
Waktu terus bergulir. Hari pun silih berganti. Berbagai peristiwa mengendapkan pertanyaan yang membentuk kuarsa di kepala. Semakin tak ingin merasakan, semakin nyata ia mengganggu kehidupan.
Adakah yang akan memahami jika kejadian yang aku alami bukan fiksi? Aku mencoba melupakan setiap peristiwa ganjil yang menerpa hidupku. Tetapi, tetap saja itu masih membebani hari-hari yang kujalani.
Aku coba mengamati rumah kost di pertigaan gang. Aku hanya ingin memastikan jika sosok kakek yang ada di sana nyata atau tidak.
“Ya, serius amat ngamatin kost putri itu. Ada yang kamu taksir di sana?”
Lagi, lagi, dan lagi. Kehadiran Dani mengejutkanku. Dia selalu muncul tiba-tiba, atau karena aku yang terlalu serius sehingga tak merasakan dia ada di belakangku.
“Dani…” Aku memelototinya.
“Sorry Ya kalau bikin kamu kaget. Habis kamu serius banget sampai nggak sadar aku dari tadi di belakangmu.”
“Dan, apa kamu pernah lihat ada seorang pria tua di rumah kost putri itu?”
“Pria tua?” Dani mengernyitkan keningnya. “Itu kan kost putri, Ya. Mana mungkin ada kakek-kakek di sana.”
“Pemiliknya, mungkin?”
“Pemilik kost itu salah satu dosen yang mengajar di jurusanku, dan beliau masih muda.”
“Dan…”
“Ada apa sih, Ya?”
Aku menarik lengan Dani dan mengajaknya ke kamarku. Dani menurut walau tampak bingung.
Setelah sama-sama dalam posisi duduk, aku tak mengulur waktu atau pun meminta persetujuan Dani lagi untuk bercerita.
“Dan, dua malam yang lalu aku mengalami kejadian yang buatku sendiri di luar logika.”
“Jadi, malam itu kamu menangis karena mengalami kejadian aneh. Apa betul, Ya? Apa itu juga ada hubungannya dengan malam ini kamu tampak serius memperhatikan kost putri yang di pertigaan itu?” Pertanyaannya menyiratkan antusiasme menjadi seorang pendengar.
Dani memang sulit ditebak. Dia bisa menjadi pendiam, bisa juga penuh dengan rasa penasaran.
“Kamu ingat waktu aku pamit dari kamarmu untuk sholat Maghrib?”
“Iya.”
“Nah, setelah selesai sholat Maghrib dilanjutkan sholat Isya, aku berencana ke kamarmu kembali. Namun justru suasana mendadak menjadi sepi. Aku tak mendengar suara siapa pun. Dari situ, aku bergegas melihatmu.” Aku mencoba menahan rasa sedih. Sejujurnya, mengingat kejadian Dani kejang-kejang kesakitan membuatku sedih bercampur takut. “Aku lihat kamu terkapar di kasur dengan tubuh kejang-kejang dan mulut berbusa. Di situ aku panik banget. Aku coba cari bantuan orang lain, tetapi tak ada satu pun penghuni di kompleks ini selain kita berdua,” tuturku.
“Lalu?”
Aku menarik nafas dahulu sebelum melanjutkan cerita. “Aku lihat ada Mas Bimo pulang dan langsung masuk ke kamarnya. Namun aku panggil-panggil beberapa kali, dia tak menyahut. Begitu pun saat kubuka pintu kamarnya, ternyata tidak ada siapa-siapa. Aku berkeliling mencari bantuan. Saat itulah kulihat pintu rumah kost itu terbuka. Aku langsung mendekati. Kemudian, muncul seorang kakek dengan jubah putih dan bersorban dari dalam rumah tersebut.”
“Apa yang terjadi selanjutnya?” Dani tampak tidak sabar.
“Aku meminta bantuan kakek tersebut, tetapi dia malah menyuruhku pulang. Aku pun pulang dan berencana membawamu ke fasilitas kesehatan terdekat.”
