
Banyak orang mengatakan jika mimpi merupakan bunga tidur. Ada juga yang mengatakan mimpi bisa menjadi suatu pertanda tentang peristiwa yang akan terjadi di masa depan. Namun, bagaimana jika mimpi tersebut terjadi di siang hari? Menurut psikolog, mimpi di siang hari menandakan kondisi perasaan yang sedang tidak baik atau dilanda kecemasan.
Betul, perasaanku memang sedang dipenuhi rasa gelisah dan was-was. Berbagai kejadian mistis semakin mengekor di hidupku. Naasnya, hal tersebut dibarengi perubahan sifat Ayah yang begitu drastis.
Hidup bagai mengambang di tengah samudera. Terombang-ambing digulung ombak tanpa melihat dermaga. Aku tak hanya harus berenang untuk mencapai tepian, aku juga harus bisa menjaga keseimbangan agar tak tenggelam.
Ayah membujuk supaya aku mau memeriksakan kesehatanku ke dokter. Namun, aku tolak dengan halus. Bukan aku tak mau sembuh, tetapi aku merasa hanya butuh istirahat dan menenangkan pikiran. Cukup di-boost dengan minum obat pereda nyeri dan vitamin.
Selama dua hari terbaring lemah di tempat tidur, di hari ke-3 kondisiku berangsur membaik. Pikiranku juga sudah kembali seperti biasa. Menerima segala peristiwa yang Tuhan skenario-kan untukku. Apapun yang akan terjadi, terjadilah.
Untuk mempercepat pemulihan, aku memutuskan berolahraga dengan jalan santai berkeliling kampung sembari menikmati udara dan cahaya matahari pagi. Sudah lama sekali aku tak melakukan hal seperti ini.
Sepanjangan jalan, para tetangga yang kutemui menyapa. Sebagian bertanya tentang kuliahku, sebagian lagi menggoda dengan menanyakan kekasihku. Apa, kekasih? Aku menanggapinya dengan senyuman. Keramahan hidup di kampung memang selalu menjadi kerinduan kala merasakan hidup di perantauan.
Kulewati rumah Mang Bahri. Auranya sudah jauh lebih cerah. Tak terasa ada energi negatif yang terpancar lagi. Syukurlah!
Namun setelah melewati mushola, tepatnya ketika menengok rumah yang dulu ditempati Adam, ada hal yang aneh mengusik pendengaranku. Seperti ada suara Adam yang bercakap-cakap dengan orang tuanya. Padahal rumah tersebut sudah lama terbengkalai, tak lagi ditempati setelah Adam meninggal. Orang tuanya pun entah pergi ke mana. Rumah tersebut dibiarkan begitu saja tak terurus.
Dari luar, rumah Adam nyaris hanya berbentuk kerangka atau pondasi saja. Atap dan dindingnya sudah hampir habis tak tersisa. Ilalang setinggi dada tumbuh dengan subur. Menutup akses masuk ke dalam rumah.
Ganjil! Aku terbawa rasa penasaran dan ingin membuktikan kebenaran suara yang aku dengar. Lantas kuayunkan kaki melewati ilalang.
Lalu, saat sudah sampai di depan pondasi pintu, semuanya berubah secara tiba-tiba hanya dalam satu kedipan mata atau sepersekian detik. Rumah yang semula sudah tak berbentuk menjadi utuh kembali. Ilalang pun hilang berganti halaman yang dipenuhi pot-pot tanaman hias. Aku menggelengkan kepala. Ajaib. Tak masuk akal.
Pemandangan yang kusaksikan persis seperti rumah Adam tempo dulu. Apa aku sedang melintasi waktu ke masa lalu? Kuamati rumah di sekeliling, tak ada yang berubah. Sungguh sangat menyiksa batin dan nalar.
Dalam kebingungan, Adam muncul dari dalam rumah.
“Arya,” sapanya ceria. “Lu udah di sini, kenapa nggak langsung masuk aja?”
Adam menarik tanganku. Sementara, aku kehilangan kata-kata. Hanya bisa memerhatikannya secara mendetil. Dia menggunakan kaos hitam dan celana panjang hitam. Dia juga menggunakan topi hitam.
“Kok lu malah bengong?” Adam menggoyangkan tangannya di depan wajahku. “Ayo masuk. Gue nunggu Emak gue dulu ya. Tadi sih ke warung mau nukerin uang, katanya mah cuma bentar.”
Aku ikut masuk ke dalam rumah Adam. Semuanya seperti yang dulu kulihat. Ruang tamu, meja, kursi, lemari, hingga perabotan elektronik seperti televisi pun dalam posisi yang begitu familiar di memoriku.
