Di Sekitar Kita

Di Sekitar Kita
Bab 11: Laknat


__ADS_3

Mas Bimo meminta aku hadir saat dia sidang skripsi. Sayangnya, aku tak bisa melewatkan kelas karena giliran presentasi. Namun, aku berjanji akan segera menemuinya setelah selesai melaksanakan tugas mata kuliah.


Saat aku tiba di ruang sidang FISIP, Mas Bimo keluar ruangan dengan wajah bahagia. Terlihat, dia disambut oleh kaum hawa dengan meriah. Mereka mungkin teman dan fans garis keras Mas Bimo. Kuperhatikan, ada banyak sekali hadiah di tangannya. Dia, bahkan, kewalahan memeluk hadiah yang diterima.


Aku segera menghampiri. Kulihat kondisi Mas Bimo sudah mendekati pulih.


“Halo, Mas! Sorry, aku baru selesai kelas,” sapaku yang membuat keriuhan berhenti mendadak.


Gadis-gadis yang ada di sekitar Mas Bimo menatapku agak sinis. Mungkin mereka jengkel, karena aku datang dan membuyarkan moment selebrasi mereka. Benar, Mas Bimo bak selebritas di fakultasnya.


“Nggak apa-apa, Ya. Kita pulang sekarang yuk!” ajaknya tersenyum.


Melihatnya kerepotan, aku pun coba menawarkan bantuan, “Sini, aku bantu, Mas.”


Hadiah yang diterima Mas Bimo kebanyakan berupa cokelat. Ada juga kue seperti cheesecake dan dessert box, bahkan terselip juga beberapa tangkai bunga. Tampak seru! Namun, aku melihat dia tidak terlalu nyaman dengan hadiah dan histeria yang didapatkan.


Mas Bimo mengucapkan terima kasih dan pamit kepada fans-nya. Dia tidak pernah bercerita jika dirinya populer.


Aku coba lemparkan candaan. “Nama fanbase Mas Bimo apa?”


“Jangan ngeledek, Ya!”


Kami pun tertawa. Semoga Mas Bimo bisa ceria lagi seperti sebelumnya, panjatku dalam doa.


Ketika keluar dari Gedung FISIP, terdengar ada yang meneriaki nama kami. “Arya! Bimo!”


Kami pun berhenti dan melirik ke arah sumber suara.


Mas Bimo menyahuti dengan kalimat tanya. “Ada apa Yen manggil kami?”


“Sebenarnya aku manggil Arya sih, tapi karena ada kamu, ya aku panggil kamu juga. Takutnya kamu jealous,” godanya diikuti tawa renyah.


“Mau ngapain kamu panggil Arya? Kami lagi mau pulang nih,” terang Mas Bimo.


“Iya deh, aku juga tahu kamu mau pulang, wahai mister (tuan) satu-satunya angkatan kita yang sudah dinyatakan lulus 3,5 tahun,” kelakar Teh Yeni.


“Yen, aku tanya, kamu ada perlu apa sama Arya?” Ulang Mas Bimo tak menanggapi guyonan Teh Yeni.


Melihat muka Mas Bimo berubah serius, Teh Yeni menjelaskan maksudnya. “Arya tadi pagi chat ngajak aku ketemuan. Katanya ada yang mau diobrolin sama aku. Iya kan, Ya?”


Aku bengong sesaat. Gawat! Harusnya aku ajak dia kongkalikong. Hah, aku tak mengantisipasi jika akan berhadapan dengan situasi seperti ini. “Emmm… Iya.”


“Mau ngobrolin soal apa, Ya?” tanya Mas Bimo ingin tahu.


Aku menjadi sedikit kelabakan mencari kalimat yang tepat untuk menjabarkan. Aku tidak mungkin mengatakan alasan sebenarnya kepada Bimo perihal aku mengajak Teh Yeni bertemu. “Emmm… Itu… Apa….” Aku coba lemparkan kode dengan menengok ke arah Teh Yeni. Aku memerlukan bantuannya.


Untung saja Teh Yeni paham. “Udah si Bim, jangan kepo! Ini urusan kami berdua. Simpan dulu aja tuh hadiah dari fans kamu sebelum tambah banyak,” kilahnya santai.


Mas Bimo melihat ke arahku.  Sebelum dia memberikan pertanyaan lanjutan, lebih baik kami segera pergi. “Teh, aku anter Mas Bimo pulang dulu ya!”