“Terus apa yang terjadi denganku?” Matanya semakin fokus memandangku.
“Saat kubuka pintu kamarmu, kamu sedang duduk sambil memainkan hape. Perlahan, semua terasa seperti sebelumnya. Berubah 180 derajat hanya dalam hitungan detik. Terdengar suara teman-teman kembali, suara orang-orang di sekitar, dan suara kendaraan. Kamu pun malah tampak lebih sehat.” Aku masih merasa kengerian malam itu.
“Apa artinya akan ada hal buruk yang menimpaku.”
“Aku berharap tidak. Aku juga tidak merasakan hal tersebut.”
“Ya, apa kamu sering mengalami kejadian seperti ini?”
“Dulu aku tidak terlalu mempedulikan semua ini.”
Tiba-tiba dadaku merasa sesak. Pikiran pun tertuju kepada Mas Bimo.
“Dan, apa Mas Bimo ada di kamarnya?”
“Dia belum datang, Ya. Ada apa? Kok kamu kelihatan panik sih?” Ekspresi Dani berubah menjadi heran.
Aku pun masih bertanya-tanya dengan diriku sendiri. “Dan, aku nggak tahu kenapa tiba-tiba aku menjadi gelisah.”
Aku memutuskan untuk menghubungi Mas Bimo. Panggilan pertama tidak diangkat. Aku coba telepon lagi, dan dijawab.
“Halo. Assalamualaikum, Mas Bimo.”
“Walaikum salam A.” sambut suara di ujung telepon. Suara seorang perempuan dengan nada khawatir. “Ini Aa temannya yang punya hape ya?” tanyanya.
“Iya, Teh. Yang punya hapenya ke mana ya?” Kegundahan menyelimuti seketika.
“Ini A… i…ni. Temannya kecelakaannya di Jalan Cihampelas. Orangnya sekarang lagi dibawa ke Hasan Sadikin.”
Berita yang mengiris kalbu. “Dan, Mas Bimo kecelakaan.”
Aku buru-buru memesan taksi online menuju Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. Sepanjang perjalanan Dani terus menenangkanku.
__ADS_1
Ada perasaan bersalah yang juga menyelinap pikiranku. Kata orang, jangan terlalu menakutkan sesuatu (hal buruk) yang belum terjadi. Bisa jadi ketakutan kita lah yang justru men-sugesti hal buruk itu tercipta.
Setiba di RSHS, kami langsung menuju UGD. Menurut keterangan suster di resepsionis, ada korban kecelakaan sepeda motor di Jalan Cihampelas yang sejam lalu dibawa. Kondisinya meninggal setiba di rumah sakit.
Aku semakin panik. Pikiran terus menguatkan keyakinan jika itu bukan Mas Bimo.
Badanku terasa begitu lemas. Aku tak bisa membayangkan jika harus kehilangan orang yang aku kenal dalam waktu berdekatan. Aku bersimpuh di lantai, memohon keajaiban.
Suasana menjadi gelap. Hanya ada cahaya dari langit yang membantu inderaku melihat. Terdengar suara jeritan dan rintihan saling bersahutan.
Aku layangkan pandangan mengitari setiap lorong di sekitarku. Kenapa suasana mendadak mencekam? Ke mana perginya orang-orang? Ke mana Dani pergi? Di mana aku berada?
Aku mencari jalan keluar dari rumah sakit. Suara minta tolong terdengar semakin kencang. Awalnya, aku tak menghiraukan suara tersebut. Namun, rasa penasaran membawaku untuk berbalik badan.
Terlihat Mas Bimo melambaikan tangan yang penuh darah. Wajahnya meringis. Pakaiannya sobek nyaris di semua sisi.
Aku langsung berlari menuju Mas Bimo. Namun langkahku terasa berat. Sementara dia terus meminta tolong, memanggil namaku berulang.
