Dia Atau Aku

Dia Atau Aku
Kecurigaan


__ADS_3

Meski malam mulai larut Hanna masih terjaga,Tangannya menyentuh tombol lampu tidur di nyala matikanya berulang - ulang.


cklak...cklek...!!! Bunyinya cukup nyaring karna suara di malam hari lebih nyaring terdengar.


Pikiranya melayang ke mana - mana,hatinya juga di landa kecemasan.


Teringat kembali masa kecilnya yang yang selalu berdua dengan anak laki - laki.


Apa Pak amar adalah amar yang sama,tapi tidak mungkin,kalo dia memang beneran amarku kenapa dia tidak mengenaliku"


Angan - angannya tersadar kembali mendengar ponselnya berdering.


trriiiling...!!! Di lihatnya ponsel yang layarnya kelip - kelip nyala mati,terdapat nomer ponsel yang belum di kenalnya.


Nomer sipa ini,mungkin penting pikirnya karna malam - malam masih menghubungi.


" Hallo...!! Hanna...keluarlah saya Tunggu di depan"


" Baik pak" Hanna langsung mengenali suara orang yang di sebrang telpon.


Di temuinya Yudha di depan rumah yang sudah menunggu.


Apa yang membuat dia selalu datang ke mari pikir hanna,perasaanku mulai gak enak.


" kenapa pak ? apa ad urusan kantor yang membuat bapa langsung datang ke mari??" hanna memulai pembicaraan di antara mereka yang sedari tadi sama - sama diam.

__ADS_1


" Tidak hanna,saya ke sini hanya sekedar,melihatmu" Yudha.


" Tadinya ku pikir kamu sudah tidur,tpi saya lihat lampu rumahmu masih menyala,makanya saya telpon"


hanna langsung menoleh ke arah rumahnya,di lihatnya memang kaca jendela yang sedikit transparan meski sudah di tutup gordeng.


Hanna dan yudha berbincang ringan,suasana sudah mencair dan mereka mulai sedikit lebih akrab,hanna memang easy to get along,tidak sulit untuknya beradaptasi dengan Pak Yudha rismawan firamdhani Boosnya.


Di tempat lain di waktu yang sama Amar menghubungi ponsel hanna yang di tinggal di meja samping lampu tidur.


Di telponya berulang - ulang tapi tidak ada jawaban,ia mnjeda waktu beberapa saat lalu ngulanginya lagi sampai meninggalkan jejak puluhan panggilan tak terjawab.


ada rasa kesal,marah dan cemas di benak amar yang bertanya - tanya sendiri kenapa sebenarnya hanna.


Sementara amar yang cemas Yudha dan hanna malah asyik berbincang dengan berbaring menatap bintang - bintang di badan mobil bagian depan.


Dari pandanganya ke langit kini berpindah ke wajah hanna yang menurut yudha sayang kalau pandanganya ke arah lain,mubadzir menurutnya kalau hanna ada di sampingnya tapi tak di lihatnya.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Amar masih bolak balik melihat layar ponselnya berharap hanna chat balik karna panggilanya yang gak di angkat.


rasa cemasnya semakin tidak bisa di kuasainya,ia bangkit dari tempat tidurnya keluar menuruni tangga menuju dapar hendak mencari air putih untuk melembabkan tenggorokanya yang kering.


saat sampai di dapur di dapatinya Ibu hilda yang sama sedang menuangkan air ke gelas untuk minum.


" Mamah,ko mamah masih belum tidur kenapa mah,ini sudah larut lho mah" kata amar yang membuka pintu kulkas mencari - cari air dingin.


" Mamah masih menunggu Yudha nak," ibu hilda.


" Belum pulang dia,? " kata amar sedikit curiga. " Harusnya dia tidak boleh keluyuran,kan baru sembuh"


Hilda terdiam dan mengabaikan ucapan amar,karna dia tau yudha sedang menemui hanna,sebisa mungkin ia mengalihkan pembicaraan.


"Amar anaku...Sini nak pijiti bahu mamah,rasanya pegal - pegal.kamu seh sudah jarang mengajak mamah olah raga lagi,"


ibu hilda duduk di kursi amar mendekat mulai memijat bahu mamahnya dengan berdiri tepat di belakangnya.


" Mamah tuh udah gak muda lagi mah,hindari lah makanan junk food,seperti gorengan,sereal siap saji,makanan tinggi lemak,nanti mahah kolesterol gimana"


" Ko kamu malah nyumpahin mamah seh" Bu hilda memukul pelan tangan amar.


amar tertawa kecil lalu mencium pipi mamahnya.

__ADS_1


Pembicaraan mereka cukup mengalihkan ke curigaan amar,ibu hilda sedikit tenang amar sudah tidak bertanya lagi.


* * *


__ADS_2