“Oke, Ya. Nanti aku tunggu di taman aja ya.”


Aku mengangguk. Tetapi, baru selangkah, Mas Bimo memberikan wejangan. “Yen, Arya ini masih polos. Dia udah kayak adik kandung aku sendiri,” ucapnya memberi peringatan.


“Apa sih, Bim?” Teh Yeni memasang raut bingung. Namun, ternyata dia cukup responsif mencari amunisi. “Cemburuan banget sih kamu. Kita kan udah nggak ada apa-apa. Lagian Arya nggak akan aku apa-apain kok. Kami tuh cuma mau ngobrolin soal PSM (Paduan Suara Mahasiswa). Kamu juga tahu kan aku ini siapa di PSM? Senior yang mampu memajukan dan mengharumkan paduan suara kampus kita,” dalihnya.


Mata Mas Bimo berdelik tak percaya. Padahal aku berharap percakapan berakhir sampai kalimat Teh Yeni tersebut. “Iya, benar, paduan suara. Aku mau ikut UKM itu,” imbuhku. Aku sebenarnya tak ingin melontarkan kebohongan.


“Emang kamu suka nyanyi, Ya?” Mas Bimo mencoba mengkonfirmasi. “Kayaknya aku belum pernah dengar kamu nyanyi.”


“Justru itu, Mas. A…aku… pengen belajar nyanyi juga,” tandasku. Aku paham dia tak mudah dibohongi. “Kita pulang yuk, Mas! Bahasnya nanti lagi aja.” Jika tidak dengan cara ini, dia akan terus melemparkan kecurigaan.


Mas Bimo tampak tak berdaya saat kutarik untuk pulang. Dia pasrah, meski wajahnya menyirat ketidakpuasan atas rasa penasaran yang tidak terjawab sempurna. Biarlah! Toh, aku melakukan semua ini demi kebaikannya juga.


“Kami duluan ya, Teh!”


“Oke. See you, Arya!” balasnya dengan melambaikan tangan.


Setiba di kost, Mas Bimo memasang wajah masam. “Ya, aku tahu kamu bukan mau ngomongin soal paduan suara kan?”


Sekali lagi, aku tak bermaksud membohonginya, tetapi aku tidak bisa menambah dosa di pikiranku. Kejujuran memang menenangkan. Namun, harus juga disampaikan pada waktu yang pas. Kondisi Mas Bimo belum stabil. Dia tidak boleh dijejali dengan hal-hal yang membuat otaknya bekerja ekstra keras.


Aku mencoba mengalihkan topik, “Oh iya, Mas Bimo mau makan siang sama apa? Biar aku sekalian pesanin sekarang ya.”


“Samain aja sama kamu,” ketusnya.


“Maaf,  Mas.… Em…. Teh Yeni barusan chat ngajak aku sekalian makan siang juga,” terangku. Aku agak berhati-hati menyampaikannya.


“Oh!” Tergambar rasa kesal di parasnya. “Nanti aku pesan sendiri aja!”


“Jangan lupa obatnya diminum juga ya, Mas!”


“Iya,” responnya singkat.


“Satu lagi, Mas. Semua makanan ini jangan ada yang Mas Bimo makan dulu ya!” Tunjukku pada hadiah yang diterima Mas Bimo. “Kalau Mas berkenan, bagiin ke teman-teman yang lain jauh lebih baik. Tapi kalau dari makanan tersebut ada yang Mas mau, kabari aku ya. Nanti aku coba carikan di warung atau minimarket.”


“Iya.”


“Aku berangkat sekarang ya, Mas. Aku mau ke perpustakaan dulu ketemu teman-teman buat diskusi tugas kelompok. Setelah itu, baru ketemu Teh Yeni,” paparku.

__ADS_1


“Iya,” responnya lagi dengan satu kata.


“Mas…” Aku urungkan niatku, dia mungkin butuh waktu untuk mengaburkan emosinya. “Kabari aku jika Mas Bimo perlu sesuatu ya.”


Dia hanya mengangguk. Bahkan terasa aneh. Dia memalingkan wajahnya dari sorot mataku. Apa yang membuatnya kesal? Cemburu aku mau bertemu dengan Teh Yeni? Aku sulit menebak yang ada di benaknya.