Dengan sekuat tenaga aku berusaha melangkah. Ayo melangkah! Aku harus segera menolong Mas Bimo. Dia begitu kesakitan. Ayo! Kenapa kakiku jadi berat begini? Terjadi perang luar biasa di otakku.
Keringat mengucur deras membasahi badan, namun sejengkal pun belum bisa aku tapaki. Aku seperti dicor menjadi patung.
Lalu, terdengar suara seorang pria berbisik kepadaku. “Tong disamperkeun (jangan didatangi)!” Kepalaku memutar 30 derajat ke kanan dan ke kiri mencari sosok yang melarangku untuk bergerak.
Aku tarik nafas dan pejamkan mata beberapa detik.
“Ya, ngapain di sini?”
“Mas Bimo?” Dia begitu saja ada di hadapanku. Aku amati dari ujung kaki hingga ujung kepala, kondisinya baik-baik saja.
Dani pun mengikuti dari belakang. “Tenang, Ya! Mas Bimo nggak apa-apa.” Dani melihat ke arah Mas Bimo. “Ini loh Mas, Arya panik banget tadi pas dapat kabar Mas Bimo kecelakaan.”
Tak ada lagi kegelapan dan kesunyian. Aku bak dihantam gelombang berkali-kali. Laksana hidup di batas kesadaran dan ambang kegilaan.
“Sebenarnya apa yang terjadi, Mas?” Aku berusaha menahan air mata. Entah sudah berapa kali aku menangis di semester pertama tinggal di Kota Kembang.
“Jadi gini Ya, tadi pas di jalan ada motor yang tiba-tiba menabrak trotoar dan jatuh di depanku. Dia melaju dengan sangat kencang. Tubuhnya terkapar di aspal. Orang-orang mengerumuninya, namun sebagian hanya menyaksikan dan malah merekam kejadian tersebut. Aku pun inisiatif menelepon ambulans dan ikut mengantarnya ke sini,” jelas Mas Bimo.
“Dan hape Mas Bimo terjatuh?”
“Hebat kamu Ya bisa tahu. Pas aku bantu naikkan si korban kecelakaan itu ke ambulans, tak sadar hapeku terjatuh.”
“Syukurlah kalau Mas Bimo nggak apa-apa.”
“Betul. Mending pada istirahat. Nanti aku nyusul, aku mau ambil hapeku dulu. Tadi teleponan pakai hape Dani dan janjian di depan Ciwalk sama orang yang nemuin hape aku.”
“Oke. Kalau gitu kami duluan ya, Mas!” pungkas Dani.
Sepanjang perjalanan pulang, aku hanya bisa termenung. Aku lega bukan Mas Bimo yang mengalami kecelakaan, namun aku harus bisa menguasai ketakutanku. Apa pun yang aku rasakan dan lihat, aku tidak boleh terburu-buru menarik kesimpulan.
Setiba di kost, Dani bersuara. “Ya, kamu baik-baik aja kan?”
“Dan, kejadian beberapa hari lalu yang tadi aku ceritakan ke kamu, barusan terulang lagi di rumah sakit. Cuma, kali ini, aku melihat Mas Bimo berlumur darah dan ada banyak suara-suara minta tolong, kemudian….”
Dani memotong ceritaku. “Ya, sepertinya kamu capek dan banyak pikiran. Kamu istirahat aja dulu ya!”
“Dan, aku baik-baik aja. Aku nggak…”
Dani memotong lagi ucapanku. “Ya, gimana kalau besok aku antar kamu ke psikolog?”
Psikolog? Apa maksud Dani. Kekesalanku meningkat. “Maksud kamu aku sudah mulai gila, Dan? Aku benar-benar nggak bisa menebak jalan pikiran kamu, Dan. Kemarin kamu mengatakan percaya dengan semua yang aku alami, sekarang kamu seolah mengatakan aku mengalami gangguan mental,” ucapku kesal. Batin seketika merasa kecewa dengan sikap Dani.