Aku ingat. Ini hari di mana Adam menunjukkan sikap yang aneh, sehari sebelum dia pergi untuk selamanya. Dia tak hanya berpakaian serba hitam dari ujung kaki hingga ujung rambut. Dia juga meminta maaf kepadaku atas kesalahan yang pernah dia perbuat. Waktu itu aku ragu untuk menyebut perilakunya sebagai firasat atau pertanda.
Hari itu, kami pergi ke toko buku untuk membeli Atlas. Setelah dari toko buku, Adam mengajakku ke Tanjung Pasir. Kami pun duduk di pantai seharian, menunggu matahari terbenam. Katanya, ia tak tahu kapan lagi bisa menyaksikan sunset bersamaku.
Kami tiba di rumah sekitar jam 9 malam. Aku ajak Adam mampir ke rumahku. Namun justru dia dimarahi oleh Ayah, karena mengajakku bermain hingga tak tahu waktu.
Sulit untuk dimengerti. Akan tetapi, semoga ini beneran time loop sebelum Adam pergi untuk selamanya. Mungkin aku bisa mengubah sejarah. Mencegah dia dari kecelakaan yang merenggut nyawanya. Tetapi jika masa lalu berubah, maka masa depan pun pasti mengalami perubahan dan distorsi, kan?
“Dam… Dam… Gue mau ngomong sesuatu,” panggilku semangat.
Sayangnya, Adam tak menggubrisku, bahkan menoleh pun tidak. Padahal jaraknya denganku hanya beberapa langkah.
Aku coba sentuh tangannya. Hah, kenapa tidak bisa? Padahal tadi Adam bisa menarik tanganku. Aku merasakan sentuhannya itu begitu nyata.
Kuhampiri Adam, tetapi mulutnya tampak sibuk berbicara dengan seseorang. Ucapannya samar terdengar. Aku pun tak bisa melihat lawan bicaranya. Posisi Adam menutup penglihatanku.
Sekilas, aku tampak mengenali orang yang berbincang dengan Adam. Apa itu aku? Ini begitu memusingkan.
Saat tinggal selangkah lagi, ada suara di udara yang menyerukan namaku dengan cukup keras, “Arya, ngapain di situ?”
Aku menoleh. Rupanya sumber suara berasal dari Pak RT.
Suasana pun berubah ke asal. Aku kembali berdiri di tengah ilalang . Sial, aku “dijahili” lagi.
“Sini… Ngapain kamu di situ, nanti ada ular atau apa di sana. Bahaya!” seru Pak RT melambaikan tangan.
__ADS_1
Aku segera keluar dari jebakan rumah Adam. Aku tepuk-tepuk pakaianku karena ditempeli tangkai ilalang.
“Kamu pakai baju olahraga, tapi kok malah masuk ke rumah kosong. Mau olahraga apa di sana?” Tanyanya keheranan.
“Nggak, Pak RT. Tadi…em…apa namanya…” ucapku terbata karena tak tahu harus bercerita atau mencari alasan.
“Ya sudah, pulang sana! Ayahmu bilang katanya kamu lagi sakit, tapi kok malah berkeliaran. Kalau kamu bosan di rumah dan butuh teman, main aja ke rumah Bapak.”
“Iya Pak RT, terima kasih. Kalau gitu Arya pulang dulu. Assalamualaikum!”
“Walaikum salam.”
Olahraga macam apa ini? Bukan menambah imunitas tubuhku malah menambah deretan kejadian janggal yang aku alami.
Aku pikir sosok Adam tak lagi menggangguku. Apa sebenarnya ada hal yang ingin disampaikan olehnya kepadaku? Kejadian yang aku alami semakin random. Mulai dari alur hingga latar waktunya.
Sesampainya di rumah, aku langsung membersihkan badan. Ketika mandi terbersit jika kemuculan Adam mungkin sebuah pengingat buatku agar datang berziarah ke makamnya. Baiklah, aku akan lakukan sore nanti.
Siang ini, lebih baik aku gunakan waktu untuk istirahat. Badan yang sakit bisa juga karena pengaruh dari pikiran yang sedang tidak baik.
Begitu hendak memejamkan mata, Ayah tiba-tiba masuk kamarku. “Arya, kamu nggak kenapa-kenapa, kan?” Pertanyaannya terdengar panik.
Apa yang terjadi dengan Ayah? Tiba-tiba beliau bertanya seperti itu.
“Arya nggak kenapa-kenapa, Yah?” Aku pun terbawa panik melihat ekspresi Ayah.
