yang memang harus aku jalani.
Kami menyewa sebuah kamar dengan dua kasur (twin bed) di pusat kota. Bagi anak kost seperti kami yang penting ada tempat untuk bermalam sudah cukup, tak harus tidur di hotel atau tempat mewah.
Kami beruntung, pemilik penginapan memperbolehkan kami langsung masuk kamar tanpa dikenakan biaya early check in yang biasanya dibebankan kepada tamu yang datang menginap pagi hari atau sebelum jam 12 siang. Bahkan, beliau memberi kami paket sarapan juga.
Setelah menyantap sarapan, Dani pamit untuk membeli air minum dan makanan ringan di minimarket seberang penginapan. Namun, ada yang aneh dengan dirinya. Dia terus memandang layar ponselnya dan berusaha menjauh dari pandanganku.
Tak ingin larut dalam kecurigaan, aku memutuskan membersihkan badan terlebih dahulu sambil mengelola pikiran dan merangkai kata untuk meminta penjelasan dari Mas Bimo. Lalu, tidur untuk meregangkan otot. Waktunya masih cukup panjang.
Saat hendak menyelipkan bantal di kepala, seseorang mengetuk pintu. Dani? Rasanya bukan. Dia bisa langsung membuka pintu atau memanggilku. Atau mungkin itu pemilik penginapan? Ah, daripada menduga, aku pastikan dengan membuka pintu.
Ternyata Mas Bimo. Kecurigaanku benar, Dani bersekongkol dengan Mas Bimo. Huh! Pertemuan yang terlalu cepat. Otakku belum siap 100 persen.
“Kenapa kamu tidak mau menginap di rumahku? Kamu juga tidak mau dijemput di stasiun, ada apa? Kemudian, kamu tidak mau juga difasilitasi untuk transport?” Dia langsung membombardir pertanyaan dengan wajah merah menyala. Terpancar kesal, marah, dan kecewa. Itu juga yang sedari beberapa hari terakhir aku pendam.
Aku mencoba diam. Tak ingin meladeni apalagi mengadu emosi dengannya.
“Jawab, Ya! Kenapa kamu jadi aneh? Apa aku ada salah sama kamu? Apa? Ngomong aja, Ya!” Suaranya makin lantang berkobar.
Aku masih diam. Mematung di hadapannya. Membiarkan dia meluapkan amarahnya. Jika aku pun terpantik api, maka tujuanku akan sia-sia. Aku ingin berbicara dengannya secara baik-baik dahulu.
Bruuukkk!!! Mas Bimo mendorong tubuhku hingga jatuh membentur kasur. Aku tak menduga dia menyerangku tiba-tiba. Fisiknya mulai berayun untuk mengancam.
Dani pun muncul dari arah belakang Mas Bimo. Dia membantu membangunkanku.
Aku menepis bantuan dari Dani. “Kenapa kamu lebih pro ke Mas Bimo, Dan?” tanyaku halus nan menyindir.
“Ya, aku minta maaf. Aku hanya menjawab yang Mas Bimo tanyakan. Bukankah lebih baik juga jika masalahnya dibicarakan lebih cepat?” Paras Dani mengguratkan rasa bersalah.
Maksud Dani memang baik, tetapi ini masalah yang harus dibicarakan tanpa emosi. Sepertinya penyampaianku kepada Dani justru membuatnya bingung.
“Ada masalah apa denganku, Ya?” tatap Mas Bimo kepadaku.
Tak ada sela untuk menghindar. Aku putuskan mengungkap lebih cepat. “Mas Bimo tahu kalau Nining sudah meninggal dunia?”
__ADS_1
“Ya, aku tahu. Terus masalahnya apa?” Alisnya mengerung. Sorot mata dan kepalan tangannya seolah ingin menghantamku sekali lagi.
Aku atur vokalku terlebih dahulu agar tetap halus. Selanjutnya, aku ajukan pertanyaan pengingat, “Apa yang Mas Bimo sudah lakukan ke Nining?”