“Maksudku bukan gitu, Ya. Maksudku, kita coba bertemu psikolog atau kiai atau ustad yang bisa mengerti apa yang kamu rasakan. Aku bukan tidak percaya dengan kamu. Tetapi aku sadar kamu belum bisa sepenuhnya bercerita sama aku, kan? Maka dari itu, aku hanya menyarankan agar kamu bisa bercerita kepada orang yang tepat. Tolong Ya, jangan salah paham dulu!” terangnya.
Kami terdiam. Aku bukan tak berusaha memecahkan misteri yang semakin nyata menghantui. Aku masih mencoba mengidentifikasi, apakah ini sebuah kelebihan atau awal dari sebuah gangguan.
“Maafin aku ya, Dan. Aku naik ke kamarku dulu. Sampai jumpa besok.”
“Ya, kamu bisa bercerita apa pun dan kapan pun sama aku. Sekali lagi, aku mohon kamu jangan salah paham!”
“Iya, Dan.”
Aku lantas membersihkan badan sekaligus menyegarkan pikiran melalui air yang mengalir.
Saat aku mandi, aku coba lepaskan semua kepahitan, melupakan hal-hal tidak menyenangkan yang terjadi selama seharian. Namun, saat membasuh kepala dan menutup mata, muncul bayangan Mas Bimo. Dia tampak kesakitan dengan tubuh penuh darah, seperti yang tampak dalam penglihatanku ketika di rumah sakit. Aku pun mempercepat proses mandiku.
Lebih baik aku membaca buku dan memeriksa kembali tugas kuliahku, gumamku dalam hati.
“Ya, udah tidur belum?” Terdengar Mas Bimo memanggil dari balik pintu kamar.
“Belum Mas, masuk aja!”
“Jangan belajar mulu, Ya! Nanti kamu lupa caranya pacaran.” Wajah Mas Bimo berseri, tetapi memantulkan kesedihan. Sebuah paradoks. Aku merasakan ada yang menutupi keceriaannya.
__ADS_1
“Nggak lah, Mas.”
“Kamu udah punya pacar?”
“Belum.”
“Lagi ada yang kamu taksir?”
“Nggak ada juga.”
“Lagi ada yang ngejar-ngejar kamu?”
Dia malah menginterviewku.
“Siapa sih Mas yang mau sama aku.”
“Aku yakin banyak yang suka sama kamu. Tapi mereka masih insecure sama kamu.”
“Mas Bimo ke sini mau interogasi aku atau mau ajarin caranya menggaet perempuan?”
“Hahaha… Serius amat sih, Ya. Ini aku bawain kamu Pie Mangkok dan Keripik Apel khas Malang,” ucapnya sambil mengeluarkan goodie bag berisi makanan yang dia sebutkan.
“Terima kasih banyak, Mas.”
“Oh iya, Ya.” Mas Bimo duduk mendekat ke arahku. “Dani bilang ada hal yang ingin kamu sampaikan tentang aku.”
“Em…. Apa Mas…. Aku rasa….” Aku menjadi gelagapan. Aku bingung memulai kata pertama untuk menyampaikannya.
“Ya, pas tadi di rumah sakit Dani cerita ke aku jika kamu beberapa kali melihat sosok yang tak nyata yang mirip sekali denganku.” Raut wajah Mas Bimo menjadi serius. “Aku hanya ingin tahu, apa yang sebenarnya kamu lihat tentang aku?”
“Mas, mungkin itu hanya halusinasiku aja.”
“Ya, belakangan ini aku pun sering mengalami kejadian aneh.” Bertambah guratan sedih di wajah Mas Bimo. “Aku sering mimpi buruk. Aku bermimpi tenggelam, jatuh ke tepi jurang, mengalami kecelakaan, dan dikejar seseorang yang ingin membunuh aku.”
“Mas….” Aku merasa sudah ada benang merah yang bisa menjembatani percakapan kami.