Aku meninggalkan Mas Bimo yang masih bersikap dingin kepadaku. Sikap yang ditunjukkan berubah 180 derajat dalam sekejap. Sudahlah, aku harus bisa memakluminya.


Setelah selesai diskusi tugas kelompok, aku bergegas menemui Teh Yeni di kantin. Aku lihat, kantin begitu penuh. Ya, karena bertepatan dengan jam makan siang. Aku jadi ragu berbincang di tempat yang ramai.


Aku duduk berhadapan dengan Teh Yeni. Dua porsi Nasi Padang dengan lauk Ayam Pop tersaji di meja di hadapan kami.


“Kamu suka Nasi Padang, kan?” tanyanya.


“Suka, Teh.”


“Maaf ya, aku nggak tanya dulu kamu mau makan apa, takut keburu antri panjang soalnya.”


“Nggak apa-apa, Teh.”


Aku harus mempercepat obrolan kami. Aku tak bisa meninggalkan Mas Bimo terlalu lama. Perasaanku tidak enak.


“Teh, aku sebenarnya mau nyambung obrolan yang kemarin.”


“Mangga (silakan)!”


Aku amati sekitar dan memperhalus suaraku, “Ada nggak Teh di kelas atau di lingkungan pergaulan atau di antara teman Mas Bimo yang kelihatannya nggak suka sama dia.”


“Bentar…” Dia berusaha mengidentifikasi. “Setelah aku coba ingat-ingat dari semalam, kayaknya ada deh ada satu orang. Dia itu….”


Ponselku berbunyi. Obrolan pun terhenti. Aku meminta izin untuk menjawab panggilan telepon. “Aku jawab dulu teleponnya ya, Teh.”


“Iya, Ya.”


Tertera nama Dani memanggil. “Halo, Dan.”


Saat kutempelkan ponsel di daun telinga, dia langsung menyambut dengan suara yang begitu panik. “Ya… Cepat pulang! Mas Bimo Ya… Mas Bimo…”


“Kenapa, Dan?” Aku pun terbawa panik.


“Dia muntah darah, Ya. Cepat pulang ya, Ya!” suaranya lantang ketakutan.


Aku segera bangkit dari kursi. Aku harus bergegas kembali ke kost.


“Ada apa, Ya?” tanya Teh Yeni setelah aku memasukkan ponsel ke dalam saku kemeja.


“Aku balik sekarang ya, Teh. Mas Bimo katanya muntah darah,” jawabku dengan berusaha tetap tenang.


Kami pun berlari agar segera sampai di kost. Padahal kondisi Mas Bimo di pagi hari sudah lebih baik. Pasti ada sesuatu yang dia langgar.


Setiba di kamarku. Mas Bimo terbaring lemah berlumur darah.


“Ada apa ini, Dan?” Aku tak bisa menyembunyikan rasa cemas yang membuncah.


”Aku nggak tahu, Ya. Tapi setelah makan kue ini, dia langsung muntah-muntah dan keluar darah.” Dani mengambil kue yang dimaksud dengan tangan bergetar.


“Dan, aku kan udah bilang Mas Bimo jangan makan makanan yang bukan berasal dari kita dulu.” Spontan aku tersulut amarah.


“Ya… Aku juga baru pulang. Pas aku lihat Mas Bimo udah seperti ini.” Dani pun panik. “Katanya tenggorakannya terasa sakit dan panas setelah makan kue ini.”


Teh Yeni mencoba menengahi ketegangan. “Udah… Kalian tenang ya! Aku pesan taksi online dulu. Kita bawa Bimo ke rumah sakit secepatnya.”


Aku melempar cheesecake tersebut. “Siapa yang ngasih ini?”


“Ya, tenang dulu ya!” ucap Teh Yeni.


“Aku udah nggak bisa tenang, Teh. Orang ini udah jahat banget sama Mas Bimo.” Emosiku semakin meledak. Namun, aku segera sadar dan mengucap Istigfar untuk meredakan panas di hati.


“Sebentar! Maksud kamu orang yang ngasih cheesecake ini?”


“Teteh tahu orangnya?” tanyaku mengharap informasi.


“Iya. Aku lihat orang itu ngasih kue tersebut ke Bimo pas Bimo keluar dari ruang sidang. Dia teman sekelas kita juga, namanya Nining,” jelasnya.


Aku meminta penegasan. “Teteh yakin?”


