Dia Atau Aku

Dia Atau Aku
Surabaya


__ADS_3

Keberangkatan yang serba mendadak akan pekerjaan yang tidak bisa di tunda - tunda lagi di Surabaya kini Meera dan Amar sudah berada di Bandara hanya di hantar Supir Kantor.


Tidak ada persiapan apapun dari keduanya bahkan peking barang pun di siapkan orang rumah.


Setelah urus - urus ticket dan pengecekan masuk pintu Metal Detector amar dan meera langsung menuju tempat duduk masing - masing sesuai nomer yang sudah tertera di Ticket .


Kenyamanan dan pelayanan yang di berikan maskapai cukup membuat mereka merasa puas.selama di perjalanan mereka tertidur lelap memanfaatkan waktu sebelum Landing.


.


.


.


.


Keesokan harinya Amar dan meera meninggalkan kamar hotel tempat beristirahat mengumpulkan Tenaga,energi untuk Terjun ke lapangan langsung.


Memantau,mengurus Orang Proyek,meera mencatat semua barang - barang persediaan beserta kekurangannya,Sementara amar berjalan mengelilingi lokasi guna melihat seberapa persenkah proyek yang di targetkan blan ini selesai.


Amar memberikan intruksi pada para Mandor proyek untuk mempercepat pembangunanya.


amar memang jenius dalam segala hal memberikan masukan - masukan dan cara kerja yang cepat.


Meera memperhatikan amar yang terus memberikan arahan,dengan isengnya memotret amar tanpa ia sadari.


Amar masuk ke gedung yang masih dalam pembangunan,masih banyak kayu - kayu yang berseraka bahkan menjuntai terikat satu sama lain sebagai penompang pekerja di bagian atas.


Meera melihat kayu balok yang sedikit demi sedikit tergeser terkena getaran mesir pengeret, hanya beberapa senti saja akan terjatuh ke arah amar yang ada tepat di bawahnya,namun sebelum terjadi meera sudah berlari mendorong amar tersungkur hingga akhirnya mengenai bagian kaki meera,meera meringis menahan kesakitan,darah mulai bercucuran dari kakinya.


Amar yang kaget dan syok langsung meraih dan menggendong meera ke tempat yang lebih aman,amar marah - marah menyalahkan pegawai yang teledor akan cara kerjanya.

__ADS_1


" Siapa yang mengikat kayunya tidak kencang?" Amar bertanya dengan berteriak.


"Maaf kan atas keteledoran saya pak" Ucap salah seorang pegawai yang kini sudah berkumpul dan berbaris di beri pengarahan agar lbih hati - hati.


" Harusnya kamu lebih hati - hati,ini bisa membahayakan nyawa orang lain tau,kamu paham...!!!!" Jelas amar menahan emosi.


" Iya pak,sekali lagi daya minta maaf"


" Ya sudah...,lanjutkan kerja kalian" Ucap amar sedikit mereda lalu kembali menuju meera.


.


.


.


" Meera...apa kamu tidak apa - apa!?" Tanya amar yang sudah tau jawabanya pasti itu sangat sakit sekali." Karna saya kamu jadi terluka meera" Amar meniupi luka meera di bagian kaki.


"Hei...kenapa kamu tersenyum begitu,apa ini menurutmu lucu,lukamu cukup serius meera" Amar bicara lalu berteriak minta kotak obat" Hei....siapa saja tolong bawakan kotak P3K,ada Tidak.!!!?"


Tidak berapa lama seseorang membawakan P3K yang di minta.Amar duduk berlutut membersihkan luka dengan perlahan sembari terus meniupnya,di obatinya kemudian di pasang perban dengan sangat Rapih,selalu dan selau amar yang serba bisa dan sigap dalam hal apapun.


sewaktu amar mengobatinya meera lagi - lagi memotret tanpa amar sadari,mungkin sekarang sudah hobbynya meera mengambil potret amar secara diam - diam.


dreeeet...dreeett....!!


ponsel amar bergetar di kantong celananya,ia tidak segera memeriksa siapa yang menghubunginya melainkan mengabaykanya.amar masih memegangi kaki meera yang terluka.


" Seharusnya ini tidak terjadi padamu meera,ini karna kamu yang mendorong saya...kalau tidak mungkiiiii....." Amar belum selesai bicara meera sudah menutup mulut amar dengan jari - jarinya yang lembut dan lentik,kemudian di raih tangan amar dan di kecupnya sebagai ungkapan terimakasih.


" Kita sebagai sahabat sudah sewajarnya saling menolong" Ucap meera.

__ADS_1


Dreeeettt...dreeeet...!!!


Kembali bergetar ponselnya namun masih tetap amar abaykan.


amar mengajak meera segera pergi dari tempat rasanya hari ini sudah cukup untuk pekerjaanya di tambah lagi insiden yang tidak di inginkan,biarlah pekerjaanya di lanjut besok.


" Ayo meera kita pergi sekarang" Ajak amar menyodorkan tanganya.


meera bangkit meraih tangan amar namun tiba - tiba rasa sakit di kakinya terasa.


" Au...masih sakit" meera meringis.


"Sepertinya kamu belum bisa jalan,sini biar saya bantu" ucap amar sambil mengangkat tubuh meera sembari belalu pergi.


amar berjalan tegak lurus pada pandanganya ke depan tanpa dia sadari meera terus memandanginya dengan penuh haru,


"Kamu kenapa begitu perhatian pak amar,saya tidak bisa di posisi seperti ini,hati aku akan luluh dengan sikapmu yang begini" ucap meera dalam hati,kini ia lebih memilih membenamkan wajahnya di dada amar,agar rasa harunya tak di sadari amar.


Amar segera menaruh meera di mobil bagian belakang di susul ia duduk di sebelahnya.


"Jalan pak supir,ke hotel xxx ya" amar memberitahu alamat.


"Baik pak" Supir mengerti


.


.


Sesampai di depan hotel amar kembali menggendong meera dengan hati - hati menuju kamar meera yang bersebelahan dengan kamarnya.


"Isirahat sajalah dulu,besok baru kita kerja lagi,kalo butuh apa - apa hubungi saja saya" Amar berpamitan keluar kamar meera tidak lupa menutup kembali pintu kamar,di lanjutnya menuju kamarnya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2