“Tadi Pak RT telepon Ayah. Katanya, tadi pagi kamu ada di rumah kosong, rumah Adam dulu. Pak RT juga cerita kalau melihat kamu berbicara sendiri di rumah itu. Kamu ngapain di sana, Ya?” Kalimat yang terlontar dari bibir Ayah mengalun sendu.
Jadi, cerita Pak RT yang membuat Ayah pulang lebih cepat. Apa aku jelaskan saja peristiwa sesungguhnya yang aku alami? Tidak. Batinku mengatakan Ayah masih tidak akan memercayainya.
“Em…. Arya…. Tadi pagi cuma olahraga dan kebetulan lewat sana. I…i….itu….” Aku takut dan gugup.
“Kamu sudah makan?”
Aku beranjak dari tempat tidur. “Belum. Ini Arya baru mau beli.”
“Nggak usah. Kebetulan Ayah sudah beli Nasi Padang dan Ayah taruh di meja dapur. Ayah tahu kamu pasti belum makan siang. Sekarang kamu cepat makan ya. Ayah mau ganti baju dulu. Oh iya, Ayah sudah makan. Jadi, nggak perlu nunggu Ayah,” tuturnya tergesa-gesa.
Tak ingin membuat Ayah marah, aku segera menyantap makan siang yang dibelikannya. Aku pun lepaskan rasa curiga mengenai sikapnya.
Selang 15 menit kemudian, Ayah memanggilku kembali.
“Arya. Kamu udah beres makannya?” teriak Ayah dari dalam kamarnya.
“Udah, Yah”, sahutku sambil berjalan menuju ruang tengah.
“Oke. Cepat ganti baju yang rapi,” perintah Ayah.
Aku sangat yakin Ayah bukan sedang ingin mengajakku berwisata atau jalan-jalan.
“Ganti baju? Emang kita mau ke mana, Yah?”
Ayah tak langsung menjawab. Beliau berjalan ke arahku, menatapku dengan berkaca-kaca.
“Kita ke dokter aja ya, Nak,” peluk Ayah.
Aku terkejut. "Dokter? Arya udah sehat, Yah. Udah nggak perlu lagi ke dokter."
"Maksud Ayah dokter psikiatri atau kalau kamu pengennya teman ngobrol dulu yang bisa menjadi pendengar buat kamu, kita ke bisa ke psikolog ya. Mau ya, Nak. Ini demi kebaikan kamu juga." Kata-kata yang diucapkan Ayah memang lembut, namun menusuk hatiku.
Aku makin terperangah. Menemui dokter psikiatri atau psikiater atau psikolog, untuk apa? Demi kebaikanku? Jadi, Ayah menganggap aku mengalami gangguan mental. Kenapa hubunganku dengan Ayah malah menjadi semakin rumit? Aku benar-benar tak bisa menduga alur pemikirannya. Selalu saja ada penghalang untuk hidup akur dengan diriku sendiri dan Ayah.
__ADS_1
"Arya baik-baik aja, Yah?" Aku berusaha menahan emosi.
"Nak, Ayah hanya cemas dengan kondisi kamu. Mungkin kamu banyak pikiran atau mengalami kesulitan dalam kuliah,” dekapan Ayah semakin erat.
“Arya nggak mau, Yah,” tolakku sambil melepaskan pelukannya.
Ayah membujuk dengan opsi lain. "Atau kita ke kiai?"
Otakku terangsang untuk meninggikan kata-kata, "Maksud Ayah apa sih? Ayah cemas karena akhir-akhir ini Arya berbicara tentang hal-hal yang di luar logika Ayah. Begitukah? Yah, apa yang Arya alami itu benar. Mungkin bagi Ayah itu tidak masuk akal. Tapi harusnya Ayah bisa mendengarkan Arya terlebih dahulu. Bukan menambah beban dengan menuduh Arya mengalami gangguan mental. Arya masih waras, Yah."
"Ya, maafin Ayah. Tapi ini demi kebaikan kamu. Biar kamu seperti dulu lagi.”
Tangisku pecah. “Seperti dulu lagi? Arya yang dulu itu yang kayak gimana, Yah? Yang hanya diam dan menurut, yang menyimpan segalanya sendiri, yang berusaha menghadapi masalah tanpa bercerita kepada siapa pun. Jika sekarang Arya lebih vokal, bukan berarti Arya sedang ingin memberontak kepada Ayah, dan jika belakangan ini Arya bercerita tentang hal-hal mistis yang Arya rasakan, itu sudah menghinggapi hidup Arya sejak dulu.”