“Iya. Kayaknya kamu pernah ketemu dia juga deh. Ini orangnya.” Teh Yeni memperlihatkan foto perempuan bernama Nining di ponselnya.


Dani sontak terkejut melihat wajah perempuan tersebut “Nah, ini dia Ya. Dia yang kemarin ke sini bawa kue untuk Mas Bimo.”


Jadi, dia adalah perempuan yang aku sapa di taman FISIP yang aku kira Teh Yeni. Sejak pertama melihatnya, aku sudah merasa ada yang tidak beres dengannya.


“Ya…” Mas Bimo memanggil sambil menarik tangan kananku. “Aku nggak apa-apa, kok.” Padahal jelas suaranya terdengar kesakitan.


“Ya, taksi online-nya udah nunggu di bawah,” terang Teh Yeni. “Ayo!”


Sementara Mas Bimo tampak pasrah dengan menganggukkan kepala sambil menutup mata.


Kami membawa Mas Bimo ke RSHS. Meskipun sakit Mas Bimo ada indikasi sihir, namun dia juga perlu penanganan medis.

__ADS_1


Dari UGD, Mas Bimo dipindahkan ke ruang rawat inap. Dokter di UGD menerangkan jika Mas Bimo didiagnosa menderita pneunomia sehingga perlu dilakukan perawatan secara intensif di rumah sakit.


Kami larut dalam haru. Berdoa memohon kesembuhan untuk Mas Bimo sdan supaya dia dihindarkan dari hal-hal gaib yang menyakitinya.


Hari pun berangsur gelap. Teh Yeni ternyata kenal dengan orang tua Mas Bimo. Dia memutuskan mengabarkan kedua orang tua Mas Bimo. Mereka pun mengatakan akan datang ke Bandung besok pagi.


Mas Bimo terbaring lemas di atas hospital bed. Aku tidak tega melihat kondisinya.


Sakit Mas Bimo bisa dijelaskan secara medis. Namun, tetap saja jika masih ada orang yang mengirim guna-guna kepadanya, ia bisa tumbang lagi kapan pun. Itu yang sangat aku khawatirkan. Jika dia diserang terus menerus, maka akan sangat bisa memicu imunnya turun. Selanjutnya, penyakit lain pun mudah menyusup ke tubunya.


Teh Yeni mencolek bahuku. “Ya, aku mau bicara sebentar sama kamu.”


“Kita ngobrol di luar ya, Teh.”


Dia meneyetujui. “Oke.”


Aku pun meminta Dani untuk menjaga Mas Bimo sementara waktu, selama aku dan Teh Yeni mengobrol di ruang tunggu pasien.


“Ya, sebenarnya ada apa dengan Bimo? Kamu jujur aja sama aku,” tanyanya tanpa ancang-ancang.


Hem! Teh Yeni sudah membongkar identitas orang yang mengirim kue ke Mas Bimo. Ya, terduga pelaku yang menyerang Mas Bimo dengan guna-guna mulai tersingkap. Aku tak bisa lagi berkelit darinya.


Aku coba uraikan secara perlahan. “Aku melihat jika sakit Mas Bimo ulah dari orang yang tidak suka kepadanya.”


“Maksudnya dia diguna-guna?” Dia mencoba mencerna setiap kata dariku.


“Aku akan menganggap wajar jika Teteh tidak percaya kepadaku. Tapi kue yang dikirim orang itu ke Mas Bimo, hari ini dan kemarin, itu mengandung sesuatu yang mistik.”


“Sejujurnya,“ Teh Yeni mengatur nafas, “Aku juga sangat terkejut melihat kondisi Bimo yang sampai muntah darah seperti tadi. Setahuku, dia tidak punya riwayat atau pun gejala pneumonia.”


Kami semua terperangah menyaksikan kejadian yang menimpa Mas Bimo. Namun, aku harus mendatangi perempuan itu terlebih dahulu. “Oh iya, Teteh tahu di mana tempat tinggal Nining?”


“Tahu.”


“Boleh aku catat alamatnya, Teh?”


“Kamu mau ke sana sekarang?”


“Iya,” jawabku yakin.


“Aku ikut aja ya, Ya,” pintanya.


“Oke.”


Aku kirim pesan ke Dani bahwa kami ada keperluan dan aku balik ke kost sebentar untuk mengambil pakaian Mas Bimo.


