Dia Atau Aku

Dia Atau Aku
papah tiri meera


__ADS_3

Hari sudah sore jam kantor sudah habis,para karyawan sudah mulai pulang,meja kerja pun mulai kosong satu persatu.


beberapa lampu sudah menyala menerangi ruangan yang sudah gelap.


masih ada beberapa orang yang masih sibuk dengan pekerjaanya yang belum selesai dan di targetkan harus selesai hari ini juga,berhubung sudah sore jadi lembur dengan tugasnya.


begitupun dengan amar yang masih melotot pada layar komputer di hadapanya,di lepaskanya kacamata yang dia pake kemudian memijat dahi dengan jari-jarinya sendiri menandakan bahwa dia merasa lelah.


meera menghampiri dan memberi segelas air putih pada amar,amar menerimanya langsung minum habis dalam satu tegukan.


" Bapak gak pulang?" meera bertanya dengan meminta kembali gelas kosong tadi.


"tanggung meer,dikit lagi,berkas ini harus selesai buat meeting besok" amar mulai mengetik kembali.


"meera pulang duluan ya pak??" meera


" hati-hati" pesan amar mengusap punggung meera lembut.


Belum sempat meera pergi Yudha sudah keluar dari ruanganya memanggil meera.


" meera..!!" panggil Yudha.


" Iya pak,apa Bapak masih memerlukan sesuatu??" meera bertanya sopan


"pulang bareng saya" yudha memerintah sekaligus menyodorkan tas dan jas yang di lepaskanya lalu mengendorkan dasi di leher supaya bisa gerak bebas.


" baik pak" meera menurut.


"amar gak sekalian pulang" yudha menepuk bahu amar pelan.


"tanggung,duluan aja" balas amar


* * *


"meera,kita makan malam dulu ya,saya lapar"


Ajak yudha membelokan setir menuju resto yang ad di pinggir jalan.


Resto kelihatan sangat ramai pengunjung hingga tidak terlihat meja kosong,dari parkiran saja sudah terlihat saat Yudha mencari² tempat parkir kesusahan,tpi karna perut Yudha lapar tetap maksa masuk ke resto penasaran.


" mejanya penuh pak,jadi gimana??" meera bertanya bingung.

__ADS_1


"gimana dong,saya laper banget" yudha mengelus perutnya yang mulai keroncongan,


seketika perutnya berbunyi.


kruyuuk..!!


yudha nyengir seperti kuda mwrasa malu sama meera.


"kalo bapak gak keberatan,bapak boleh mampir ke rumah saya,pasti si mbak udah masak di rumah" meera menawarkan.


"boleh"


Rumah meera memang tidak terlalu jauh dari kantor lain dengan rumahnya Yudha yang lumayan jauh.


mobil sampai di halaman rumah meera yah tidak terlalu luas tapi masih ada garasi dan taman di depanya,tidak seperti rumah hanna yang pintu depanya pun mepet ke jalanan gang kecil dan sempit,meski mobil masuk tapi tidak bisa berpapasan dengan mobil lain.


mira turun lebih dulu,Yudha mematikan mesin mobil lalu ikut turun,di gulungya bagian lengan kemeja hingga sikut kemudian membuka satu kancing bajunya yang paling atas.


meera mengajak Yudha masuk,,baru nyampe depan pintu terdengar suara teriak kesakitan dari dalam rumah.


meera berlari masuk tanpa menghiraukan yudha di belakangnya.


meera langsung menarik papah tirinya untuk melindungi mamahnya.


" papah..cukup pah,hentikan kasihan mamah" meera menarik² tangan papah tirinya yang masih memukuli istrinya.


papah tirinya berbalik menampar meera.


plaakk..!!


tamparan keras mendarat di pipi meera yang mulus hingga tersungkur ke lantai menimbulkan bekas merah dan darah di ujung bibirnya.


" Berani kamu membohongi papah,hah..mana janji kamu" orng itu menjambak,mencengkram rahang meera dengan kasar.


"maaf pah..meera gak bohong,meera belum sempat" meera meringis kesakitan.


" hei,beraninya sama perempuan,lepaskan" Teriak yudha membela,


papahnya melepaskan meera sekaligus mendorong kasar hingga terpental menubruk Yudha,yudha dengan sigap meraih tubuh meera ke pelukanya.


" ouh...boos kamu ikut campur ya meera,jangan jadi sok pahlawan kamu di rumah ini" ucapnya dengan menghantam yudha.

__ADS_1


tapi yudha berhasil menghindar hingga tidak mengenai wajahnya.


" sabar...pak..bapak maunya apa??" yudha mengajak bicara baik² sembari ancang-ancang kalau² papah tirinya meera menyerang kembali.


" Aku butuh UAng!!,uang yang banyak" teriaknya.


" baik bapak butuh berapa?? tapi tolong jangan kasar lagi.


" 10 juta"


" ok,tunggu sebentar" yudha keluar menuju mobil ambil cek yang langsung di tandatangani.


" ini....ambil" *yudha


papah tirinya meera* menarik cek dari tangan yudha dengan kasar,mencium cek yang bernominal 10 juta sesuai yang dia minta.


" gitu dong,kenapa gak dari tadi" ucapnya langsung pergi menendang kursih yang di lewatinya.


" meera kamu tidak apa²" Yudha memeriksa keadaan meera


" gak apa² pak" meera sebisa mungkun bersikap biasa saja,namun yudha tetap tidak bisa di bohongi.


Yudha mengandeng meera ke sofa menyuruhnya duduk,lalu mencari kotak p3k di laci² lemari kecil,membawa baskom bwrisi air hangat untuk kompres agar memarnya berkurang baru di obati pake betadine menggunakan kapas,meera meringis perih kesakitan saat kapas nempel di lukanya.


"uuh...sakit"


"sorry...iya ini juga pelan²" yudha mengobati meera dengan menahan napas ikut merasakan sakitnya.


" terimakasih pak"


Adi adik meera langsung lari memeluk mera yang masih duduk di sebelah yudha.


meera pun memeluk dan memangku adiknya lalu menciuminya.


"kamu gak papa dek,mana yang sakit" meera bertanya dengan mencari-cari dengan paniknya kalau² ada luka di tubuh adiknya." ini yang sakit? atau ini? atau mana dek?" meera menyentuh tubuh adiknya berpindah-pindah dari tangan,kaki,hingga ke dahinya.


"syukurlah...kamu gak apa²,mamah..." meera baru sadar mamahnya masih di kursi roda,dia berlari menuju mamahnya lalu memeluk.


meera membawa mamahnya masuk ke kamarnya unruk istirahat,menutup pintu dengan pelan kwtika keluar kembali.


* * *

__ADS_1


__ADS_2