“Lalu, Ayah harus bagaimana? Apa salah jika Ayah memiliki kekhawatiran jika mungkin kamu mengalami stress akibat kuliah atau tertekan dalam suatu hubungan atau interaksi sosial selama kamu kuliah di Bandung.”
Aku menarik nafas dalam-dalam. “Cara Ayah dalam menunjukkan kekhawatiran terus Arya maklumi. Sebisa mungkin Arya memposisikan diri jika Arya adalah Ayah. Tapi kenapa Ayah langsung nge-judge Arya mengalami gangguan mental? Ayah tidak memberikan ruang untuk Arya bercerita. Ketika Arya mencoba menjalin persahabatan dengan Ayah dengan menceritakan setiap kejadian yang Arya alami, Ayah justru mematahkan harapan dan usaha yang Arya bangun.”
Ayah tampak berupaya menahan air mata. “Nak, selama ini mungkin Ayah terlalu keras mendidikmu. Ayah lengah dalam membangun komunikasi denganmu, tetapi tiap hari Ayah selalu memikirkanmu. Ayah hanya punya kamu. Jadi, apa pun akan Ayah lakukan untuk kamu.”
Aku paham semua kalimat yang Ayah lafalkan. “Yah, Arya tidak pernah memaksa siapa pun untuk percaya dengan yang Arya alami. Tapi Arya mohon, jangan anggap Arya seperti itu. Jika orang lain yang berkata, Arya tak masalah. Tetapi kenapa justru itu keluar dari mulut Ayah?”
Ayah terduduk lesu mendengar perkataanku. Tak ada kata lanjutan yang keluar dari bibirnya.
Seketika aku sadar, mungkin perkataanku ada yang menyinggung perasaannya. Kupeluk balik Ayah. “Maafin kata-kata Arya, Yah.”
Ayah merespon dengan mengangguk.
“Arya juga izin keluar sebentar ya, Yah.”
Aku melangkah keluar rumah untuk mencari kedamaian. Kemudian, kuputuskan sekalian ke makam Adam.
Setelah sampai di area pemakaman, aku lihat dari kejauhan seorang ibu berdiri di depan makam Adam. Aku segera menghampirinya.
“Assalamualaikum, Bu.”
“Walaikum salam. Maaf, siapa ya?” tanyanya lemah.
“Ini Arya, Bu. Teman kecil Adam,” jelasku.
Ibu Adam tampak sangat kurus. Terlihat seperti tulang yang dikemas dengan kulit. Aku tak kuasa menahan haru melihat kondisinya. Begitu banyak tekanan yang terpancar dari parasnya.
“Arya…” Beliau memelukku sembari menangis. “Kamu sekarang udah besar dan tampan. Kalau Adam masih ada mungkin dia juga sebesar kamu.”
Pelukannya begitu hangat. Mengobati kerinduanku kepada Ibu.
“Ibu apa kabar? Sekarang tinggal di mana?”
“Kabar ibu baik, Ya. Sekarang ibu tinggal di Sumur, Pandeglang.”
“Ibu ke sini sendiri?”
“Iya.” Beliau melepaskan pelukan, lalu menyeka air mata. “Beberapa hari ini Ibu selalu memimpikan Adam. Bahkan, terkadang Ibu merasa ada Adam di sampingku. Biasanya, Ibu sebulan sekali ke sini untuk menjenguknya, berdoa di makamnya. Namun, setahun ini Ibu mulai sakit-sakitan. Jangankan berpergian jauh, untuk kegiatan sehari-hari aja Ibu membutuhkan bantuan orang lain. Mungkin Adam marah sama Ibu karena tak mengunjunginya seperti biasa.”
“Sekarang kondisi Ibu gimana?”
“Sekarang sudah mendingan, udah bisa jalan lagi tanpa dipapah sama orang.”
Aku tahu, beliau sedang memaksakan diri untuk datang menemui Adam. “Kita panjatkan doa dulu untuk Adam ya, Bu,” ajakku supaya beliau tak larut dalam kepiluan di makam anaknya.
“Dam, ini Emak datang jenguk kamu. Maafin Emak ya Dam baru datang lagi kemari,” ungkapnya sendu.
__ADS_1
Kehilangan orang terkasih memang begitu menyakitkan. Bukan ingin mengecam takdir atau mengingkari perpisahan. Bukan pula bermaksud menentang suratan hidup. Namun, ketika rindu menyapa hanya air mata yang bisa membaca suasana hati. Jika nanti kembali, pertemukanlah lagi dengan mereka yang disayangi.
Dam, kami datang menjenguknmu. Semoga kamu tenang di sana. Kulantunkan doaku dalam hati.