“Apa maksudmu? Harusnya kamu menceritakan apa yang dia lakukan ke aku!”
“Aku tahu perbuatan Nining ke Mas Bimo di luar logika. Tapi apa yang Mas Bimo lakukan ke dia sehingga dia ingin membunuh Mas Bimo? Bukankah hal itu aneh. Tak mungkin ada asap tanpa ada api,” pungkasku.
Mas Bimo terdiam. Aku pun mengambil bungkusan yang dia tinggalkan di kamar kost-nya. Aku sengaja membawa untuk bukti.
Kusodorkan langsung kepadanya. “Ini punya Mas Bimo, kan?”
Dia menyangkal, “Benda apa itu? Aku nggak tahu.”
Dani menarikku agar menjaga jarak dengan Mas Bimo.
“Ini dari lemari Mas Bimo. Maaf, aku lancang membawakan benda ini ke sini. Benda ini yang sudah memperlihatkan kepadaku betapa brengseknya Mas Bimo,” nadaku mulai sinis.
Satu pukulan sekonyong-konyong mendarat di pipi kananku. Dani dengan sigap menengahi.
“Karena benda itu kamu merasa tahu segalanya. Mentang-mentang kamu punya indera keenam. ” Mas Bimo membara.
Padahal aku sebisa mungkin untuk tetap tenang. Nyatanya, aku terdesak untuk meladeni suaranya yang makin meninggi. “Mas, Nining menganggapmu sebagai pelindungnya. Dia menganggap Mas Bimo sebagai sosok yang baik. Aku pun berpikir demikan, bahkan menganggapmu panutan. Tetapi, kamu di luar dugannku. Kamu bejat!”
“Terus terang saja, apa maksudmu? Jangan berbelit!” Kedua tangannya masih mengepal.
“Oke. Nining pernah mengandung anak Mas Bimo, kan? Lalu, Mas Bimo memintanya untuk aborsi? Setelah dia melakukannya, Mas Bimo malah mencampakkannya.”
“Jangan asal ngomong, Ya? Apa buktinya? Cerita dari Nining? Terus kamu percaya gitu aja?”
Aku mengatur nafas agar bisa mengendalikan perkataanku. ”Memang tidak ada bukti nyata. Tapi bagaimana kalau mereka yang masih hidup seperti Teh Yeni atau perempuan lain yang sudah Mas Bimo tiduri membuka suara? Masih mau mengelak? Aku sebenarnya tidak mau peduli dengan kelakuan Mas Bimo yang seperti ini. Tetapi, Nining sudah menjadi korban nyata yang mengalami depresi hingga meregang nyawa. Bahkan, dia tak hanya berupaya balas dendam dengan menggunai-gunai Mas Bimo. Dia juga datang ke kost untuk membunuh Mas dengan tangannya sendiri. Kenapa? Karena Nining tak ingin ada lagi korban lain yang mengalami tekanan seperti dia akibat ulah nafsu Mas Bimo?”
Kemudian, aku mengangkat kaos yang aku kenakan, dan menunjukkan jahitan luka. “Lihat ini, Mas! Ini tanda yang Nining sayatkan, karena salah mengira jika aku adalah kamu. Betapa dalam dendam yang tertanam di hatinya. Aku jauh- jauh datang ke sini karena sayang sama kamu, Mas. Aku berpikir masih ada kesempatan untuk Mas Bimo memperbaiki diri.”
Darahku mendidih, kepala mengepul. Tak pernah aku – sebelumnya – begitu kesal dalam berbicara.
“Ya, lebih baik kita keluar. Coba tenangkan dirimu!” ucap Dani yang tampak khawatir karena situasi menjadi tak terkontrol.
