
Di jam kerja suasana kantor sangat tenang meski di beberapa ruangan nampak banyak orang namun sibuk dengan tugasnya masing - masing.
Ada yang motocofy berkas - berkas harus di serahkan,ada yang fokus dengan komputernya ada juga yang jalan terburu - buru merasa sudah di tunggu di ruang meeting.
Meera nampak murung di meja kerjanya menghadap layar komputer yang menyala namun tak di hiraukanya,ia masih teringat akan penghianatan Revan,masih kepikiran.
Di pegangnya ponsel yang ia putar - putar nampak ragu mahu menghubunginya atau membiarkanya saja.
" Maaf bu meera,di depan ada orang yang mau bertemu sama ibu" ucap security menyampaikan pesan.
" Siapa pak ?" meera
" Dia bilang namanya Revan pacarnya Bu meera" security menjelaskan.
" Bilangin saya gak ada,lagi tugas di luar kantor " Ucap meera pada security menyuruhnya berbohong,security itu pun menurut menemuai Revan yang menunggu di depan kantor.
Tak berapa lama security itu balik lagi dan bicara pada meera.
" Maaf Bu meera,Pak revan gak percaya bu meera lagi tugas di luar, dia masih tidak mau pergi memaksa ingin menunggu.
__ADS_1
Meera memejamkan mata kesal lalu pergi menemui Revan.
Setelah security kembali bertugas berdiri di pintu depan meera pun menyusul,dia menarik nafas panjang mempersiapkan mentalnya untuk melihat dan bicara pada revan.
" Mau ngapain kamu ke sini?" Tanya meera ketus.
Dengan ribut menyambut revan bicara " Meera I can explain everything"
" Aku gak butuh penjelasan dari kamu revan,semuanya sudah sangat jelas" meera langsung berlalu pergi
Namun langkahnya terhenti saat tangan meera di tarik revan hingga mendekat.
" Enggak,sebelum kamu mau maafin aku dan bicara sama aku,aku gak akan pergi dari sini" Ucap revan nyolot
" Apa,!! apa yang mau kamu jelasin sama aku,Tentang perempuan itu,yang kamu peluk kamu perhatikan kamu elus - elus perutnya tempo hari" Meera bicara dengan suara mulai gemetar,air matanyapun keluar lagi.
" Dia Nara temanku meera," revan
" Cih..,Teman !!, Teman macam apa sampai kamu begitu peduli bela - belain temenin ke doktet kandungan" Meera tidak percaya.
__ADS_1
" Percayalah meera,dia cuma temanku tidah lebih" Revan masih menjelaskan.
" Aku gak percaya, Beeter we break Up"
" Aku gak mau kita putus" Revan tidak terima.
" I do not Care, Whatever" meera berlari pergi.
Meera menyalakan kran Wastafel membasuh wajahnya berharap masalah hubunganya dengan revan hilang mengalir ikut bersama air yang membasahi wajahnya
Di pandangnya bayangan diri di cermin,mengutuk perbuatan revan yang sudah benar - benar kelewatan.
Dia membayangkan kebersamaan Revan dengan perempuan itu hingga bisa hamil,meera brigidik merasa jijik sama revan yang masih tetap ingin bersamanya.
Bisa - bisanya dia masih mengejarku,sementara perempuan itu hamil anaknya,aku harus lupain revan,meski susah aku akan berusaha. Revan tidak pantas mendapat kesrmpatan dari ku,aku gak peduli lagi,mau dia nikah sama orang,punya anak,aku gak peduli.
Meera menarik napas panjang.
Harus menyambut hidupnya meski tanpa revan yang sudah berpacaran denganya selama 5 thn.masih banyak yang belum dia raih di dunia ini yang penuh akan macam - macam kehidupan.
__ADS_1
Buat apa ia merasa terpuruk dan Down hanya karna masalah seorang laki - laki.