Waktu menunjukkan pukul 21.13. Menurut Teh Yeni, tempat tinggal Nining cukup pelosok. Hanya bisa dijangkau oleh kendaraan roda dua. Kami pun menggunakan ojek online untuk sampai di sebuah perkampungan di perbatasan Kota dan Kabupaten Bandung.


Perkampungan yang sekilas tampak mati. Penerangan di setiap rumah terkesan seadanya. Jarak antar satu rumah ke rumah yang lain pun cukup berjauhan. Hingga tibalah di rumah  yang terletak di sebrang kali. Kami sangat berhat-hati, karena jembatan untuk melewati sungai terbuat dari susunan bambu. Ditambah suasana yang cukup gelap.


Rumah Nining tampak sederhana, namun aura suram sudah terasa dari kejauhan. Di rumah tersebut hanya tampak lampu kuning yang menyala di depan dan di dalam rumah. Suasananya sangat kurang bersahabat.


Teh Yeni berkali-kali mengetuk pintu dan mengucapkan salam, tetapi tak ada jawaban. Padahal Teh Yeni yakin Nining ada di dalam rumah. Berdasarkan ceritanya, Nining tinggal seorang diri. Ibunya bekerja sebagai TKW (Tenaga Kerja Wanita) di Arab Saudi, dan ayahnya bekerja di Kalimantan.


Tak kunjung ada respon dari penghuni rumah, aku lantas memeriksa bagian belakang rumah. Aku mendengar ada suara samar-samar. Aku berjalan mengendap, dan meminta Teh Yeni untuk waspada.


Bagian belakang rumah Nining diselimuti pohon pisang yang lebat. Aku coba memperhatikan terlebih dahulu kondisi di sekitarnya.


Benar saja. Terlihat seorang perempuan berdiri menyatukan kedua tangan dan menutup mata. Mulutnya seakan melantunkan mantra. Berbagai wewangian menjalar ke hidung. Aroma melati, menyan, dan dupa yang dibakar pekat tercium. Pantas saja Nining tak mendengar suara kami. Rupanya dia fokus melakukan ritual laknat.


Aku langsung berlari dan menendang dupa beserta sesajen yang ada di depan kakinya. Dia pun membuka mata dan sangat terkejut. “Siapa kamu?”


Aku lihat di bawah dupa ada secarik kertas. Aku langsung mengambilnya. Ternyata, itu foto Mas Bimo.


“Nining!!!” Plaaaakkk! Tak kusangka Teh Yeni sekonyong-konyong menampar perempuan itu. “Kamu keterlaluan!”


“Apa maksud kalian?” Wajah Nining seketika membara. “Seenaknya saja masuk ke rumah orang!”


“Lalu apa yang sedang kamu lakukan?” Aku menunjukkan foto Mas Bimo ke wajahnya.


Dia menatapku penuh amarah. Aku tak takut sedikit pun. Aku balas menunjukkan raut wajah yang berapi-api sembari menunggu penjelasan darinya.


Tiba-tiba saja, angin berhembus cukup kencang di sekitar area pohon pisang. Lalu, tampak ada yang terbang dengan cepat. Perhatianku teralihkan.


Nining berusaha kabur dengan masuk ke dalam rumahnya. Untungnya, Teh Yeni cekatan dan mampu menghalau gerakan Nining. Dia pun berhasil mengunci pergerakan perempuan kejam itu.


Teh Yeni menjadi beringas, “Mau ke mana kamu Nining?”


“Lepasin! Kalau nggak, aku akan meneriaki kalian sebagai maling agar warga datang dan menghajar kalian tanpa ampun,” ancamnya penuh amarah.


Akan tetapi, aku tidak gentar sedikit pun. Itu hanya gertakan kosong. Aku pun membalas dengan menantangnya, “Silakan! Begitu warga datang, mereka juga akan tahu kalau kamu penyembah ilmu hitam.”


“Jangan asal nuduh kamu!” ucapnya sambil menyemburkan ludah ke arahku. Mujur, aku bisa menghindarinya.


“Ini apa?” Aku mengajaknya melihat alat ritualnya yang sudah aku acak-acak.


“Aku nggak nyangka sama kamu, Ning!” timpal Teh Yeni.


Nining tertawa, “Hahahaha…” Dia seolah mengejek kami.

__ADS_1


Aku tak sabar menunggu dia memberikan eksplanasi.


__ADS_2