Mas Bimo menarik kerah kaosku hingga nyaris robek. “Jadi, kamu sayang sama aku? Kamu cemburu setelah tahu aku yang sebenarnya?” Tangan kanannya mengapit kedua pipiku cukup kencang hingga kepalaku terangkat. “Alasan kamu jauh ke sini karena cemburu. Hahaha…. Arya, kalau kamu suka sama aku, bilang saja!”
Aku meringis. Wajahnya hanya beberapa centimeter dari wajahku. Aku berusaha melawan, namun kalah dalam adu tenaga.
“Mas, sudah Mas. Tolong lepasin, Arya!” Dani berusaha menyingkirkan tangan Mas Bimo yang mencekik pipiku.
“Aku suka sama Mas Bimo? Haha…” balasku dengan tertawa satir. “Apa seseorang menjadi baik, karena menaruh rasa suka? Apa aku pernah meraba Mas Bimo? Apa ketika Mas Bimo tidur di kamarku pernah merasakan aku menggesekkan badan ke Mas Bimo? Apa aku pernah berusaha mendapatkan perhatian Mas Bimo? Aku mengatakan sayang sebagai teman. Aku pikir kita bisa menjadi teman rasa saudara. Sayang aku kepada Mas Bimo bukan karena aku cemburu. Aku masih normal, Mas. Aku ke sini untuk menyampaikan pesan setidaknya Mas minta maaf ke Nining, datang ke makamnya. Lalu, minta maaf kepada perempuan-perempuan yang telah Mas renggut keperawanannya yang setelah itu Mas campakkan. Kenapa? Aku merasakan waktu Mas Bimo tidak lama lagi. Sejujurnya, aku tak mau mengurusi Mas Bimo. Tetapi, batinku terus menuntunku hingga kita bertemu seperti ini. Sayangnya, kamu malah ke-geer-an. Ternyata se-naif itu mindset kamu, Mas.”
Mas Bimo melepaskan tangannya. Dani membantuku mengatur posisi agar berdiri dengan tegak kembali.
Tak lama, Mas Bimo menghajarku bak kesetanan. Aku berusaha menangkis, namun beberapa pukulan mampu tembus dan mendarat di pipi dan dadaku. Dani yang berupaya melerai pun terkena kepalan tinju Mas Bimo di pipi sebelah kiri.
Pemilik penginapan datang sembari beteriak. Beliau pun menarik Mas Bimo keluar. Setelah itu, Mas Bimo pergi tanpa terucap sepatah kata pun.
Aku dan Dani meminta maaf kepada pemilik penginapan atas keributan yang terjadi. Untungnya, kami tak diusir.
__ADS_1
Naas, hal yang aku antisipasi justru terjadi. Rasanya, aku ingin berhenti terlibat dalam urusan orang lain. Ingin menjadi apatis, meski hidup mereka muncul dalam nubuat.
Aku merebahkan diri di atas kasur sambil menahan sakit. Dani membujukku ke klinik untuk mendapatkan pengobatan. Namun, aku mengatakan butuh waktu untuk tidur terlebih dahulu.
Dani membangunkanku untuk sholat Dzuhur. Rupanya sudah jam 2 siang. Pikiranku menjadi lebih tenang. Tugasku sudah selesai lebih awal.
“Ya, aku benar-benar minta maaf. Aku pikir tidak akan ada keributan seperti tadi pagi.” Dani masih tampak merasa berdosa.
“Sudahlah, Dan. Aku memang sempat kesal sama kamu, tetapi yang sudah terjadi biarlah berlalu,” ucapku tenang.
“Habis sholat, aku antar ke klinik. Kata si Bapak yang punya penginapan, nggak jauh kok dari sini. Hanya sekitar 100 meter ke Utara. Di sana juga banyak warung makan, sekalian kita makan siang di sana.”
“Iya, Dan.”
Setelah dari klinik dan makan siang, kami mengitari tempat-tempat di sekitar penginapan. Udara Kota Malang cukup sejuk. Suasananya pun terasa aman dan nyaman. Hingga tak terasa hari berganti malam.