“Aku tahu mimpi cuma bunga tidur. Tetapi mimpi buruk tersebut terasa nyata dan berulang. Kepalaku juga kadang merasa sakit secara tiba-tiba. Ditambah aku merasa malas untuk mengerjakan apa pun, bawaannya selalu pengen tidur. Makanya, aku pulang ke Malang untuk menenangkan diri. Tapi sebenarnya aku juga tidak merasa sedang banyak pikiran.” Kata-kata yang keluar dari mulutnya terasa berat. Sepertinya dia juga memang mencari kawan bercerita.
“Mas, aku belum bisa memastikan apa yang sedang terjadi dengan Mas Bimo berdasarkan penglihatanku. Tetapi, aku merasa ada aura hitam yang sedang membayangi Mas Bimo."
“Apa maksudnya itu, Ya?”
“Sebelumnya, aku berharap Mas Bimo tak langsung percaya atau terprovokasi dengan yang aku sampaikan.” Aku tak mau pikirannya menjadi terbebani. “Silakan Mas Bimo cerna dulu, apakah itu ada kaitannya dengan yang Mas Bimo alami belakangan ini atau tidak.”
Mas Bimo mengangguk. Namun, saat aku hendak melanjutkan kalimatku, dia terbatuk-batuk.
Aku berusaha mengatur posisinya dan memberinya minum. Nafas Mas Bimo agak terengah-engah. Aku ajak dia menemui dokter, namun dia menolak dan meminta untuk beristirahat di tempat tidurku.
“Mas, aku coba carikan obat dulu ya!”
“Nggak usah, Ya. Aku nggak apa-apa.” Dia kembali terbatuk-batuk, bahkan lebih kencang dari sebelumnya.
Tangannya mencoba menyangga mulut yang terus mengeluarkan cairan. Namun, cairan yang keluar dari mulut Mas Bimo cukup mengerikan. Ya, keluar darah yang segar dan cukup banyak.
Aku mencoba meminta bantuan, tetapi Mas Bimo menghalangi. Ketika aku mengangkat badannya untuk dibawa ke klinik, dia pun menahan sekuat tenaga.
“Ini hanya masuk angin biasa. Mungkin karena aku kecapean. Aku nggak apa-apa, Ya!”
“Tapi Mas, ini…”
“Jangan takut, Ya! Aku minta tolong ambilkan termos kecil dan obat di kamarku aja ya! Posisinya di pojok dekat lemari,” mohonnya dengan suara yang seret.
“Iya, Mas.”
Aku bergegas ke bawah. Kubuka kamar Mas Bimo. Bulu kudukku merinding seketika. Terasa ada banyak yang menyambutku dengan tatapan sinis. Ada yang tak biasa di kamar Mas Bimo.
Tadinya aku mau memanggil Dani juga, namun sepertinya ia sudah tidur. Lagi pula, aku harus secepatnya memberikan obat kepada Mas Bimo.
Setelah minum obat, keadaannya berangsur membaik. Ia bahkan langsung tertidur. Sedangkan aku bergidik ngeri mengingat atmosfer yang ada di kamarnya.
Satu jam kemudian, Mas Bimo terbangun. “Ya, maaf aku mengotori kamarmu. Besok pagi aku janji akan membersihkannya.”
“Santai, Mas. Mas Bimo istirahat aja ya!” Kulihat waktu di ponsel menunjukkan pukul 01.13 dini hari.
“Kamu mengganti baju aku juga? Aku benar-benar jadi tidak enak.”
“Tenang, Mas. Jangan sungkan! ”
“Kalau gitu aku balik ke kamarku ya!”
“Jangan!” cegahku sembari menghalanginya untuk bangkit. Dia pun menatapku heran. “Mas Bimo tidur di sini aja. Pokoknya jangan tidur di kamar Mas Bimo dulu malam ini!”
“Tapi, Ya…”
__ADS_1
Aku kembali membaringkannya di kasur. Aku punya firasat kurang baik jika Mas Bimo tidur di kamarnya. Seakan ada bahaya tak kasat mata yang menguntitnya, menunggunya terlelap.