Tadinya, kami mau langsung pulang ke Bandung. Urusanku dengan Mas Bimo kuanggap sudah selesai, walau tak sesuai harapan. Namun, setelah dipikir kembali, kondisinya kurang memungkinkan bagi kami untuk duduk belasan jam lagi dalam kurun kurang dari 24 jam, Badanku terasa begitu lemas. Dani pun pasti masih capek.
Selepas sholat Isya Dani langsung terlelap. Sementara aku mencoba mengundang kantuk dengan membaca buku yang sengaja kubawa untuk menemani saat tak ada teman bicara.
Malam semakin larut, mataku masih terjaga. Aku coba nyalakan ponsel yang kumatikan sejak siang hari.
Ada 17 panggilan tidak terjawab dari Mas Bimo. Panggilan terakhir pukul 01.37 atau 5 menit yang lalu. Aku matikan kembali ponselku.
Dani menyarankan agar aku tak lagi mengurusi masalah Mas Bimo. Aku pun setuju. Anggap semua masalah dengan Mas Bimo sudah clear.
Rasa suntuk membawaku berjalan keluar area penginapan untuk mencari angin dan melihat situasi malam di Kota Apel. Rupanya cukup sepi. Hanya satu dua kendaraan yang terlihat masih melintas di jalan raya.
Lalu, terdengar suara perempuan merintih di gazebo di samping penginapan. Aku segera melihatnya. Ternyata sepasang muda-mudi tengah berbuat mesum. Aku lantas menghampiri dan menegur mereka. Perbuatan mereka sangat tidak patut.
“Mas, Mbak, ini tempat umum,” ucapku tanpa ancang-ancang.
Kemudian, si pria berbalik. Hah? Mas Bimo. Dia memolotiku.
Udara di sekitar berubah menjadi panas dan cahaya lampu di gazebo berkedip-kedip. Seketika itu juga, aku tahu sosok yang di depanku merupakan jelmaan jin.
Wajahnya berubah ngeri, hancur tak berbentuk. Bola matanya keluar, daging pipinya tersayat dan mengambai dengan dipenuhi darah yang menetes.
Dia berjalan ke arahku. Kontan aku berlari kembali ke penginapan.
Namun, ada yang menghadang langkahku untuk masuk ke dalam penginapan. Tubuh kami bertabrakan.
Apa? Mas Bimo? Dia berdiri di depanku. Aku terkejut bukan main.
Kucoba lihat ke belakang. Tak ada lagi yang mengejarku.
“Kamu habis ngapain di luar, Ya?” tanya dengan suara bergetar bak selesai bertarung dengan kesedihan.
“Cari angin,” jawabku datar.
“Aku bawa obat dan makanan.” Dia memelukku. “Aku benar-benar minta atas kejadian tadi pagi. Aku di sini dari jam setengah delapan. Aku telepon kamu dan Dani, tapi hape kalian tidak ada yang aktif. Aku menunggumu di sini hingga aku tertidur di mobil. Kemudian, aku terbangun karena mendengar ada suara langkah. Ternyata itu kamu,” tuturnya.
Aku hanya diam, tak memberinya respon. Aku mencoba mencerna yang akan terjadi, karena saat aku bersinggungan dengan Mas Bimo muncul sebuah gambaran kecelakaan antara pengendara motor dan sebuah truk tronton.
__ADS_1
Pengendara motor itu melaju kencang dan hendak menyalip bus di depannya. Namun, dari arah berlawanan muncul truk tronton. Pengendara motor itu pun tak bisa menghindar hingga terlindas ke kolong truk besar itu. Motornya hancur berkeping-keping, helmnya terpental begitu jauh, dan mukanya menyapu aspal.
Aku bergidik ngeri. Pengendara motor itu sangat identik dengan Mas Bimo. Benarkah itu potret masa depannya? Naluri mengatakan aku harus bisa mencegah kecelakaan yang akan menimpanya. Air mata pun terdorong keluar. Akkkkh!!!